Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 240 ALBUM FOTO.


__ADS_3

Wening menundukkan kepala dan meminta maaf, jika menurut kami ia yang telah berbuat jahat pada Petter. Tentu saja kami semua diam dan menatapnya dengan penuh curiga. Meski ia tak mengakui perbuatan nya tapi ia berusaha meminta maaf. Apakah ada sedikit rasa penyesalan darinya.


"Ntar gue jelasin ya Ran. Sekarang kita harus kerja dulu. Tapi sumpah demi Allah bukan gue pelakunya. Meski lu lihat seseorang yang mirip dengan wajah gue." Ucapnya sebelum meninggalkan kami semua.


Wening berjalan masuk ke dalam kantor. Aku hanya menghembuskan nafas panjang, tak tau harus berkata apa lagi. Karena sekarang memang sudah waktunya jam kerja. Aku berpamitan pada mereka, dan akan membahas masalah ini di kost saja. Tapi Aunty Ivanna menghentikan langkahku, ia berpamitan akan mengajak Petter kembali ke alam mereka saja. Karena disini keselamatan anaknya sudah terancam, jadi ia akan membawa anaknya pulang. Mbak Ayu memberi saran, supaya mereka tak pulang sebelum kasus penculikan Petter terungkap. Karena aku masih menyelidikinya, jadi sebisa mungkin Petter harus ada untuk membuktikan jika Wening benar-benar pelakunya. Petter menatap ku dengan wajah sendu, lalu ia menatap Mamanya dengan menggelengkan kepala. Nampaknya Petter tak tenang kembali ke alamnya, sebelum semua misteri ini terkuak. Tapi aku juga dapat memahami perasaan Aunty Ivanna. Ia pasti tak tenang melihat anak semata wayangnya terancam berada disini. Petter sedang berbicara dengan Mamanya menggunakan bahasa Belanda, jadi aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tapi melihat dari ekspresi keduanya, sepertinya Petter sedang membujuk Mamanya supaya mereka tetap disini untuk sementara waktu.


"Petter sudahlah. Mama mu benar, kau tak aman berada disini. Mungkin dengan kau kembali ke alam mu, masalah ini akan selesai dengan sendirinya. Aku hanya cukup mencari kebenarannya saja."


"Tapi kau dalam bahaya Raniaaa! Aku memang tak tau siapa sebenarnya perempuan dibalik jubah hitam itu. Karena wajahnya sangat mirip dengan perempuan tadi. Dan dia ada benarnya juga, bisa jadi ada makhluk yang menyerupai dirinya. Maafkan aku telah membuat masalah, sehingga kau dan temanmu tadi bertengkar." Kata Petter tertunduk.


"Kau tak salah Petter. Dan kau tak usah mencemaskan ku. Bukankah kau lihat, aku sudah bisa melindungi diriku sendiri. Bahkan sekarang aku juga melindungi mu, jadi pulanglah ke alam mu. Aku akan baik-baik saja disini. Lagipula ada Mbak Ayu yang selalu membantu ku, jadi tak akan ada apa-apa. Oke?"


Ku minta mereka kembali ke kost, karena aku harus segera masuk ke dalam. Sore nanti, aku akan melepaskan kepergian Petter kembali. ke alamnya. Jadi aku akan membelikan beberapa baju baru untuknya, dan beberapa mainan yang bisa ia gunakan di alamnya.


"Ran lu hampir telat lagi ya?" Tanya Mbak Rika yang sudah berdiri di pintu lift.


"Gue udah datang dari pagi tadi Mbak. Tapi gue ada urusan sama Wening, jadi gue bicara sama dia di taman depan." Jawab ku dengan menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Kenapa sih, kok kayaknya lagi ada masalah berat gitu?"


"Gak berat sih Mbak, cuma rumit aja."


"Emang Wening apain lu Ran?" Mbak Rika menatap ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Aku diam, tak mengatakan apapun. Mungkin sebaiknya masalah ini tak perlu diketahui banyak orang. Jadi akan lebih mudah untuk ku menyelidiki tentang siapa Wening sebenarnya. Akan lebih mudah bagiku melakukan penelusuran tanpa banyak orang yang mengetahui nya. Supaya Wening tak curiga, jika aku berniat mencari tau apapun tentang nya. Terserah dia saja, jika dia memang tak mau mengakui apa yang telah terjadi. Karena memang aku tak memiliki bukti, jika dia adalah orang yang menculik Petter. Karena seseorang yang ku lihat memang memiliki energi gaib dalam dirinya.


Triiing.


"Tumben mepet datangnya?" Sapa Silvia dengan menaikan dagu nya.


"Dih keppo lu Sil. Gimana tidur malam lu, nyenyak gak?"


"Nyenyak kok Ran, berkat Wening. Gue udah gak pernah ngerasa takut lagi sekarang. Dan tiap malam gue bisa tidur nyenyak banget."


Aku hanya menyunggingkan senyum dengan menganggukkan kepala. Tak ku tanggapi ucapan Silvia, karena aku memang masih malas membahas tentang Wening. Aku menghidupkan layar komputer, dan mulai membuat artikel sesuai perintah Pak Arya.

__ADS_1


Dret dret.


Terdengar notif ponsel yang berbunyi. Nampak pesan singkat dari Wening. Ia bilang, jam makan siang nanti ingin bicara empat mata denganku. Aku hanya membalas dengan emoticon ibu jari saja. Lalu melanjutkan pekerjaan ku lagi. Tepat jam dua belas siang, beberapa pegawai mulai keluar kantor untuk makan siang.


"Ran kita makan bareng yuk. Mumpung hari ini gak kerja lapangan." Ajak Silvia seraya mengambil tas di meja lalu menarik tanganku.


"Ta tapi gue udah janjian sama Wening!"


"Oh jadi gitu! Kalian diem-diem janjian gak mau ngajakin gue! Padahal kan gue ada di samping lu dari tadi Ran!" Kata Silvia dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bukan gitu Sil. Gue ada yang harus dibahas sama Wening. Gue..." Aku belum menyelesaikan ucapan ku. Karena Wening mendatangi kami, dan mengajak Silvia untuk bergabung.


"Beneran gak apa-apa gue gabung sama kalian? Ya udah yuk kita makan dimana?" Sahut Silvia dengan semangatnya.


"Deket-deket sini aja ya Sil. Jam istirahat kita bentar doang loh, cuma sejam." Ucapku seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


Kami memutuskan makan di rumah makan padang sederhana yang ada di seberang jalan. Kami duduk di meja yang paling depan, supaya mendapatkan udara segar dari depan. Nampak Wening mengeluarkan album foto dari dalam tas nya. Ia membuka album foto itu dan menunjukkan sebuah foto anak kecil yang serupa. Anak perempuan dengan rambut di kepang, dan yang satu di ikat ekor kuda. Entah apa maksud Wening menunjukkan foto itu padaku. Dia mengeluarkan foto itu dari plastik pelindung album, lalu membalikkan selembar foto itu. Ada tulisan usang dibaliknya, sebuah tulisan nama yang membuatku semakin bertanya-tanya.

__ADS_1


__ADS_2