Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 61 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Aku semakin penasaran setelah mendengar penjelasan Pak Markum dan juga istrinya. Apakah benar jika ada seseorang yang sengaja melenyapkan Cahaya Bulan dan juga Ibunya. Aku meminta ijin pada Pak Markum untuk kembali ke rumah kosong itu. Beliau bertanya kenapa aku ingin pergi kesana. Aku hanya bisa menjelaskan seadanya, kalau aku ingin mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk dimana keberadaan bayi Cahaya Purnama.


"Ini kunci rumahnya Dek, maaf saya gak menemani lagi. Karena ada acara di balai warga."


"Iya Pak tidak apa-apa, saya permisi dulu."


Aku kembali melangkahkan kaki menuju rumah kosong itu. Banyak anak kecil berkerumun di depan gudang rongsokan. Mereka meneriaki Purnama dengan sebutan Aya orang gila. Segera ku hampiri anak-anak itu dan memberi pengertian supaya mereka tak mengganggu Purnama. Tapi ada seorang perempuan yang memaki ku dengan kata-kata kasar. Karena ia mengira aku yang mengganggu anak-anak kecil itu.


"Maaf Bu, saya gak mengganggu mereka, tapi mereka yang mengganggu perempuan itu." kataku dengan menunjuk Cahaya Purnama yang ada di dalam gudang.


"Kamu itu siapa ikut campur di wilayah ini. Mereka memang biasa bermain dengan Aya, dan selama ini gak ada apa-apa. Kamu jangan buat rusuh di wilayah tempat tinggal saya!"


Aku menjelaskan jika semakin banyak anak kecil yang mengganggu Purnama seperti itu, gak akan bagus buat kesehatan mentalnya. Apalagi kondisi kejiwaan nya yang memang sudah terganggu, akan membuatnya jadi mudah marah dan melampiaskan amarahnya pada siapapun termasuk anak kecil itu.


"Apa ibu gak takut kalau perempuan itu mengamuk dan mencelakai anak-anak saat gak ada orang dewasa di sekitar sini. Makanya saya mengingatkan supaya adik-adik ini tidak mengganggu nya lagi."


Perempuan itu semakin naik pitam dan mendorong ku sampai aku tersudut di pintu. Dia menunjuk-nunjuk wajahku dengan berteriak memaki ku. Beruntungnya Pak Markum segera datang melerai. Ia menegur perempuan itu karena bertindak kasar padaku. Perempuan itu membuang muka dan berjalan pergi bersama salah satu anak kecil itu. Aku hanya menghembuskan nafas panjang seraya menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Jangan di ambil hati ya dek, beberapa warga sini memang ada yang seperti itu. Mereka mau benarnya sendiri, saya juga sudah sering menegur warga supaya tidak mengganggu Purnama. Tapi beberapa orang tua membiarkan anaknya merundung perempuan yang kehilangan akal sehatnya itu. Kalau ditegur gak terima ya marah-marah begitu."


Pak Markum berpamitan untuk pergi ke balai warga, dan kami berpisah disana karena aku harus masuk seorang diri ke rumah kosong tempat tinggal Cahaya Bulan dan Cahaya Purnama dulu tinggal.


Ceklek.


Pintu itu ku dorong dengan kuat karena terganjal batu-batu kerikil. Ku amati sekitar, tak ada tanda-tanda kehadiran arwah Cahaya Bulan. Karena aku tak dapat meminta informasi dari Cahaya Purnama, terpaksa aku harus memanggil arwah Cahaya Bulan untuk berkomunikasi dengannya. Pintu kembali ku tutup rapat lalu aku duduk dengan menyilangkan kedua kaki ku di dalam kamar mereka. Tiba-tiba asap mengepul di pojokan kamar itu, ada aroma busuk yang menyeruak dan menusuk hidung. Ku picingkan kedua mata, nampak sesosok hantu perempuan dengan baju putih kehitaman berdiri mengambang di pojokan. Rambutnya menjuntai ke lantai dan menutupi keseluruhan wajahnya. Sesekali ia cekikikan sambil memainkan rambutnya dengan kuku-kuku panjangnya. Tanpa mengatakan apapun, ia melesat ke arahku lalu memegangi kepalaku. Tiba-tiba kepalaku terasa berat, tubuhku oyong dan aku tak dapat mengingat apa-apa lagi.


Aku membuka kedua mata, terlihat ruangan yang tak asing di mataku. Ini adalah kantor kerjaku, ada yang berbeda kali ini. Karena aku tak mengenal beberapa pegawai dan staff yang bekerja disana.


...🍁🍂 Flashback on 🍂🍁...


Ya, dia adalah Cahaya Bulan. Aku bisa mengenalinya dari bentuk rambutnya. Ia berjalan ke sebuah ruangan menemui seorang lelaki berjas hitam yang duduk di kursi besar.


"Bulan apa kau sudah mempertimbangkan tawaranku? kau tak perlu bersusah payah meliput berita lagi, aku akan mencukupi semua keburukan mu. Asal kau mau menjadi simpananku, bukankah itu akan mengubah kehidupan mu?" kata lelaki yang ku tahu adalah ayah dari bos besarku yang sekarang.


"Maaf Pak, saya tidak mau menjadi perusak hubungan rumah tangga orang lain. Saya lebih baik bekerja keras membanting tulang sendiri. Kalau sudah tidak ada yang ingin bapak bicarakan saya permisi dulu."

__ADS_1


Cahaya Bulan berjalan keluar meninggalkan kantor itu. Dan malam harinya hujan badai seseorang berwajah mirip Cahaya Bulan pergi ke kantor itu. Malam itu sudah banyak pegawai yang pulang, hanya tersisa beberapa orang saja.


"Kak Bulan kemana ya, di telepon gak bisa-bisa, lebih baik aku mencarinya ke dalam kantor saja." ucap Cahaya Purnama berjalan ke arah lift.


Tapi pintu lift tak kunjung terbuka, sepertinya aksesnya memang dihentikan karena sudah banyak pegawai yang pulang. Cahaya Purnama berjalan melalui tangga darurat menuju ke lantai lima. Tapi dipertengahan jalan ia bertemu seorang lelaki yang berjalan sempoyongan. Cahaya Purnama ketakutan dan mengacuhkan nya. Tapi lelaki itu malah mengikuti langkahnya membuat Purnama semakin ketakutan dan berlari ke atas menaiki anak tangga. Sialnya ia terpeleset dan tubuhnya terpelanting ke bawah hingga ia tak sadarkan diri. Ketika Cahaya Purnama kembali mendapatkan kesadarannya, ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit. Dan disamping nya ada seorang lelaki yang mendekapnya. Ia berusaha bangkit tapi seluruh tubuhnya terasa remuk. Ia baru sadar jika tak mengenakan pakaian, karena semua pakaiannya tercecer di beberapa tempat. Dengan berlinang air mata Cahaya Purnama memunguti pakaian yang sobek-sobek di beberapa bagian. Tangisanya menyadarkan lelaki yang telah merenggut kehormatan nya. Ia kembali memaksa Cahaya Purnama untuk melakukan permainan panas disana. Tapi perempuan itu berontak, dan membuat lelaki itu murka.


"Kenapa kau menolakku setelah kita melakukan penyatuan tadi hah? aku ini adalah bos besar di kantor ini, setelah kau memberikan kepuasan padaku, aku akan memberikan segalanya padamu." pekiknya dengan mengecup paksa bibir Cahaya Purnama.


Cahaya Purnama terus berontak dan memakai kembali semua pakaiannya, ia berlari menuruni anak tangga dengan merasakan kesakitan yang luar biasa di bagian pribadinya. Tiba-tiba lelaki itu berteriak kencang memanggil nama Cahaya Bulan. Rupanya lelaki itu mengira, jika perempuan yang telah dinodainya adalah Cahaya Bulan, karena keduanya memiliki wajah yang serupa. Dengan berlinang air mata, Cahaya Purnama kembali ke rumahnya dengan kondisi yang menyedihkan.


...🍁🍂 Flashback off 🍂🍁...


Aku kembali membuka kedua mataku, dan terbangun dengan posisi tersungkur di lantai. Nampak arwah Cahaya Bulan melesat pergi dengan raut wajah penuh amarah. Aku mengambil nafas dalam-dalam, berusaha mendapatkan kesadaran ku sepenuhnya.


"Jadi itu yang sebenarnya terjadi, Cahaya Purnama adalah korban salah sasaran. Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan bayi yang dikandungnya? kenapa gak ada yang tahu dimana keberadaan bayi itu?" batinku di dalam hati seraya mengusap peluh yang membasahi kening.


...Hai othor mau ngasih pengumuman Giveaway nih, tapi tunggu ya mau di rekap dulu siapa aja yang udah sesuai s&k nya. Makasih buat kalian semua yang udah kasih dukungan Gift ataupun Vote nya. Ditunggu pengumuman nya ya, othor umumin di Bab Novel Desa Rawa Belatung. See you all 👋...

__ADS_1


...Bersambung....


__ADS_2