Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 30 MISTERI PENEMUAN MAYAT


__ADS_3

Aku dan Wati membahas masalah klenik ini sampai tengah malam. Tak terasa jam di dinding menunjukan pukul satu lebih tiga puluh menit. Udara malam ini terasa sangat dingin, tirai di jendela bergerak karena hembusan angin. Wati berdiri dan merapatkan tirai itu, dari sudut lorong gelap nampak siluet bayangan seseorang sedang berjalan.


"Siapa sih malam-malam begini keluar kamar, perasaan ku jadi gak enak deh." kata Wati dengan mengusap belakang lehernya.


"Emang kamu lihat apa an sih?" aku bangkit dari duduk, lalu melihat keluar jendela.


"Ssst. Jangan berisik Ran, lihat deh itu kaya Tante Ajeng dan Agus." kini Wati berbisik sambil menunjuk keluar jendela.


Aku mengaitkan kedua alis mata, memandang keluar kamar dengan menyelidik. Ternyata Wati tak salah melihat, di ujung lorong sana ada Tante Ajeng dan juga Agus. Keduanya membawa nampan berisi buah-buahan dan canang beserta dupa. Walau sekarang aku tak heran lagi jika mereka melakukan sembahyang, tapi agak tak masuk akal saja. Mana ada orang sembahyang tengah malam seperti ini, atau mungkin mereka mempunyai niat tertentu.


Ceklek.


Wati membuka pintu kamar dan berjalan mengendap di belakang mereka. Sontak saja aku terkejut, jantung ku berdetak tak beraturan melihat perbuatan Wati yang tergolong sangat pemberani. Padahal Wati yang dulu ku kenal sangat penakut, bahkan dengan sahabat hantuku Petter saja ia ketakutan. Segera ku tarik tangan Wati, dan melarang nya pergi mengikuti Tante Ajeng dan juga Agus.


"Kalau kamu gak mau ikut ya udah disini aja, aku penasaran dengan mereka, aku makin curiga jangan-jangan keluarga ini adalah pemuja Leak, sama seperti mayat tanpa kepala itu." ucap Wati berbicara pelan-pelan.


"Kalau gitu kita cari tahu sama-sama, tapi kita harus berhati-hati jangan sampai ketahuan."

__ADS_1


Kami berjalan mengendap di belakang mereka, keduanya masuk ke dalam ruang keluarga yang selalu tertutup. Aneh, kenapa Agus yang baru beberapa hari tinggal disini, diperbolehkan masuk ke dalam. Terdengar suara pintu di kunci dari dalam, aku dan Wati hanya bisa menghembuskan nafas pasrah. Tak mau pasrah begitu saja, aku mencari celah dari berbagai sudut. Supaya kami dapat melihat apa yang mereka lakukan di dalam. Wati mengambil inisiatif dengan memanjat tumpukan barang bekas, yang ada di gudang sebelah ruang keluarga tersebut. Kami sama-sama memanjat dan mengintip melalui lubang ventilasi. Nampak Tante Ajeng sedang menata sesajen dan canang di depan altar, keduanya sama-sama memegang dupa dan melakukan ritual. Kami tak mengerti apa yang sedang keduanya lakukan, entah kenapa harus di tengah malam seperti ini.


Whuus whuuss whuuus.


Angin kencang menggoyangkan pepohonan, membuat dahannya saling bergesekan dan membuat suasana makin mencekam. Aroma dupa yang sangat kuat mengganggu pernafasan. Dari depan altar tempat sembahyang, muncul siluet sosok tinggi besar yang tak asing di mataku. Sosok itu seperti sedang berkomunikasi dengan Tante Ajeng, entah apa yang mereka bicarakan. Karena aku dan Wati tak dapat mendengar apapun dari luar ruangan. Wati sungut-sungut kesal melihat gelagat keduanya, kini Agus berdiri lalu menyembah siluet tinggi besar itu. Tak dapat menahan kesal Wati segera turun, dan berniat menggedor pintu dari luar. Aku menggelengkan kepala dan menahan Wati dengan sekuat tenaga. Tapi ia bersikeras ingin mengetahui apa yang sebenarnya, karena menurut Wati sudah pasti mereka adalah penyembah Leak. Dan ia harus membongkar kedok Tante Ajeng dan juga Agus. Tapi belum sempat Wati menggedor pintu itu, Agus sudah terlebih dulu membuka pintu dari dalam. Mereka membulatkan kedua matanya, terkejut melihat aku dan Wati ada di depan pintu.


"Kalian! Apa yang kalian berdua lakukan disini?" ucap Tante Ajeng dengan nada tinggi.


"Tante Ajeng jujur aja deh sama kami, apa yang Tante lakukan di dalam? kami sudah curiga kalau Tante dan Agus menyembunyikan sesuatu. Apa benar kalian pengikut Leak?" tukas Wati yang sudah tak bisa menahan amarah.


Nampak Agus sangat marah, ia mencengkeram tangan Wati seraya menyeretnya menjauh dari pintu itu. Aku dan Tante Ajeng berusaha menghentikan Agus, tapi tenaga nya terlalu kuat, ia mendorong Wati hingga tubuhnya membentur tembok.


"Udah Gus udah, wajar kalau mereka curiga pada kita. Mungkin sekarang udah waktunya kita mengatakan yang sebenarnya." ucap Tante Ajeng menengahi perdebatan saat itu.


"Maaf ya Tante, bukannya kami lancang. Tapi kami penasaran, apa yang Tante dan Agus lakukan di ruangan ini pada tengah malam seperti ini. Jadi bener ya Tante melakukan ritual di dalam? karena selain menghirup aroma dupa, kami juga melihat kalian membawa sesajen dan canang. Apa pentingnya Tante melakukan ritual tengah malam begini? gak mungkin kan kalau hanya sembahyang biasa?" aku menatap keduanya dengan wajah serius, dan keduanya hanya saling memandang tanpa berkata-kata.


"Lu gak perlu tahu apa yang kami lakukan di dalam, yang harus lu tahu adalah tujuan kami melakukan ritual itu. Kami hanya ingin melindungi keluarga dan orang-orang terdekat kami, termasuk kalian." kata Agus dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Ya udah lu jelasin aja dong, dari awal gue udah tanya baik-baik kan. Tapi lu malah sewot sama gue!" seru Wati dengan berkacak pinggang.


"Udah kalian tenang dulu ya, gak usah berdebat tengah malam gini. Nanti semua orang bisa kebangun. Sekarang kita bicara di ruang tamu aja, biar anak kost gak ada yang keganggu dengan suara kita." pinta Tante Ajeng seraya berjalan ke rumah utama.


Tante Ajeng masih mengenakan baju kebaya khas perempuan Bali. Ia meminta Agus untuk tenang dan diam, karena sedari tadi ia selalu berdebat dengan Wati. Kini suasana nampak tegang, Tante Ajeng duduk dengan melipat tangan di atas paha.


"Pertama-tama Tante ingin meminta kalian berdua untuk merahasiakan, apa yang akan kita bicarakan saat ini. Tante ingin memberitahu kalian sebuah rahasia, bahkan Om Dewa dan Dahayu gak tahu apapun tentang apa yang akan Tante sampaikan pada kalian berdua. Apakah kalian bisa berjanji pada Tante?" tanya Tante Ajeng menatap serius padaku dan juga Wati.


Nampak Wati kesusahan menelan salivanya, ia terlihat gugup dengan peluh yang membasahi keningnya. Aku menggenggam tangan Wati dan memberi kode gestur tubuh, jika kami setuju dengan menganggukan kepala.


Selanjutnya Tante Ajeng meminta Agus mengambil sesuatu untuk ditunjukkan pada kami. Kami menunggu kedatangan Agus dengan gelisah, entah apa yang keponakan dan Tantenya ini sembunyikan dari semua orang. Bahkan suaminya saja tak tahu apa-apa, aku menghembuskan nafas panjang berusaha menenangkan diriku sendiri.


"Kau tak perlu gugup Rania, lihatlah sepupumu Wati sudah bisa tenang karenamu. Kenapa sekarang jadi kau yang gelisah? tenang saja, Tante gak akan menyakiti kalian. Justru kau yang bisa membantu Tante, jadi Tante mohon dengan sangat percayalah dengan apa yang akan Tante jelaskan padamu." ucap Tante Ajeng dengan wajah sendu.


Aneh, kenapa tiba-tiba ekspresi wajah Tante Ajeng berubah drastis. Dari yang awalnya tenang dan lembut, sekarang ia terlihat rapuh dengan mata berkaca-kaca. Entah apa yang sebenarnya mereka sembunyikan.


...Hayoo pada keppo ya nungguin Agus ngambil sesuatu di dalam, dan gak keluar-keluar? tunggu episode selanjutnya ya. See you....

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2