
Setelah mengakhiri panggilan video dengan Mbak Ayu dan Mama. Aku bergegas pergi ke kantor di antar Mas Adit. Di sepanjang perjalanan Mas Adit menceritakan mengenai Mbak Lia yang akan dimintai keterangan perlihal kecelakaan yang menimpa Fendi. Hmm sepertinya arwah Fendi sudah kembali ke alam keabadian, karena keadilan sudah didapat nya.
"Oh iya Mas, kalau ada waktu bisa mampir ke kantor bentar gak? Ada sedikit masalah nih, dan aku pengen masalah nya clear hari ini juga."
"Hmm bisa Ran, emangnya ada masalah apa?"
Aku langsung menceritakan dengan detail masalah yang terjadi pada Dila. Mengenai kecelakaan di lokasi syuting, dan beredarnya berita hoax yang dikatakan oleh sutradara film nya.
"Wah bisa kena pasal tuh sutradara, kena pasal pencemaran nama baik." Sahut Mas Adit dibalik kemudi nya.
"Nah, tapi kan korbannya udah meninggal dunia. Dan sebenarnya itu memang kecelakaan, walau secara gak langsung korban bisa sampai meninggal dunia karena perintah dari sutradara buat melakukan akting di atas tiang gantungan yang rusak. Tapi korban gak menuntut secara humum sih, hanya saja dia mau berita hoax yang tersebar di publik itu diralat."
__ADS_1
"Bisa aja sih, tapi kita harus ngancam tuh sutradara, terus apa yang akan kita lakuin di kantor mu?"
"Ada salah satu yang ternyata pacar korban, dia mau ungkap kejadian yang sebenarnya. Makanya aku mau ke kantor buat mastiin semuanya berjalan lancar."
Sesampainya di kantor, aku bertemu dengan Beny yang sedang menyiapkan segala keperluan untuk berita secara Live. Aku tak menyangka ternyata Beny dan Mbak Rika benar-benar bekerja serius kali ini. Semua bukti rekaman video sudah disiapkan untuk diputar saat Live berlangsung. Kebetulan hari ini, beberapa artis pemeran di film mangkuraga datang. Mereka ingin berbagi cerita selama proses syuting berlangsung, dan akan ada pertanyaan yang mengarah ke kejadian tewasnya Dila. Kali ini yang akan mewawancarai mereka adalah Mbak Rika sendiri. Karena ia tak bisa mempercayakan tugas pada orang lain. Dan begitu take pertama, Mbak Rika masih mewawancarai para artis mengenai seputar film. Dan beberapa adegan diluar nalar yang harus mereka lakukan. Aku dan Mas Adit hanya melihat wawancara itu, dan tak lama Denis datang. Diminta masuk ke dalam studio, karena ia harus memberikan keterangan langsung mengenai kecelakaan yang di alami Dila di lokasi. Setelah Denis menjelaskan semua, baru lah Beny akan memutar rekaman video yang memperlihatkan suasana lokasi syuting sebelum Dila tewas menggantung. Nampak sosok Dila melesat mengikuti Denis, ia menyapa ku terlebih dulu dengan menganggukkan kepala. Dan begitu Denis menceritakan kejadian yang sebenarnya dengan bukti rekaman video, pada saat sutradara Sinto Gendeng memerintahkan Dila untuk naik ke tiang gantungan yang bermasalah. Semua artis mendadak gelagapan, mereka tak menyangka Denis akan mengungkapkan kebenaran secara Live. Nampak di layar monitor, jika sebelumnya para kru lapangan sudah mengingatkan, jika pengait di tiang gantungan sedang bermasalah. Dan mereka harus memperbaiki nya terlebih dulu. Tapi sang sutradara memaksa agar Dila segera menyelesaikan proses syuting karena sudah tak ada waktu untuk menunggu perbaikan. Dan akhirnya yang terjadi adalah kepanikan semua orang. Karena Dila benar-benar tergantung di tiang dengan tali yang menjerat lehernya. Adegan itu sengaja di blur, supaya tak menimbulkan pro kontra kelak. Tapi semua orang bisa memastikan, jika yang tergantung benar-benar Dila. Banyak orang yang ada di lokasi syuting berusaha menolong nya, tapi semua terjadi begitu cepat. Akhirnya Dila tewas menggantung dengan kamera yang masih standby.
Tak lama setelah itu, banyak telepon masuk ke redaksi kami. Mereka menanyakan perihal acara Live yang menayangkan kejadian sewaktu Dila tewas menggantung. Akhirnya publik tau, jika Dila tewas bukan karena sengaja ingin bunuh diri. Melainkan kelalaian saat kerja, terutama atas perintah sang Sutradara yang mementingkan ego nya. Kami juga mendapatkan perintah untuk menghentikan acara Live tersebut. Mendadak suasana studio sangat kacau, karena sang sutradara melaporkan ke atasan kami yang melakukan acara Live lebih cepat daripada waktu yang ditentukan. Kini aku meminta bantuan Mas Adit untuk memproses kasus tewasnya Dila. Meski tak ada tuntutan, setidaknya sutradara itu harus mengucapkan permintaan maaf secara langsung di depan publik. Karena dia telah menyebarkan berita hoax, dan mengakibatkan seseorang tewas atas perintah nya.
Aku mengantarkan Mas Adit sampai Lobby kantor. Nampak atasan redaksi di bagian kami datang dengan marah-marah. Ia mengumpulkan semua staf dan menegur kami semua. Menurutnya kami bisa dituntut karena melakukan siaran Live diluar naskah. Aku memberanikan diri mengatakan pada atasan ku, jika staf di bagian kami sudah bekerja sebaik mungkin. Dan menurut ku tak ada salah nya mengungkapkan kebenaran. Tak lama setelah itu para artis yang menjadi bintang tamu datang, dan membela kami semua. Menurutnya, kejadian yang sebenarnya memang harus diketahui publik. Karena yang publik tau hanya kebohongan mengenai Dila yang sengaja bunuh diri itu tidak benar. Tapi tiba-tiba panggilan telepon menghentikan atasan ku itu marah-marah. Ternyata siaran Live tadi diketahui Pak Bos Besar, dan ia tak mempermasalahkan apa yang telah team kami lakukan. Justru atasan kami mendapat teguran dari Pak Bos, karena ia menghentikan acara Live tadi secara sepihak.
Nampak sosok Dila melesat ke arah ku dengan wajah sendu. Ia merasa tak enak dan meminta maaf karena telah membuat masalah di kantor. Aku hanya menggelengkan kepala padanya, dan berkomunikasi melalui batin. Jika ia tak bersalah, karena kami semua disini memang ingin menunjukkan kebenaran pada publik. Tiba-tiba atasan ku menghampiri ku, dan Mbak Rika menyenggol lengan ku. Seketika aku menghentikan komunikasi dengan Dila. Karena Pak Arya, atasan ku itu sedang berkacak pinggang di depan ku.
__ADS_1
"Pasti kau yang mengadu ke Bos Besar ya? Saya tahu Bos sangat memanjakan kau, sampai kau dapat privilege yang tak di dapat staf lain. Jadi kau pikir bisa berbuat semau mu di kantor ini!" Ucapnya berdecih di hadapan ku.
Aneh sekali, kenapa Pak Arya bersikap seperti itu padaku. Padahal aku sama sekali tak mengadu pada Pak Bos Besar. Tapi ternyata ia salah paham padaku, terserah saja lah. Toh aku bekerja disini yang gaji bukan dia. Tak lama setelah nya, Pak Arya pergi dan tak mengatakan apa-apa lagi. Aku menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala.
"Udah Ran, biarin aja. Padahal sih tadi Silvia yang lapor ke Pak Bos, karena Pak Arya negur kita semua. Tapi dia salah sangka sama lu, udah gak usah dipikirin yang penting kita udah menegakkan keadilan buat Dila. Semoga setelah sutradara itu mengakui perbuatan di depan publik, arwah Dila bisa tenang di alam keabadian ya." Pungkas Mbak Rika seraya merangkul ku.
"Hmm Iya mbak, tapi gue mau ke kantor polisi dulu. Mas Adit buat surat panggilan supaya sutradara itu datang, dan mengakui perbuatan nya di depan publik. Gue ajak Beny ya buat liputan di kantor polisi?" Tanya ku pada Mbak Rika.
Nampak Mbak Rika agak ragu, ia berbicara setengah berbisik. Menurutnya ia harus meminta persetujuan dulu dari Pak Arya, karena tak ingin terjadi keributan seperti tadi lagi. Dan aku menjelaskan jika aku saja yang meminta ijin untuk liputan, bukankah menurutnya aku mendapatkan privilege dari Pak Bos Besar. Biar saja dia makin kesal dengan ku, toh aku melakukan pekerjaan secara profesional. Kalau itu menjadi masalah untuk nya, ya bukan urusan ku dong. Beny hanya diam tak mengatakan apa-apa, sepertinya ia takut pada Pak Arya karena aku mengajaknya sebagai partner.
"Ya udah deh kalau Beny takut sama Pak Arya, gue pergi sendiri aja Mbak. Kalau beritanya sampai masuk rating satu kan lumayan gue dapat bonus nantinya."
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan ku, nampak Beny agak ragu. Ia mengatakan akan menemani ku meliput di kantor polisi, meski nanti Pak Arya akan menegurnya. Rupanya Beny masih memiliki akal sehat juga, meski ia sedikit ragu karena tak mau mendapat teguran dari Pak Arya.