
"Iya Kak makasih sudah di ingatkan, tapi darimana Kakak bisa tahu kalau saya mengenal seseorang yang bernama Endang? Karena saya sudah lama sekali tak bertemu dengannya. Memang ada beberapa orang yang saya kenal dengan nama Endang, tapi hanya satu orang saja yang selalu saya kenang dengan nama itu. Dia adalah perempuan yang sangat baik yang pernah saya kenal, tapi entah kemana dia sekarang."
Aku diam melirik Endang yang kini terbang melesat mendekati kami, aku melihat kedua mata Endang berubah memerah, seakan ada kemarahan yang begitu besar.
"Ehm, jadi gini Pak. Saya ini kan jurnalis, kalau boleh saya mau minta nomor hape Bapak. Karena saya mau bikin tulisan mengenai Driver ojek online. Kalau Bapak gak keberatan, saya mau wawancarai Bapak."
"Oh iya Kak gak apa-apa, itu di aplikasi udah ada nomor hape saya. Nanti hubungi saya aja kalau mau wawancara. Tapi saya masih penasaran, kenapa Kakak tahu kalau saya mengenal seseorang dengan nama Endang?"
Aku menyunggingkan senyum, tak ku jelaskan apa yang sebenarnya, karena aku juga belum tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Sesaat setelah itu Bapak ojol itu pergi, dan sosok Endang terbang melesat pergi mengikuti nya. Entah apa yang akan dilakukan nya, semoga Endang tak mencelakai Bapak itu.
"Astaga, aku lupa kalau ditunggu Mbak Rika!" Batinku dengan menepuk kening.
Segera aku berlari masuk ke dalam kantor. Antrian di depan pintu lift memaksa ku berlari ke tangga darurat. Ada pemandangan yang berbeda, karena kali ini tak ada rengekan dari hantu kecil Aurora.
Tap tap tap.
Terdengar suara langkah kaki seseorang, sontak saja aku menoleh ke berbagai arah. Seorang perempuan mengenakan dress warna hitam berjalan menaiki anak tangga. Ia berhenti tepat di hadapanku, menatap ku tajam dengan menyeringai.
"Kau masih muda dan cantik, tak seharusnya kau menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk membantu urusan orang lain. Jangan campuri urusan keluargaku, jika kau ingin hidup tenang di dunia ini. Apa yang kau alami semalam adalah sebuah peringatan kecil untukmu, jangan ikut campur lebih dalam lagi!" Ucap Ibu tiri Pak Bos besar membulatkan kedua matanya.
__ADS_1
Aku hanya diam dengan menundukan kepala, apa mungkin dia adalah pemilik si Kuntilanak merah itu ya. Batinku bertanya-tanya, tapi otak ini tak dapat menemukan jawabannya. Tak lama perempuan itu berjalan pergi meninggalkan ku. Kemudian aku melangkahkan kaki ke atas, dan menemui Mbak Rika di dalam ruangan nya.
"Lama banget sih Ran. Yuk ke ruangan Pak Bos, kita udah ditunggu dari tadi." Mbak Rika langsung menarik lenganku, sontak saja aku menjerit kesakitan seraya menepis tangannya.
"Awww. Sakit tau Mbak!"
"Dih, lu kenapa Ran? Sorry loh kalau gue nariknya kekencengan."
Aku hanya menghembuskan nafas panjang, seraya menyingsingkan lengan baju ke atas. Nampak Mbak Rika terbelalak melihat luka memanjang di sebelah lenganku.
"Kok lu bisa luka kayak gini Ran? Apa yang sebenarnya terjadi sama lu?"
"Ya udah ntar istirahat makan siang, lu sharing semua ke gue. Pokoknya gue mau tahu semuanya, oke?"
Aku menganggukan kepala dengan menyunggingkan senyum. Lalu kami sama-sama pergi ke ruangan Pak Bos. Disana sudah ada Kartika, ia sedang duduk di hadapan Pak Bos dengan wajah angkuhnya. Terdengar Kartika mengingatkan Pak Bos, untuk menandatangani berkas yang ia letakan di atas meja, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ini berkas kenaikan pangkat kalian, meski kalian tetap berada di bidang yang sama. Setidaknya pekerjaan kalian tidak terlalu berat, dengan gaji yang lebih besar."
Kami sama-sama berterima kasih pada Pak Bos, dan berniat kembali melanjutkan pekerjaan. Tapi Pak Bos memintaku untuk tetap disana, karena ada yang ingin ia bicarakan. Setelah itu Mbak Rika kembali ke ruang kerjanya seorang diri.
__ADS_1
"Sebenarnya ada yang ingin saya tanyakan padamu. Menurut desas-desus orang-orang yang mengenal Kartika lebih lama. Ia memiliki peliharaan sesosok makhluk astral, yang bersedia melakukan apa saja perintah dari pemiliknya. Apa kau pernah melihat makhluk gaib itu?"
"Sebenarnya saya belum yakin Pak, jadi saya belum bisa mengatakan apa-apa. Memang waktu pertama kali Bu Purnama datang ke Mansion Emerald, ada sosok astral yang berusaha mencelakai Tuan besar. Ia mempengaruhi arwah adik tiri Pak Bos untuk mencelakai Papanya sendiri. Sosok itu berhasil saya singkirkan, dan tak lama Bu Kartika datang. Jadi saya belum bisa mengatakan, jika sosok astral itu adalah peliharaan nya. Meski saya ingin meyakini itu, soalnya semalam saya mendapat teror. Sosok gaib itu melukai saya, karena saya terlalu mencampuri urusannya. Setelah saya mengetahui yang sebenarnya, saya akan memberitahu Pak Bos."
"Jadi saat Papa saya melayang-layang itu karena ada sosok gaib yang mempengaruhi arwah adik tiri saya? Jangan-jangan desas-desus itu benar, jika Kartika memiliki peliharaan makhluk astral. Karena kejadian yang sama, pernah terjadi pada mendiang Mama saya. Saya sudah lama curiga pada Kartika, jangan-jangan dialah yang sengaja melenyapkan Mama saya. Karena ia ingin menjadi satu-satunya istri Papa."
Aku diam setelah mendengar penjelasan Pak Bos, menurutku ada kemungkinan kecurigaan Pak Bos itu benar. Mengingat rentetan kejadian yang ku lihat, dan peringatan yang sama dari Si Merah dan juga Kartika.
"Sebenarnya saya sudah di ancam oleh sosok gaib itu Pak, bahkan makhluk itu sudah melukai saya. Dia melakukan nya hanya melalui mimpi, tapi setelah saya bangun tidur, luka itu meninggalkan bekas. Nanti saya akan berkonsultasi dengan seseorang yang mengerti dengan dunia gaib. Lebih baik Pak Bos juga berhati-hati dengan Bu Kartika."
Setelah memperingatkan Pak Bos, aku kembali melakukan pekerjaan. Meski sudah naik pangkat, aku tetap bekerja bersama rekanku yang sebelumnya. Yang berbeda hanyalah tugasku yang lebih ringan, tanpa perlu melakukan liputan secara langsung. Mungkin hanya jika ada kendala saja, aku akan menggantikan jurnalis yang berhalangan. Beberapa rekan kerja memberiku selamat, dan ingin merayakannya dengan makan-makan. Tiba-tiba telepon di atas meja berdering, Mbak Rika memintaku menggantikan salah satu jurnalis yang cuti.
"Ada liputan di daerah Sawangan, ada kasus tabrak lari, dan korbannya meninggal dunia di tempat. Tolong lu pergi kesana sama Beny ya Ran!"
Degh.
Entah kenapa harus aku yang melakukan liputannya. Karena nanti pasti aku akan berurusan dengan arwah si korban. Ku jelaskan pada Mbak Rika, untuk memberikan tugas itu pada jurnalis lainnya. Tapi menurutnya, tak ada jurnalis lain lagi. Karena saat ini, banyak kasus kejahatan di Ibukota. Dan semua jurnalis yang ada sedang melakukan liputan. Terpaksa aku menerima pekerjaan itu, dan bersiap pergi ke TKP bersama rekan kerjaku.
.
__ADS_1