Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 272 BERTANYA-TANYA?


__ADS_3

Setelah proses pemakaman selesai, kami semua kembali ke rumah. Ku berikan botol yang berisi si merah pada Pak Haji Faruk, supaya beliau saja yang memusnahkan nya. Semua orang yang berkumpul saling berbagi cerita mengenai kejadian di Hutan tadi. Tapi tiba-tiba tersiar kabar dari toak mushola, jika satu keluarga yang sakit di samping rumah bekas Mbah Wongso telah tiada.


"Ini semua karena ulah Warto, ia tak terima dengan kekalahan nya. Meski dia tak bisa mengirimi santet lagi, tapi semua orang yang sudah terlanjur kena santet darinya bisa terkena celaka. Dia murka dan menghabisi satu keluarga itu, apalagi dia sudah sering datang sendiri ke Desa ini. Kita harus mengadakan pengajian akbar dan pembersihan total ke seluruh wilayah Desa. Supaya sisa satu keluarga yang sudah terlanjur terkena santet bisa diselamatkan. Dan warga lainnya pun bisa tenang." Jelas Mbok Genuk dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Inalillahi wainnailaihi raji'un. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang Mbok? Disaat Pak Warto kalah, ia masih saja berniat jahat. Bahkan dia egois tak memperdulikan kondisi Wening."


"Entahlah Nduk, hanya tadi saja saran yang bisa ku beri." Kata Mbok Genuk dengan menghembuskan nafas panjang.


Nampak Pak Haji Faruk tertunduk dengan wajah sendu. Aku menghampiri beliau dan menghibur nya. Pak Haji merasa terbebani dengan situasi saat ini. Mbok Genuk pun menjelaskan jika semua ini bukanlah salah kami semua. Dan beban yang dipikul Pak Haji bisa lebih ringan, jika beliau tak terlalu merasa bersalah.


"Benar kata Mbok Genuk Pak Haji, kita harus ikhlas. Mari kita urus jenazah keluarga Pak Langgeng. Nanti biar Pak Sapri yang meminta bantuan ke Pak ustadz di kampung sebelah. Satu rumah itu tewas semua, dan Pak Haji tak akan mampu mengurus empat jenazah sekaligus."


"Panggil Bu ustadzah juga Nduk, ada istri dan anak perempuan Pak Langgeng yang harus di urus juga." Jelas Pak Haji seraya berdzikir.


Aku meminta bantuan Pak Sapri untuk mencarikan ustad dan ustadzah yang akan membantu mengurus jenazah keluarga Pak Langgeng. Sementara Mbok Genuk meminta maaf karena tak bisa membantu, ia harus melihat kondisi Wening di Rumah Sakit.


"Nanti biar Jarwo yang ku minta kembali kesini. Kalian pasti akan sangat membutuhkannya."


Tak lama setelah itu Pramono datang memeluk Mbok Genuk. Ia terlihat sangat rindu pada sosok pengasuh nya. Pramono mendekap Mbok Genuk dan tak mau melepaskan nya. Wati yang mulai memahami suaminya mencoba memberi pengertian pada Pramono, jika Mbok Genuk harus pergi sebentar.

__ADS_1


"Nanti Mbok Genuk akan kembali lagi Mas. Kau di rumah saja bersamaku, bukankah kau ingin bermain bola bersama Aldo?" Kata Wati mengalihkan perhatian Pramono.


Pramono diam dengan mata berkaca-kaca, ia bergelayut manja di lengan Mbok Genuk. Sampai akhirnya Mbok Genuk mengusap lembut rambut Pramono. Ia bersenandung seraya memberi pengertian ke Pramono, jika ia memiliki satu cucu yang sedang sakit. Dan Mbok Genuk harus merawatnya, karena cucunya itu sama seperti Pramono tak mempunyai orang tua lagi. Perlahan Pramono menganggukkan kepala, ia mulai mengendorkan pegangan tangan nya. Lalu ia mengecup punggung tangan Mbok Genuk seraya menganggukkan kepala. Sosok Mbok Genuk tak hanya jadi pengasuh Pramono, tapi ia juga menjadi pengganti orang tuanya. Wajar saja Pramono selalu bergantung pada Mbok Genuk, dan membuatnya sampai jauh dari cucu kandungnya sendiri.


"Pak Sapri tolong antarkan Mbok Genuk sampai jalan utama ya."


"Oh iya Nduk."


Setelah itu aku bersama semua warga pergi menuju ke rumah Pak Langgeng. Nampak Wati terlihat gelisah, ia memegangi lengan ku dengan kencang. Wati jadi takut melihat kematian warga yang terlalu mendadak. Ia resah mengingat waktu perjanjian Pak Sumitro dengan buto ireng hanya tinggal beberapa bulan lagi.


"Tapi kau belum pernah melakukan hubungan suami istri bersama Pramono kan Wat?" Tanya ku dengan menghentikan langkah.


"Ih kok nanya nya gitu sih Ran! Aku kan jadi malu dengarnya!"


"Gak kok Ran. Emang kau pikir Mas Pram bisa melakukan hubungan itu apa! Dia terlalu polos untuk melakukan hubungan itu."


"Tapi apa kau lupa dengan peringatan yang kami berikan? Pramono bisa saja tanpa sadar melakukan hubungan itu denganmu, karena ada sosok lain yang mengendalikan pikiran nya. Dengan kata lain, yang melakukan hubungan itu memang Pramono sendiri. Tapi pikiran nya dikendalikan sosok lain suruhan Pak Sumitro. Karena seperti yang kau tau, Bu Kartika sudah tak mungkin memberikan keturunan untuk keluarga Sumitro. Dia sudah mendekam di dalam penjara."


Hening. Tak ada jawaban dari Wati. Ia hanya menundukkan kepala dengan mengaitkan kedua alis mata. Terdengar suara seseorang yang memanggil kami, seketika fokus ku teralihkan. Ku tengok ke belakang, nampak Aldo melambaikan tangannya. Di samping nya ada Pramono yang sedang memegangi layang-layang.

__ADS_1


"Ada apa Do?" Tanya ku.


"Ini, si Pramono ngajakin main layang-layang di sawah. Tolong sampaikan pada Pak Haji dan semuanya, kalau aku tak bisa membantu lagi." Jawab Aldo menatap Wati yang masih tertunduk.


Aku menyikut lengan Wati, seketika ia gelagapan melihat kami.


"Eh ada apa Do? Kok kalian masih disini?" Kata Wati menggaruk kepalanya.


"Loh kita udah jalan loh Wat, emang kau pikir kita masih di rumah?" Sahut Aldo keheranan.


Aneh, kenapa Wati jadi seperti orang linglung ya. Padahal tadi dia baik-baik saja, tiba-tiba saja dia jadi aneh seperti ini. Aku jadi penasaran, apa yang membuatnya jadi berubah. Tak lama setelah itu Aldo pergi bersama Pramono. Sementara aku dan Wati langsung menuju ke rumah duka Pak Langgeng. Pak Haji meminta warga memindahkan jenazah Pak Langgeng beserta keluarganya di ruang tamu. Semua orang terlihat sibuk membantu, aku dan Wati menyiapkan kain jarik untuk penutup jenazah.


"Kok bauk banget sih Wat!" Kataku dengan menahan nafas.


"Ssst jangan kenceng-kenceng Ran. Inilah yang belum kau tau. Semua korban yang diduga meninggal karena wabah penyakit, jenazahnya mengeluarkan aroma busuk. Meski mereka belum lama meninggal dunia." Jelas Wati setengah berbisik.


"Astaghfirullah. Cobaan apa lagi ini, sepertinya yang perlu kami hentikan memang Pak Warto. Dia adalah akar permasalahan nya. Pada Wening keponakannya sendiri saja ia tak perduli. Apalagi pada warga yang memang sudah lama ia benci."


"Kau benar Ran. Selesaikan satu masalah ini dulu. Tinggal empat bulan lagi sudah hampir satu tahun waktu yang diberikan oleh buto ireng. Jika sesuatu terjadi padaku, tolong aku ya Ran. Lindungi Mas Pramono, kasihan dia tak pernah hidup bahagia sejak kecil."

__ADS_1


"Maksudnya apa Wat? Kau harus percaya jika kau akan baik-baik saja. Bukankah sudah jelas, jika hanya keturunan keluarga Sumitro saja yang akan menjadi tumbalnya. Sedangkan kau bukanlah keturunan keluarga Sumitro, jadi hanya ada kemungkinan. Buto ireng akan mengambil Pak Sumitro ataupun Bu Kartika. Dan kemungkinan ketiga nya, jika kau memang mengandung penerus keluarga Sumitro. Karena Pramono sudah tidak bisa menjadi calon tumbal, karena dulu ia sudah sempat menjadi calon tumbal dan berhasil selamat. Makanya aku cemas jika kau sampai mengandung benih dari Pramono!"


Wati hanya menghembuskan nafas panjang, ia mengusap peluh di keningnya, lalu mengalihkan pembicaraan dengan meminta ku membantu ibu-ibu di dapur. Dengan sikapnya yang aneh itu membuatku semakin curiga, jangan-jangan ada yang ia sembunyikan dari ku.


__ADS_2