Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 203 MENGGALI INFORMASI?


__ADS_3

Setelah dari Rumah Sakit, aku dan Mbak Rika kembali ke kost masing-masing. Nampak Heni baru saja kembali dari kampung halaman nya. Ia sedang duduk di teras rumah utama bersama Ce Edoh, dan beberapa tamu yang mungkin datang untuk melayat.


"Loh Mbak Rania tangannya kenapa diperban gitu?" Tanya Heni cemas seraya menghampiri ku.


"Gak apa-apa kok Hen, luka kecil aja. Btw kapan lu datang?"


"Dih Mbak Rania, kalau luka kecil ngapain dibalut perban segala. Gue datang sore tadi, terus baru tau kalau Om nya Mbak Ayu meninggal dunia. Jadi sekarang Mbak Ayu belum balik ya Mbak?"


"Mungkin lusa baru balik Hen, btw lu ada ketemu Leni gak? Kemarin dia sempat kesini sama Tante Ajeng. Dia bilang mau ngajak lu bergabung dengan sekte sesat yang lu juga tau. Kok lu gak pernah cerita ke gue Hen? Dulu lu sempat ikut perkumpulan itu kan?"


Nampak Heni tercekat, dan tak langsung menjawab pertanyaan ku. Ia menoleh ke belakang, dimana Ce Edoh sedang mengobrol dengan para tamu.


"Apa Leni yang bilang itu Mbak?"

__ADS_1


"Bukan! Almarhum Abang lu Fendi yang cerita, kalau dulu lu sempet pergi diam-diam dari rumah sama Leni. Dari situ gue tau kalau lu sempat ikut perkumpulan mereka. Apa lu tau dimana aja tempat mereka berkumpul melakukan ritual? Kalau lu bisa kasih info ke gue, itu bisa membantu penyelidikan polisi mengenai keberadaan para anggota sekte yang lainnya. Dan apa lu tau sekarang pemimpin sekte itu adalah Tante Ajeng?"


"Gu gue gak tahu Mbak, sumpah! Dulu yang gue lihat yang mimpin ritual udah tua Nenek-nenek gitu. Dan setelah ketahuan keluarga, gue udah gak pernah ikutan acara mereka lagi. Tapi gue tau ada beberapa tempat yang biasa mereka pakai untuk pertemuan. Dan kalau Leni masih gabung dengan kelompok itu juga gue gak tau Mbak. Tapi gue gak akan bergabung dengan mereka lagi kok. Apalagi kalau Leni ngajakin gue, beneran deh gue gak mau ikutan sesat kayak mereka Mbak. Apalagi sekarang gue satu-satunya harapan keluarga setelah Abang gue gak ada. Gue hanya mau fokus dengan masa depan dan bahagiain kedua orang tua aja Mbak." Pungkasnya dengan menghembuskan nafas panjang.


"Ya udah yuk kita ke kamar aja, biar ngobrolnya santai." Kataku seraya merangkul Heni supaya ia tak terlalu sedih.


Tiba-tiba Petter melesat mendahului ku, ia berkata jika tadi melihat monster di lantai atas rumah utama. Mana ada monster disini, dasar hantu bocah aneh. Mungkin yang dia lihat semacam sosok tinggi besar yang mengejutkan nya. Jadi tak ku tanggapi ceritanya, dan menyunggingkan senyuman saja pada Petter.


"Rania kau tak percaya padaku? Aku melihat monster berbadan besar dengan banyak rambut di tubuh nya! Gigi taringnya panjang dan mulutnya juga lebar. Aku takut dia akan memakan ku, aku tak mau berkeliaran di rumah itu lagi!" Ucap Petter seraya melesat ke dalam kamar ku.


Sesampainya di kamar, Heni langsung duduk dengan nafas yang berderu kencang. Sepertinya ia agak ketakutan untuk menceritakan informasi mengenai sekte sesat yang diketahui nya. Aku menggenggam tangan nya, dan meyakin meyakinkan nya supaya berkata jujur padaku.


"Ta tapi gue takut Mbak. Kalau mereka ngelakuin hal-hal yang buruk ke gue gimana?" Heni nampak gugup dan tidak tenang.

__ADS_1


"Ada gue Hen. InsyaAllah gue akan lindungi lu dari mereka, lu pasti tau kan kalau sekte itu ngorbanin nyawa orang lain buat tumbal, makanya lu takut bernasib sama seperti itu. Iya kan ngaku aja?"


"Lu udah tau itu juga kan Mbak. Makanya gue gak mau gabung ke kelompok itu lagi. Gue takut Mbak kalau sampai diri gue sendiri ataupun orang-orang yang gue sayang sampai jadi korban nya. Kalau gue bisa kasih informasi yang lu minta, apa lu bisa jamin keselamatan gue Mbak?"


"InsyaAllah Hen, gue akan berusaha sebisa mungkin buat lindungi lu dari sekte itu. Mungkin lu gak tahu, Om nya Mbak Ayu yang baru aja meninggal itu pernah sempat jadi calon tumbal sekte itu. Tapi alhamdulillah nya gue sama Mbak Ayu berhasil menyelamatkan nya. Tapi sayang Tuhan berkata lain, karena usia seseorang emang gak ada yang tau. Beliau meninggal meski udah selamat dari incaran sekte sesat istrinya sendiri."


"Jadi Tante Ajeng yang jadi pemimpin baru sekte itu Mbak?" Tanya Heni membulatkan kedua mata.


Aku hanya menganggukkan kepala, dan menceritakan penggrebekan yang menangkap para anggota yang berusia tua. Jadi mereka melakukan regenerasi dengan mengorbankan para anggota yang siap berubah wujud menjadi jenglot. Nampak Heni langsung mengusap belakang tengkuknya, ia ketakutan begitu mendengar kata jenglot.


"Mbak lu yakin gue bakal aman kalau kasih informasi ke lu?"


"Begini aja deh Hen, lu pikirkan baik-baik apa hati kecil lu tega ngelihat orang-orang yang gak berdosa jadi tumbal sekte sesat itu. Kalau lu udah siap kasih informasi ke gue, lu bisa ceritain semua yang lu tahu mengenai lokasi mereka melakukan perkumpulan."

__ADS_1


Nampak Heni hanya diam dengan menundukkan kepalanya. Sepertinya ia sedang dilema, karena hati kecilnya memiliki rasa takut jika nyawa nya akan terancam setelah memberikan informasi. Jadi aku tak mau memaksanya, dan memberinya waktu untuk berpikir. Padahal jika sampai Heni memberikan informasi yang akurat, aku bersama para polisi bisa langsung menangkap para anggota sekte itu. Sehingga tak akan ada banyak korban lagi ke depannya.


__ADS_2