Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 280 MENGHILANG TANPA JEJAK?


__ADS_3

"Bisa jelasin maksudnya apa gak Wat? Apa yang kau maksud dengan mengorbankan diri?" Tanya ku menatapnya serius.


"Biar aku saja yang mengorbankan diri Ran, kalau mereka memang akan mencelakai ku, aku akan memberikan bukti supaya perbuatan mereka bisa menjadi barang bukti untuk memenjarakan mereka."


"Tidak! Kau tak perlu mengorbankan diri Wati. Kau tak tau bahaya apa yang akan kau hadapi ke depannya. Sepertinya Wening dan Pakde nya bukan orang sembarangan. Mereka bisa saja nekat mencelakai seseorang, seperti apa yang dilakukan ke keluarga ku." Sahut Mas Adit.


Mbok Genuk pun sependapat dengan Mas Adit, jika memang mereka tak bisa diproses secara hukum. Hanya Tuhan saja yang dapat menghentikan mereka.


"Aku sudah pasrah Nduk, jika Wening memang tak bisa berubah. Entah takdir apa yang akan terjadi padanya kelak, aku pasrahkan saja pada Gusti Allah." Imbuh Mbok Genuk tertunduk pasrah.


Saat itu juga, Wati membujuk Mbok Genuk untuk pulang ke rumah bersama kami. Karena sudah beberapa hari ia menjaga Wening tanpa istirahat dengan benar. Hampir saja Mbok Genuk menolak, karena ia tak mau membiarkan Wening seorang diri. Tapi keberadaan nya disana juga tak dihiraukan oleh cucunya itu. Kami semua menunggu Mbok Genuk yang sedang berpamitan pada Wening. Nampaknya Wening sama sekali tak perduli jika neneknya itu pergi, tak ada jawaban darinya. Bahkan ia memalingkan wajahnya. Disaat kami berjalan menyusuri lorong panjang rumah sakit, ada sekelebatan bayangan yang melewati kami. Tak ku hiraukan bayangan itu, karena di tempat seperti ini memang banyak jiwa tanpa raga yang gentayangan. Sampai akhirnya kami sampai di Lobby depan, Wati terdengar memanggil nama Pramono berulang kali. Aku membalikkan badan dan melihat dia dan Mbok Genuk sedang panik mencari Pramono.


"Loh bukannya tadi dia ada di samping mu Wat?"

__ADS_1


"Tadi dia jalan nya sama Mbok Genuk Ran, aku tadi jalan paling belakang kok!"


Seketika raut wajah Mbok Genuk berubah tercengang. Ia menggelengkan kepala, mengaku jika tadi beliau hanya berjalan seorang diri.


Degh.


Jantung ku berdetak tak karuan, sebenarnya kemana Pramono saat ini. Lantas bersama siapa sebelum ia menghilang tadi. Tak lama Mas Adit datang, ia membuka kaca mobil dan berteriak meminta kami segera masuk ke dalam. Aku menghampiri nya dan menjelaskan, jika kami kehilangan Pramono.


"Apa tadi Pramono mengikuti mu Mas?"


Aku tak yakin terakhir kali Pramono bersama siapa. Karena dari penjelasan Wati dan Mbok Genuk berbeda-beda. Atau jangan-jangan semua ini ada hubungannya dengan Pak Warto.


"Ran hei, kenapa ngelamun?" Tanya Mas Adit seraya menepuk-nepuk pundak ku.

__ADS_1


"Hmm sorry Mas, aku hanya kepikiran sesuatu aja." Jawabku dengan jantung yang berdetak kencang.


Tak lama Wati bersama Mbok Genuk datang, mereka sudah berpencar mengelilingi tempat yang kami lewati. Tapi mereka tak dapat menemukan Pramono. Meski rumah sakit ini sangat luas, tak mungkin Pramono pergi melewati jalan yang tak pernah ia lewati. Karena ia tipe orang yang terlalu penakut untuk berjalan seorang diri di tempat yang belum pernah ia kunjungi. Aku memfokuskan pikiran, dan berusaha mencari tau keberadaan Pramono melalui batin. Tapi penglihatan ku seakan tertutup tabir hitam, batin ku tak dapat menembus gelapnya tabir itu. Nafas ku terengah-engah, sepertinya aku menggunakan energi terlalu besar dan tak mendapatkan hasil apapun dari penglihatan ku.


"Sudah Nduk jangan dipaksakan jika kau tak mampu melakukannya. Biar aku saja yang mencari tau dimana Pramono." Jelas Mbok Genuk seraya memejamkan kedua mata.


Terlihat wajah Wati sangat cemas, kedua matanya berkaca-kaca. Aku hanya bisa merangkulnya supaya ia sedikit tenang. Dengan cemas, kami menunggu Mbok Genuk yang sedang melakukan penerawangan. Sampai akhirnya beliau menjelaskan sesuatu yang membuat kami terkejut. Ternyata Pramono sudah dibawa pergi ke alam lain, dan yang dicurigai Mbok Genuk adalah Pak Warto. Meski aku sama sekali tak merasakan kehadiran nya di tempat ini.


"Warto mengecoh kita Nduk, disaat kita sibuk membahas Wening Pramono disesatkan ke dimensi lain. Apakah tadi kau sempat melihat sekelebatan bayangan? Sepertinya bayangan tadilah yang membawa Pramono pergi. Aku tak bisa mencari tau lebih dalam lagi. Aku kekurangan energi, karena sudah beberapa hari aku kurang istirahat. Mungkin lebih kita meminta bantuan Jarwo untuk mencari tau lebih detail lagi." Ucap Mbok Genuk dengan nafas yang berderu kencang.


"Kenapa kita gak tanya dulu ke Wening Mbok? Siapa tau dia mengetahui rencana Pakde nya, karena sejak awal Wening seakan masih membela Pakde nya itu." Kata Wati dengan meneteskan air mata.


"Sabar ya Wat, aku tau kau cemas saat ini. Tapi kita juga gak bisa asal nuduh Wening gitu aja."

__ADS_1


"Ya udah apa salahnya kita datangi Wening dulu, dan tanyakan semua padanya!" Seru Wati seraya berlari ke arah ruangan Wening dirawat.


Sesampainya disana, kami sama-sama menyaksikan jika Wening tak ada di dalam ruangan. Ranjangnya kosong, dan tak ada siapapun di dalam ruangan ini. Mbok Genuk yang panik berusaha mencari cucunya di dalam toilet. Tapi seperti dugaan kami, toilet itu kosong dan ia tak ada di dalam sana. Jangan-jangan apa yang terjadi sekarang ada hubungannya dengan dia juga. Pasti dia mendukung Pakde nya, supaya Pramono dijadikan tumbal untuk ratu buaya putih.


__ADS_2