Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 109 KISAH ENDANG.


__ADS_3

Setelah kepergian Endang, aku memutuskan untuk langsung membersihkan diri. Lalu ku gelar sajadah untuk shalat, dan berdoa. Di awal gerakan shalatku sudah ada yang mulai menggoyahkan fokusku. Bahkan di tengah-tengah shalatku, seakan ada gangguan dari sosok gaib. Entah siapa yang berusaha mengganggu ibadahku, aku tetap fokus melakukan shalat dan berdoa dengan memegangi tasbih di tanganku. Mungkin yang mengganggu ku tadi adalah setan Khanzab, setan yang biasa menganggu manusia saat sedang shalat. Jenis setan yang satu ini memang selalu berusaha agar misinya berhasil mengganggu orang yang shalat. Tak jarang kelakuannya ini sering berhasil, jika yang digodanya jadi gagal fokus. Untung saja, aku sudah kebal dengan gangguan dari makhluk gaib. Jadi setan Khanzab akan kesulitan untuk mengganggu imanku.


Setelah melakukan ibadah, aku meregangkan otot-otot di tubuh. Ku lihat jam di tembok, sudah menunjukan pukul dua belas tengah malam. Dan aku masih terjaga karena memikirkan sosok Endang yang pergi begitu saja.


"Lebih baik aku tidur saja deh, takutnya besok ada liputan dadakan kayak tadi." Gumamku dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku merebahkan tubuh di ranjang, lalu menarik selimut menutupi tubuhku. Perlahan kedua mataku mulai redup, aku terpejam untuk sesaat. Dan aku hampir kehilangan nafas, karena dada ini terasa sesak. Aku berusaha membuka kedua mata, karena merasakan ada seseorang yang menekan dadaku, mungkin lebih tepatnya menginjak rongga dadaku. Samar-samar aku melihat sosok si Merah melotot dengan menginjak dadaku. Ia menyeringai dengan memiringkan kepalanya, nampak aura kebencian yang terpancar dari sorot matanya. Sebisa mungkin aku mengucapkan kata-kata, tapi mulut ini serasa berat untuk berucap. Ku fokuskan diri memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa, tapi bibir ini seakan enggan berucap. Kekuatan ku seakan di adu oleh sosok Merah, ia benar-benar bermain licik dengan menyerang ku ketika aku terpejam. Astaga, sepertinya aku lupa membaca doa sebelum tidur. Semua ini pasti karena aku kelelahan. Dengan susah payah aku berusaha membaca ayat-ayat suci, dan ketika aku berhasil mengucapkannya, sosok Merah sudah lenyap, dan tak ada lagi di kamar ku.


"Astaghfirullahalazim!" Ucapku seraya bangkit dari tidurku.


Aku duduk dengan menyandarkan tubuh di tembok. Jantungku berdetak tak beraturan, bahkan aku bisa mendengar suara nafasku sendiri. Memang aku ceroboh, tidur tanoa meminta perlindungan dari Sang Pencipta terlebih dulu. Andai saja ada Malik yang masih menjagaku, pasti si Merah tak akan berani mengganggu ku. Tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi pipi, ternyata aku sangat merindukan dan membutuhkan sosok Malik. Entah bagaimana kondisinya di alam gaib sana, karena sampai saat ini, ia belum mendatangi ku lagi. Apakah kondisinya seburuk itu setelah melawan Calon Arang? Aku hanya bisa berdoa pada Allah, berharap Malik akan segera pulih dan datang untuk menjagaku lagi.


Tak lama setelah memanjatkan doa sebelum tidur, aku langsung memejamkan mataku kembali. Kali ini tak ada gangguan lagi, hingga aku terbangun karena suara alarm di ponselku. Astaga, aku kesiangan. Ku lihat sudah ada beberapa panggilan dari Mbak Rika. Dan ada satu nomor tanpa nama menghubungi ku beberapa kali. Ku sentuh tombol panggilan telepon untuk menghubungi atasan ku itu, dan terdengar suara Mbak Rika diseberang telepon sana.

__ADS_1


"Ran, gue mau minta tolong nih. Sebelum berangkat ke Kantor, lu bisa mampir ke kontrakan gue dulu gak?"


"Emangnya ada apa Mbak?" Tanyaku mengaitkan kedua alis mata.


"Tetangga kontrakan gue ada masalah nih, kayaknya bayinya diculik demit. Soalnya gak ada siapapun yang masuk ke dalam rumahnya."


"Yang bener aja dong Mbak, kalau ada penculikan ya lapor Polisi bukannya ke gue! Lagian ngapain demit nyulik anak orang, emangnya dia bisa ngasih makan apa?"


"Gue serius Raniaaa, jangan becanda! Gue kasihan sama Ibunya dari subuh tadi nangis gak berhenti tahu!"


"Mbak nanti kita bicarain di Kantor aja ya, gue udah kesiangan belum mandi juga nih!"


Mbak Rika menyetujui usulanku, ia akhirnya paham, jika aku tak mungkin tiba-tiba datang ke rumah tetangganya itu. Dan kami harus membahasnya dulu. Setelah mandi dan merapikan diri, aku berjalan tergesa-gesa seraya memesan ojol. Sudut mataku melirik ke atas pohon rimbun di belakang ruang keluarga. Nampak sosok Endang sedang duduk dengan kaki di uncang-uncang. Terdengar suaranya bersenandung lirih, dan tubuhnya memunggungi ku. Tumben sekali pagi-pagi begini Endang udah nangkring di atas pohon. Padahal sebelumnya ia jarang nongkrong disana kalau pagi, mungkin kuntilanak baper itu pengen cari udara segar. Terserah dia sajalah, daripada dia terus teringat tentang sakit hatinya pada Darman ataupun Narti. Memang sebaiknya dia intropeksi diri sendiri di atas pohon seperti itu.

__ADS_1


Driver ojol datang tepat pada waktunya, sehingga kami langsung melanjutkan perjalanan menembus kemacetan di Ibukota. Realita di Kota besar, selalu dipenuhi mobilitas penduduknya.


"Mas udah saya bayar pakai aplikasi ya!" Kataku seraya menyerahkan helm pada Driver ojol itu.


Dreet dret.


Terlihat pesan masuk dari Ce Edoh, ia memberi kabar, jika penghuni kost yang baru sudah datang. Tapi salah satu di antara mereka ketakutan, karena mendengar suara tangis bayi di dekat gudang. Aku membalas pesan dari Ce Edoh, dan mengatakan jika tetangga sebelah memang ada yang hamil. Mungkin sekarang ia sudah melahirkan, makanya ada suara bayi disana.


"Tapi Neng, sepertinya memang ada yang aneh. Soalnya yang denger suaranya cuma Neng Heni aja, saya sama Neng Leni gak denger suara apa-apa." Balasan pesan Ce Edoh, membuatku menggaruk kepala yang tak gatal.


Masa pagi-pagi gini udah ada demit yang iseng sih, batinku bertanya-tanya. Supaya Heni tak merasa takut lagi, ku minta Ce Edoh untuk menemani mereka membereskan barang-barang di kamarnya. Dan menunggu Mbak Ayu pulang dari Sekolah, karena ini hari jumat, pasti Mbak Ayu akan pulang lebih awal.


Sesampainya di ruangan, ku lihat meja kerjaku penuh dengan berkas yang menumpuk. Sebanyak ini laporan yang harus aku kerjakan, hanya dengan membayangkan nya saja, aku sudah pusing. Memang terkadang lebih nyaman bekerja di lapangan. Kedua mataku fokus pada layar monitor yang ada di hadapanku, sudut mataku menangkap sekelebatan bayangan yang berlalu lalang melewati ku. Sepertinya mereka sedang ada acara di alam mereka, karena ku lihat demit-demit dari gedung sebelah mendatangi gedung ini. Pantas saja suasana hari ini terasa panas dan pengap meski semua AC menyala. Karena bagaimanapun kehadiran makhluk-makhluk gaib itu telah membuat energi negatif di sekitar ku. Rasanya udara jadi lebih sesak dan tak segar, membuatku tak nyaman lalu membuka lebar jendela. Tak hanya di alam manusia saja yang bisa mengadakan acara pesta, mereka makhluk tak kasat mata pun juga layaknya manusia. Memiliki cara dalam menjalani hari-harinya, termasuk saat ini, mereka sedang merayakan hari bertambahnya usia pemimpin para makhluk gaib yang tinggal di gedung itu, dan saat ini usianya genap ke dua ribu tahun.

__ADS_1


.



__ADS_2