Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 75 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Sesampainya di Rumah Sakit aku melihat beberapa Perawat dan Dokter berlarian ke sebuah ruangan. Disana nampak Tante Ajeng sedang menangis tersedu-sedu. Aku menghampiri nya dan langsung mengatakan kecurigaan ku padanya.


"Tante lebih baik jujur saja, Tante kan yang bawa Agus kembali ke kost dengan kondisi luka seperti itu?"


Tante Ajeng membulatkan kedua matanya terkejut, ia semakin terisak mendengar tuduhan ku. Dan Mbak Rika langsung menenangkannya, ia memintaku untuk sabar dan tak langsung menuduh.


"Kau bisa tanya langsung pada Agus, apakah Tante yang membuatnya terluka begitu!"


"Eh itu Agus mau dibawa kemana Ran!" seru Mbak Rika seraya menepuk lenganku.


Dua orang perawat sedang mendorong brangkar ke Ruang ICU, sepertinya kondisi Agus semakin parah. Aku langsung menatap wajah Tante Ajeng dengan sorot mata tajam, entah kenapa aku merasa ini ada campur tangan nya.


Triing.


Pesan singkat masuk dari Mas Adit, ia mengirimiku video rekaman cctv di kostan Agus. Aku dan Mbak Rika sama-sama melihat video itu, dan yang terlihat disana adalah Janni bersama ayah Umi dan seorang lelaki yang tak ku kenal. Mereka sedang membawa Agus ke kamar kostnya dalam keadaan tak sadarkan diri, dan seluruh tubuhnya sudah penuh luka. Seketika aku menghembuskan nafas panjang, kenapa kecurigaan ku pada Tante Ajeng selalu tak terbukti. Lagi-lagi aku kalah telak sudah menuduhnya yang tidak-tidak, entah kenapa hatiku mengatakan jika apa yang ku lihat tak sama dengan apa yang terjadi. Aku sangat yakin jika Tante Ajeng terlibat dengan semua masalah yang telah terjadi.


"Jadi dimana Tante saat kejadian ini terjadi?" ku lihatkan rekaman video itu padanya, lalu ia mengatakan jika saat itu ada di rumah. Karena Tante Ajeng sedang video call dengan anaknya.


"Lihatlah riwayat panggilan video ini, tepat di hari dan jam itu Tante sedang video call dengan anak Tante." katanya langsung menunjukan riwayat panggilan di ponselnya.

__ADS_1


Aku mengerutkan kening berusaha menelaah alibi Tante Ajeng, mungkinkah ucapannya dapat dipercaya.


Mata ekorku menangkap sekelebatan bayangan putih yang melesat masuk ke Ruang ICU. Aku langsung mengejar bayangan putih itu dari luar ruangan, nampak Dokter sedang berjuang keras untuk menyelamatkan nyawa Agus, dan sudut ruangan itu ada arwah Agus sedang berdiri mengambang. Aku mencoba berkomunikasi dengan arwahnya dan memintanya keluar dari ruangan itu.


"Mbak lu disini aja awasin Tante Ajeng, ikuti dia kemanapun." aku berbisik ditelinga Mbak Rika, dibalas dengan anggukan kepala.


Nampak arwah Agus sudah menunggu di ujung lorong gelap, ia berdiri mengambang dengan wajah pucat.


"Gus lu ngapain tadi gak langsung masuk ke dalam tubuh lu?"


"Gue udah gak ada waktu lagi Ran, gue titip Tante Ajeng ya, minta dia buat jaga ibu gue." kata Agus dengan wajah sendu.


"Apapun yang Tante Ajeng lakukan, dia gak pernah bermaksud menyakiti gue. Dan tentang Om Dewa, dari awal dia sendiri yang berubah pikiran. Malam itu gue baru pulang kerja, Om Dewa nelpon dan minta gue jemput Bu Wayan di Stasiun Kota. Bu Wayan masuk ke dalam gedung tua itu disusul dengan Agni, sedangkan aku dan Om Dewa masuk melalui gedung sebelah nya yang punya akses pintu menembus ke gedung tua itu. Om Dewa menekan Bu Wayan untuk mengakhiri hidupnya, supaya ia bisa dijadikan penerus ilmu Leak. Tapi semua sudah terlambat karena Mbak Ayu sudah disiapkan untuk menjadi penerus ibunya. Karena kecewa dan marah, Om Dewa mengancam kakaknya sendiri, jika Bu Wayan tak mengakhiri hidupnya, Om Dewa mengancam akan mencelakai Mbak Ayu sebelum Mbak Ayu bisa menguasai ilmu Leak itu. Dan setelah Bu Wayan memenggal kepalanya sendiri dengan ilmu nya, Agni ditugaskan untuk membawa pergi kepala itu. Supaya kepala itu tak menyatu lagi dengan tubuhnya, dan Om Dewa memutuskan untuk menetap disini. Supaya ia dapat mempengaruhi Mbak Ayu untuk menolak menjadi sang penerus. Tapi rupanya tak ada yang tahu, jika kau menemukan liontin peninggalan Bu Wayan yang harus dikenakan Mbak Ayu. Liontin itu tak hanya melindungi Mbak Ayu, tapi juga menjadi pertanda jika ia adalah pemangku ritual." kata Agus panjang lebar, ia bahkan terlihat sangat menyesal. Dan memintaku menyampaikan permintaan maafnya pada Mbak Ayu.


"Gus, kalau emang ini adalah akhir hidup lu, gue minta lu berkata sejujurnya ke gue. Ceritain semua yang lu tahu, apa bener Tante Ajeng gak punya niat lain?"


"Rania selama ini Tante Ajeng udah banyak bantu gue, gue jadi seperti ini karena salah gue sendiri. Gue yang gak dengerin Tante Ajeng dan milih berpihak ke Om Dewa, tapi ternyata mereka berusaha ngebunuh gue supaya gue gak ceritain semua ke Mbak Ayu. Dan Janni seseorang yang pernah ada di masa lalu gue, ikut dalam persekutuan mereka. Mereka beramai-ramai nyiksa gue, sampai gue sekarat di antara hidup dan mati. Temukan Janni, dia yang tahu dimana keberadaan Om Dewa dan yang lainnya. Mereka harus membusuk dalam penjara, dan satu yang harus lu tahu kalau Tante Ajeng gak pernah melakukan kejahatan dengan sengaja. Gue punya hutang budi besar padanya, dan Tante Ajeng udah berusaha ngebuat Mbak Ayu gak terjebak dengan ilmu Leak itu, tapi ternyata Mbak Ayu sudah menentukan pilihannya sendiri. Sekali lagi sampaikan maaf gue ke Mbak Ayu, dan katakan pada Tante Ajeng jika aku sudah memaafkannya."


"Emang apa lagi yang Tante Ajeng lakukan ke lu Gus?"

__ADS_1


Tak ada jawaban dari Agus, ia hanya menyunggingkan senyumnya. Tak lama setelah itu, terdengar suara tangisan Tante Ajeng semakin keras! Dan Mbak Rika langsung memeluknya. Nampak di atas langit ada cahaya putih kemilauan yang menyilaukan. Aku menyipitkan kedua mata, perlahan arwah Agus terbang ke atas sana. Ia mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan padaku. Sepertinya Agus sudah ikhlas untuk kembali ke alam keabadian, dan sekarang adalah waktunya ia pergi untuk selamanya. Tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi pipi, aku melambaikan tangan selamat tinggal padanya. Semoga arwah Agus dapat diterima disisiNya, dan ia mendapatkan ampunan atas semua dosanya.


Aku berjalan tertatih menghampiri Tante Ajeng yang terlihat begitu terpukul karena Dokter memberikan kabar kematian Agus. Mbak Rika memintaku untuk tak menyudutkan Tante Ajeng lagi, karena saat ini ia pasti sedang sangat terguncang. Aku hanya menganggukan kepala, lalu mengirimkan pesan pada Mbak Ayu. Memberikan kabar tentang kematian Agus, dan setelah ini aku akan mengtakan semuanya padanya. Semoga apa yang dikatakan Agus benar, karena setengah hatiku masih ragu jika Tante Ajeng tak punya niat lain.


...Bersambung. ...


Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.


Nama Pena : AdindaRa


Judul Karya : Kurebut Suami Kakakku


Ecca sangat terkejut saat mendengar kabar pernikahan kakak kandungnya, Nuna dengan seorang lelaki yang sudah lama ia cintai, Belva Quiero.


Terlebih saat kakaknya mengandung dan memaksanya untuk ikut tinggal bersamanya di rumah milik suaminya dengan alasan Nuna ngidam masakan buatan Ecca.


Penolakan Ecca untuk tinggal bersama kakaknya sama sekali tidak diindahkan oleh orang tuanya sendiri dan bahkan mereka sangat setuju jika Ecca tinggal bersama Nuna dan membantunya di masa kehamilannya.


"Semua sudah gila! Aku tidak mungkin melebur rasa cintaku pada Mas Belva jika seperti ini keadaannya. Jangan salahkan aku jika nantinya aku bertindak di luar batasku!" batin Ecca menahan rasa geram.

__ADS_1



__ADS_2