Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 67 KEJANGGALAN?


__ADS_3

"Apa aku boleh ikut melihat rekaman cctv itu Mas?"


"Aku sudah menyerahkannya ke bagian investigasi, mungkin Tante Ajeng sedang melihat rekamannya sekarang."


"Eh Mas, kalau kasus kematian ibu Mbak Ayu di usut lagi bisa gak sih? secara kan belum jelas kematian nya gimana. Karena aku mendapatkan informasi, kalau kematian Bu Wayan itu memang percobaan bunuh diri yang didasari oleh tekanan dari seseorang. Jadi ada orang yang sengaja meminta Bu Wayan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, dengan ancaman akan menyakiti anaknya jika Bu Wayan tak mengakhiri hidupnya. Apakah kasus itu bisa dipidanakan?"


"Kalau memang ada bukti dan saksi yang kuat harusnya sih bisa Ran. Itu secara tidak langsung udah menjurus ke kasus pembunuhan secara tak langsung. Karena pelaku menekan korban untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Memangnya siapa orang yang kau curigai itu?" tanya Mas Adit dengan wajah serius.


Ku ceritakan segala hal mengenai Agus yang ternyata ada di lokasi bersama Agni. Tapi hanya Agni yang tertangkap rekaman cctv dengan membawa bungkusan yang berisi potongan kepala Bu Wayan.


"Aku gak bisa ceritakan detailnya darimana aku mengetahui informasi ini. Karena tak akan masuk akal jika aku menceritakan nya. Intinya Agus ada di dalam gudang tua itu bersama satu orang lainnya selain Agni. Tapi orang itu mengenakan penutup kepala, jadi aku sendiri juga tak tahu orang itu siapa. Hanya Agus yang tahu dan dapat menguak misteri ini. Tapi sepertinya Agus sudah tahu, jika dirinya dalam bahaya. Karena itulah dia menghilang entah kemana, pasti dia sedang ketakutan akan berakhir seperti Agni."


"Rania. Jangan katakan kalau kau mendapatkan informasi ini dari makhluk gaib dan sejenisnya? karena aku gak akan bisa menguak misteri ini kalau sumbernya aja gak jelas asalnya.!" seru Mas Adit memijat pangkal hidungnya.


Seorang petugas masuk ke dalam ruangan memberi hormat pada Mas Adit, lalu memintanya menemui komandan yang baru saja tiba di kantor nya. Mas Adit bergegas pergi bersama petugas itu, dan memintaku menunggu di luar bersama Tante Ajeng dan juga Janni. Ku lihat keduanya sedang duduk menghadap ke monitor komputer, nampaknya mereka sedang melihat rekaman cctv yang dibicarakan Mas Adit tadi. Aku melihat Agus masuk ke dalam mobil sedan berwarna hitam. Memang di dalamnya nampak bayangan beberapa orang yang sedang duduk. Aku mengerutkan kening, karena tak dapat melihat dengan jelas siapa saja yang ada di dalam sana. Aku pun bertanya pada Tante Ajeng, apakah ia sudah bisa menghubungi suaminya atau belum. Dan jawaban Tante Ajeng tetap sama, Om Dewa belum bisa dihubungi sampai sekarang.


"Maaf mengganggu waktunya, karena dari hasil investigasi kami tidak menemukan identitas korban. Jadi bisakah ibu ikut kami ke kantor polisi untuk memastikan data diri korban? karena kami tak dapat menghubungi pihak keluarga korban, tak ada petunjuk lain dari sekitar lokasi." ucap Mas Adit dengan wibawanya.


"Baik saya akan ikut ke Rumah Sakit Pak."


Kami semua pergi ke Rumah Sakit Polri bersama menumpang mobil polisi. Di perjalanan Tante Ajeng mengatakan, jika ada yang tak beres dengan semua ini. Karena Om Dewa tak menunjukan batang hidungnya.


"Jangan-jangan terjadi perdebatan di kelompok mereka, makanya Agus nekat mau mengakhiri hidupnya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, Tante jadi takut Rania. Jangan-jangan mereka juga akan mengincar Tante huhuhu." Tante Ajeng berderai air mata, ia terlihat sangat ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya.


Aku meyakinkan Tante Ajeng, jika tak akan terjadi apapun padanya karena ada Mbak Ayu yang akan melindunginya.

__ADS_1


"Tapi Dahayu bisa berubah sewaktu-waktu, dia sekarang sudah berubah. Tante takut dia terhasut oleh Om nya sendiri, dan mencelakai Tante."


Janni hanya diam memandangi kami tanpa mengatakan apa-apa, entah dia tahu masalah ini atau tidak. Yang jelas aku hanya bisa meyakinkan Tante Ajeng, kalau Mbak Ayu tak akan gegabah mengambil keputusan.


Akhirnya kami sampai di ruang jenazah, Tante Ajeng bersama Mas Adit masuk ke dalam untuk melihat korban yang tenggelam itu. Aku dan Janni menunggu di luar, mata ekorku menangkap bayangan putih yang melesat di ujung lorong. Sesosok penampakan yang tak asing di mataku, sosok Agus sedang berdiri mengambang di bawah pohon besar. Aku membulatkan kedua mata tak percaya, ternyata apa yang ku lihat memang nyata. Dia adalah arwah Agus, apa ini artinya dia benar-benar telah tiada. Segera aku berjalan menghampiri nya, melihatnya dari atas hingga ke bawah. Agus menyeringai dihadapan ku, aku gelagapan melihatnya dengan wujud barunya.


"Ternyata lu benar-benar bisa melihat makhluk tak kasat mata ya Ran? gue baru percaya sekarang."


"Gus ini beneran lu? apa lu udah meninggal? di dimana jasad lu?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.


"Gue belum meninggal Rania, setidaknya untuk sekarang raga gue masih bertahan. Tapi gue sekarat Ran, tolong selamatin gue."


"Gue bakal tolongin lu Gus, sekarang lu kasih tahu gue dimana tubuh lu saat ini."


"Setan! kemana Agus pergi Rania!" pekik Mbak Ayu dengan deru nafas tak beraturan.


"Tadi emang setan Mbak. Sebentar lagi Agus beneran bakal jadi setan gentayangan."


"Apa maksud lu Rania?"


"Tadi itu arwah Agus yang lu lihat Mbak. Dia minta tolong ke gue, katanya dia sedang sekarat. Tubuhnya gak akan bisa bertahan lama, kalau gue gak selamatin dia. Makanya jiwanya terlepas dari raga untuk meminta bantuan ke gue. Tapi dia belum sempat mengatakan dimana tubuhnya, karena dia udah ketakutan lihat lu datang."


"Sial! kalau sampai Agus beneran meninggal kita gak akan tahu informasi apa-apa. Dan gue gak bisa biarin Agus tiada begitu aja, karena dia udah sekongkol sama orang yang ngancam ibu buat bunuh diri. Apa jangan-jangan bener kata Tante Ajeng, kalau dalang dibalik semua ini adalah Om Dewa? karena sampai detik ini, Om Dewa belum bisa dihubungi."


Aku mengangkat bahu karena tak tahu harus berkata apa, kami sama-sama penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada Agus.

__ADS_1


"Tadi di rekaman cctv, Agus terlihat baik-baik saja. Apa mungkin dia dicelakai sesudah meninggalkan lokasi jembatan layang itu." batinku di dalam hati.


"Jadi korban tersebut bernama Prayoga? apakah ibu bisa memberitahu kontak keluarganya?" terdengar suara Mas Adit yang sedang bertanya-tanya pada Tante Ajeng.


"Maaf Pak, saya hanya mengenalnya sebatas nama saja. Dia datang ke rumah saya untuk berkabung saat mengetahui ibu Dahayu sudah tiada. Hanya itu saja yang saya tahu, karena kami hanya mengenal di satu kelompok persembahyangan saja." jelas Tante Ajeng seraya berjalan meninggalkan kamar jenazah.


Tiba-tiba Mbak Ayu menarik paksa tangan Tante Ajeng, dan berbicara dengan raut wajah marah. Keduanya seperti sedang berdebat, dan kini Tante Ajeng malah menangis dihadapan Mbak Ayu. Kami semua saling memandang, tak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Ayo Ran, lu ikut gue pergi!" seru Mbak Ayu menarik tanganku meninggalkan semua orang yang sedang menatap kami dengan bingung.


...Kemana Mbak Ayu membawa Rania pergi? tunggu episode selanjutnya bye 👋...


...Bersambung. ...


Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.


Belenggu Pernikahan Semu


Author: teh ijo


~Pernikahan tanpa cinta, tak selamanya berakhir dengan bahagia~


Zahra terpaksa harus menikah dengan Alzam, pria asing pilihan ibunya. Pernikahan tanpa cinta membuat Zahra harus menerima perihnya kenyataan. Terlebih saat dia mengetahui jika Alzam telah memiliki seorang tunangan.


Selama pernikahan Alzam tak pernah sedikitpun menganggap Zahra sebagai seorang istri meskipun mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Bahkan Zahra harus berlapang dada ketika Alzam memutuskan untuk menikahi Aira. Mampukah Zahra mempertahankan rumah tangganya?

__ADS_1


__ADS_2