
Aku terbangun setelah mendengar suara berisik dari sekitarku. Ketika aku membuka kedua mataku, nampak beberapa orang mengerumuniku. Mbak Ayu sudah mengenakan seragam cokelatnya, ia menatapku dengan raut wajah cemas.
"Ran lu kenapa? Kenapa lenganku sampai terluka begitu? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Mbak Ayu melihatku dengan serius.
"Gu gue kenapa Mbak? Kok kalian semua bisa masuk kesini? Kan pintunya gue kunci dari dalam."
"Tadi pagi gue ketuk pintu lu berkali-kali, tapi lu gak buka juga sampai gue denger suara sesuatu yang terjatuh. Karena gue hawatir sama lu, gue hubungi Ce Edoh, dan Ce Edoh ajak suaminya kesini buat buka paksa pintu kamar lu. Jujur aja dari semalam gue kepikiran ucapan Mbak Endang. Eh gak tahu nya beneran kan, ada sesuatu sama lu."
Aku mengaitkan kedua alis mata, berusaha memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. Mengingat mimpi semalam, rasanya bagian lenganku terasa nyut-nyutan. Ku raba lenganku dan terasa perih sekali.
"Eh jangan dipegang dulu, Ce Edoh baru aja bersihin luka lu pakai alkohol. Ntar bisa infeksi tahu gak!" Seru Mbak Ayu seraya menepis tanganku.
"Awww sakit!" Jeritku setengah meringis.
"Gue bilang juga apa, sebenarnya apa yang terjadi sih Ran?"
Aku menoleh ke berbagai arah, nampak Ce Edoh sedang membantu suaminya memperbaiki pintu kamarku. Aku berusaha bangkit dari tempat tidur, lalu membisikan sesuatu pada Mbak Ayu. Sontak saja ia membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Gila! Ini udah keterlaluan Ran, gue bakal bikin perhitungan dengan si Merah! Berani-beraninya dia melukai lu kayak gini. Emang dia pikir gue takut apa sama dia, gue ini sang Pemangku. Sang penerus ilmu..."
__ADS_1
Sebelum Mbak Ayu melanjutkan perkataannya, dengan cepat aku membungkam mulutnya. Ku berikan kode dengan kedipan mata, tapi Mbak Ayu justru tak memahaminya. Ia menaikan dagunya, bertanya kenapa aku membungkam mulutnya lalu mengedipkan mata.
"Disini ada orang selain kita, jangan sampai mereka tahu siapa lu yang sebenarnya Mbak!" Kataku berbisik ditelinga nya.
Mbak Ayu hanya mengembangkan senyum seraya mengangkat jari jempolnya ke atas. Duh ceroboh banget sih Mbak Ayu, hampir saja ia mengungkapkan jati dirinya pada orang lain. Beruntungnya aku tak terlambat menghentikan nya.
"Ya udah gue berangkat kerja dulu ya, kalau lu masih gak enak badan mending ijin aja ke Rika. Bilang kalau lu kecapekan soalnya kemarin kerja lembur di Hotel Pak Bos." Celetuk Mbak Ayu seraya mengenakan sepatu kerjanya.
Kemudian ia berpamitan pada Ce Edoh dan suaminya. Sementara aku hanya duduk dengan memperhatikan luka di lenganku. Perasaan semalam aku hanya bermimpi, ketika si Merah melukai lenganku. Dan hampir aja dia hisap habis darahku. Tak habis pikir, kenapa mimpi bisa sampai ke dunia nyata. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, tak mengerti dengan kejadian yang baru saja ku alami. Tiba-tiba Ce Edoh menghampiri ku dan mengatakan sesuatu yang tak kalah mengejutkan.
"Hati-hati ya Neng, itu tuh pertanda dari dia yang jahat buat nyelakain orang-orang terdekat korbannya. Kalau bisa Neng jangan ikut campur dengan urusan si Jahat itu, saya hawatir kalau orang-orang terdekat Neng nanti celaka. Kan bisa repot juga Neng." Ucap Ce Edoh seraya memberikan racikan jamu padaku.
"Ce Edoh ngomong apa sih? Saya gak ngerti loh Ce, trus ini jamu apa an Ce? Kok baunya amis gini sih!"
Ce Edoh pergi meninggalkan ku dengan rasa penasaran. Entah darimana ia sedikit mengerti tentang sosok jahat yang ia bicarakan. Meski tak menyebut si Merah secara langsung, aku tahu jika Ce Edoh mengetahui sesuatu tentang luka di lenganku ini.
Ponselku bergetar, ada sebuah pesan masuk dari Mbak Rika. Ia memintaku untuk tetap berangkat, karena Pak Bos akan datang mengumumkan kenaikan pangkat kami.
"Bukannya gue gak mau kasih lu ijin nih, tapi Pak Bos nanti datang mau resmiin kenaikan jabatan kita. Eh naik jabatan pulak, udah kayak pejabat aja ya kita hehehe. Ya udah gue tunggu di Kantor ya Ran. See you." Kata Mbak Rika melalui pesan wassap.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas panjang, terpaksa aku berangkat ke Kantor sekarang juga. Aku memesan ojek online melalui aplikasi, dan tak lama ojol itu datang.
"Sesuai aplikasi ya Kak?" Tanya driver ojol yang berusia paruh baya.
"Iya Pak, tolong cari jalan tikus ya Pak biar cepet sampai."
"Wah Kakaknya ada-ada saja, masak jalan tikus mau dilewati mana muat Kak." Canda driver ojol itu.
Aku pun terkekeh seraya mengenakan helm dikepala. Tapi ada pemandangan yang berbeda kali ini. Karena sosok Endang tiba-tiba datang mendekat, ia membulatkan kedua matanya dengan raut wajah sendu. Aah terserah dia lah, mungkin Endang hanya iseng saja mau ngikutin kemana aku pergi. Dan benar saja, sosok Endang terus melesat mengikuti motor Pak ojol ini. Terkadang raut wajahnya berubah agak kesal, lalu berubah lagi sendu. Ada apa dengan Endang, kenapa dia aneh begitu. Bahkan setelah aku sampai di Kantor, sosok Endang tetap berdiri mengambang di dekat Bapak ojol itu. Apakah ia mengenal si Bapak ojol itu ya, kenapa aku jadi penasaran melihatnya.
"Maaf Pak, kalau boleh saya tanya nih. Apa Bapak mengenal seseorang yang bernama Endang?" Aku langsung bertanya pada Bapak ojol itu karena penasaran melihat reaksi Endang yang tak seperti biasanya. Karena ini pertama kalinya, sosok Endang terus mengikuti ku tanpa jeda. Biasanya dia hanya akan mengikuti sampai di tempat tertentu, kemudian hilang begitu saja.
Hening tak ada jawaban dari Bapak ojol itu, ia malah menundukan kepalanya dengan tangan yang bergetar. Jangan-jangan mereka memang saling mengenal, melihat reaksi Pak ojol itu, aku jadi curiga, jika ada sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu antara keduanya.
"Pak Pak, kenapa Bapak malah diam saja ya?" Tanyaku sekali lagi dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Ma maaf Kak, Sa saya hanya terkejut saja. Kenapa Kakak tiba-tiba nanya itu ya?"
Aku tak langsung menjawab pertanyaan Bapak ojol itu, ku berikan ongkos padanya, seraya mengingatkan nya untuk banyak berdoa ketika di jalan. Karena jujur saja, aku jadi takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Bapak ojol itu. Karena melihat ekspresi Endang yang terlihat berbeda setelah melihat Bapak ojol ini. Aku jadi berspekulasi, jika mereka saling mengenal satu sama lain.
__ADS_1
.