
Tanpa ku sadari wajah Mbak Ayu berubah pucat pasi, ia membulatkan kedua matanya seraya berjalan mundur.
"Si siapa dia Rania? kenapa dia ngomongin gue?" tanya Mbak Ayu dengan menunjuk dimana Malik sedang berdiri mengambang.
"Maksud lu apa Mbak?"
Kembali Mbak Ayu menunjuk Malik, ia ketakutan melihat wujudnya. Aku tak kalah terkejutnya, karena setahuku Mbak Ayu tak memiliki kemampuan untuk melihat mereka yang tak kasat mata.
"Tenang Mbak, lu gak usah takut gitu. Jelasin ke gue apa yang lu lihat, dan sejak kapan lu bisa ngelihat mereka?"
"Rania, minta hantu itu pergi dari sini. Gu gue takut Ran!" seru Mbak Ayu dengan menutupi kedua matanya.
Sebelum aku mengatakan apa-apa, Malik bergegas pergi dan menghilang dari pandangan mataku. Sepertinya ia sama terkejutnya denganku, sehingga Malik memilih pergi begitu saja.
Mbak Ayu bercerita jika selama ini memang tak pernah melihat makhluk tak kasat mata. Entah sejak kapan ia bisa melihat mereka, karena Mbak Ayu baru menyadarinya sekarang.
__ADS_1
"Jangan-jangan Mbak Ayu bisa melihat Malik karena memakai liontin peninggalan ibunya? tapi kenapa sebelum datang ke Desa Mbak Ayu gak pernah cerita apa-apa. Bukankah seharusnya ia sudah bisa melihat makhluk tak kasat mata sejak ia memakai liontin itu. Dan di rumah kuno itu Mbak Ayu gak pernah ngomong apa-apa. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Mbak Ayu?" batinku bertanya-tanya.
"Tadi pas di mobil travel waktu mau masuk gapura selamat datang di Deda ini. Gue ngelihat perempuan berkebaya menyapa gue dengan senyuman. Gue lihat perempuan itu di hutan bambu depan gapura selamat datang itu loh. Tapi pas gue balik noleh ke belakang, perempuan itu udah gak ada. Dan tadi pas selesai makan malam, gue lihat perempuan itu lagi di depan pondok kecil depan rumah ini. Gue ngerasa aneh aja, seharian perempuan itu mengenakan kebaya apa gak gerah gitu. Gue sih gak mikir aneh-aneh, sampai tiba-tiba perempuan itu hilang begitu aja di depan mata gue. Gue kaget banget, tapi gue mikir positif aja. Mungkin gue terlalu capek karena perjalanan jauh. Dan pas gue mau tidur, gue denger perempuan bersenandung lagu jawa. Kaya orang nyinden gitu, karena Wati tidurnya lelap banget gue gak tega bangunin dia. Makanya gue samperin lu ke kamar, eh tahu-tahu ada hantu tadi yang nongol dan ngomongin gue juga. Pas gue lihat kakinya gak napak lantai, baru deh gue sadar. Kalau sedari tadi yang gue lihat emang bukan manusia." jelas Mbak Ayu dengan peluh yang membasahi keningnya.
Aku terdiam setelah mendengar penjelasan Mbak Ayu. Kembali teringat olehku, pertama kali aku datang ke Desa ini memang disambut oleh sosok yang sama. Perempuan berkebaya yang suka bersenandung lagu sinden. Mungkinkah ia hanya ingin berkenalan dengan Mbak Ayu dan menunjukan eksistensinya. Yang jelas ada perubahan dari diri Mbak Ayu, entah itu akan menguntungkan nya atau tidak.
"Begini ya Mbak, dua hal yang akan gue jelasin. Pertama sosok perempuan berkebaya yang suka nyinden itu memang penunggu asli Desa ini. Dulu gue juga disapa dengan cara yang sama, malah lebih mengerikan lagi. Karena waktu itu masih ada orang yang mempraktekan ilmu hitam, dan gue nyaris dijadikan tumbal. Dan yang kedua, yang lu lihat barusan itu namanya Malik. Dia adalah sosok yang menjaga gue, lu gak usah takut kalau lihat dia lagi. Dulu Wati juga sempat bisa melihat makhluk tak kasat mata seperti mereka, tapi perlahan bakat itu menghilang dengan sendirinya. Karena mungkin dulu Wati sengaja diberi penglihatan oleh sosok dari alam gaib. Dan karena udah gak ada kepentingan lagi, sosok itu pergi bersama penglihatan gaib yang Wati miliki. Kalau yang terjadi sama lu ini, gue belum tahu apa-apa."
"Tapi Ran, kalau apa yang di omongin sosok penjaga lu itu benar. Keberadaan gue di Desa ini bisa menjadi ancaman buat semua warga Desa. Apa lebih baik gue pergi aja dari sini?" ucap Mbak Ayu berlinang air mata.
"Gue ngerti kecemasan lu Mbak, tapi jangan gegabah buat ambil keputusan. Waktunya masih dua hari lagi, kita bisa tetap disini menyusun rencana. Dan strategi apa yang akan lu lakuin ke depannya." kataku meyakinkan Mbak Ayu.
"Atau jangan-jangan keduanya melakukan itu? mereka kerja sama buat nekan mendiang ibu untuk mengakhiri hidupnya?"
"Bisa jadi sih Mbak, keduanya memiliki alasan untuk itu. Mungkin lu gak tahu beberapa kejadian di masa lalu. Yang bisa menjadi penyebab keduanya melakukan itu."
__ADS_1
Ku ceritakan dari awal tentang keturunan pertama Om Dewa dan Tante Ajeng. Yang terpaksa ditumbalkan untuk menebus jiwa Om Dewa. Karena Leak itu menginginkan penebusan jiwa karena Om Dewa menolak menjadi penerus ilmu Leak. Dan mau tidak mau, mereka harus menumbalkan bayi mereka. Setelah itu Om Dewa mendapatkan imbalan berupa kekuasaan dan harta benda. Dengan alasan itu Tante Ajeng gak terima, karena anak pertamanya yang menjadi tumbal. Dari awal Tante Ajeng ingin Mbak Ayu yang dikorbankan, tapi itu gak bisa terjadi. Karena setelah menolak menjadi penerus, secara tidak langsung Bu Wayan yang menerima ilmu hitam itu. Dan hanya keturunan Bu Wayan yang bisa menjadi penerusnya kelak.
"Begitu Mbak ceritanya, makanya bisa juga Tante Ajeng masih gak terima. Sementara Om Dewa memang ingin menyerahkan lu supaya dia gak menggantikan posisi mendiang Bu Wayan. Hanya dua itu sih yang kemungkinan terjadi." ceritaku panjang lebar pada Mbak Ayu.
Nampak wajah sendu Mbak Ayu, tangannya bergetar mendengar penjelasan ku. Ia tak menyangka kedua orang yang menjadi pengganti orang tuanya, ternyata memiliki maksud tersembunyi.
"Kalau menurut gue, apa yang dilakuin Tante Ajeng masih bisa gue terima dengan akal sehat. Karena dia pasti sangat marah, anak pertamanya harus menjadi tumbal Leak itu. Dan untuk Om Dewa, gue ga nyangka dia tega nyerahin anaknya sendiri. Dan gue yakin pelaku yang udah ngehasut ibu buat ngakhirin hidupnya adalah Om Dewa. Kalau darah dagingnya sendiri aja dia tega numbalin, apalagi gue Ran, yang cuma keponakannya huhuhu." Mbak Ayu terisak dengan air mata yang mengalir deras.
"Udah ya Mbak, tenangin diri lu. Lebih baik lu istirahat dulu, besok kita konsultasi dengan Pak Jarwo bagaimana baiknya. Aku yakin Pak Jarwo dapat memberikan solusi untumu."
Aku meminta Mbak Ayu istirahat di kamarku, tak sedikitpun ia berusaha memejamkan matanya. Sepertinya Mbak Ayu sedang memikirkan sesuatu. Sorot matanya sangat tajam, kedua tangannya mengepal seakan menahan amarah yang sangat besar.
Harapanku semoga Mbak Ayu tetap berpikiran positif, dan tak terjebak oleh dendam sama seperti Tante Ajeng.
...Bersambung. ...
__ADS_1
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.