Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 191 PERGANTIAN ATAU PERJANJIAN?


__ADS_3

Malam itu aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Rasanya seluruh tubuhku terasa remuk, hingga aku malas untuk bangun dan makan. Jadi aku langsung memejamkan kedua mata. Di dalam tidur ku, aku bermimpi jika Om Dewa sedang ada dalam cengkeraman Calon Arang. Dan ia berpesan padaku, untuk menyampaikan pesan pada Mbak Ayu. Jika Mbak Ayu tak perlu lagi menolong nya, karena takdir hidupnya sudah selesai. Ia harus menjadi budak setia Calon Arang menggantikan Bu Wayan yang kini sudah tenang di alam nya. Nampak raut wajah Om Dewa sangat tersiksa, tapi ia berusaha tersenyum di hadapan ku. Entah apa artinya mimpi ku ini, tapi ketika aku terbangun terdengar suara alunan musik gendang dan gamelan. Aku mengaitkan kedua alis mata seraya menggaruk kepala yang tak gatal. Pertanda apa lagi ini, kenapa aku mendengar musik di tengah malam begini. Aku melihat jam di dinding, masih jam dua lebih lima belas menit.


"Ah lebih baik aku shalat tahajud saja lah, daripada lanjut tidur dan mimpi buruk." Batin ku di dalam hati.


Aku mengambil air wudhu dan bersiap melakukan shalat. Tak ada gangguan sama sekali dari makhluk tak kasat mata, tak seperti ketika aku melakukan shalat tahajud di puncak curug banyu dowo. Aku membaca doa dengan menggenggam tasbih pemberian Eyang Buyut. Ah rasanya aku sangat merindukan beliau, semoga Eyang Buyut selalu dalam lindungan Allah SWT. Di dalam doa ku, aku mendengar bisikan Eyang Buyut yang memintaku untuk membuka ruang keluarga yang selalu tertutul itu dan membersihkan semuanya. Karena sebentar lagi, apa yang diinginkan Calon Arang terpenuhi, dan Mbak Ayu tak perlu melakukan ritual khusus di tempat itu lagi. Tapi sebelumnya, Eyang memintaku untuk berbicara dengan Mbak Ayu terlebih dulu supaya tak ada salah paham di kemudian hari.


"Subhanallah, pertanda apa lagi ini ya Allah." Gumam ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Aku bangkit berdiri lalu berjalan ke lorong gelap, kaki ku berhenti tepat di depan pintu ruang keluarga yang selalu tertutup. Dari dalam sana, aku dapat mendengar dengan jelas suara-suara gamelan dan sebagainya. Seakan ada perayaan, dan ada suara riuh yang tak ku tahu itu siapa. Aku jadi berpikiran jelek, jangan-jangan Om Dewa yang datang di dalam mimpi ku adalah sebuah pertanda. Mungkinkah ia menggantikan posisi Bu Wayan sebagai budak abadi di alam mangrahi itu. Seketika peluh membasahi kening, aku berjalan setengah berjinjit kembali ke dalam kamar. Aku menghubungi Mama yang masih ada di Bali menjaga Mbak Ayu dan Om Dewa. Begitu panggilan telepon tersambung, terdengar suara Mama yang panik. Ia seperti orang yang sedang gelisah dan gugup.


"Ma... Mama kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Om Dewa?" Tanya ku dengan jantung yang berdetak kencang.


"Doain aja ya sayang, tadi tepat jam 12 tengah malam kondisi Om Dewa drop. Saat ini masih dalam penanganan Dokter, padahal rencananya besok kalau Dahayu keluar dari Rumah Sakit Mama dan Papa akan pulang ke Kalimantan. Tapi melihat keadaan saat ini, kami jadi ragu meninggalkan Dahayu sendiri. Sesuatu bisa aja terjadi Nak, kau mengerti maksud Mama kan?" Jawab Mama dengan pertanyaan.


Aku hanya menghembuskan nafas panjang seraya menundukkan kepala. Ku pejamkan kedua mata lalu membacakan doa untuk kesembuhan Om Dewa. Terdengar jeritan Mama, dan membuat ku panik. Aku berteriak-teriak memanggil Mama berulang kali, tapi tak ada jawaban. Sampai akhirnya Papa yang menjawab panggilan ku, dan ia menjelaskan jika Om Dewa sudah dinyatakan meninggal dunia tepat jam 3 malam lebih 10 menit.

__ADS_1


"Inalillahi wainnailaihi raji'un." Ucap ku dengan menundukkan kepala.


Astaga, tak dapat ku bayangkan bagaimana hancurnya hati Mbak Ayu. Ia sudah susah payah menolong Om Dewa dari para pengikut Leak dan juga Calon Arang. Tapi pada akhirnya usahanya itu sia-sia saja, karena Om Dewa tetap harus menjadi pengganti Bu Wayan di alam mangrahi.


"Nak nanti Papa telepon lagi ya, Mama mu masih shock sekali. Kita juga bingung harus ngomong gimana ke Dahayu, Papa tutup dulu ya telepon nya."


Setelah itu aku duduk di tepi ranjang, dan mengingat kembali mimpi ku tadi, ternyata itu bukan hanya sekedar mimpi. Tapi ucapan perpisahan dari Om Dewa, yang harus ku sampaikan pula ke Mbak Ayu. Tapi waktunya tak tepat, jika aku menceritakan ini sekarang. Tanpa sadar aku merenung sangat lama, sampai waktu shalat subuh tiba. Dan selesai shalat, aku memberikan kabar duka ke Ce Edoh. Supaya semua tetangga yang ada di sekitar rumah ini tahu, kalau Om Dewa sudah meninggal dunia. Nampaknya Ce Edoh sangat sedih mendengar kabar duka itu, meskipun ia jarang bertemu dengan Om Dewa. Ce Edoh sudah lama bekerja di rumah ini.


Dret dret dret.


"Menurut Eyang, ruangan itu harus dibersihkan dari energi hitam yang melingkupi keseluruhan rumah. Kalau boleh gue mau bersihin, lu gak masalah kan Mbak?"


"Iya Ran, gak apa-apa kok. Makasih ya udah mau gue repotin." Jawabnya dengan suara parau.


"Hmm ada satu hal lagi Mbak. Penglihatan yang gue dapet lewat mimpi."

__ADS_1


Aku menceritakan jika Om Dewa harus menggantikan posisi Bu Wayan di alam mangrahi. Karena itulah, meskipun kemarin Mbak Ayu bisa menyelamatkan Om Dewa. Tapi ia tetap harus menjadi budak abadi di alam itu. Kini Mbak Ayu hanya bisa menangis terisak, ia tak mengatakan apa-apa lagi. Dan tak lama setelah itu, ia mengakhiri panggilan video itu. Karena Mbak Ayu harus bersial-siap untuk membawa jenazah Om Dewa kembali ke rumah mereka yang ada di Bali.


"Mbak Rania, ini Bu Ajeng perlu dikabari apa gak ya? Meski sepertinya mereka punya masalah, bagaimanapun kan mereka masih suami istri." Tanya Ce Edoh yang sedang menata kursi di ruang tamu.


"Biar Mbak Ayu saja Ce yang ambil keputusan. Kita hanya perlu menyediakan tempat, untuk orang-orang yang akan datang melayat. Dan saya minta tolong sama Ce Edoh buat bersihin ruang keluarga yang di belakang itu ya."


"Iya Mbak, tapi kuncinya dimana ya?"


"Nanti nunggu balasan chat dari Mbak Ayu dulu Ce, kayaknya sih tu kunci di kamarnya. Tapi Rania gak tahu di taruh dimana, nanti kalau udah dikasih tahu Mbak Ayu, Rania bukain kamar Mbak Ayu dulu."


Pagi itu aku bersama Ce Edoh menerima tamu yang datang untuk melayat, karena tak ada tuan rumah disana. Aku jadi meminta ijin pada Mbak Rika, karena tak dapat berangkat ke kantor. Ku jelaskan jika Om Dewa meninggal dunia di Bali, tapi di rumah kuno ini juga menerima tamu yang datang melayat.


"Loh katanya lu ada janji sama kru film yang mau bongkar kejadian meninggal nya Dila yang sebenarnya?"


Astaga. Aku lupa kalau hari ini ada janji dengan Denis, segera ku matikan telepon dari Mbak Rika. Lalu mengirimkan pesan singkat pada Denis, untuk mengatur ulang jadwal pertemuan. Belum ada jawaban dari Denis, setidaknya aku sudah memberi kabar padanya. Nampak tamu-tamu berdatangan, dan mengucapkan bela sungkawa. Dan ada kejadian janggal di lantai atas rumah kuno ini. Sepertinya ada suara-suara hentakan kaki, layaknya orang yang menari mengikuti tabuhan gendang. Karena semua orang saling berbisik merasa tak nyaman dengan kejadian itu. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat siapa yang ada di lantai atas, kenapa orang itu lancang di rumah orang lain. Perlahan aku melangkahkan kaki ke atas, tiba-tiba Ce Edoh menyusul karena ingin melihat siapa yang menghentak-hentakkan kaki di lantai atas. Tapi begitu kami sampai di tangga yang paling atas, kami menghentikan langkah dan memperhatikan siapa orang yang menggunakan baju tradisional khas bali dengan udeng di kepala nya. Orang itu belum membalikkan tubuhnya, dan melakukan gerakan tari seraya menghentakkan kaki nya ke lantai beberapa kali. Ce Edoh panik, ia memegangi lengan ku dengan kencang. Bahkan aku bisa mendengar deru nafasnya yang kencang. Aku menarik tangan Ce Edoh, dan memintanya untuk turun ke lantai bawah. Karena aku mempunyai perasaan lain dengan sosok yang masih memunggungi kami ini. Tapi sepertinya Ce Edoh penasaran, dan ia kembali mendongakkan kepalanya ke atas. Lalu berteriak histeris begitu sosok di depan kami membalikkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2