Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 163 PETUNJUK LEWAT MIMPI.


__ADS_3

Senopati meminta ku untuk berdiri di belakangnya. Menurutnya ada sosok lain yang sedang mengawasi kami. Dengan kesaktiannya, Senopati berhasil mengetahui sosok yang sedari tadi mengintai kami.


"Cih. Dasar demit rendahan, pikirmu kau bisa mengacaukan fokus ku! Keluar lah, jika kau tak menampakkan wujud mu, aku bisa memusnahkan mu sekarang juga!" Pekik Senopati dengan dipenuhi amarah.


Whuuuss.


Sosok merah melesat ke atas pohon dengan tawa nyaring nya. Ia mengatakan pada Senopati, jika dia datang atas suruhan Tuan nya, dan tak ingin berurusan dengannya.


"Kita adalah makhluk yang sama, untuk apa kau ingin mencelakai ku hihihi. Aku hanya mengawasi para gadis itu, bukan untuk mencelakai mereka!" Seru merah seraya memainkan rambut panjangnya.


Tak banyak berbicara Senopati segera mengeluarkan kesaktiannya untuk menyerang merah. Nampak bola-bola api beterbangan ke arah merah, tapi merah berhasil menghindar dan menghilang entah kemana. Hanya suaranya saja yang terdengar.


"Hihihi aku bukanlah tandingan mu, karena kau keturunan dengan kasta lebih tinggi dariku. Tapi kau tak akan bisa menyerang ku, sekalipun aku juga tak bisa melawan mu. Bagaimanapun aku akan tetap berada di sekitar mereka, karena Tuan ku sudah memerintah ku untuk mengawasi mereka. Jika waktunya tiba, kita pasti akan bertemu lagi Pangeran!" Ucap merah yang tak bisa ku lihat keberadaan nya dimana.


Nampak Senopati memejamkan kedua matanya berusaha mencari keberadaan merah. Tapi menurutnya kuntilanak merah itu sudah pergi. Dan Seno meminta ku untuk berhati-hati dengan merah.


"Mungkin dia bisa dengan mudah ku kalahkan. Tapi ia begitu licik, dengan menyamarkan wujudnya, aku membutuhkan waktu untuk mengetahui keberadaan nya. Dan sekarang ia melarikan diri dariku, karena dia tahu aku bisa mencelakai nya dengan mudah. Dia disuruh untuk mengawasi pemuda yang menjadi suaminya Wati. Pemilik kuntilanak itu ingin memastikan, jika keduanya melakukan hubungan suami istri, supaya bisa memberikan keturunan sebagai calon tumbal selanjutnya. Lebih baik kau ingatkan Wati, supaya tak melakukan hubungan itu sebelum Sumitro tewas di tangan Buto sembahan nya." Pungkas Senopati dengan mengaitkan kedua alis matanya.


Ternyata sebegitu besarnya harapan keluarga Sumitro untuk mendapatkan penerus dari keturunan Pramono. Baru kali ini aku sedikit bersyukur dengan keadaan Pramono yang cacat mental. Karena jika ia adalah lelaki normal, pasti mereka sudah melakukan hubungan itu di malam pertama nya. Tak lama setelah itu, Senopati berpamitan dan mengatakan akan mengawasi ku dan juga Lala ketika kami melakukan perjalanan ke Curug banyu dowo.

__ADS_1


"Jika terhadi sesuatu yang mengganggu kalian selama di perjalanan, minta Ibunda untuk segera memanggilku. Karena besok ada acara di Kerajaan ku, Romo berulang tahun ke dua ribu lima ratus tiga tahun. Jadi aku tak bisa sering mengawasi perjalanan kalian. Tadi aku tak mengatakan di depan Ibunda, karena tak mau ia menolak bantuan ku. Karena sebenarnya romo masih sangat menyayangi Ibunda ku. Tapi karena ia ingin menepati janjinya untuk membiarkan Ibunda hidup dengan tenang di alam manusia. Romo tak pernah sekalipun mendatangi nya lagi, dan untuk pertama kalinya romo menanyakan apakah Ibunda mau bertemu dengan nya untuk membahas mengenai Buto sembahan Sumitro."


"Aku mengerti bagaimana perasaan romo mu. Aku akan menemani Ibundamu untuk bertemu dengan romo mu. Semoga tak terjadi apapun setelah nya, karena aku tahu bagaimana perjuangan Ibundamu untuk melanjutkan hidupnya tanpa kalian. Sampai bertemu besok lagi ya Sen, aku masuk ke dalam dulu!"


Setelah berpamitan dengan Senopati, ia langsung menghilang bagaikan hembusan angin. Aku berjalan menuju kamar, tapi aku melihat bayangan seseorang di depan jendela. Saat aku mengintip pemilik bayangan itu, dari belakang seseorang menepuk pundak ku. Segera ku balikan badan untuk melihat orang yang berdiri di belakang ku.


"Astaghfirullah. Mbok Genuk ngagetin aja sih." Kataku seraya mengusap dada.


"Kau sedang apa Nduk? Kenapa jam segini belum tidur?"


"Hmm iya Mbok, tadi Rania udah mau masuk kamar. Tapi ada bayangan orang disana!" Aku menolehkan kepala ke jendela tadi, tapi pemilik bayangan itu sudah tak ada disana.


Mbok Genuk yang penasaran juga melihat ke arah yang sama, dan tak ada siapapun disana.


Aku langsung menjelaskan, jika si merah memang sedang mengawasi di sekitar rumah ini. Bahkan ia melarikan diri dari Senopati, tak ku ceritakan lebih detail lagi siapa Senopati yang sebenarnya. Tapi sepertinya Mbok Genuk mengetahui siapa jati diri Senopati. Kemudian tanpa banyak bertanya, Mbok Genuk memintaku untuk segera istirahat. Karena ia harus melakukan ritual pemagaran rutin setiap beberapa jam sekali.


Aku merebahkan tubuh di samping Lala dan juga Mbak Ayu. Baru beberapa menit terpejam, rasanya ada seseorang yang mendorong tubuh ku, hingga aku terjatuh dan tersadar sudah berada di hamparan padang rumput yang luas. Aku melihat seorang lelaki yang sedang di ikat di tengah kerumunan, banyak orang yang berdiri dengan membawa nampan persembahan. Aku membulatkan kedua mata, begitu mengetahui lelaki yang tengah di ikat itu adalah Om Dewa. Ada sosok Leak yang sedang menari-nari sesuai tabuhan gendang. Ia meliuk-liuk dengan membawa tali panjang yang dipecutkan ke tubuh Om Dewa. Penampakan Leak itu sangat menyeramkan, dengan perut buncit dan lidah panjang yang menjulur hingga menyentuh tanah. Gigi runcing yang mencuat keluar, membuat ludah nya terus menetes. Kini kuku panjangnya menusuk kedua bola mata Om Dewa, hingga ia berteriak kencang karena rasa sakit yang luar biasa. Astaghfirullah, apa yang harus aku lakukan. Entah ini hanya mimpi, atau semacam penglihatan gaib. Aku bergidik melihat kengerian itu, lalu menutup kedua mata ku dengan tangan. Tiba-tiba seseorang menarik tangan ku, dan mengajakku pergi dari sana.


"Tempat mu bukan disini Nduk, biarlah orang itu menanggung semua perbuatan nya. Karena kau terlalu memikirkan nasibnya, tanpa sadar jiwa mu berkelana sampai ke tempat ini. Kembalilah ke dalam ragamu, nanti kita pasti akan berjumpa kembali." Pungkas seseorang yang wajahnya tak dapat ku lihat dengan jelas. Tapi ia mengenakan jubah dan sorban putih.

__ADS_1


Belum sempat aku mengatakan apa-apa, aku tersadar dari tidur ku. Setelah Lala membangunkan ku berulang kali.


"Yuk makan sahur dulu, susah banget sih dibangunin nya. Malahan Mbak Ayu yang kebangun karena mendengar suara ku!" Seru Lala dengan menggelengkan kepala.


Aku hanya diam tak mengatakan apapun. Nafas ku masih berderu kencang, mengingat apa yang ku lihat di dalam mimpi. Terlihat Mbak Ayu baru saja kembali dari kamar mandi. Ia menatapku keheranan, lalu duduk di samping ku.


"Rania kenapa La, kok kayak orang ketakutan gitu?"


"Aku juga gak tahu Mbak, setelah bangun tidur ekspresi nya jadi begitu!"


Aku masih mengatur nafas, dan menenangkan pikiran. Setelah sedikit tenang, aku mulai menjelaskan pada keduanya. Jika tadi aku bermimpi buru, dan terasa sangat nyata.


"Takutnya itu bukan sembarang mimpi, melainkan sebuah petunjuk."


"Emang lu lihat apa Ran?" Tanya Mbak Ayu dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Gue lihat Om Dewa tertangkap para pengikut Leak Mbak. Bahkan Leak itu udah nyiksa Om Dewa sampai kondisinya memprihatinkan. Semoga itu hanya sekedar mimpi, tapi tadi gue ketemu orang yang ciri-ciri nya gak asing di ingatan gue. Seperti Kakek bersorban putih yang pernah ngasih tasbih ke gue. Tapi wajahnya gak kelihatan jelas, karena pandangan mata gue agak buram."


Wajah Mbak Ayu seketika berubah cemas, mata nya berkaca-kaca membayangkan apa yang sebenarnya terjadi pada Om Dewa.

__ADS_1


"Tenang dulu Mbak, mimpi kan hanya bunga tidur. Semua belum tentu terjadi kok!" Ucap Lala seraya menepuk pundak Mbak Ayu.


Mungkin Lala belum tahu, jika aku jarang bermimpi ketika tidur. Dan ketika aku melihat sesuatu di dalam mimpi ku, biasanya itu adalah sebuah petunjuk. Karena mungkin sesuatu benar-benar terjadi pada Om Dewa.


__ADS_2