Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 245 DIDATANGI SOSOK BENING?


__ADS_3

Tiba-tiba Heni datang, ia pulang bersama dua orang teman perempuan nya. Mereka menyapaku dan Mbak Ayu, dan Heni memberikan satu kotak kue donat. Lalu ia juga menceritakan jika Leni sudah mulai terlihat di kampus.


"Gue baru sempat cerita sekarang, soalnya kan kita jarang ketemu Mbak. Beberapa hari ini gue sering pulang malam, udah gitu langsung tidur. Makanya gue gak sempat cerita deh, soalnya kan kalian pernah minta gue buat kasih kabar kalau lihat Leni di kampus. Tapi sekarang dia kayak gak mau gaul sama gue Mbak. Mungkin dia tau kalau gue dipihak kalian, jadi Leni ngehindarin gue terus. Tapi ya udahlah, kalau dia udah gak mau temenan sama gue lagi juga gak masalah. Toh dia sekarang udah berubah jahat, jadi gak masalah kalau dia gak ada di circle gue lagi." Kata Heni dengan menundukkan kepalanya.


"Lu gak usah nyembunyiin perasaan lu Hen. Gue tau lu sedih dan kecewa dengan sikap Leni kan? Moga aja dia bisa berubah ya, dan gak selamanya terjebak dengan sekte sesat itu." Ku rangkul Heni seraya menepuk pundaknya.


Aah lagi-lagi masalah yang belum selesai mulai muncul kembali. Entah kemana semua anggota sekte sesat itu bersembunyi. Mereka menghilang dari tempat yang biasanya mereka gunakan untuk ritual. Jadi masalah Tante Ajeng dan Mbak Ayu malah menggantung tanpa kejelasan. Mungkin lebih baik ku minta Mas Adit untuk memantau Leni yang sudah mulai kembali melakukan kegiatan di kampus. Jika ada petugas yang diam-diam membuntuti nya, pasti akan lebih mudah untuk menemukan lokasi persembunyian para anggota sekte sesat itu.


"Ran. Lu ngapain diem aja sih? Tuh Heni pamit mau masuk ke kamarnya!" Seru Mbak Ayu menyikut lengan ku.


"Eh iya Hen, besok kita ngobrol lagi ya."


Aku masuk ke dalam kamar juga, dan tak lama Mbak Ayu menyusulku. "Gue tidur sama lu ya malam ini?" Pungkas Mbak Ayu seraya membawa bantal dan selimut dari kamarnya.


"Mbak lu masih mau ngelawan Tante Ajeng juga gak? Sekarang kita gak hanya berurusan dengan sekte Tante Ajeng. Nambah lagi masalah Wening yang tersulut dendam. Meski sebenarnya itu bukan masalah lu. Tapi kalau gue sibuk dengan masalah Wening, gue takutnya gak bisa bantu lu ngadepin Tante Ajeng. Belum lagi waktu terus berjalan, dan satu sekarang udah jalan dua bulan. Sepuluh bulan lagi, sesembahan Pak Sumitro bakal minta tumbal. Dan itu artinya gue tetap harus lindungi Wati juga. Belum lagi merah, yang bisa kapan aja datang buat nuntut balas sama kita. Berat banget ya beban hidup kita, selalu berurusan dengan makhluk gaib."


"Kita akan ngadepin semuanya bersama Ran. Apapun yang menghalangi jalan hidup kita, kita akan selesaikan sama-sama. Baik itu Tante Ajeng, Wening, Pak Sumitro ataupun si Merah. Kita gak boleh gentar, kalau kekuatan kita disatukan. Kita itu sangat kuat dan susah buat dikalahkan. Ya gak?" Ucap Mbak Ayu dengan menaikan alis mata.

__ADS_1


"Ya udah yuk tidur Mbak, besok kayaknya gue mau berangkat kerja aja. Toh kita gak jadi pergi ke desa Wening."


Baru saja kami merebahkan tubuh, dan meregangkan otot. Tiba-tiba terdengar suara yang mengiba minta tolong. Sontak saja aku dan Mbak Ayu sama-sama terkejut. Kami bangkit berdiri, dan mencari keberadaan suara itu berasal.


"Demit mana lagi nih yang iseng!" Seru Mbak Ayu dengan nada kesal.


Ku pejamkan kedua mata, melihat melalui batin. Ku cari keberadaan demit yang meminta tolong dengan suara sendu itu. Nampak sesosok demit perempuan yang bersembunyi di atas plafon kamar ku. Segera ku minta ia keluar, dan muncul di hadapan kami.


"Cepat keluarlah! Kami tak akan menyakitimu, katakan saja siapa kau. Aku tau, kau yang dari kemarin bersliweran di atas atap rumah ini kan!" Seru ku dengan berkacak pinggang.


Demit perencanaan dengan rambut panjang menutupi separuh wajahnya berdiri mengambang tepat di hadapan ku.


"Kau! Sepertinya aku pernah melihatmu, penampilan mu tak asing di ingatan ku!" Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Demit perempuan itu mendongakkan kepalanya, dan rambut yang menutupi separuh wajah tersibak. Ya. Dia adalah Bening, saudara kembar Wening yang meninggal karena kecelakaan, dan separuh kepalanya terbelah.


"Ran li lihatlah wajahnya! Mirip banget sama Wening! Jangan-jangan dia diperintahkan sama kembaran nya buat ngawasin kita, da sekarang dia pura-pura minta tolong sama kita!" Pungkas Mbak Ayu menyipitkan matanya.

__ADS_1


Mbak Ayu nampak waspada, seakan ia sudah bersiap untuk menyerang sosok yang ada di depan nya kapan saja.


"Sabar dulu Mbak! Gue gak ngerasain aura kemarahan atau dendam pada sosok Bening. Entah apa tujuannya mendatangi kita. Coba kita dengerin dulu maksudnya mengiba minta tolong kayak tadi itu kenapa. Mungkin aja dia emang pengen minta tolong."


"Tapi kalau itu cuma tipu muslihat dia gimana Ran?"


"Gak usah khawatir Mbak. Seperti kata lu tadi, kalau kekuatan kita itu sangat besar. Apalagi kalau dijadikan satu. Jadi demit itu udah salah cari masalah sama kita. Makanya kita dengar dulu, apa tujuannya mengawasi kita dari kemarin. Dan sekarang dia malah terang-terangan datang buat minta tolong."


"Jangan salah paham dengan kedatangan ku. Aku tau kalian sudah mencurigai saudara kembar ku. Dia memang berniat jahat padamu Rania, dia juga selalu memanfaatkan ku sejak dulu. Dan yang mengurung Petter disana memang Wening. Tapi dia menggunakan ku, untuk menyamarkan aura manusia nya. Sejak dulu Wening tak memiliki teman dekat, karena itulah almarhum Mbah Wongso mengikat jiwa ku dengan jiwa Wening. Supaya Wening tak merasa kesepian lagi, setelah kepergian ku. Tolong sempurnakan jasad ku. Aku ingin meninggalkan alam fana ini dengan damai. Aku sudah lelah berurusan dengan masalah yang Wening buat. Tolong aku Raniaaa... Aku tau kau orang yang baik. Karena itulah aku mengawasi mu dari kemarin. Untuk memastikan apa kau benar-benar bisa membantu ku atau tidak. Dan setelah malam ini, aku sangat yakin jika kau bisa membantu melepaskan jiwa ku dari semua urusan duniawi. Apalagi temanmu ini juga memiliki energi yang sangat kuat sama seperti mu." Ucap sosok Bening dengan wajah sendu.


Mbak Ayu menatap ku, lalu memberi kode dengan gestur tubuh. Ia mendongakkan kepala nya, bertanya apakah kami bisa mempercayai ucapan sosok Bening atau tidak. Aku sendiri juga tak tau harus menjawab apa, jadi aku hanya mengangkat bahu saja.


"Jadi maksudnya jasadmu belum disempurnakan?" Tanya Mbak Ayu dengan menggaruk kepala.


"Awalnya jasadku sudah dikuburkan bersama almarhum Bapak. Tapi dua malam setelah itu, Kakek ku mengambil jasadku dari kuburan dan menyimpan nya di tempat ritualnya. Karena setelah kematianku dan juga Bapak, Wening selalu murung dan tak mau makan. Dia tak punya teman lain selain aku, karena itulah dulu kau tak pernah melihat Wening di desa. Selain kau baru pindah, Wening memang tak pernah keluar rumah selain pergi ke sekolah. Dan sekolah kalian berbeda. Karena itulah sekarang aku memberanikan diri untuk meminta tolong padamu."


Aku hanya diam memikirkan semua ucapan sospk Bening. Apakah dia bisa dipercaya, karena bagaimanapun dia adalah saudara kembarnya Wening. Bisa jadi ini hanyalah akal-akalan mereka untuk menjebakku. Tak ku katakan apa-apa pada sosok Bening, karena aku tak bisa langsung mengambil keputusan.

__ADS_1


__ADS_2