
"Mungkin kau harus sengaja membuat mereka melakukan kesalahan secara langsung. Supaya aku dapat memenjarakan mereka, seperti apa yang dilakukan Mbak Ayu beberapa hari yang lalu." Kata Mas Adit dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Memang apa yang dilakukan Mbak Ayu Mas? Sejak aku sibuk dengan warga Desa, aku sampai tak sempat menghubungi nya lagi. Jadi aku belum tau kabarnya sama sekali."
"Mbak Ayu bekerja sama dengan Heni, ia meminta Heni untuk berpura-pura bergabung lagi dengan sekte itu. Kau tau kan keberadaan Leni sudah terpantau petugas ketika dia datang ke kampus. Hanya Tante Ajeng saja yang bebas berkeliaran. Heni menjenguk Leni di penjara, dia merasa iba melihat Leni mendekam di dalam sana. Sebenarnya apa yang Heni lakukan bukanlah drama, dia benar-benar menangis melihat nasib sahabat kecilnya. Leni memohon supaya dibantu keluar dari penjara, tapi kan Heni gak tau harus bagaimana. Akhirnya Leni menyarankan jika Heni harus menemui Tante Ajeng, supaya dia dapat keluar dari penjara. Heni berkordinasi dengan Mbak Ayu, dan akhirnya Heni berpura-pura menjadi pendukung Tante Ajeng. Di detik-detik terakhir, Tante Ajeng tau jika ia hanya dipermainkan oleh Heni. Di tempat yang sudah dilengkapi CCTV, Tante Ajeng marah dan memberikan racun pada Heni. Rencana awalnya bukan seperti itu sih, tapi ternyata Heni tanpa sadar meminum air yang tercampur racun. Tante Ajeng tertawa penuh kemenangan karena berhasil membongkar sandiwara Heni dan Mbak Ayu untuk menjebaknya. Heni sekarat dan dilarikan ke Rumah Sakit, sempat terjadi pertarungan gaib antara Mbak Ayu dan Tante Ajeng. Semua yang terjadi terekam kamera, dan membuat ku sangat terkejut. Aku melihat Mbak Ayu seperti kerasukan sosok lain, dia bergerak dengan cepat seperti orang menari tapi sorot matanya tajam. Dia mencengkeram leher Tante Ajeng sampai hampir kehabisan nafas. Aku hanya melihat itu dari rekaman CCTV, lalu seorang perempuan berkebaya dengan selendang kuning datang. Entah apa yang dibicarakan, karena perempuan itu hanya mengusap kepala Mbak Ayu sampai dia tenang dan mereka berpelukan. Barulah petugas di lapangan datang, membawa Heni ke rumah sakit bersama Tante Ajeng. Sekarang status Tante Ajeng jadi tersangka percobaan pembunuhan." Jelas Mas Adit seraya menunjukkan rekaman video di ponselnya.
"Jadi Mbak Ayu rencanain ini semua Mas? Terus gimana kondisi Heni sekarang?"
"Terakhir sebelum aku kesini dia masih dirawat intensif. Nanti aku tanyakan ke petugas jaga, sekarang kita lanjutkan perjalanan dulu yuk."
Astaga karena membahas Mbak Ayu kami sampai menunda urusan yang seharusnya kami selesaikan. Sesampainya di kantor pemakaman, Mas Adit yang mengurus semua proses administrasi dan berbagai keperluan yang digunakan nanti. Kami menunggu kedatangan warga yang membawa jenazah ke pemakaman. Para penggali kubur sudah menyelesaikan tugasnya. Tak menunggu lama para pelayat datang setelah terdengar suara sirine ambulance. Pak Haji mulai membaca ayat-ayat suci dan jenazah satu persatu dimasukkan ke liang lahat. Hampir tak ada kendala selama proses pemakaman, nampak Mas Adit dengan khusyuk membacakan doa untuk keluarganya. Lalu satu persatu warga berpamitan seraya mengucapkan duka cita.
__ADS_1
"Nak Adit sampai kapan tinggal disini? Karena selama empat puluh hari rumah diusahakan tidak boleh kosong. Roh keluarga mu masih ada di sekitar rumah Nak, kalau bisa Nak Adit menetap saja dulu disini." Pungkas Pak Sapri.
Mas Adit menghembuskan nafas panjang, ia menjelaskan kewajiban nya sebagai petugas kepolisian. Ia tak mungkin bisa lama-lama berada di Desa. Dan sang ibu pun menimpali, jika ia bersama suaminya akan tetap tinggal disana. Tak ada tanggapan dari Mas Adit, ia tetap dingin terhadap ibunya.
Waktu berlalu dengan cepat, semua orang sedang tahlilan di rumah Pak Langgeng. Sementara aku di rumah sendirian menunggu semua orang yang belum pulang dari rumah sakit. Sampai terdengar suara deru mobil memasuki halaman. Bude kembali tanpa ditemani Wati dan Pramono, dari penjelasan Bude Pramono tak ingin berpisah dari Mbok Genuk. Dan Wati akhirnya memutuskan untuk tetap tinggal disana.
"Tapi apa tak apa-apa Nduk kalau mereka tetap disana?"
"InsyaAllah Bude, Wening sudah gak berbahaya lagi. Hanya saja Pak Warto masih tetap menjadi ancaman untuk kita semua. Semoga saja gak ada kejadian apapun selama Pramono dan Wati nemenin Mbok Genuk. Ngomong-ngomong gimana kondisi Wening Bude?"
"Jangan-jangan Pak Warto memang masih ingin membalas dendam. Meskipun Wening sudah kehilangan semua kekuatan nya."
__ADS_1
"Kenapa kau berpikiran seperti itu Nduk?"
"Sederhana nya gini Bude, mereka kan sudah kalah. Pak Warto ninggalin Wening gitu aja tanpa menolongnya sama sekali. Tapi Wening seakan gak ada marah ke Pakde nya. Seharusnya kan dia kecewa dengan perlakuan Pak Warto."
"Justru yang Bude lihat disana, Wening malah sangat marah ke Mbok Genuk. Disentuh Neneknya aja Wening malah membentak. Jadinya hanya perawat yang boleh mengurusnya, Wening sama sekali tak memperbolehkan Mbok Genuk mengurusnya."
Malam ini menjadi topik obrolan terakhir kami. Karena kami sama-sama sudah lelah, dan tidur lebih awal dari biasanya. Aku bermimpi melihat Pramono dalam sekapan Pak Warto. Ia meminta Mbok Genuk untuk beralih mendukungnya untuk membalas dendam pada Pak Jarwo. Sekarang musuh utamanya adalah Pak Jarwo, karena mustahil baginya untuk membalas dendam pada warga jika masih ada Pak Jarwo yang melindungi semua warga. Bahkan Eyang Buyut hadir juga di mimpi ku, beliau memperingatkan jika Mbok Genuk bisa menjadi ancaman jika ia sampai mendukung Pak Warto. Meski Pramono hanya cucu angkat Mbok Genuk, dan sudah dirawat sejak kecil. Ia tak akan berpikir panjang untuk menyelamatkan nya jika Pramono dalam ancaman. Dan itulah yang dimanfaatkan Pak Warto untuk membuat Mbok Genuk berpihak padanya.
"Warto akan melakukan segalanya untuk memenangkan pertarungan setelah kekalahan nya. Bahkan ia berniat menumbalkan salah satu cucu Genuk, untuk mendapatkan mustika dari ratu siluman buaya putih. Genuk tak menyadari bahaya yang mengincar cucunya, karena saat ini dia terlalu cemas." Jelas Eyang Buyut di dalam mimpi.
"Apakah Pramono yang akan ditumbalkan Yang?" Tanya ku dengan membulatkan kedua mata.
__ADS_1
"Aku tak bisa mendahului takdir dengan mengatakan segala hal Nduk. Cukup peringatan ini saja yang ku berikan padamu. Waspadalah, jangan sampai Genuk berpaling mendukung Warto." Jawab Eyang Buyut sebelum akhirnya aku terbangun dari tidur.
Aku terbangun dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh. Ku lihat jam di dinding masih menunjukkan pukul satu dini hari. Astaga, pasti tadi bukan hanya sekedar mimpi. Pasti tadi sebuah peringatan yang diberikan Eyang Buyut. Aku harus memperingatkan Mbok Genuk, supaya ia tak terpedaya dengan Pak Warto.