Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 116 PEMBALASAN.


__ADS_3

Sosok dengan punggung berlubang nampak mengawasi kami. Ia membalikkan tubuhnya dengan memiringkan kepalanya. Rambut panjang nya menutupi setengah wajahnya. Kenapa aku bertemu dengan sundel bolong lagi sih. Gerutuku, seraya membuka kedua mataku.


"Kalian tunggu disini dulu, jangan kemana-mana ya!" Pungkas ku pada Beny dan Silvia.


Aku berlari mengejar sundel bolong itu, karena aku merasa tak asing dengannya. Dan benar saja, itu adalah sosok Narti. Kenapa ia masih saja mengikuti ku, meskipun ia sudah berhadapan langsung dengan Endang.


"Kenapa kau masih mengikuti ku? Bukankah kau tahu dimana keberadaan Endang? Lebih baik kau urungkan niatmu untuk membalaskan dendam. Karena itu hanya akan menyengsarakan jiwamu saja. Kembalilah ke alam keabadian, sebelum semua terlambat!"


"Kau salah! Semua sudah terlambat. Aku telah membalaskan dendamku dengan melenyapkan dukun yang diperintah untuk mengirimkan santet padaku. Dan sekarang giliran Endang. Karena jika aku tak mengalahkannya, Mas Darman yang akan celaka. Saat ini ia begitu ketakutan, karena aku belum bisa mengalahkan Endang." Jawab sundel bolong itu.


"Kau hanya ingin mengalahkannya. Lalu untuk apa kau melenyapkan dukun itu juga? Semua perbuatan pasti akan ada balasannya, tak seharusnya kau melakukan itu."


Whuuus.


Sundel bolong itu melesat mendekati ku, ia memberikan penglihatan nya padaku. Malam disaat Pak Darman bergabung dengan kelompok penganut ilmu hitam. Ia bertujuan ingin membangkitkan jiwa mendiang istrinya. Karena merasa bersalah, telah membuatnya jadi incaran sakit hati Endang. Pak Darman mengetahui semuanya dari para kelompok itu. Dan jika ia ingin berhasil, maka arwah istrinya harus memberikan tumbal nyawa. Karena itulah sundel bolong Narti mencelakai sang dukun yang dulu menyantetnya. Tak cukup sampai disitu, Pak Darman juga meminta sundel bolong Narti mengalahkan sosok Endang. Karena Endang akan dijadikan peliharaan oleh salah satu anggota kelompok itu. Tapi rupanya, sosok Endang tak mudah dikalahkan. Karena itulah jiwa Narti tak tenang, karena takut nyawa Darman akan menjadi tumbal oleh kelompok sesat itu.


"Apa menurut mu aku masih layak tinggal di alam keabadian? Jiwaku dipenuhi dendam dan amarah, bahkan aku telah mencelakai manusia. Meskipun begitu, aku tak mau nyawa Mas Darman menjadi taruhannya. Ia melakukan persekutuan itu demi menuntut balas akan kematianku. Karena itu, aku tak akan membiarkan nya tiada. Aku harus mengalahkan Endang, demi nyawa Mas Darman!"


Penjelasan sosok Narti menjadi fakta baru yang terungkap. Jadi tempat ini memang digunakan oleh para kelompok penganut ilmu hitam itu. Sepertinya terlalu berbahaya menggunakan tempat ini sebagai lokasi syuting film horor. Yang ada bukan film, tapi uji nyali disini.


"Tunggu! Aku akan meminta Pak Darman untuk pergi ke desa ku. Disana ia akan aman, karena ada paman ku yang akan menolong nya. Jadi kau tak perlu risau lagi!"


Tak ada jawaban dari sosok Narti, ia justru tertawa dengan suara yang mengerikan. Lebih baik aku meninggalkan nya, daripada berlama-lama di tempat ini. Kemudian aku mengajak Beny dan Silvia keluar dari sana. Begitu banyak energi negatif, yang dapat membuatku limbung.

__ADS_1


"Lu gak apa-apa kan Ran?" Tanya Silvia dehgan memegangi lenganku.


"Lebih baik, lu cari tempat lain ya Sil. Gue takut terjadi hal-hal yang gak diinginkan, kalau lu tetep kasih referensi tempat ini ke pihak film."


Beny yang penasaran dengan apa yang ku lihat di tempat itu bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat itu. Aku sendiri tak dapat menjelaskan lebih detail, karena aku hanya mendengar sedikit cerita dari sosok Narti.


"Udah, gak usah kepo! Yuk, kita cari tempat lain aja. Biar gue temenin sekalian, yang penting jangan di tempat itu!" Kataku menatap bangunan terbengkalai yang sudah kami tinggalkan.


Pencarian lokasi masih terus dilakukan, Beny kebingungan menentukan lokasi yang tepat. Sementara Silvia hanya bisa pasrah, karena ia sendiri tak suka melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan hal gaib. Karena itulah, ia pasrah saja dengan pilihanku. Aku menjentikan jari, karena teringat lokasi penemuan mayat mendiang Bu Wayan. Meski pernah ditemukan mayat disana, setidaknya lokasi itu tak digunakan oleh kelompok penganut ilmu hitam. Karena sebenarnya, manusia yang berpikiran seperti setan lebih berbahaya dari setan itu sendiri.


"Gimana. Setuju gak kalau pakai bangunan itu?" Tanya ku berdiri tepat di depan nya.


Beny menaikan dagunya, menanyakan pendapat Silvia, dan disambut dengan anggukan kepala.


"Tapi kan Ran, pernah ada penemuan mayat disana. Apa gak masalah dipakai syuting?" Celetuk Beny mengaitkan kedua alis matanya.


"Duh Ran, kok lebih serem dari tempat yang tadi sih!"


"Gak kok. Udah sana minta ijin dulu, tuh penjaga nya ada di gedung sebelahnya. Tapi kita liputannya besok aja, soalnya gue agak gak enak badan nih. Mau langsung pulang aja." Pungkas ku seraya memijat pangkal hidung.


Setelah mendapatkan ijin untuk menggunakan gedung itu. Kami bergegas meninggalkan lokasi, mereka berdua mengantarku kembali ke kost lebih dulu.


"Sampaikan ke Mbak Rika, kalau gue langsung pulang. Gue duluan ya gusy. Bye!" Ucapku turun dari mobil.

__ADS_1


Baru saja ingin melangkahkan kaki ke dalam, ekor mataku menangkap bayangan si merah. Sepertinya ia masih menaruh dendam padaku, padahal aku belum melakukan apapun.


"Bagus deh, dia pergi. Kalau gak, bisa gue hancurin tuh demit!" Seru Mbak Ayu berlari ke arah si merah tadi mengambang.


"Loh. Mbak Ayu darimana? Kok tahu-tahu ngejar si merah?"


"Nih gue beli makan di warteg depan. Tapi gue lihat demit itu lagi melototin lu gitu. Kalau berani tuh sama gue yang punya ilmu, jangan sama lu! Mana dari belakang lagi mantau nya!"


"Duh gak habis-habis deh masalah gue Mbak! Mana ntar sore gue harus nemuin Pak Darman lagi. Ini aja gue dapat kompensasi dari Mbak Rika buat pulang duluan. Kalau gak, mungkin gue udah pingsan di kantor."


"Makanya dong, lu jangan sembarangan main bantu orang. Tahu nya salah juga kan orang yang lu bantu! Pasti Pak Darman makai jasa dukun buat bangkitin sundel bolong itu."


"Bukan dukun Mbak. Ternyata dia ada perjanjian dengan para penganut ilmu hitam. Makanya tuh sundel bolong gak mau kalah dari kuntilanak Endang. Gue agak males sebenarnya, bantu Pak Darman yang ternyata sesat." Keluh ku dengan menghembuskan nafas panjang.


Kami masuk ke dalam, nampak Ce Edoh sedang membersihkan bagian dalam rumah utama. Sudah hampir satu bulan, rumah kuno itu kosong tak berpenghuni. Aku jadi penasaran, kemana perginya Om Dewa. Ia seakan hilang di telan bumi, dan tak ada usaha Tante Ajeng untuk mencarinya. Jangan-jangan ada yang mereka sembunyikan lagi.


"Ngapain lu lihatin Ce Edoh Ran?" Celetuk Mbak Rika menatapku heran.


"Gak kok Mbak. Gue cuma kepikiran Om Dewa aja."


"Udah deh, gak usah mikirin banyak hal. Sono istirahat dulu, ntar sore gue temenin ketemu Pak Darman. Gue pengen tahu, apa alasannya bersekutu dengan kelompok yang lu bilang tadi."


Benar juga kata Mbak Rika. Aku memang terlalu banyak memikirkan masalah orang lain, tak hanya orang, sampai masalah makhluk tak kasat mata pun, aku juga memikirkan nya. Mungkin ini karena pesan terakhir dari mendiang Simbah ku. Yang pernah berpesan padaku, untuk selalu membantu orang yang kesulitan.

__ADS_1


__ADS_2