Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 34 MISTERI PENEMUAN MAYAT


__ADS_3

Suasana di ruang tamu terasa tegang, apalagi melihat ekspresi wajah Tante Ajeng dan Om Dewa. Keduanya masih terlihat kesal, raut wajah mereka sama-sama kaku. Terdengar suara Mbak Ayu yang menangis sesegukan, ia tak mengerti apapun, tapi ia dapat memahami situasi saat itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi Om, Tante? kenapa Tante bilang Ibuku sudah menjadi mayat? apakah kalian menyembunyikan sesuatu dariku? yang selama ini Dahayu tahu, Ibu dan Bapak gak tahu dimana keberadaan nya. Begitu juga semua keluarga mengatakan hal yang sama. Tapi tadi Tante bilang Ibuku sudah menjadi mayat? tolong kasih tahu apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Mbak Ayu berderai air mata.


Om Dewa berusaha menenangkan Mbak Ayu, ia meminta Mbak Ayu untuk sabar, karena yang dikatakan Tante Ajeng memang benar adanya.


"Banyak fakta yang tak kau ketahui kebenaran nya Yu, kami terpaksa menutupi itu semua darimu. Kami melakukan nya demi keselamatan mu sendiri, dan itu adalah permintaan Ibumu. Tapi takdir berkata lain, Ibumu sudah tiada tanpa kami tahu. Dan menurut kabar ia sudah dikuburkan meski dalam keadaan tak sempurna. Dan tugasmu sebagai seorang anak adalah membantu menyempurnakan jazad Ibumu." kata Om Dewa dengan wajah sendu.


Kami semua hanya diam mendengar percakapan keduanya, nampak Mbak Ayu kebingungan dengan maksud perkataan Om Dewa.


"Menyempurnakan? apa maksud Om sebenarnya?"


"Kau mungkin tahu beberapa waktu lalu, ada berita penemuan mayat di gedung tua. Mayat tanpa kepala itu adalah Ibumu Yu."


Bruugh.


Mbak Ayu terduduk lemas di lantai, ia sangat terguncang mendengar penjelasan Om Dewa. Ya, aku tahu perasaan nya saat ini benar-benar berantakan. Karena dulu kami sempat membicarakan mayat tersebut, dan ternyata itu adalah mayat dari seorang perempuan yang telah melahirkan nya. Kini Mbak Ayu menangis histeris, ia menjerit memanggil Ibunya berulang kali. Tak ada yang berani menenangkan nya Mbak Ayu, bahkan Om Dewa hanya bisa berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah Dahayu, jangan kau sesali semuanya. Maafkan Tante jika cara Tante menyampaikan berita ini terkesan kasar. Ini semua karena Om Dewa yang tak ingin memberitahu mu tentang kabar meninggal nya Ibumu. Tante baru tahu semalam, ketika Rania menceritakan semuanya pada Tante. Awalnya Rania tak tahu apapun, bahkan ia tak menyangka jika mayat tanpa kepala itu adalah kerabat kami. Agus yang pertama mencurigainya, dan ia mencari tahu kebenarannya. Sampai akhirnya Tante bertanya langsung pada Rania, karena menurutnya Ibumu meninggalkan wasiat."

__ADS_1


"Kenapa kau harus mengatakan itu Ajeng? bukannya aku tak ingin memberitahu kebenarannya pada Dahayu. Tapi aku membutuhkan waktu untuk mengatakan nya, tapi kau terlalu tergesa-gesa ingin mengatakan kabar buruk itu!" pekik Om Dewa dengan membulatkan kedua matanya.


"Mau sampai kapan kau menutupi kebenarannya hah? jazad Kakak perempuan mu sudah dikubur dengan keadaan tak sempurna. Bahkan bagian tubuhnya yang hilang belum ditemukan sampai sekarang. Apa kau tak merasa kasihan padanya? lihatlah Dahayu berhak mengetahui kabar tentang Ibunya. Meski itu kabar buruk sekalipun, atau kau memang berniat untuk mengorbankan keponakanmu sendiri?" jerit Tante Ajeng tak kalah lantangnya.


"Tutup mulutmu itu Jeng! jangan kau berani mengatakan tentang hal itu lagi. Untuk apa aku mengorbankan keponakan ku sendiri hah!" Om Dewa berkacak pinggang dengan mata melotot ke arah istrinya.


"Wah wah wah, ternyata kau sudah melupakan semuanya begitu saja. Kau bilang untuk apa? apa aku perlu menceritakan semuanya di depan mereka?" sahut Tante Ajeng dengan menaikan kepalanya ke atas.


Suasana semakin tak karuan, perdebatan antara suami istri itu semakin sengit. Kami semua hanya diam tak berani mengatakan apapun. Lalu Mbak Ayu mendekati keduanya dan meminta mereka untuk menghentikan perdebatan itu.


"Sudah cukup Om, Tante. Dahayu gak tahu apa yang sebenarnya kalian perdebatkan. Tapi Dahayu gak bisa menyalahkan Om dan Tante. Mungkin maksud kalian baik, tapi tetap pada intinya kebenaran lebih baik dikatakan daripada disembunyikan. Sekarang bukanlah waktunya untuk berdebat, tolong Dahayu untuk menyempurnakan jazad Ibu huhuhu." kata Mbak Ayu dengan bersimpuh di lantai.


"Dari awal Tante ingin mengatakan semuanya padamu, tapi Om mu itu selalu melarang Tante. Sampai akhirnya Tante mengetahui kabar meninggalnya Ibumu, maafkan Tante jika Tante terlambat mengatakan segalanya padamu. Karena masih ada sesuatu yang belum kau tahu perihal Ibumu."


"Sudah cukup Jeng! kau tak perlu memperpanjang masalah ini, belum saatnya Dahayu mengetahui nya." seru Om Dewa dengan menarik tangan Tante Ajeng.


"Mau sampai kapan kau merahasiakan nya? Dahayu sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya. Biarkan dia yang memutuskan nya. Atau kau memang sengaja ingin bersembunyi dibalik Dahayu? kau takut jadi penerus ilmu itu kan? jadi kau ingin mengorbankan Dahayu yang tak tahu apa-apa!" lagi-lagi keduanya berdebat, membahas sesuatu yang tak dimengerti oleh Mbak Ayu.


Akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu. Dengan ucapan maaf karena terkesan lancang ikut campur dalam masalah keluarga mereka, ku katakan jika aku mempunyai pesan terakhir dari almarhum Bu Wayan Sukmawati.

__ADS_1


"Waktu itu Rania mendapat tugas lapangan untuk meliput berita penemuan mayat. Dan tanpa sengaja Rania menemukan sebuah kotak tua, dan didalamnya ada sepucuk surat untuk Ketut Dewangga. Ada pula suatu benda untuk anak Bu Wayan, dan baru Rania tahu kalau Mbak Ayu adalah anak yang dimaksud. Dan Om Dewa adalah adik dari Ibu itu. Tanpa mengurangi rasa hornat, Rania sudah membaca surat wasiat tersebut. Sebenarnya Bu Wayan gak mau anaknya mengetahui segalanya, tapi jika ia tak diberi tahu, beliau takut jika anaknya sewaktu-waktu akan bertemu dengan makhluk itu. Bahkan semua pengikutnya pasti akan mencari keberadaan keturunan Bu Wayan, yaitu Mbak Ayu. Sebenarnya Mbak Ayu dalam bahaya, karena ada sesuatu yang mengincarmu."


"Sesuatu apa maksudmu Ran? aku tak bisa memahami perkataan kalian semuy, karena saat ini aku hanya ingin menyempurnakan jazad Ibuku." ucap Mbak Ayu yang masih berlinang air mata.


Nampak Om Dewa mendekati Mbak Ayu dan mengatakan jika mereka pasti akan menemukan bagian tubuh Ibunya yang hilang itu. Dan meminta Mbak Ayu turut dalam sebuah ritual.


"Tapi apakah kau siap dengan resiko yang akan kau terima?" tanya Om Dewa dengan memijat pangkal hidungnya.


Nampak semua orang langsung menoleh ke arah Om Dewa, sepertinya mereka semua tak tahu maksud dari ucapannya.


"Jika kita melakukan ritual dan berhasil menemukan kepala Ibumu. Sosok yang selama ini bersemayam di dalam tubuh Ibumu akan terus mendatangi mu. Ia akan memintamu menjadi penerus ilmu yang selama ini Ibumu praktekan. Apa kau bersedia menjadi penerusnya? karena jika kau menolaknya, bisa-bisa nyawa kita semua dalam bahaya. " tegas Om Dewa dengan menghembuskan nafas panjang, nampak raut wajahnya sangat tegang.


Terdengar Tante Ajeng berteriak lantang dihadapan Om Dewa. Ia tersenyum sinis dan mengatakan jika Om Dewa sengaja menjadikan Dahayu sebagai korban.


"Sudah ku duga dari awal, kalau kau memang sengaja ingin menjadikan Dahayu sebagai penerus ilmu itu. Kau tak mau dirimu menjadi korban, sehingga kau membuat alasan supaya Dahayu mau menerima ilmu itu. Kau ingin lepas tangan dan mengorbankan keponakan mu sendiri kan!" seru Tante Ajeng dengan membulatkan kedua matanya.


...Sebenarnya siapa yang jahat di antara keduanya? semua saling menyambung dan membingungkan, semoga Rania dapat menelusuri kebenarannya, dan membantu Mbak Ayu. ...


...Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2