
Setelah itu aku dan Wening meninggalkan lokasi. Kami sedang dalam perjalanan ke pengadilan untuk mendapatkan informasi dari Pak Awan. Tak lupa ku baca lagi pesan yang ditulis Mbak Ayu di selembar kertas, sesuai rencana aku akan memberikan surat itu pada Pak Awan.
"Itu apa an Ran?" Tanya Wening.
"Hmm ini surat dari Mbak Ayu, kita ada sedikit rencana buat Pak Awan." Jawabku seraya memasukan surat itu ke dalam ransel.
"Lu kayaknya deket banget ya sama Mbak Ayu dan Pak Adit?"
"Mbk Ayu itu masih kerabat jauh gue, jadi ya kita lumayan deket. Kalau Mas Adit dulu senior gue di kampus, jadi ya emang udah lama kenal nya. Btw thanks ya, tadi udah bantuin."
"Oh itu santai aja Ran. Gue juga gak ada maksud buat bantuin lu. Kebetulan aja gue udah nelusurin kasus itu lebih dulu. Ya udah gue cuma ungkap kebenaran aja."
Mendengar ucapannya aku hanya tersenyum saja. Entah kenapa perasaan agak lain ketika ia berkata-kata. Tapi aku tak terlalu menanggapi, dan memilih diam fokus pada ponsel di genggaman tangan. Kondisi jalan saat itu terbilang padat, sehingga kami terlalu lama berada di jalan. Kami tak banyak berbicara, sampai akhirnya Wening membuka obrolan mengenai urusan pekerjaan.
"Biasanya kalah magang selama setahun, udah pasti diterima jadi pegawai tetap gak sih Ran?"
__ADS_1
"Biasanya perpanjangan kontrak dulu sih Wen. Baru bisa di angkat pegawai tetap, soalnya gue juga baru perpanjang kontrak kok. Emangnya kenapa Wen?"
"Kayaknya gue bakal nyaman kerja disana karena ada lu."
"Lah kenapa karena ada gue Wen?"
"Hari ini gue makin termotivasi karena lu Ran. Gue pengen jadi kayak lu, yang punya segalanya. Karir bagus, sahabat tak kasat mata yang setia. Kerabat dan teman dekat yang sayang sama lu. Kalau ini sebuah perlombaan mungkin gue pengen ngalahin lu biar bisa rebut semua yang lu punya." Ucap Wening tersenyum melalui sudut bibir.
"Ah lu bisa aja Wen. Karir gue biasa aja kok, masih pegawai kontrak juga gue. Kalau lu pengen kayak perlombaan harusnya lu ngomongnya gak gitu. Lu bisa kok jadi yang lebih baik dari gue, gak ada masalah kalau buat gue. Asal jangan rebut apa yang udah gue punya!"
"Eh gue juga becanda doang kok Wen! Btw kita udah mau sampai nih. Gue prepare dulu deh!" Kataku seraya menyiapkan beberapa barang yang akan kami bawa.
Mobil di parkirkan agak jauh dari gedung. Aku dan Wening sama-sama membawa peralatan tempur untuk liputan. Kalau biasanya aku hanya melenggang tak membawa barang-barang. Berbeda dengan kali ini, karena partner ku sama-sama perempuan nya. Aah rasanya aku semakin merindukan partner lama ku, Agus dan juga Beny. Kami masuk ke dalam ruang persidangan, nampak Pak Awan sudah ada di depan sana. Aku membantu Wening meletakkan beberapa kamera di berbagai sudut. Dan saat petugas lengah, aku memberikan surat pada Pak Awan dan memintanya untuk membaca setelah meninggalkan ruang persidangan. Mas Adit yang baru saja datang melihat ku berada di dekat Pak Awan. Aku berbicara agak jauh dari tersangka itu, menjelaskan jika ia akan mendapatkan harapan baru jika mau membaca surat itu.
"Kau lihat polisi itu kan? Tulislah balasan surat itu, dan berikan padanya jika kau setuju dengan tawaran itu." Kataku agak menunduk supaya tak terlihat orang.
__ADS_1
Tak lama Mas Adit datang menghampiri ku, ia bertanya dengan gestur tubuh. Dan ku balas dengan gelengan kepala saja.
"Tolong minta Pak Awan membalas surat dariku ya Mas." Aku berbicara berbisik pada Mas Adit.
Aku dan Wening melanjutkan pekerjaan kami, meliput berjalannya proses persidangan. Dari hasil persidangan hari ini, aku mendapat kesimpulan jika Pak Awan masih menyembunyikan fakta sebenarnya. Dan ia tak mengungkapkan apa yang terjadi. Wening mengatakan jika ia akan membantuku membuat Pak Awan mengakui kejahatannya. Karena ia tau jika saat ini salah satu temanku dalam incaran makhluk jahat sesembahan Pak Awan.
"Kok lu bisa tau banyak hal sih Wen? Kayaknya gue gak ada cerita apa-apa deh!"
"Udah gak usah dipikirin. Yang penting gue bisa bantu lu bebasin teman lu dari incaran makhluk itu. Lu gak usah repot-repot lagi, buat lelaki itu masuk ke perangkap yang lu buat sama Mbak Ayu. Tapi gue gak bisa buru-buru loh, karena gue harus balik ke rumah Pakde dulu. Kebetulan Pakde gue memiliki kekuatan yang diturunkan dari almarhum Simbah gue. Dan dikit-dikit gue juga mempelajari ilmu nya, karena gue juga punya tujuan lain dalam hidup gue. Makanya gue bela-belain ikutan test masuk ke perusahaan ini."
"Oh lu punya impian jadi jurnalis juga ya, makanya lu niat banget jadi pegawai magang disini daripada harus langsung jadi pegawai tetap di perusahaan percetakan?"
"Ntar juga lu bakal tau apa impian gue Ran, karena lu balal jadi salah satu saksi yang melihat tujuan hidup gue!" Pungkasnya dengan tersenyum dari sudut bibirnya.
Entah kenapa aku selalu merasa jika Wening mempunyai maksud dari setiap ucapannya. Seakan ada teka-teki rumit yang sedang ia mainkan, dan aku adalah bagian dari setiap jawabannya. Karena belum lama mengenalnya, aku tak bisa bertanya lebih detail mengenai maksud ucapannya. Jadi aku hanya bisa diam dan menerka-nerka saja.
__ADS_1