Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 32 MISTERI PENEMUAN MAYAT


__ADS_3

Entah kenapa firasat ku masih tak enak, meski sebuah rahasia sudah terungkapkan. Aku menundukkan kepala, dengan berbagai teka-teki yang masih menjadi pertanyaan untukku. Tante Ajeng bilang, ingin melindungi keluarganya. Tapi ia tetap mencari tahu wasiat peninggalan Kakak iparnya. Wati menggoncangkan tubuhku, karena aku terlalu fokus dengan pikiranku sendiri. Rupanya Tante Ajeng sedang bertanya padaku, apa saja yang ku tahu tentang Leak dan wasiat Wayan Sukmawati.


"Sebenarnya Tante gak mau Dahayu meneruskan ilmu itu. Tante hawatir dengan keselamatan nya, apalagi Ibunya sudah tiada. Pasti Leak itu sedang mencarinya, Nyawa Dahayu sedang terancam saat ini. Jika kau mengetahui sesuatu tentang wasiat Ibunya, bisakah kau memberitahu Tante segalanya. Ada sesuatu yang diperuntukkan untuk Dahayu, dan ia harus mengenakannya jika Ibunya sebagai pemangku sudah tiada. Karena itu akan melindunginya, dan sebelum itu Tante harus melakukan ritual yang lainnya. Bukankah bagian kepala mayat itu belum ditemukan? dengan bantuan mustika peninggalan Ibunya, Tante bisa mengetahui dimana keberadaan bagian tubuh yang hilang itu." jelas Tante Ajeng dengan wajah sendu.


Wati memaksaku untuk mengatakan segalanya pada Tante Ajeng, tapi aku tetap pada pendirianku, dan mengatakan tak mengetahui selebihnya tentang kotak tua itu.


"Begini saja Tante, besok Rania akan tanyakan pada teman Rania yang seorang Polisi. Kebetulan ia bersamaku saat menemukan kotak itu."


"Terima kasih Rania, kau bersedia membantu. Tante hanya tak ingin Dahayu menjadi korban seperti bayi Tante. Dengan mengambil mustika itu kita bisa menyelamatkan nyawa Dahayu, tapi berjanjilah jangan mengatakan ini pada siapapun termasuk Om Dewa. Tante hawatir, jika Om Dewa memang sengaja ingin menyerahkan Dahayu pada Leak itu. Bagaimana Tante bisa mempercayainya, keturunannya sendiri saja ia tumbalkan sebagai penebusan jiwa." kata Tante Ajeng dengan menggelengkan kepala.


"Iya Tante, kami akan merahasiakan ini. Bener kan Rania?" celetuk Wati dengan wajah serius.


Aah Wati. Dia selalu seenaknya sendiri, tanpa tahu kecurigaan ku pada Tante Ajeng, Wati membuatku berjanji untuk merahasiakan pembicaraan kita malam ini. Aku hanya bisa mengangguk dengan terpaksa. Kini Tante Ajeng bangkit dari duduknya dan memeluk aku dan Wati bersamaan. Ia merasa bersyukur, karena misteri hilangnya Kakak iparnya sudah terpecahkan.


"Besok pagi Tante akan memberitahu Om Dewa mengenai jazad Kakaknya. Terserah dia ingin memberitahu Dahayu atau tidak, jika Ibunya telah tiada dan jasadnya belum sempurna." kata Tante Ajeng, sebelum meminta kami istirahat dan kembali ke kamar.


Aku dan Wati berpamitan, kami melangkah meninggalkan rumah utama. Langkahku gontai, seakan ada beban baru di pundakku. Nampak Wati sudah berjalan jauh di depanku, dan kini ada seseorang yang menarik tanganku dari belakang.


"Rania. Tante tahu kau mengetahui sesuatu, dan kau tak mengatakannya pada Tante."


Deegh.

__ADS_1


Darimana Tante Ajeng mengetahuinya, aku memang belum menceritakan segalanya. Entah kenapa masih ada benang kusut yang belum bisa ku cerna, akhirnya aku terpaksa menceritakan pertemuan ku dengan Wayan Sukmawati melalui mimpi. Dengan bercerita ini, semoga Tante Ajeng percaya padaku, jika aku sudah mengatakan segalanya.


"Maaf Tante, Rania gak bisa cerita karena tadi ada Wati. Sebenarnya Rania mengetahui segalanya, arwah Bu Wayan Sukmawati mendatangi Rania melalui mimpi. Ia meminta keturunan nya untuk menyempurnakan jazadnya, hanya setelah itu ia bisa beristirahat dengan damai. Dan sesuai cerita Tante tadi, ada benda yang di khususkan untuk Mbak Ayu, supaya ia terhindar dari Leak itu dan juga pengikutnya yang lain. Tapi Rania tak tahu benda yang dimaksud Bu Wayan, karena kotak itu disimpan Petugas Kepolisian." aku terpaksa mengatakan mimpi itu, dan ku jelaskan pula jika kepala Bu Wayan pasti ditemukan jika keturunannya sendiri yang membantu pencariannya.


"Baiklah, Tante mengerti sekarang. Apa ada lagi yang belum kau katakan? lebih baik kau menceritakan segalanya pada Tante."


Aku teringat ucapan Malik, ia memintaku untuk berhati-hati dengan semua orang yang ada disini. Menurut Malik, mereka semua memiliki rahasia tersembunyi. Dan aku tak bisa mempercayai mereka begitu saja, jadi ku katakan pada Tante Ajeng, jika hanya itu saja yang ku ketahui.


"Tapi darimana Wati tahu jika sosok Leak yang kami sembah? kau pasti mengetahuinya juga kan Rania?"


Aku merahasa tersudut dengan berbagai pertanyaan Tante Ajeng. Ya, aku seperti tersangka yang sedang di interogasi oleh Petugas.


"Arwah Bu Wayan Sukmawati yang mengatakan itu Tante."


"Duh kenapa aku keceplosan mengatakan ini ya." batinku dengan jantung yang berdegup kencang.


"Se sebenarnya selain bertemu lewat mimpi, arwah Bu Wayan pernah beberapa kali menampakkan wujudnya padaku. Awalnya Rania gak tahu kalau itu arwah Bu Wayan Sukmawati, karena wujudnya utuh dengan kepala. Sedangkan mayat yang pernah ku lihat tanpa kepala, jadi Rania gak mengenalinya."


Belum selesai Tante Ajeng menanyaiku, nampak Agus berjalan tergesa-gesa ke arah kami. Ia membisikkan sesuatu di telinga Tante Ajeng, entah apa yang ia katakan. Karena setelah itu Tante Ajeng memintaku segera kembali ke kamar.


"Kita bahas lain waktu lagi, cepatlah istirahat di kamar. Mungkin besok Tante butuh bantuanmu di Kantor Kepolisian."

__ADS_1


Aku melangkahkan kaki kembali ke kamar, saat ku tengok ke belakang, terlihat Tante Ajeng melompati jendela ruang tamu. Sementara Agus terburu-buru menutup pintu utama rumah itu. Gelagat keduanya mencurigakan, membuatku makin penasaran.


"Kenapa lama banget sih masuk kamarnya? aku agak merinding nih, setelah tahu keluarga ini menyembah Leak." kata Wati yang sedang duduk meringkuk, dengan menutup semua tubuhnya menggunakan selimut, hanya bagian kepalanya yang menyembul keluar.


"Wat, kamu masih curiga gak dengan penjelasan Tante Ajeng tadi? biasanya kan feeling mu selalu kuat?"


"Duh gimana ya Ran, kalau lagi ketakutan gini feeling ku suka meleset. Aku lagi gak Pede nih gunain feeling ku." ucap Wati nampak bergidik.


"Ya elah Wati. Tadi kamu terlihat pemberani, sekarang kenapa jadi mengkeret gini sih?" aku merasa heran dengan perubahan drastisnya, Wati memang tak bisa di tebak.


"Bagaimana lagi, aku ngeri bayangin wujud Leak itu."


Tiba-tiba terdengar suara Bude Walimah, ia menjerit-jerit dari dalam kamar. Sontak saja aku dan Wati lari tunggang langgang ke dalam kamar. Nampak Bude Walimah sedang memejamkan matanya, tapi ia berteriak histeris. Aku dan Wati berusaha membangunkannya, tapi beliau tak kunjung bangun dari tidurnya. Dengan menyebut nama Allah, aku membaca ayat-ayat suci dan menggoncangkan tubuh Bude. Tak berapa lama Bude terbangun dari tidurnya. Nampak peluh membasahi keningnya, ia duduk di ranjang dan langsung memeluk Wati dengan berderai air mata.


"Nduk kau gak apa-apa kan? Ibu mimpi kau di mangsa sosok tinggi besar, Ibu takut kau kenapa-kenapa." ucap Bude Walimah berderai air mata.


Wati tak memahami apa maksud Ibunya, ia hanya bisa menenangkan sang Ibu dengan mengusap punggungnya.


"Sosok tinggi besar? jangan-jangan Leak itu mulai mengincar Bude atau Wati? gak! Itu gak boleh terjadi, sebenarnya apa yang dilihat Bude di dalam mimpinya? aku hanya menduga-duga, karena saat ini Bude masih terguncang, dan aku tak bisa menanyainya." batinku di dalam hati penasaran.


...Semoga Bude Walimah hanya bermimpi, bunga nya orang tidur. Dan tak terjadi apapun pada Wati. ...

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2