
Aku kembali menemui Beny dan Silvia, keduanya masih berdiri tak jauh dari pintu utama. Begitu melihatku datang, keduanya langsung berlari ke arah ku. Dan menanyakan, apa aku berhasil masuk ke dalam kantor polisi. Aku hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan apa-apa.
"Dih kok lu diem aja sih Ran? Jelasin dong sama kita apa yang lu lihat di dalam sana!" Bujuk Silvia dengan menarik-narik tanganku.
"Banyak mayat di dalam, tapi gue belum lihat mayat seseorang yang pengen gue lihat."
Beny langsung menyela pembicaraan, ia bertanya apakah mayat seseorang yang pakai kalung perak yang sedang aku cari.
"Lu tahu darimana Ben? Jangan-jangan lu anggota mereka juga ya?" Tanya ku dengan membulatkan kedua mata.
"Eh ngarang indah lu ya! Gue kan lihat rekaman lu semalam. Kan gue juga yang editing videonya. Bisa-bisanya lu nuduh gue bagian dari sekte itu!" Jawab Beny dengan raut wajah kesal.
"Hahaha. Mungkin wajah lu penuh dengan aura suram Ben, makanya Rania ngomong gitu." Sahut Silvia terbahak.
"Ssst. Udah-udah jangan ribut, gue asal nyeplos aja kok. Kalian masih dalam waktu kerja kan, sana silahkan menunggu giliran buat meliput. Gue mau santai duduk dibawah pohon rindang itu."
Silvia berdecih melihatku dengan kesal. "Sombongnya, mentang-mentang dapat bebas tugas. Seandainya Pak Bos kasih gue privilege kayak lu, pasti saat ini gue lagi santai di kamar."
Beny langsung menarik tangan Silvia mengajaknya bergabung bersama jurnalis yang lainnya. Sementara aku mengambil posisi duduk di bawah pohon. Aku mengirimkan pesan singkat pada Mbak Ayu, memberikan kabar mengenai kejadian yang terjadi di kantor polisi. Tak lama Mbak Ayu langsung menelepon ku, ia terdengar sangat terkejut dan tak percaya dengan apa yang aku katakan.
"Lu yakin Ran, semuanya mati bersamaan?" Pungkas Mbak Ayu diseberang telepon sana.
"Gue gak yakin sih Mbak, ini kan masih simpang siur beritanya. Soalnya Mas Adit belum bisa ngasih gue penjelasan. Tapi dari apa yang gue lihat tadi, emang banyak anggota sekte yang tewas."
"Jadi mereka memilih mengakhiri hidupnya dengan alibi pengorbanan?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu sih Mbak. Tapi gue masih belum lihat Nek Dijah. Entah dia meninggal dunia atau enggak!"
Karena penasaran Mbak Ayu ingin menyusulku, tapi aku melarang nya dan meminta nya tetap bersama Om Dewa. Karena ia masih dalam pantauan mata-mata suruhan Tante Ajeng.
"Kalau kita lengah sedikit aja, anggota sekte itu akan bawa Om Dewa pergi lagi Mbak!"
"Tapi Ran, gue pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi disana!" Sahut Mbak Ayu diseberang telepon sana.
Bagaimana aku menjelaskan pada Mbak Ayu, jika kondisi sedang tak memungkinkan. Bahkan aku sendiri belum tahu apa-apa mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Mbak gue tutup dulu telepon nya, ada komandan polisi yang akan memberikan penjelasan ke jurnalis!" Kataku seraya mengakhiri panggilan telepon.
Aku berbaur dengan para awak media, mereka sedang meliput seorang polisi yang memberikan informasi mengenai kejadian yang terjadi di kantor polisi. Menurutnya investigasi masih dilakukan, dan belum jelas apa yang menyebabkan kematian masal para anggota sekte sesat itu.
Ternyata semua masih belum jelas kebenarannya. Aku memutuskan untuk menunggu Mas Adit datang. Dan terlihat beberapa petugas membantu membawa jenazah-jenazah itu ke dalam ambulance, karena semua jenazah harus di autopsi di rumah sakit polri.
"Raniaaaa!" Teriak Mas Adit seraya melambaikan tangan nya padaku.
Ia meminta ku mendatangi nya, Mas Adit berdiri di depan bangunan yang di depannya banyak sekali mobil bekas tabrakan. Aku menghampiri nya kesana, tapi aku malah melihat berbagai penampakan hantu tak kasat mata. Melihat dari bentuknya, mereka pasti adalah korban-korban kecelakaan. Aah lebih baik aku pura-pura tak melihat mereka, daripada mereka meminta pertolongan dariku.
"Kenapa Ran? Ada demit ya?"
"Ya gitu deh Mas, kalau udah tahu ngapain nyuruh aku kesini?"
"Hanya di tempat ini kita bisa bebas ngobrol. Kalau di tempat lain, pasti ada jurnalis yang akan meminta keterangan dariku."
__ADS_1
"Oke. Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada semua anggota sekte sesat itu?"
Mas Adit bercerita, jika awalnya semua baik-baik saja. Semua orang di dalam tahanan hanya duduk tanpa berbicara satu sama lain.
"Tapi tiba-tiba semua orang mengalami kejang bersamaan, dan mulutnya mengeluarkan busa. Kebetulan saat itu ada seorang awak media yang ingin meliput. Dan dia ketakutan melihat semua tahanan kejang-kejang. Kondisi itu tak berlangsung lama, karena beberapa menit kemudian mereka terkapar dengan tubuh yang kaku. Ada yang meregang nyawa dengan posisi duduk, dan ada yang melotot matanya dengan ludah menjulur. Pokoknya macam-macam lah. Dan saat itu juga kami sadar, kalau mereka sedang berusaha mengakhiri hidupnya dengan meminum sesuatu. Kau tahu si Nenek yang pakai kalung perak? Saat itu, dia sedang komat kamit baca mantra. Dan sepertinya dia juga akan mengakhiri hidupnya, kami menemukan beberapa butir obat di genggaman tangannya. Saat beberapa petugas berusaha menghentikan aksinya. Nenek itu terlanjur meminum beberapa butir obat, dan petugas menghentikan nya meminum obat-obatan yang masih tersisa di genggaman tangannya. Hanya Nenek itu saja yang berhasil kami selamatkan. Saat ini dia sedang dirawat di ICU rumah sakit, kondisinya kritis karena nafasnya lemah. Entah obat apa yang mereka minum, petugas masih menyelidiki nya." Penjelasan Mas Adit membuatku tercengang.
Aku masih menganalisis apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah mereka percaya jika jiwa mereka akan hidup abadi menjadi jenglot. Atau jangan-jangan itu adalah bentuk pengorbanan untuk menempati jiwa yang lain.
"Kok diem sih Ran?" Mas Adit menatapku seraya menyeka peluh di kening ku.
"Hmm aku gak apa-apa kok Mas. Apa aku boleh melihat kondisi Nek Dijah?"
"Bisa aja, tapi Dokter belum mengijinkan siapapun menemui pasien. Yang masih menjadi penasaran, kenapa mereka memilih mengakhiri hidup ya. Padahal bisa saja, mereka hanya menjadi saksi dari kasus ritual sesat itu." Ucap Mas Adit dengan memijat pangkal hidungnya.
"Karena tujuan mereka memang untuk mengakhiri hidupnya Mas. Mereka percaya dengan melakukan pengorbanan macam itu, jiwa mereka akan abadi di tempat yang lain."
"Maksudnya Ran?"
"Boneka jenglot! Mereka akan menempati tempat baru. Dan mereka akan menjadi peliharaan para dukun ilmu hitam, dan mendapatkan makanan dari persembahan darah yang dukun-dukun itu berikan." Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Kau tahu darimana hal macam itu Ran?"
"Nek Dijah mengakuinya sendiri."
Aku menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala. Ternyata ilmu hitam yang mereka gunakan selama hidupnya, akan terus berlanjut meski raga mereka sudah tak bernyawa. Dalam bentuk boneka sekecil itu, para anggota sekte sesat itu masih bisa mempraktekkan ajaran sesat mereka.
__ADS_1