Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 78 KEJANGGALAN?


__ADS_3

Ku pandangi wajah sendu Tante Ajeng, lalu aku mengajaknya berbicara empat mata. Aku berusaha mengorek informasi yang bisa ku dapat, mengenai semua kejanggalan yang terjadi.


"Tante setahu Rania, Umi gak pernah melakukan sembahyang ataupun ritual semacamnya. Kenapa Calon Arang tetap mengincarnya?"


"Anak itu memang tak ada hubungannya dengan Calon Arang, mungkin karena Dahayu mempersembahkan nya, karena hanya Ayahnya yang menjadi pengikut Leak. Dan ia adalah penghianat bagi para pengikut Leak lainnya."


"Tapi setahuku Umi itu muslim loh Tante, Rania pernah lihat makai mukena. Kok bisa ya dia gantiin posisi ayahnya sebagai abdi setia Calon Arang?"


"Sebenarnya Umi sangat berbakti pada kedua orang tuanya. Sejak kecil ia selalu membantu ibunya yang bekerja di salah satu tokoh mendiang ibu mertua Tante. Ibunya tak ingin jika Umi mengikuti jejak ayahnya sebagai pengikut Leak, karena itulah sejak kecil Umi selalu di didik ibunya menjadi seorang muslim. Meskipun begitu, Umi tetap menghargai keyakinan ayahnya. Ya, gak jauh beda sama Agus. Kau lihat kan ibunya Agus muslimah banget? meski Agus mengikuti keyakinan ayahnya, ibunya tetap ingin mengirimkan doa untuk anaknya. Makanya acara tahlilan malam ini dilakukan. Tante sih gak masalah ya, semakin banyak yang doain Agus akan lebih baik pastinya."


Aku menggenggam tangan Tante Ajeng, menatapnya dengan dalam. Ia lalu menundukan kepalanya dengan berlinang air mata. Segera ku peluk tubuh Tante Ajeng untuk menenangkan nya.


"Rania mengerti apa yang Tante rasakan. Beberapa tahun yang lalu, Tante udah kehilangan seorang anak karena suami Tante mempersembahkan darah daging kalian sendiri. Sekarang Tante juga harus kehilangan keponakan karena perebutan kekuasaan yang sama. Apakah dari awal gak tahu menahu kalau Janni memiliki niat untuk mencelakakan Agus? lalu malam disaat Tante dan Janni nungguin Agus di Rumah Sakit, apakah Janni pernah pergi meninggalkan Tante seorang diri?"


Tante Ajeng diam untuk sesaat, ia mengerutkan keningnya berusaha mengingat kejadian yang ku tanyakan. Lalu ia menganggukan kepala dan mengatakan jika Janni pergi untuk mencari makan dan minum.


"Tapi sewaktu ia datang kembali, Janni hanya membawa air mineral dan dua bungkus roti saja. Tante menunggu kedatangannya sampai ketiduran, katanya sih dia dapat panggilan dadakan dari Rumah Sakit. Karena ada beberapa perawat yang tak datang, ia terpaksa harus membantu sebentar. Memangnya ada apa Rania?"


Belum sempat aku mengatakan apa-apa, tiba-tiba Mas Adit dengan berlari tergesa-gesa. Ia mengatakan padaku jika kecurigaan ku mengenai Janni memang benar.

__ADS_1


"Petugas menemukan buku hariannya di dalam lemari. Disana ia mengungkapkan semua isi hatinya, jadi memang benar kalau Janni yang sudah melenyapkan Umi dengan menggantungnya. Ia sangat cerdik, karena menggunakan sarung tangan untuk menyamarkan sidik jarinya. Semua bukti sudah dijadikan satu oleh petugas, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, kami menemukan barang-barang milik Agus di dalam tas besar yang ada di lemari Janni. Ini menjadi tugas baru untuk kami menyelidiki nya lebih lanjut. Janni diduga terlibat atas kematian dua orang Umi dan Agus. Kami tinggal mendalami motif dan keterkaitan lainnya."


"Jika kau mau, aku bisa membantu untuk menjelaskannya Mas."


Mas Adit berkacak pinggang lalu menghembuskan nafas dalam, ia menggelengkan kepala memintaku untuk tak ikut campur dalam penyelidikan nya. Menurutnya semua yang aku ucapkan tak dapat dijelaskan kebenarannya, karena aku mendapat informasi dari sumber yang tak kasat mata. Sontak saja Tante Ajeng membulatkan kedua matanya, ia terkejut setelah mengetahui jika aku bisa berkomunikasi dengan makhluk gaib sejenisnya.


"Udah Tante, gak usah dengerin Mas Adit, dia tuh sukanya becanda aja."


"Rania, sebenarnya Tante udah curiga dari awal. Sewaktu kau bisa melihat arwah Agni yang merasuki Janni, tapi Tante tak pernah membahasnya. Takutnya kau tak nyaman jika Tante menanyakannya. Jadi siapa yang memberitahu mu mengenai Janni?"


"Arwah Umi menceritakan segalanya Tante, tapi anehnya arwah Agus tak mengatakan apa-apa mengenai Janni dan ayahnya Umi yang telah bersekongkol untuk melenyapkan nya."


"Tadi katanya gak mau dengar penjelasanku, karena sumbernya dari makhluk tak kasat mata!" seruku dengan memalingkan wajah.


"Iya deh iya sorry, sekarang aku mau denger penjelasanmu deh. Soalnya agak gak masuk akal aja, kalau motifnya sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan, untuk apa Janni mengambil barang-barang berharga milik Agus. Padahal kalau Janni mau, dia juga bisa mengambil barang-barang berharga milik Umi sebelum meninggalkan kost ini."


"Jadi gini Mas." kataku seraya duduk disampingnya.


"Janni bekerja sama dengan dua orang pelaku yang udah mendekam di penjara. Mereka membuat drama itu supaya pihak polisi percaya, kalau Agus celaka karena ulah para preman yang ingin merampoknya. Makanya Janni sengaja umpetin barang-barang berharga milik Agus. Sama seperti kejadian yang menimpa Umi, Agus dipukuli menggunakan alat yang udah mereka buang entah kemana. Dan kalaupun ketemu alat itu gak akan meninggalkan sidik jari mereka, karena mereka menggunakan sarung tangan. Dan di kasus Umi pun, Janni memakai sarung tangan supaya tak meninggalkan sidik jarinya. Ia meletakan tangan Umi di tali itu, biar seakan-akan Umi benar-benar gantung diri."

__ADS_1


"Astaga. Tante gak nyangka kalau Janni sejahat itu, rupanya dia memiliki dua kepribadian. Pantas saja tadi kau bertanya apakah Janni sempat meninggalkan Tante di Rumah Sakit. Sebenarnya waktu itu Pak Adit ini juga ada di Rumah Sakit, tapi ia sepertinya kelelahan dan tertidur. Jadi Tante gak bangunin, makanya dia gak tahu kalau Janni sempat meninggalkan Rumah Sakit."


Mas Adit menggaruk kepala yang tak gatal, ia merasa tak enak karena memberikan kesaksian jika ia memang bersama Tante Ajeng dan Janni.


"Gak apa-apa lah Mas, kau kan gak bohong mengatakan ada di Rumah Sakit." kataku dengan menaikan alis mata.


Dret dret dret.


Ponsel di dalam saku celanaku bergetar, nampak panggilan telepon dari Pak Jarwo. Entah kenapa ia menghubungi ku malam-malam begini, segera ku sentuh tombol terima telepon dan berbicara dengannya.


"Assalamualaikum Nduk, apa semuanya disana baik-baik saja."


Waalaikumsalam Pak, keadaan disini agak rumit Pak. Dan gak ada yang bisa Rania mintain bantuan, bahkan Malik gak pernah menampakan batang hidungnya lagi."


"Malik terluka parah Nduk, malam disaat Dahayu dan kau pergi ke alam Mangrahi, Malik lah yang berusaha keras melindungi seluruh Desa Rawa Belatung dari amukan para pengikut Leak. Saat itu aku tak tahu apa-apa karena menjaga portal alam gaib, dan setelah kalian semua kembali. Kita semua berduka dan sibuk dengan urusan pemakaman Mbah Karto. Aku baru mengetahui jika Malik terluka setelah melawan beberapa pengikut Leak tanpa bantuan dari siapapun. Meski ia berhasil menggagalkan niat jahat para pengikut Leak itu, jiwa Malik tak seberuntung nasibnya. Ia sedang dirawat oleh sesepuh yang ada di alam gaib, jika sesepuh itu tak berhasil menyembuhkan Malik, kemungkinan jiwa Malik akan hilang untuk selamanya. Aku terpaksa memberitahumu, karena aku tak ingin menyesal di kemudian hari. Apalagi masih ada beberapa kisah di masa lalu yang belum usai di antara kalian."


Penjelasan Pak Jarwo membuatku tercengang, mendadak detak jantung ku berdetak kencang tak beraturan. Kisah di masa lalu apa yang sedang Pak Jarwo katakan, karena aku tak dapat mengingat apapun mengenai maksud pembicaraan nya.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2