
Mbak Ayu kembali tanpa hasil, ia tak melihat siapapun diluar sana. Karena kejadian itu, aku dan Mbak Ayu memutuskan untuk menjaga Om Dewa bergantian.
"Siapa yang Om takuti? Katakan ke Dahayu Om, mulai sekarang gak akan ada yang bisa mendekati Om Dewa lagi. Jadi bener, ada yang datang ke rumah dan bawa Om pergi?" Mbak Ayu berusaha meyakinkan Om Dewa, tapi tiba-tiba kondisinya melemah.
"Mbak sepertinya tensi Om Dewa turun karena kejadian barusan."
Kami tak punya pilihan selain memberikan nya waktu untuk menenangkan diri. Supaya tensi darahnya kembali normal, apalagi Dokter belum memberikan transfusi darah. Tapi Om Dewa meyakinkan, jika ia baik-baik saja dan perlahan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"Setelah kalian pergi meninggalkan rumah utama. Om masih duduk di ruang baca, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Om kira kalian kembali lagi, dan saat Om berbalik badan. Ada dua orang berjubah hitam yang menyergap Om, lalu menarik paksa tubuh Om. Saat Om mau berteriak, mereka membuat Om kehilangan kesadaran. Mereka menyuntikkan sesuatu, sampai badan Om lemas lunglai. Disaat Om udah setengah sadar, ada seorang perempuan datang memerintahkan keduanya membawa Om pergi melalui pintu depan. Karena dia akan mengecoh kalian terlebih dulu, setelah itu Om benar-benar tak sadar. Mungkin efek suntikan itu membuat Om pingsan. Dan saat sadar, Om sudah dalam keadaan dirantai. Apakah kalian berhasil menangkap Ajeng?" Tanya Om Dewa dengan mengaitkan kedua alis mata.
Kami sama-sama diam tak mengatakan apa-apa. Seakan tahu jawaban nya, Om Dewa pun tersenyum melalui sudut bibirnya.
"Baiklah. Om sudah tahu jawaban nya, kalau Ajeng tertangkap gak mungkin ada mata-mata yang mengawasi kita disini. Ajeng gak akan pernah membiarkan ku hidup, dia pasti akan kembali berusaha melenyapkan ku."
"Mereka membentuk anggota baru Om. Karena itulah polisi gak bisa menemukan Tante Ajeng dan anggota baru sekte itu. Ternyata apa yang Tante Ajeng katakan mengenai Om bohong semua. Dia sendiri adalah pelaku kejahatan."
"Jadi selama Ajeng sudah mengatakan kebohongan di depan kalian? Pastiin kalian sempat percaya dengan ucapannya kan?"
Aku pun menjelaskan pada Om Dewa, jika aku dan Mbak Ayu tak mempunyai pilihan untuk tak percaya dengan perkataan Tante Ajeng, karena saat itu Om Dewa juga menghilang tak tahu dimana.
__ADS_1
"Eh tunggu deh, Nenek-nenek yang tertangkap itu bukannya pemimpin sebelumnya? Coba aja Ran, lu paksa dia memberikan informasi. Meski mustahil apa salahnya dicoba, ya gak?"
"Baiklah, gue akanbke kantor polisi. Lu disini aja ya Mbak, jaga Om Dewa."
Setelah berpamitan dengan mereka, aku memesan ojol dan langsung pergi ke kantor polisi. Sesampainya disana, keadaan begitu ramai, tak seperti biasanya. Apakah karena berita tentang penggrebekan itu membuat semua jurnalis datang.
"Ran Raniaaa!" Terdengar seseorang memanggilku, aku menoleh ke belakang dan melihat Beny dan Silvia sedang meliput disana.
"Loh ngapain kalian masih liputan? Kan gue ada kasih bahan buat release hari ini?"
Beny dan Silvia saling pandang, wajah keduanya nampak keheranan.
"Kabar apa an sih Ben? Sumpah. Gue gak tahu apa-apa tauk!"
"Raniaaa. Gue takut nih!" Celetuk Silvia seraya merapatkan tubuhnya padaku.
"Kabarnya masih simoang siur sih, dan belum pasti. Tapi satu jam yang lalu, saat ada jurnalis dari redaksi lain mau meliput berita. Kantor polisi tiba-tiba gempar, katanya ada kematian masal. Semua orang anggota sekte sesat yang digerebek meninggal dunia bersama. Tuh ada tema inavis dan ambulance yang antri buat bawa jenazahnya." Jelas Beny dengan menelan ludahnya kasar.
Deegh.
__ADS_1
Jantungku serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. Bagaimana semua itu bisa terjadi. Pasti ini bukan suatu hal yang kebetulan, aku harus masuk ke dalam untuk mendapatkan informasi dari Mas Adit. Seketika aku berlari menuju pintu utama kantor polisi yang dijaga ketat oleh petugas. Terdengar teriakan Beny dan Silvia yang melarang ku masuk ke dalam. Ternyata selain petugas yang berkepentingan, semua orang dilarang masuk. Tak habis akal, aku mencoba mencari jalan lain supaya dapat masuk ke dalam. Aku hafal betul letak pintu masuk ke dalam kantor ini. Selain pintu utama, aku bisa masuk melalui pintu belakang. Meski akam ada petugas jaga, tak akan seketat penjagaan di pintu utama.
"Maaf selain petugas, siapapun dilarang masuk!" Kata seorang petugas menghentikan langkahku.
"Tapi pak, saya sudah mendapatkan ijin dari petugas. Saya yang membantu proses penggrebekan tadi malam."
Meski agak ragu memberiku ijin masuk, tapi perlahan ia membiarkan ku ke dalam dengan syarat jangan mengatakan pada siapapun, kalau dia yang membiarkan ku masuk ke dalam. Sesampainya di dalam kantor polisi, nampak semua petugas sedang sibuk memasang garis kuning. Banyak orang yang mengerumuni jeruju besi dengan alat tandu. Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dengan kencang. Mas Adit membulatkan kedua matanya di hadapan ku. Ia marah karena aku masuk ke dalam tanpa ijin darinya.
"Rania! Kau gak bisa sembarangan masuk seperti ini. Jangan sampai kau merusak olah TKP di tempat ini. Apa kau gak lihat keadaan sedang sangat genting!" Teriak Mas Adit seraya berkacak pinggang.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mas? Aku berhak tahu ada apa sebenarnya. Kenapa aku dengar ada kematian masal disini?"
"Aku gak bisa menjelaskan nya sekarang. Keluarlah dari pintu belakang, nanti aku akan memberitahu semuanya. Tapi gak sekarang, oke? Aku sedang bertugas, jangan sampai komandan melihatmu, karena kami yang akan disalahkan. Please!" Mas Adit memohon padaku dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
Karena tak sampai hati, aku pun terpaksa menuruti ucapannya. Aku berjalan keluar dengan langkah tertatih. Mataku sibuk melihat ke semua teralis besi yang terpasang garis kuning. Nampak orang-orang yang tergeletak kaku dengan berbagai posisi. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Aku sempat menghentikan langkah, karena melihat sesosok jasad yang melotot dengan lidah yang menjulur keluar. Jasad itu masih mengenakan jubah hitam, dan aku perhatikan semuanya masih mengenakan jubah yang sama. Jangan-jangan inilah yang dimaksud Nek Dijah dengan pengorbanan.
"Tapi apa yang membuat mereka bisa mati bersamaan ya?" Batinku di dalam hati penuh tanya.
Belum selesai aku melihat-lihat, dua orang petugas yang diperintahkan Mas Adit untuk membawaku keluar, tiba-tiba menarik paksa tanganku. Sepertinya komandan mereka baru saja tiba, dan Mas Adit terpaksa memerintahkan petugas untuk membawaku pergi. Baiklah, lebih baik aku menunggu diluar kantor saja. Semoga Mas Adit dapat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, dan apakah Nek Dijah juga meninggal dunia. Karena tadi aku tak melihat jasadnya di dalam sel penjara.
__ADS_1