
Pak Haji Faruk terus berusaha mengalahkan sosok gaib itu, karena sosok itu terus berkomunikasi menggunakan bahasa arab. Sepertinya sosok ini bukanlah makhluk gaib biasa, seperti yang dijelaskan Pak Haji sebelumnya. Mungkin saja sosok ini adalah jin kafir, jadi tak akan mudah mengalahkannya, karena setiap kali dibacakan ayat suci, makhluk itu selalu mengikuti bacaan Pak Haji sampai tuntas. Nampak Pak Haji berusaha fokus dengan memejamkan kedua matanya, ia bergumam seperti sedang membaca doa di dalam hati. Tanpa diduga sosok itu melakukan penyerangan dari arah belakang disaat Pak Haji tengah lengah. Seketika aku menangkis serangan itu menggunakan kekuatan ku, dan semua warga langsung menghentikan bacaan ayat suci lalu berlarian tak tentu arah. Mereka ketakutan hanya karena mendengar suara-suara eraman para makhluk gaib itu. Aku mengeluarkan tasbih di dalam saku celana, lalu ku genggam liontin yang menggantung di leher. Ku pasrahkan diri memohon pada Allah supaya mendapat bantuan untuk bisa mengalahkan sosok jin kafir itu.
Whuusss whuuuss...
Angin kencang berhembus memprorak-porandakan berbagai barang yang ada di dalam ruangan. Tak lama setelah itu sosok tinggi besar mengenakan jubah putih dengan sorban datang. Wujudnya terlihat tak asing di mataku, dan aku kembali mengingat sosok yang ku lihat itu. Dia adalah sosok Pangeran Jin Muslim yang memberikan liontin padaku. Pak Haji Faruk langsung menarik tanganku menjauh dari kedua sosok yang tengah berhadapan itu.
__ADS_1
“Siapa yang kau panggil itu Nduk? Kenapa kau memanggil makhluk yang serupa dengan sosok yang melawanku tadi?”
“Dia adalah Pangeran Jin Muslim Pak Haji. InsyaAllah dia pasti bisa membantu kita, tadi Rania hanya membaca doa saja. Tapi ternyata sosok itu malah datang terpanggil karena doa yang Rania ucapkan di dalam hati. Mungkin karena Rania memegangi liontin pemberian nya ini.” Jelas ku seraya menunjukkan liontin nya.
Semua warga berhamburan keluar meninggalkan rumah ini. Yang ada hanya aku dan Pak Haji Faruk yang masih bertahan. Dan ku lihat melalui batin, jika Pak Jarwo masih berusaha menangkap demit dengan energi kecil yang tersisa. Sementara ketiga sosok termasuk jin kafir itu sedang berhadapan dengan Pangeran Jin Muslim. Dengan begitu mudahnya ia menumbangkan dua sosok gaib yang menyeramkan. Ia mencengkeram kedua sosok tinggi besar itu dalam satu genggaman tangan saja. Dan satu sosok kami sebut jin kafir itu memberikan perlawanan, ia berbicara dengan bahasa arab pada Pangeran Jin Muslim. Dan menurut Pak Haji Faruk, jin kafir itu meminta kedua temannya dilepaskan. Karena jika tidak, ia akan berusaha mencelakai semua warga Desa. Tak lama setelah itu Pangeran Jin melemparkan kedua sosok yang ada di tangannya ke sembarang tempat. Nampak tubuh hampa kedua sosok itu jadi lemah, dan Pak Haji memanfaatkan keadaan untuk menaklukkan keduanya. Pak Haji membacakan ayat-ayat suci seraya mengeluarkan botol kaca dari saku bajunya. Aku pun membantu Pak Haji untuk memasukan kedua sosok tinggi besar itu ke dalam botol. Keduanya berubah menjadi kepulan asap hitam yang tersedot ke dalam botol kaca, lalu Pak Haji melingkarkan tasbihnya di atas tutup botol kaca itu. Tak lama Pak Jarwo datang bergabung dengan ku dan Pak Haji. Kami sama-sama menyaksikan pertempuran antara kedua sosok jin yang terbilang tangguh. Pak Jarwo pun akhirnya menceritakan sesuatu mengenai kedua sosok jin yang kami lihat itu.
__ADS_1
“Lantas kita harus bagaimana sekarang Pak?” Aku menundukkan kepala seraya menggelengkan kepala.
“InsyaAllah Jin Muslim itu bisa mengalahkan Jin kafir itu Nduk. Mari kita sama-sama memanjatkan doa pada Allah, supaya segala urusan kita dilancarkan.” Sahut Pak Haji Faruk dengan senyum teduhnya.
Pak Haji Faruk memimpin kami membaca doa, kami menengadahkan tangan ke atas seraya berdoa meminta pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Sementara di depan kami terjadi pertempuran gaib di antara kedua sosok jin yang mengerti agama. Dari telapak tangan kami bertiga muncul suar cahaya keemasan yang menembus tubuh hampa Pangeran Jin Muslim. Dan ia menggunakan energi itu untuk melumpuhkan jin kafir yang sudah kewalahan melawannya. Sebelum jin kafir itu benar-benar tumbang, seluruh tubuh hampanya mengeluarkan kepulan asap. Bacaan ayat kursi dari kami semua mengakhiri pertempuran gaib di antara kedua sosok itu. Jin kafir itu terbakar setelah ada petir yang menyambar ke dalam rumah. Seketika api dengan cepat merambat ke sekeliling rumah, dan membakar rumah kosong itu. Pak Haji Faruk mengajak ku segera keluar dari rumah ini, sementara Pak Jarwo masih berkomunikasi dengan Pangeran Jin Muslim. Tak dapat ku dengar mereka membicarakan apa, apalagi diluar rumah nampak semua warga panik melihat api yang membakar rumah tersebut. Bahkan Pak Kades meminta semua warga membantu memadamkan api supaya tak menjalar kemana-mana. Tapi tak ada seorangpun warga yang berani menginjakkan kaki di pekarangan rumah.
__ADS_1
“Bapak-bapak semuanya, sekarang situasi sudah terkendali. Dan InsyaAllah sosok yang mengganggu sudah ditangani, jadi lebih baik kalian semua membantu memadamkan api itu. Karena api itu bisa menjalar ke berbagai tempat.” Kataku meyakinkan semua warga.
Beberapa dari mereka langsung bergerak mengambil air dari rumah warga terdekat, semua saling berjibaku membantu memadamkan api dari luar. Tak lama Pak Jarwo keluar seorang diri, entah kemana Pangeran Jin Muslim tadi. Setelah membantu membinasakan Jin kafir tadi, Pangeran Jin seakan menghilang begitu saja. Lantas kemana ia pergi, kenapa tadi Eyang Buyut tak ikut hadir bersamanya. Padahal Eyang Buyut pernah berkata akan datang untuk membantu ketika aku dalam bahaya. Tapi tadi justru Pangeran Jin yang datang membantu. Semoga Eyang Buyut baik-baik saja dimanapun ia berada. Karena sebenarnya aku sedang sangat merindukan beliau.