
Leni datang menghampiri Tante Ajeng, ia menopang tubuh Tante Ajeng seakan ia benar-benar sangat terpukul karena ucapan ku. Aku hanya terkekeh melihat akting keduanya. Nampak Leni tanpa dosa, berbisik di telinga ku, dan ia mengatakan telah salah menilai Heni. Karena itulah ia berniat mengajak Heni mengikuti jejaknya menjadi pengikut sekte sesat Tante Ajeng. Tanpa basa-basi aku langsung menyentuh pundak Leni, dan menekannya setengah mencengkram, kesabaran ku benar-benar di ambang batas. Aku membulatkan kedua mata, dan mengancam Leni tanpa ragu.
"Kalau lu sampai bawa orang lain terjerumus dalam sekte sesat itu, gue bersumpah Len, bakal bikin lu sendiri yang akan jadi tumbal buat sekte lu sendiri!" Kataku dengan tegas.
Nampak Leni sedikit tercengang, ia tak menyangka mendengar ancaman itu dari ku. Bahkan kini tangannya agak bergetar, sampai aku bisa merasakannya. Karena tangan ku masih berada tepat di pundaknya. Tak lama setelah itu, Tante Ajeng menepis tangan ku, dan berbalik mengancam ku. Jika aku sampai nekat berbuat sesuatu, ia akan melakukan segala cara untuk membalas ku.
"Aku tau kau juga ada musuh lain kan Rania, karena kau terlalu senang mencampuri urusan orang lain. Jadi wajar saja, akan semakin banyak orang yang ingin mencelakai mu. Jadi biarkan saja aku membalas dendam pada Dahayu, setidaknya kau tak perlu menambah satu musuh lagi." Kata Tante Ajeng menyeringai di hadapan ku.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas panjang, kesabaran ku benar-benar teruji kali ini. Tapi aku tak mau terpancing lagi, jadi aku meminta keduanya untuk pergi dari rumah kuno ini. Bahkan aku sampai mengingatkan Leni, jika saat ini dia ada di daftar pencarian orang oleh polisi. Jika sampai Mas Adit datang, ia akan dalam masalah besar.
"Lu bisa berurusan dengan hukum. Silahkan saja tetap bertahan disini sampai Mas Adit datang. Karena gak hanya lu, Tante Ajeng juga akan terkena imbasnya!" Ucap ku mengancam keduanya.
Nampaknya mereka terkecoh dengan ucapan ku. Keduanya agak gusar, dan perlahan melangkahkan kaki nya keluar dari ruang tamu. Terlihat Tante Ajeng berlagak di depan semua orang, jika ia akan pergi ke Bali untuk prosesi ngaben Om Dewa. Padahal aku sangat tahu, jika ia tak mungkin melakukan hal itu. Pak RT pun mengiringi kepergian Tante Ajeng sampai di depan pagar. Aku yakin jika mereka tau yang sebenarnya, tak akan ada orang yang bersikap ramah padanya. Karena hari sudah agak siang, dan pelayat yang datang sudah mulai berkurang. Pak RT dan beberapa tetangga lainnya berpamitan.
"Jadi nanti malam gak ada tahlilan ya Mbak? Karena warga sini biasanya kan gitu, suka pada pengajian selama tujuh hari. Kalau gitu nanti saya sampaikan ke warga, kalau gak ada tahlilan untuk almarhum Pak Dewa." Pungkas Pak RT seraya menjabat tangan ku.
"Iya Pak gak ada, semua proses pemakaman kan di Bali semua. Saya juga gak ngerti adatnya bagaimana. Saya cuma membuka rumah supaya warga sekitar tahu dan melayat aja kok. Terima kasih ya Pak RT dan Bapak Ibu semuanya yang udah bantu hari ini."
Setelah itu semuanya berpamitan dan pergi meninggalkan rumah. Seketika rumah kuno ini semakin sepi dan sunyi. Hanya ada aku, Ce Edoh dan beberapa kerabatnya. Mereka yang membantu membersihkan ruang keluarga.
"Mbak Rania semuanya udah bersih dan di pasang lampu terang di semua sudut ruangan dan lorong-lorong. Kalau boleh nih, anak dan keponakan saya biar nginep disini dulu Mbak. Biar suasana nya agak rame dan gak terlalu sepi. Saya kan juga agak takut setelah kejadian tadi Mbak."
__ADS_1
"Iya Ce Edoh, saya paham kok. Ya udah gak apa-apa, biar nanti saya yang ngomong ke Mbak Ayu. Tapi sebentar lagi saya mau ke kantor sebentar gak apa-apa kan Ce? Ce Edoh berani kan disini gak ada saya?"
"InsyaAllah saya gak apa-apa Mbak Rania. Kan ada suami dan keponakan saya, tapi kalau bisa jangan lama-lama ya perginya. Takutnya Bu Ajeng datang lagi kayak tadi. Saya kan takut Mbak, gak tahu harus gimana nantinya."
"Iya gak lama kok Ce, nanti kalau ada apa-apa hubungi saya aja langsung. Nanti saya pasti pulang secepatnya."
Aku meninggalkan Ce Edoh yang masih menerima satu dua orang pelayat yang datang. Aku ingin menghubungi Mbak Ayu dan menceritakan tentang kedatangan Tante Ajeng tadi. Tapi sepertinya ia sedang sibuk mengurus segala keperluan untuk ritual terakhir Om Dewa. Mama dan Papa pasti juga sedang sibuk membantu Mbak Ayu, jadi aku mengurungkan niat untuk menghubungi mereka. Tiba-tiba suara ketukan pintu mengejutkan ku.
Ceklek.
Begitu pintu terbuka, nampak wajah teduh seorang pemuda tampan tengah menyunggingkan senyum nya padaku.
"Kau pasti lelah ya gak ada yang bantu?" Tanya Mas Adit seraya mengusap lembut rambut ku.
"Aku tau beban yang ada di pundak mu sangat besar. Tadi aku dengar dari Ce Edoh, kalau Tante Ajeng datang bersama Leni. Pasti mereka melakukan sesuatu sampai membuat mu sedih seperti ini." Ucap Mas Adit seraya memapah ku duduk di teras depan kamar.
Aku masih sesegukan, dan mengatakan pada Mas Adit jika aku menangis bukan hanya karena Tante Ajeng ataupun karena kepergian Om Dewa. Tapi beban yang ada di dalam hati ku tiba-tiba saja meledak, ketika melihat nya tadi ada di hadapanku.
"Dulu aku terbiasa dengan orang-orang yang membantu ku menyelesaikan masalah. Tapi sekarang aku yang harus membantu menyelesaikan masalah orang lain. Beban ini semakin terasa berat, ketika aku jauh dari orang-orang yang ku sayangi. Dan ketika kau datang menemui ku, aku merasa mendapat dukungan dari orang yang ku sayangi." Ucap ku dengan menundukkan kepala.
Tiba-tiba saja Mas Adit menggenggam tangan ku, ia mendekatkan tubuhnya. Dan meletakan kepala ku ke pundaknya, ia berterima kasih karena telah menjadikan nya salah satu orang yang ku sayangi. Sontak saja aku canggung, aku tak sadar telah mengatakan hal semacam itu tanpa ragu. Aaarggh... Apa yang terjadi padaku, kenapa seakan aku mengakui perasaan pada Mas Adit.
__ADS_1
"Ehm Mas sebentar ya, aku bikinin minum dulu!" Kata ku seraya berjalan ke arah dapur.
Entah apa yang Mas Adit pikirkan tentang ku, kenapa aku terbawa suasana dan ceroboh mengatakan hal yang mengarah kesitu. Aku mengacak rambut kasar, dan Ce Edoh menatap ku heran.
"Loh Mbak Rania gak jadi pergi ke Kantor? Itu di depan ada Pak Polisi lagi nunggu, biar saya aja yang bikinin minum."
"Hmm iya Ce, makasih ya. Ini juga bentar lagi pergi kok."
Aku meminta Ce Edoh untuk mengantar minuman ke Mas Adit, sementara aku mengganti baju di kamar. Rasanya jantung ku berdetak tak karuan, aku menyesal kenapa tadi harus menangis di hadapan Mas Adit.
"Ran. Kau mau ke kantor ya? Biar sekalian aku antar ya?" Tanya Mas Adit di balik pintu.
Sebenarnya aku masih canggung, tapi setelah aku pikir-pikir lebih baik aku berlagak biasa saja, supaya Mas Adit tak salah paham dengan gelagat ku.
"Hmm iya Mas, makasih. Sebentar lagi aku keluar!" Jawabku seraya mengenakan sepatu.
Dret dret dret.
Nampak panggilan video dari Mbak Ayu, segera aku menyentuh tombol terima. Nampak di layar hape, ia berada di tengah-tengah kumpulan banyak orang. Di samping nya ada Mama yang sedang merangkulnya. Raut wajah Mbak Ayu benar-benar sedih, bahkan kelopak matanya membesar. Aku belum mengatakan apapun padanya, tapi Mbak Ayu langsung menanyakan apa Tante Ajeng baru saja datang ke rumah kuno ini. Entah darimana Mbak Ayu tau, karena aku belum memberitahu nya.
"Lu gak usah kaget, gue tahu darimana. Tadi Pak RT ngirimin foto para pelayat yang datang kesana. Dan gue lihat ada Tante Ajeng sedang berdiri di depan lu, dia berlagak kehilangan dan sedih. Dasar perempuan licik, gue tahu dia seneng lihat Om Dewa udah gak ada." Ucap Mbak Ayu di seberang telepon sana.
__ADS_1
Aku menghembuskan nafas panjang, dan menceritakan apa saja yang Tante Ajeng katakan padaku. Bahkan Mama sampai terkejut, dan mengingatkan ku supaya tak mencampuri urusan Tante Ajeng. Karena menurut Mama, Mbak Ayu pasti bisa menyelesaikan masalah nya dengan Tante Ajeng. Tapi bagaimana mungkin aku menutup mata setelah tau semuanya. Jika Tante Ajeng memang masih mengincar Mbak Ayu, untuk membalaskan dendamnya.