Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 137 JALAN BUNTU!


__ADS_3

Setelah selesai menyampaikan pesan terakhir Dinar. Aku langsung pergi ke kantor, dan menemui Pak Bos besar. Beliau sengaja datang ke kantor untuk berbicara padaku.


"Apa kau ingat, apa yang telah saya ceritakan mengenai mendiang mama saya? Apakah kau sudah menyelidiki Kartika? Benarkah dia memiliki peliharaan makhluk gaib?" Tanya Pak Bos dengan wajah serius.


"Maaf Pak, saya belum melakukan penelusuran. Karena saya sedang ada masalah pribadi. Mungkin setelah masalahnya selesai, saya baru akan menyelidiki mengenai itu. Saya dengar, Papa Pak Bos sudah menikahi Purnama. Apakah kondisi mentalnya sudah lebih baik sekarang?"


"Itulah alasannya saya memanggilmu. Sebelumnya kondisi Purnama sudah lebih baik. Tapi setelah beberapa hari pernikahan, kondisi Purnama agak terguncang. Setiap kali ia ketakutan melihat orang yang mendekati nya. Semua itu terjadi setelah Kartika berbicara dengannya. Saya curiga Kartika menggunakan ilmu hitam atau semacamnya, untuk mencelakai Purnama. Jika sampai Purnama tewas seperti mama saya, berarti Kartika memang melakukan sesuatu. Tapi saya gak mungkin membiarkan perempuan malang itu tiada."


Sebenarnya aku sudah tahu, jika kuntilanak merah kemungkinan adalah peliharaan Kartika. Tapi bagaimana mungkin aku mengatakannya, kalau aku belum melihatnya sendiri dengan mata kepala ku. Aku tak memiliki cukup bukti, untuk membenarkan jika si merah adalah peliharaan Kartika.


"InsyaAllah, beberapa hari lagi saya akan melakukan penelusuran. Tapi saya tak akan bisa konsisten melakukan nya. Karena saya terikat dengan pekerjaan di Kantor."


"Kau tenang saja, saya akan minta Rika untuk membebas tugaskan dirimu. Setelah ini fokuslah dengan masalah pribadi mu, supaya kau dapat segera menelusuri Kartika. Dan mengungkap semua kejahatannya. Jika ia memang orang yang telah menyebabkan mama saya tiada, Kartika harus mempertanggung jawabkan perbuatannya!" Kata Pak Bos dengan menggebrak meja di depan nya.


Aku berpamitan dan kembali ke meja kerja. Aku menyenderkan kepala di kursi dan menatap ke atas langit-langit ruangan. Nampak berbagai demit bersliweran kesana kesini. Nampaknya jiwa-jiwa tanpa raga itu sedang melakukan aktifitas nya di alam mereka.


"Loh kok masih disini Ran? Gue dapat mandat dari Pak Bos, buat ngasih lu kebebasan tugas. Katanya lu lagi ada masalah pribadi, dan belum bisa bantu masalahnya? Apa itu benar Ran?" Tanya Mbak Rika mendekatkan wajahnya ke hadapanku.


"Dih. Apa an sih Mbak. Minggiran dikit ngapa!" Jawabku seraya mendorong tubuhnya menjauh dariku.

__ADS_1


"Makanya ngobrol dong, biar gue gak kepo. Emang masalah pribadi tentang apa sih? Apa tentang Wati ya? Gue denger nyokap lu pulang kampung buat datangin Bude Walimah, supaya dia gak nikahin Wati dengan keturunan Pak Mitro?"


Astaga! Aku hampir melupakan masalah keluarga ku sendiri, entah apa yang terjadi disana. Dan apakah mama berhasil menggagalkan rencana pernikahan Wati dengan cucu Pak Mitro.


"Heh! Kok malah diem sih, ditanyain juga!" Seru Mbak Rika menggoncang-goncangkan lengan ku.


"Nanti gue kabarin lagi ya Mbak, gue pergi dulu. Makasih udah ingetin gue." Kataku seraya bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan pergi dari sana.


Besok malam adalah hari penentuan, apakah apa yang diucapkan Om Dewa benar atau tidak. Hari ini aku ingin pulang, dan mencari tahu kabar Wati. Saking sibuknya mengurus masalah orang dan demit lainnya. Aku sampai mengabaikan masalah keluarga ku sendiri. Aku duduk di bawah pohon besar, yang ada di depan kantor. Ku raih ponsel di tas, lalu menelepon mama untuk menanyakan apa yang terjadi di Desa. Begitu mama menjawab telepon nya, bukanlah kabar baik yang ku dengar. Melainkan kabar mengenai hari pernikahan Wati dengan Jaka Permana. Cucu Pak Mitro yang mengidap cacat mental. Seketika air mata membasahi wajahku, aku tak kuasa menahan kesedihan. Bagaimana mungkin Wati harus mengorbankan masa depannya, untuk menjadi istri seseorang dengan kondisi yang sedemikian.


"Mama sudah berusaha mencegah pernikahan itu terjadi. Mama berniat membayar hutang dan bunga yang diminta Pak Mitro. Tapi itu diluar nalar Nak, Mama gak akan sanggup membayarnya. Tak ada catatan hutang piutang antara mendiang Simbah mu dengan lelaki tua itu. Entah berapa jumlah yang dipinjamkan, beserta bunga yang tak masuk akal. Menurut Bude mu, dulu Simbah memang tak melakukan perjanjian secara tertulis. Hanya saja, Pak Mitro meminta perjodohan di antara keturunan nya. Saat itu semua anaknya sudah menikah, karena itulah Mama dan Bude mu terbebas dari perjodohan. Tapi saat ini, Pak Mitro menagih janji. Jika kita tak menepatinya, ia akan menuntut ganti rugi yang sudah disepakati Simbah dengan cap jempolnya Nak. Hanya perjanjian itu tanpa tertulis nominal hutang yang Simbah pinjam darinya. Sepertinya mereka sengaja meminta ganti rugi dengan jumlah yang besar supaya kita tak bisa mengganti, dan terpaksa menikahkan Wati dengan cucunya."


"Kapan tanggal pernikahannya Ma? Bagaimanapun Rania harus pulang, untuk mendampingi Wati. Rania gak mau membiarkan Wati melalui masa sulitnya seorang diri huhuhu."


"Satu minggu lagi Nak, tanggal sepuluh bulan ini. Mama sudah meminta papa untuk pulang ke Desa, kau bisa datang bersamanya, saat Papa sudah sampai di Jakarta."


Aku mengakhiri telepon itu dengan perasaan yang kacau balau. Entah bagaimana aku akan menghadapi hari-hari ku seperti biasanya. Jika seseorang yang sangat dekat denganku mengalami ketidak adilan. Tapi Mama sudah berusaha melakukan segalanya. Dan benar kata Mama, jika Pak Mitro bukan menginginkan uang. Tapi ia sengaja menjebak keluarga ku, supaya Wati dapat menjadi istri untuk cucunya yang cacat itu.


Tiin tiin.

__ADS_1


Suara klakson motor mengejutkan ku, aku langsung menyeka air mata dan bangkit berdiri menghampiri Driver ojol.


Disepanjang perjalanan, aku tak dapat memikirkan apapun selain Wati. Kenapa harus dia ya Allah, semoga desas-desus mengenai pesugihan yang dilakukan keluarga Pak Mitro tak berimbas pada kehidupan Wati ke depannya. Tiba-tiba ekor mataku menangkap sekelebatan sosok kuntilanak merah. Entah kenapa ia mulai mengikuti ku lagi. Apa karena aku baru saja bertemu dengan Pak Bos besar. Aku hanya perlu membuktikan dengan mata kepala ku sendiri. Ketika merah berhadapan langsung dengan Kartika.


"Sudah sampai tujuan Kak, apa Kakak mau ganti tujuannya?" Tanya Driver ojol itu menghentikan laju motornya tepat di depan rumah kuno.


"Maaf Mas saya ngelamun tadi. Ongkosnya udah saya bayar lewat aplikasi ya, terima kasih." Jawabku seraya berjalan masuk ke halaman rumah.


Nampak sosok merah masih mengikuti ku sampai rumah. Entah apa tujuannya melakukan itu, mungkin ia diperintahkan Kartika untuk mengawasi ku. Tak ku hiraukan lagi demit itu, karena ia hanya mengawasi ku dari luar rumah.


"Mbak Rania, untunglah lu pulang cepet. Gue takut nih Mbak." Kata Heni menghadang langkahku.


"Takut kenapa Hen?" Aku mengaitkan kedua alis mata, penasaran dengan apa yang ditakuti Heni. Apakah ia melihat sosok kuntilanak merah ya.


"Itu Mbak. Di rumah utama, kayak ada yang lagi mandi. Masak gue denger guyuran air, dan ada bau sabun mandi gitu. Jangan-jangan ada setan nya lagi Mbak!" Jelas Heni dengan mengusap belakang tengkuknya.


Astaga. Pasti itu Om Dewa, yang sedang mandi. Mana mungkin aku mengatakan pada Heni, jika ada seseorang yang bersembunyi di dalam sana.


"Perasaan lu aja kali Hen, Ce Edoh kan kadang bersihin rumah utama. Mungkin dia yang lagi mandi."

__ADS_1


Heni menghembuskan nafas panjang, sepertinya ia lega setelah mendengar penjelasan ku. Aku memintanya kembali ke kamar, karena aku harus memberikan makan pada Om Dewa. Pasti saat ini dia belum makan, dan aku harus memastikan nya tetap berada disana. Karena besok polisi akan melakukan penggerebekan di gedung terbengkalai, untuk memastikan kebenaran ucapan Om Dewa mengenai Tante Ajeng. Apakah benar, jika dia pernah dalam kendali istrinya yang memiliki ilmu hitam, dan tak sadar melakukan ritual bersama para anggota sekte sesat itu.


__ADS_2