Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 90 TERUNGKAP?


__ADS_3

Aurora membulatkan kedua matanya padaku, seakan ada kemarahan yang begitu besar pada dirinya. Aku berusaha membujuknya, dan memintanya tak mendengarkan ucapan si merah yang menyesatkan jiwanya.


"Aurora, dengarkan Kakak ya. Sebentar lagi kau bisa bertemu dengan Mamamu, kau lihat Tante itu, dia adalah Kakak dari Mamamu, kau harus patuh dengan ucapannya."


Hening. Tak ada jawaban dari Aurora, ia tetap melesat masuk ke dalam sebuah ruangan yang tertutup pintu berwarna cokelat keemasan. Diluarnya, terlihat kuntilanak merah berdiri mengambang. Berjaga supaya tak ada siapapun yang dapat menghentikan Aurora untuk mencelakai Ayahnya sendiri.


Aku menundukan kepala seraya membacakan ayat-ayat suci, lalu berjalan melewati si merah dengan mudahnya. Ia tak bisa menghentikan ku, entah karena apa. Yang jelas, Bulan tak bisa melewati si merah semudah aku melakukan nya.


"Mbak! Mbak mau apa masuk ke dalam?" tanya Pak Satpam menghadang langkahku.


"Ini kamarnya Tuan besar kan Pak? Kita harus masuk ke dalam untuk menyelamatkan Tuan besar."


"Di dalam sudah ada Suster, jika terjadi apa-apa, dia pasti akan memberitahu saya."


Aaaaaarghhh.


Jeritan seorang perempuan memecahkan kesunyian. Kami langsung masuk ke dalam ruangan itu. Terlihat lelaki paruh baya sedang melayang di atas tempat tidurnya. Ia berteriak kesakitan, dengan memegangi lehernya. Suster yang menjaganya nampak ketakutan, melihat kejadian yang diluar nalar itu. Pak Satpam berusaha menarik tubuh Tuan nya, tapi tanpa diketahui nya, Aurora memberikan perlawanan, dan menghempaskan tubuh Satpam itu ke sembarang tempat. Aku menggelengkan kepala tak percaya, entah darimana hantu kecil itu mendapatkan kekuatan besar begitu. Setahuku, hanya demit dengan energi besar dan yang berusia ribuan tahun saja yang dapat melakukan nya. Hantu yang berusia ratusan tahun saja, belum tentu sekuat itu. Atau jangan-jangan semua ini adalah ulah si merah. Kini kuntilanak merah melesat ke samping Aurora, ia menyeringai di hadapanku. Membuatku bergidik ngeri, karena raut wajahnya yang sangat menyeramkan. Energi yang terpancar dari sosok merah sangat kuat, karena itulah, Aurora dapat menyerap energi negatifnya setelah dipicu dendam dan amarah.

__ADS_1


Bruugh.


Tubuh Tuan besar itu di hempaskan ke lantai, dan membuatnya memuntahkan darah segar. Hantu gadis kecil itu menyeringai dengan sorot mata tajam. Ia kembali melesat menghampiri lelaki yang sudah tidak berdaya itu. Tapi aku langsung berlari untuk menghalangi nya, lalu ku bacakan ayat-ayat suci dengan suara lantang. Kuntilanak merah langsung berteriak kepanasan, dan hantu Aurora nampak berguling-guling tak tahan mendengarkan bacaan ayat suci. Sementara Bulan yang masih lemah di luar pintu itu, ikut merasakan imbasnya. Dengan segenao hati, ku panjatkan doa pada Yang Maha Kuasa, untuk menghentikan niat jahat Aurora. Seakan Tuan besar itu, dapat melihat keberadaan Aurora. Tangannya berusaha menggapai tubuh yang tak nampak di penglihatan manusia normal. Tuan besar itu meneteskan air mata penyesalan, dan mengakui semua dosanya. Seketika, aku berhenti membacakan doa, karena kini Aurora sudah sedikit tenang. Tangannya menjulur, berusaha menggapai tangan Ayahnya.


"Apa ini kau anakku? Huhuhu, maafkan Papa Nak. Papa tak bisa menjagamu, semuanya salah Papa Nak. Maafkan Papa." Ucapnya berlinang air mata.


Untuk beberapa saat, Aurora terharu melihat lelaki yang ada di depannya. Sorot mata yang semula dipenuhi kemarahan, perlahan mulai berkaca-kaca. Tangannya berusaha menggapai sang Ayah, tapi kuntilanak merah makin berang. Ia menghempaskan jiwa tanpa raga Aurora, dan membuatnya jatuh tersungkur dengan memuntahkan seteguk darah berwarna hitam.


"Cepat bunuh dia! Kalau tidak, aku akan mencelakai ibumu juga, bukankah kau belum pernah bertemu dengan ibumu hihihi!" Pekik si merah menggetarkan hati Aurora.


Hantu Bulan berusaha menghentikan Aurora dengan menarik tangannya. Tapi merah lagi-lagi menghentikan Bulan, dan membuatnya jatuh tersungkur. Kuntilanak merah memang mempunyai energi yang lebih besar, karena ia tiada dengan membawa dendam yang luar biasa besarnya. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari orang lain. Aku mencoba fokus dan berpasrah diri pada Sang Pencipta. Ku panjatkan doa yang tulus, untuk mengalahkan energi jahat yang ada pada si merah. Aku menengadahkan tangan ke atas membacakan doa-doa dengan sepenuh hati, tak lama keluar suar cahaya keemasan dari kedua telapak tanganku.


"Bismillahirrahmanirrahim." ku ayunkan kedua tangan ke arah si merah, dan suar cahaya keemasan itu menembus jiwa tanpa raganya.


Bluugh.


Terdengar suara kencang, setelah cahaya itu menembus tubuh hampa si merah.

__ADS_1


Aaaargghh.


Kuntilanak merah berteriak kencang, menahan panas dari suar cahaya yang masuk ke dalam tubuh hampa nya.


Whuuuuss.


Kuntilanak merah melesat pergi entah kemana, wujudnya hilang begitu saja. Dan hanya terdengar suaranya, yang kini giliran mengancamku. Ia tak terima dengan kekalahan ini, dan akan kembali untuk menuntut balas padaku.


"Aku akan pergi untuk kembali. Urusan kita belum selesai sampai disini. Kau sudah lancang mencampuri urusanku. Jika Tuanku murka dan tak memberiku makan, akan ku buat perhitungan pada kalian semua yang ada disini." Ucapnya sebelum benar-benar pergi, dan tak terdengar lagi suaranya.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kami. Tak lama setelah itu, terlihat Pak Bos besar datang bersama Purnama. Ia nampak lebih segar dengan sorot mata yang dipenuhi kehidupan.


Kini Purnama menghentikan langkahnya, lalu duduk bersimpuh dengan berlinang air mata. Ia telah ikhlas menerima takdir yang diberikan Tuhan padanya. Nampaknya selama hampir dua minggu keberadaan nya di Rumah Sakit jiwa, telah mengembalikan akal sehatnya.


"Anakku. Apa kau disini? Tolong dengarkan Mama Nak, jangan kau sakiti lelaki itu. Bagaimanapun, dia adalah Ayahmu. Kau harus mengampuninya Nak, Mama sudah ikhlas memaafkannya. Dan kau harus menerima takdirmu Nak, kembalilah ke alam mu." Kata Purnama menoleh ke berbagai arah, berusaha mencari keberadaan jiwa tanpa raga sang anak.


Perlahan tangannya mengendur, Aurora melepaskan tangannya yang mencekik Ayahnya. Ia melesat masuk ke dalam tubuh Suster yang ada disana. Jiwanya merasuki tubuh Suster itu untuk berinteraksi dengan Mamanya. Terdengar rengekan anak kecil dari bibir Suster itu, kemudian ia menghambur memeluk Purnama. Aurora menangis sesegukan memeluk Mamanya, kerinduan nya begitu besar. Hingga ia terus mendekap Purnama tanpa berkata-kata. Seakan menyadari, jika tubuh Suster itu telah dirasuki oleh anaknya. Purnama membelai lembut kepalanya, dan mengucapkan permintaan maaf nya karena telah meninggalkan nya begitu saja. Hanya tangisan saja yang terdengar dari bibir Suster itu. Nampaknya Aurora hanya ingin merasakan pelukan hangat dari Mamanya saja. Sementara hantu Bulan menatap keduanya dengan berlinang air mata. Wajahnya nampak berseri-seri, menyaksikan keinginan terakhirnya untuk melihat Purnama bertemu kembali dengan anaknya yang telah lama hilang. Meski pertemuan mereka tak bisa berlangsung lama, karena bagaimanapun alam mereka sudah berbeda.

__ADS_1


__ADS_2