Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 284 HAL DILUAR DUGAAN.


__ADS_3

Sepertinya Pak Jarwo membuat perjanjian dengan Ratu siluman ular putih, dan memintanya melepaskan jiwa Mbok Genuk. Entah apa yang ditawarkan Pak Jarwo sehingga jiwa tanpa raga Mbok Genuk dapat terlepas dari lilitan ekor ular putih.


"Dia ada benarnya juga, kenapa aku harus menerima jiwa tua bangka ataupun gadis muda yang tak berilmu. Mereka hanya tumbal rendahan, dan alangkah lebih memuaskan jika aku mendapatkan tumbal jiwa muda yang memiliki kesaktian. Karena itu akan menambah energi dan kecantikan ku hihihi." Pungkas Ratu siluman ular putih menyeringai dengan sorot mata tajam.


"Ap apa maksudmu? Apa kau akan mengambil jiwa gadis muda ini?" Tanya Pak Warto seraya menunjukkan jari ke arah ku.


Deegh.


"Kenapa harus aku? Tak mungkin Pak Jarwo menyarankan jika aku yang harus menjadi pengganti tumbal." Batin ku di dalam hati dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Hihihi... Gadis beriman ini maksudmu? Apa kau ingin jiwa ku hancur dan menderita selamanya, karena menelan jiwa orang-orang beriman seperti dirinya hah? Dasar bodoh! Kau tak dapat membaca situasi rupanya!" Jawab siluman itu seraya menggeliyat di atas tanah.


Pak Jarwo membantu Mbok Genuk bangkit berdiri seraya menarik tanganku untuk mundur. Nampak Pak Warto semakin cemas melihat keadaan mulai mengancam dirinya.


"Ayo Nduk kita harus segera kembali ke alam kita. Urusan kita sudah selesai, biarkan Warto menyelesaikan apa yang telah ia mulai!" Tegas Pak Jarwo membantu jiwa Mbok Genuk berdiri tegap.

__ADS_1


Aku tak dapat berkata apa-apa melihat apa yang akan terjadi setelah nya. Mungkin saja jiwa Pak Warto akan menjadi santapan Ratu siluman ular putih, dan ia tak akan pernah kembali ke alam manusia lagi. Karena tiba-tiba saja Pak Jarwo menarik jiwa ku pergi dari alam hitam itu.


Whuuusd.


Jiwa ku terlempar menembus dimensi waktu, dan aku tersadar setelah mendengar suara teriakan banyak orang. Begitu ku membuka mata, nampak Bude Walimah sedang merangkul ku dengan berderai air mata.


"Kenapa kau tak sadarkan diri lama sekali Nduk? Dahayu saja sudah kembali dari kemarin, dan dia yang mengatakan jika Wening dan Pramono sudah kembali lagi. Tapi justru kau yang tak sadarkan diri sejak dua hari lalu." Ucap Bude terisak.


"Hah dua hari? Bukankah aku hanya sebentar berada disana setelah kepergian Mbak Ayu bersama Wening dan Pramono. Lantas dimana mereka?" Batin ku di dalam hati penuh tanya.


Seakan tau kebingungan ku, Mbak Ayu mendekati ku dan menjelaskan jika Wening ataupun Pramono baik-baik saja.


"Nyaris aja Mbok Genuk gak bisa balik ke alam ini Mbak. Kalau bukan karena Pak Jarwo yang mengecoh Ratu siluman ular putih itu, kita pasti sudah kehilangan Mbok Genuk. Tapi untuk membiarkan Mbok Genuk selamat, Pak Warto harus menjadi pengganti nya. Gue gak mau Wening nyalahin Simbah nya lagi, karena kami gal melakukan apapun untuk menolong Pakde nya."


"Sudah Nduk, nanti kita sama-sama menjelaskan pada Wening saja. InsyaAllah dia akan paham, jika yang terjadi sekarang adalah demi kebaikan semua orang. Bukan berarti kita senang dengan tragedi yang menimpa Pakde nya." Kata Bude seraya membelai rambut ku.

__ADS_1


Tap tap tap.


Terdengar suara langkah kaki yang mendekat, satu persatu tetangga yang datang untuk melihat ku memberikan jalan untuk seseorang. Nampak Wening berurai air mata berjalan menghampiri ku.


"Lu gak perlu merasa bersalah Rania, mungkin itulah adalah karma yang harus ditanggung Pakde gue. Makasih udah nyelamatin Simbah, karena gue gak bisa lakuin apapun lagi. Lu udah berusaha semampu lu, dan gue gak nyalahin lu kok kalau sekarang Pakde gue emang harus menerima takdir menjadi tumbal sesembahan nya sendiri. Sorry kalau selama ini gue udah jahat sama kalian semua, gue bersedia menanggung hukuman nya kok." Kata Wening tertunduk menangis.


Nampak beberapa tetangga yang ada di rumah ku sedikit kesal mendengar pengakuan Wening. Tapi aku juga tak bisa melarang mereka meluapkan kekesalannya, mengingat semua perbuatan yang pernah Wening dan Pakde nya lakukan. Tapi Bude berusaha menenangkan para tetangga dan meminta mereka kembali ke rumahnya.


"Sudah sudah jangan menghakimi seseorang yang sudah mengakui kesalahannya! Kita bicarakan esok lagi bersama para tetua, saat ini Pak Jarwo dan Mbok Genuk baru saja kembali dari alam lain. Kita harus memberikan mereka waktu untuk istirahat, lebih baik kalian pulang ke rumah masing-masing dulu!" Tegas Bude seraya meminta semua tetangga meninggalkan rumah kami.


Kini hanya ada kami bertiga, aku dan Mbak Ayu berusaha menenangkan Wening. Dan berusaha mengerti posisinya, karena sebenarnya dia juga korban dari Pakde nya. Dia dimanfaatkan untuk pembalasan dendam dan nyaris menjadi tumbal keserakahan Pakde nya sendiri.


"Yang penting lu udah tau, kalau Pakde lu bukan orang yang baik. Bahkan sama lu juga gak ada baik-baik nya tuh orang, jadi lu gak perlu sesalin semuanya. Biar aja tuh manusia jahat jadi santapan Ratu siluman yang disembahnya. Fokus lu saat ini buat jadi orang yang lebih baik lagi, dan berbakti lah ke Simbah lu yang masih ada di dunia ini. Sebelum lu lebih menyesal karena gak bisa berbakti ke beliau." Ujar Mbak Ayu seraya menepuk pundak Wening.


Tiba-tiba Wati datang dengan raut wajah cemas. Keningnya berkeringat dengan nafas yang tersengal-sengal. Sontak saja kami semua saling pandang, dan menyangka jika terjadi sesuatu pada Pramono. Tapi tak berselang lama Pramono berjalan di belakangnya dengan santai. Lantas ada apa sebenarnya, kenapa Wati seperti orang ketakutan. Terlihat Bude Walimah yang baru saja masuk ke dalam rumah ikut terkejut melihat ekspresi Wati. Dan setelah Bude bertanya berulang kali barulah Wati mengatakan sesuatu.

__ADS_1


"Ta tadi aku dapat telepon dari Pak Jarwo, katanya Mbok Genuk masih belum sadarkan diri. Padahal menurut nya, kalian sudah sama-sama kembali dari alam lain. Tapi sampai saat ini Mbok Genuk belum membuka matanya. Dan Pak Jarwo berpesan, jika sampai subuh nanti Mbok Genuk belum sadar. Ada kemungkinan jika Pak Warto tak rela ditinggalkan di alam itu sendiri, dan sebagai gantinya Mbok Genuk merelakan diri supaya Wening tak menjadi incaran makhluk gaib yang dulu melakukan perjanjian dengannya. Karena kesaktian yang dulu Wening miliki sebagian dari makhluk itu. Makanya Pak Jarwo curiga, kalau sebenarnya Mbok Genuk memang berniat mengorbankan diri demi menyelamatkan jiwa Wening. Dan saat kalian ingin kembali ke alam manusia, Mbok Genuk hanya berpura-pura ikut bersama kalian. Hanya itu yang Pak Jarwo katakan tadi, saat beliau menanyakan apakah Rania sudah sadar atau belum. Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan." Ucap Wati dengan suara bergetar menahan tangis, nampak kedua matanya memerah tak dapat membendung air mata.


Semua orang hanya terdiam, apalagi Wening yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Sepertinya ia lebih terguncang dari kami semua, ia pasti tak menyangka jika Neneknya benar-benar melakukan pengorbanan untuknya. Astaga, apa kami harus pasrah dan merelakan Mbok Genuk melakukan pengorbanan sebesar ini.


__ADS_2