Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 198 SESAMA HANTU KOK TAKUT?


__ADS_3

"Kau sudah besar Raniaaa? Tubuhmu lebih tinggi dari ku, pasti kau banyak makan ya?" Ucapnya seraya mengusap pipi ku.


Aku hanya diam tak berkata-kata, aku masih tak percaya jika sahabat kecil ku datang menemuiku. Ia masih terlihat sama seperti beberapa tahun yang lalu. Rambutnya yang pirang dan mata nya yang berwarna biru seperti air di lautan.


"Petter... Apakah kau benar-benar Petter sahabat ku?"


"Iya Raniaaa... Ini aku Petter sahabat kecil mu. Maaf aku terlalu lama pergi dari mu, aku merindukan mu Raniaaa..." Ucap Petter seraya menghambur memeluk ku.


Ya Tuhan ini bukan mimpi, aku dapat menyentuh dan memeluk Petter. Dia benar-benar sahabat kecil ku yang sangat lu rindukan. Dia datang dari alam antah berantah untuk mengunjungi ku. Ternyata ia tak melupakan ku, meski aku mengira ia tak akan pernah datang menemui ku lagi.


"Aku juga sangat merindukanmu Petter, kenapa kau lama sekali datangnya? Apa ada masalah di tempat tinggal mu yang sekarang?" Tanya ku menatapnya penuh kerinduan.


"Nee, daar is geen probleem Rania." Katanya berbicara dengan bahasa Belanda.


"Ish kau lupa ya, aku tak paham bahasa mu, berbicara lah dengan bahasa Indonesia saja. Oke?"


Petter menganggukkan kepala, ia menjelaskan jika tak ada masalah disana. Ia datang karena teringat padaku, dan di tempat nya tinggal ada seorang gadis kecil yang baru saja pindah ke tempatnya.


"Dan kau tau apa yang membuat ku teringat padamu?" Tanya nya seraya berlonjak-lonjak mengitari tubuh ku.


Aku terkekeh melihat tingkahnya yang masih kekanak-kanakan seperti dulu. Hanya aku saja yang berubah dewasa, dan sahabat tak kasat mata ku ini masih tetap sama.


"Petter hentikan! Jangan berlonjak dengan memutari ku begitu! Aku pusing tau gak!"


"Tentu saja kau pusing Rania. Sekarang kau sudah menua, dan kesehatan mu tak sama seperti dulu. Pasti kau sudah tidak bisa bermain dan berlari dengan ku lagi. Kau menjadi lebih besar, dan lemah Raniaaa!" Ucap Petter tanpa dosa.

__ADS_1


Aku hanya menghembuskan nafas panjang. Ternyata kesabaran ku harus di uji oleh sahabat kecil ku ini. Ucapannya benar-benar polos, sampai ia tak sadar jika sebenarnya usianya jauh lebih tua daripada aku. Hanya tubuh hampa nya saja yang tak akan pernah berubah. Karena ia tiada di usia muda, dan ia bersama kedua orang tuanya memutuskan untuk tinggal di alam lain supaya dapat hidup bersama seperti keluarga pada umumnya.


"Hei, apa kau tak sadar jika usia mu jauh lebih tua daripada aku?" Kata ku seraya berkacak pinggang.


"Ach tetap saja kau sekarang lebih tua daripada aku, dasar cengeng weeek!" Petter meledek ku dengan menjulurkan lidah nya.


Ia mengatai ku sudah tua, tapi tetap saja menganggap ku cengeng seperti dulu. Dasar bocah labil, kalau sekarang aku menua ya wajar saja. Toh aku manusia yang tumbuh dan berkembang, tak sama seperti nya yang tak akan pernah menua. Karena ia tiada sewaktu kecil, sampai kapanpun wujudnya akan tetap menjadi anak kecil. Ia berhenti melonjak lalu mendekap ku sekali lagi, ia mencubit pipi ku seraya bersenandung lagu dengan bahasa Belanda.


"Apa yang kau senandung kan Petter?"


"Aaach itu lagu yang biasa Mama nyanyikan untuk ku, Mama dan Papa menitipkan salam untuk mu. Tadinya mereka ingin ikut bersama ku, tapi di alam kami tinggal sekarang sedang ada pemilihan ketua. Dan Papa salah satu kandidatnya, karena banyak hantu Belanda yang berpindah ke alam kami Rania. Jadi harus ada ketua kelompok yang dipilih untuk memimpin para hantu Belanda."


Entahlah apa yang ia bicarakan, pemilihan ketua apa yang ia maksud. Yang jelas saat ini aku sangat bahagia, bisa dipertemukan dengan Petter kembali. Apalagi kekuatan ku yang hilang sudah muncul lagi, sehingga aku bisa berinteraksi dengan nya.


"Raniaa tadi aku menakutimu ya? Kenapa kau masih takut dengan hantu? Bukankah kau sudah memiliki kekuatan yang besar?" Tanya nya dengan memiringkan kepala nya.


"Aku bukan maling Raniaaaa! Aku sahabat mu, kenapa kau mengatai ku begitu huh!" Pungkasnya dengan mengerucutkan bibirnya.


Aku mencubit pipi Petter yang menurutku chubby. Dia terlalu imut untuk menjadi hantu, apalagi tingkahnya yang masih polos.


"Baiklah, apa kau akan terus bersamaku lagi Petter? Karena akhir-akhir ini aku kewalahan menghadapi para hantu yang meminta bantuan. Belum lagi hantu-hantu jahat dan para manusia sesat yang menyusahkan ku." Keluh ku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Apa perempuan jelek berbaju merah itu yang mengganggu mu? Tadi aku juga ketakutan saat melintasinya, perempuan jelek itu ada di depan rumah ini. Untung saja aku berhasil bersembunyi darinya." Jelas nya seraya menundukkan kepala.


Aku terkekeh geli mendengar penjelasan nya, Petter tetaplah Petter sahabat tak kasat mata ku yang sangat takut pada hantu sejenis kuntilanak. Menurutnya kuntilanak adalah perwujudan hantu yang paling jelek, karena wajahnya yang menyeramkan dan terkadang rusak karena dipenuhi belatung. Padahal dia sendiri adalah hantu, tapi ia masih saja takut ketika bertemu dengan kuntilanak.

__ADS_1


"Kau tenang saja Petter, aku yang akan melindungi mu dari hantu perempuan jelek itu! Tapi katakan dulu, apa kau akan tetap bersamaku?"


"Nee Raniaa." Pungkasnya dengan wajah sendu.


Aah aku mengerti dia menjawab tidak, karena raut wajahnya mengatakan seperti itu. Tapi aku tak mau membuatnya terbebani dengan harapan ku. Jadi aku mengalihkan pembicaraan, dan meledeknya karena takut pada sosok kuntilanak.


"Aku tak takut padanya, aku hanya tak suka melihat wajahnya Raniaaa!" Gerutunya berkacak pinggang.


"Ya sudahlah, yang jelas hari ini aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi. Sebagai hadiahnya aku akan memberikan sesuatu untuk mu!"


"Apa itu Rania? Cokelat dan permen susu kah?"


"Jadi kau mau itu? Baiklah, akan ku berikan untukmu. Apa kau mau baju baru juga? Sekarang aku sudah bekerja dan memiliki uang sendiri, jadi aku bisa membelikan apa yang kau mau!"


"Horeee! Bedankt Rania!" Seru nya berlonjak kegirangan.


"Apa artinya bedankt sih?" Tanya ku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Terima kasih Raniaaa. Kau sangat cantik hari ini, aku suka kau banyak uang tak seperti dulu!"


Cih dasar demit bocil, tentu saja dulu aku tak punya banyak uang. Mana bisa disamakan dengan sekarang, tapi aku cukup terhibur dengan kehadiran nya. Setidaknya hidupku yang terlalu banyak dengan masalah ini, bisa sedikit lebih menyenangkan ketika sahabat kecil ku ini hadir kembali. Entah darimana ia tau keberadaan ku, dan karena penasaran akhirnya aku pun bertanya. Dan Petter menjelaskan jika sosok penjaga ku yang memberitahu nya. Apakah Malik yang dimaksud oleh Petter. Apakah mereka bertemu di alam antah berantah itu.


"Apa kau bertemu dengan Malik? Bagaimana kondisinya disana Petter?"


"Oh jadi lelaki tampan itu bernama Malik ya. Kenapa dia tak menjaga mu lagi Rania? Apa dia berbuat kesalahan, karena sewaktu aku bertemu dengan nya. Lelaki itu sedang berada dalam tahanan gaib, Papa berkunjung ke sebuah kerajaan dan melihat para tahanan. Entah darimana ia tahu, jika aku adalah sahabat mu."

__ADS_1


Mendengar penjelasan Petter, mendadak jantung ku terasa sesak. Aku tak menyangka jika Malik benar-benar berada dalam tahanan. Semua itu karena kesalahan ku, yang membuatnya dalam masalah. Nampak Petter penasaran, dan bertanya padaku kenapa aku jadi murung setelah mendengar ceritanya. Aku hanya menundukkan kepala seraya memeluk tubuh hampa nya. Entah Petter akan memahami penjelasanku atau tidak, jiwa nya yang polos dan kekanak-kanakan mungkin tak akan memahami masalah orang yang lebih dewasa dari nya.


__ADS_2