
Ternyata di rakaat pertama sudah ada gangguan. Rakaat pertama shalat, banyak angin yang berhembus kencang. Membuat fokus ku berkurang, entah apa yang Lala rasakan, karena aku tak dapat melihat ke arah nya. Dan saat memasuki rakaat kedua, aku semakin dibuat merinding. Apalagi saat aku sadar bahwa dari belakang, ada yang mengikuti bacaan sholat pendek ku, yakni surat Al-Ikhlas.
"Qul huwallah.. qul huwallah." Terdengar suara seseorang yang mengikuti bacaan surat pendek ku.
Tak ku hiraukan suara-suara itu, dan terus melanjutkan shalat. Aku berusaha untuk tetap khusyuk dan menghiraukan gangguan-gangguan gaib itu. Tapi tiba-tiba selepas berdiri dari rukuk, di depan mata ku tampak sesosok perempuan yang sangat cantik sedang memperhatikan ku. Meskipun sempat kaget tapi aku terus berusaha menjaga kekhusukan shalat. Aku melanjutkan tahapan-tahapan shalat sampai akhirnya melakukan sujud. Begitu bangun dari sujud untuk melakukan duduk di antara dua sujud, perempuan itu masih di depan ku. Namun kali ini wajahnya berubah menjadi tua, kisut, keriput dan renta. Aku semakin takut dan surut konsentrasi ibadah. Tetapi kemudian aku tetap bertekad meneruskan shalat. Selesai duduk di antara dua sujud, aku melakukan sujud kedua. Saat menyimpuhkan tubuhnya ke lantai, tiba-tiba tubuh ku terasa berat. Layaknya dibebani oleh seorang anak di punggung. Disitu aku sedikit lama melakukan sujud. Rasa tak nyaman ku semakin menebal, konsentrasi pun semakin menipis. Aku pun berusaha sekuat tenaga mengangkat badan untuk duduk tahiyat akhir. Karena rasa tak nyaman semakin kuat, aku buru-buru melakukan dua salam untuk mengakhiri shalat.
"Astaghfirullahalazim." Ucapku dengan nafas yang berderu kencang.
Ternyata gangguan ketika melakukan shalat tahajud benar adanya. Padahal ini bukan pertama kalinya aku melakukan shalat malam. Tapi gangguan yang aku alami disini benar-benar terasa nyata. Dasar demit-demit kurang kerjaan. Beraninya ganggu aku waktu shalat, mungkin mereka sengaja membuatku batal dalam shalat. Tak lama setelah itu, Lala mendatangi ku, ia menceritakan hal yang sama ketika shalat tahajud tadi.
"Ran. Demit disini parah sih ganggu nya, masak aku lagi rukuk tuh demit tau-tau melotot di depan ku. Hampir copot jantung ku tau gak! Padahal biasanya aku gak akan sekaget itu, tapi entah kenapa hawanya beda aja kalau lagi shalat tahajud di alam terbuka kayak gini."
Ternyata yang merasakan gangguan dan perasaan tak nyaman bukan hanya aku saja. Bahkan Lala yang pernah tinggal bersama para makhluk gaib bisa merasa terganggu.
"Ya udah La, kita dzikir aja baca-baca doa dulu. Biarin aja tuh demit mau ganggu macam apa lagi. Aku udah kuatin mental kok."
__ADS_1
Kami kembali memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa. Memohon dan meminta dengan kerendahan hati, supaya segala sesuatu yang kami inginkan berjalan dengan semestinya. Semakin malam udara di puncak Curug ini semakin dingin. Aku menguatkan diri, dan terus berdoa. Tiba-tiba sesosok lelaki muda mengenakan jubah dan sorban putih mendatangi kami. Nampak di belakangnya berdiri Ki Ageng Gede, seseorang yang mengaku menjadi Eyang buyut ku. Aku dan Lala mengucapkan salam seraya bangkit berdiri.
"Waalaikumsalam. Kalian berdua adalah manusia-manusia yang memiliki tekad kuat dan berhati mulia. Pantas saja kalian berhasil meluluhkan hati ku, dan membuat ku datang menemui kalian. Katakanlah apa yang kalian inginkan dariku?" Ucap lelaki muda dan tampan, yang ku tahu ia adalah Pangeran Jin muslim.
Lala mengutarakan keinginannya, untuk bisa menajamkan instingnya. Supaya kelak di masa depan, ia bisa mengetahui apapun yang akan terjadi.
"Apa kai ingin mendahului takdir Allah dengan mengetahui hal-hal yang belum tentu terjadi?" Tanya sang Pangeran dengan sorot mata tajam.
"Saya hanya ingin bisa membantu orang-orang yang kesusahan, supaya terhindar dari masalah ataupun dari perbuatan jahat manusia lainnya. Saya tak ingin mendahului takdir Allah, dengan menghentikan takdir ataupun nasib manusia itu sendiri." Jawab Lala seraya menundukkan kepalanya.
"Liontin itu akan semakin berenergi ketika kau menggunakan nya untuk ibadah. Dan akan membantu mu mewujudkan keinginan mu untuk membantu orang yang kesusahan." Jelas sang pangeran dengan senyum teduhnya.
Kemudian ia melihatku dan mengatakan hal yang ku inginkan darinya. Tentu saja aku langsung menjawab, jika aku ingin bisa menjaga dan melindungi semua orang yang kesusahan dan membutuhkan bantuanku.
"Aku ingin memiliki kesaktian untuk melawan para manusia yang bersekutu dengan setan. Dan bisa mengalahkan setan itu sendiri pangeran." Jawabku dengan terbayang wajah-wajah orang yang ku kasihi, aku ingin sekali menjaga semua orang. Tapi apalah daya, aku bukanlah Tuhan pasti aku tak akan mampu melakukan segalanya.
__ADS_1
Nampak sang pangeran menyunggingkan senyumnya, ia melihat ke arah Eyang buyutku. Dan mengatakan, jika aku mirip dengan beliau. Kemudian Pangeran itu bercerita, jika Eyang buyutku itu rela meninggalkan sanak keluarga nya demi membantu dan menolong banyak orang.
"Satu hal yang tak kau tahu dari Ki Ageng Gede ini. Meskipun dia rela meninggalkan semua keluarga dan kehidupan nyaman nya di alam manusia. Nyatanya ia masih terus memperdulikan keluarga nya. Beberapa kali ia berusaha membantu mu sewaktu kau hilang di alam berantah, ia lah yang mencarimu dan meminta Pangeran Senopati untuk membawamu kembali. Ia tak ingin mengungkapkan jati dirinya padamu, sampai saat inilah semua terungkap. Pangeran Senopati dilarang memberitahu mu mengenai sosok Eyang buyut mu ini. Dan sebagai penghargaan untukmu, aku akan memberikan kesaktian padamu, pakaian cincin merah dilema ini. Kegunaan nya sama seperti liontin itu, kau juga harus menggunakan nya untuk shalat lima waktu. Supaya kekuatan nya semakin bertambah. Ketika hal-hal yang tak diinginkan terjadi, cincin merah dilema itu akan menyala terang. Dan memberikan mu kekuatan apapun yang kau butuhkan."
Terlihat cincin batu merah dilema melayang ke arah ku. Aku langsung mengenakan nya di jari tangan ku. Setelah itu sang pangeran jin muslim itu berpamitan pergi, dan mengatakan pesan terakhirnya. Jika hal-hal yang mendesak terjadi, lalu kesaktian yang aku dan Lala miliki tak muncul. Kami diminta berpasrah diri pada Sang Pencipta, InsyaAllah atas kehendak Nya pangeran itu ataupun Ki Ageng Gede akan datang menolong kami. Kemudian pangeran jin muslim itu benar-benar pergi. Hanya tertinggal Kakek buyutku, ia masih berdiri tepat di hadapan ku. Aku tersenyum bahagia, begitu mengetahui sosok yang ada di depan ku memanglah kakek buyut ku. Segera ku kecup punggung tangan nya, dan menyapa nya. Lala pun mengikuti ku untuk bersalaman dengan Eyang buyut.
"Eyang, sebelum nya Rania mau menyampaikan salam dari Pak Jarwo, Mbok Genuk, dan juga Mbah Ngadimin. Mereka semua ingin Rania menyampaikan salam nya. Apakah Eyang mengenal mereka semua? Kalaupun iya, kenapa Pak Jarwo tak mengatakan apapun pada Rania."
Eyang buyut tak langsung menjawab, beliau menyunggingkan senyumnya lalu menganggukkan kepala. Beliau meminta ku menyampaikan kembali salam untuk mereka semua.
"Baik Jarwo, mendiang Karto ataupun Simbah mu Parti, sebenarnya mengetahui jika aku masih ada di dunia ini. Mereka hanya tak ingin mengungkapkan jati diriku pada semua orang. Hanya orang-orang yang tahu saja, yang mengetahui siapa diriku. Dan kini aku mengungkapkan jati diriku padamu, karena kau adalah satu-satunya cucu ku yang mewarisi sebagian bakat ku. Meskipun Simbah mu menganggap Walimah seperti anaknya sendiri, tak akan mengubah fakta jika ia bukanlah keturunan ku. Tapi tetap saja aku menyayangi Walimah dan juga anaknya Wati. Aku tau dia sedang dalam bahaya, karena itulah Lala meminta bantuan dari Elang. Kalian tenang saja, meski aku tak berada di dekat kalian. InsyaAllah aku akan berusaha menghentikan niat Sumitro untuk menjadikan keturunan Wati sebagai tumbal. Tapi setelah kepulangan mu nanti, kalian akan mendapatkan kabar buruk." Pungkas Eyang buyut dengan menghembuskan nafas panjang.
"Tapi Yang, Lala belum mendapatkan petunjuk jika ada kabar buruk nantinya. Bukankah seharusnya liontin ini memberitahu ku jika akan terjadi sesuatu yang buruk!"
"Kau baru saja mendapatkan nya, dan belum mengisi mustika itu dengan amalan-amalan ibadah dan juga doa-doa. Liontin itu belum ada fungsinya, jika kau belum memberinya makan dengan amal ibadahmu!" Jelas Eyang menatap kami berdua.
__ADS_1
Tapi kabar buruk apa yang Eyang buyut maksud. Aku jadi tak tenang setelah mendengar peringatannya. Apakah sesuatu yang tak diinginkan sedang terjadi di Desa Rawa Belatung.