Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 197 SOSOK YANG DIRINDUKAN.


__ADS_3

Bang Tigor nampak berdiri menunggu kedatangan ku, ia membawa sebungkus kresek di tangan nya. Nampaknya ia melihat semua yang ku lakukan di atas udara sana. Bang Tigor memuji kehebatan ku, dan mengatakan jika aku terlalu muda untuk bisa melepas jiwa seperti itu.


"Hebat kali kau itu, nampak macam orang-orang sakti saja!"


"Ach si Abang bisa aja, saya juga baru tau kalau bisa kayak tadi itu hehehe."


Setelah membayar pesanan ku, aku berpamitan pada Bang Tigor dan kembali ke kost an. Nampak ada satu mobil yang terparkir di halaman depan. Karena penasaran aku melihat ke rumah utama, ada beberapa tamu yang datang untuk sekedar berbela sungkawa. Aku menyapa sepasang suami istri itu, mereka mengaku sebagai teman lama Om Dewa. Dan baru mendengar kabar duka itu. Entah kenapa mereka tiba-tiba langsung menanyakan Tante Ajeng. Dan si perempuan berbicara setengah berbisik, menjelaskan kalau beberapa minggu yang lalu Tante Ajeng pernah menemui merey. Dan mengajaknya untuk mengikuti sebuah kegiatan bersama suatu kelompok.


"Apa kelompok yang dimaksud Ajeng itu bisa memberikan segalanya dek?" Tanya si ibu menatapku serius.


Sontak saja aku terkejut dan agak tercengang, ternyata Tante sengaja mendatangi orang-orang supaya bergabung dengan sekte sesat nya.

__ADS_1


"Maaf ya Pak Bu, bukan maksud saya menggurui. Tapi alangkah lebih baiknya, kalian tak terpengaruh dengan ajakan Tante Ajeng. Karena itu musrik dan mengarah ke ajaran sesat. Apa yang kalian dapat dari ritual sesat bersama kelompok itu harus ada imbalannya. Dan harga yang harus kalian bayar sangat mahal, sampai kalian tak bisa membayangkan nya." Jawab ku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Bayarnya emang berapa dek?" Sepasang suami istri itu kompak bertanya.


"Nyawa manusia yang harus kalian bayarkan. Harus ada tumbal untuk apa yang akan kalian dapatkan. Sebelumnya Tante Ajeng sempat ingin menumbalkan Om Dewa. Karena itulah ia melarikan diri ke Bali, tapi nasib berkata lain. Ia harus tiada di tanah kelahirannya sendiri."


Keduanya tertegun dan saling menatap. Mereka menggelengkan kepala, mengatakan tak percaya jika Tante Ajeng berbuat demikian. Tapi itulah fakta yang terjadi, dan aku memperingatkan mereka untuk tak bertemu dengan Tante Ajeng lagi. Karena mereka bisa terpengaruh dan bergabung dengan sekte sesat itu.


Keduanya berterima kasih karena mengingatkan hal buruk yang akan terjadi jika mereka terbujuk ajakan Tante Ajeng. Aku juga meminta mereka untuk menghindar supaya tak bertemu lagi dengan Tante Ajeng, karena ia bisa mempengaruhi keduanya. Tak lama setelah itu mereka berpamitan, dan meninggalkan rumah ini. Tapi diluar rumah, aku melihat sosok merah sedang mengintai ku. Kenapa dia ada disini lagi ya, apa Bu Kartika sudah pulang dari Luar Negeri. Dasar demit rendahan, kau pikir aku masih sama seperti dulu. Tak ku hiraukan sosok merah, dan membiarkan nya tetap berada di atas pohon mengintai setiap pergerakan ku. Aku masuk ke dalam kamar, membersihkan diri lalu menyantap nasi goreng yang sudah mulai tak hangat lagi. Aku sedang mengirimkan pesan singkat pada Mbak Ayu, memberi kabar kedatangan dua tamu tadi. Menurut Mbak Ayu Tante Ajeng tak akan berhenti begitu saja, sebelum ia menemui ajalnya. Dan balasan pesan dari Mbak Ayu membuatku sedikit takut. Karena ia mengatakan akan melakukan apapun supaya dapat menghentikan Tante Ajeng, termasuk jika ia harus menghabisi nyawa nya. Aah entah kenapa, aku tak suka mendapat jawaban itu dari Mbak Ayu. Karena jika sampai ia melakukan nya, jiwa dan raga nya akan benar-benar dikuasai Calon Arang. Sehingga semua perbuatan nya akan mudah dikendalikan oleh sosok gaib itu.


"Mbak nanti kita bicarakan lagi ya, gue gak mau lu ikutan jadi orang jahat macam Tante Ajeng. Jadi jangan ikuti naluri balas dendam lu itu, oke?" Kata ku melalui pesan wassap.

__ADS_1


Mbak Ayu belum membaca pesan ku, mungkin saja ia sedang sibuk. Dan aku pun merebahkan tubuh di ranjang. Aku tertidur sampai suara adzan subuh terdengar. Kemarin adalah hari yang melelahkan, sampai aku terpejam sebelum menghabiskan makanan ku. Aku meregangkan otot-otot di tubuh, dan melihat ke sekitar. Nampak sekelebatan bayangan putih yang melesat pergi. Tak ku hiraukan sosok itu, mungkin saja itu demit yang ngibrit karena mendengar suara adzan dari masjid. Aku segera shalat dan membaca doa untuk kebaikan semua orang yang ku sayang. Ku pegang tasbih pemberian Eyang Buyut, terasa hangat dan memenangkan jiwa. Seperti ada aliran energi yang masuk ke dalam tiap butiran tasbih, dan aku dapat merasakan nya. Semoga saja hari ku berjalan normal, tanpa menemui masalah yang baru lagi.


Whuuuusd.


Hembusan angin dingin menerpa belakang leher ku. Aku membalikkan tubuh dan melihat ke berbagai arah. Tak ada siapapun disana, entah demit mana lagi yang sedang iseng kali ini. Karena ia tak menampakkan wujudnya, tapi aku dapat merasakan kehadirannya. Aku memutuskan untuk menggunakan kekuatan ku, untuk menggunakan mata batin yang terdalam supaya dapat melihat sosok yang bersembunyi dari ku. Jangan-jangan itu adalah sosok merah, kenapa ia sampai berani masuk ke dalam kamar ku ya. Biasanya dia hanya mengintai dari luar rumah saja. Akhirnya aku menggunakan kekuatan ku untuk melihat siapa sosok yang bersembunyi dariku. Aku duduk dengan menyilangkan kedua kaki, aku menengadahkan kedua tangan seraya membaca doa supaya diberi petunjuk oleh Yang Maha Kuasa. Dan seketika penglihatan ku jadi lebih tajam, aku bahkan dapat melihat demit-demit yang berada di luar tembok. Aku mencari sosok yang mengintai ku tadi, sepertinya ia bersembunyi di kamar mandi dan memunggungi ku. Siapa dia, dia bukanlah merah. Tapi kenapa dia tak menatap ku, dan malah membalikkan tubuhnya.


"Hei siapa kau?" Tanya ku dengan membulatkan kedua mata.


Sosok demit lelaki berdiri mengambang dengan menundukkan kepala nya. Aku menggunakan kekuatan dalam untuk bisa menyentuh nya. Ku cengkeram pundaknya sehingga demit itu tak bisa melarikan diri. Dan ia pun memekik kesakitan.


"Aww sakiiit lepaskan aku Raniaaa!" Jeritnya terasa tak asing di telinga ku.

__ADS_1


Begitu sosok itu membalikkan tubuh hampa nya,dan berdiri tepat di hadapan ku, aku sangat terkejut sampai tak bisa berkata-kata. Ia menatapku dengan sorot mata sendu. Tatapan mata penuh kerinduan, dan kehangatan. Tanpa sadar bulir-bulir bening membasahi pipi ku, aku tak menyangka dapat melihatnya disini. Apakah ini hanya mimpi, kenapa aku masih tak percaya dapat melihat dan menyentuh sosok nya. Aku mengusap kedua mata karena tak percaya dengan apa yang ku lihat. Tapi ini bukanlah mimpi, bahkan aku bisa mencubit tangan ku dan terasa sakit. Sosok di depan ku itu mulai mengembangkan senyum nya, ia menyentuh wajah ku dan menyeka air mata yang membasahi kelopak mata ku.


__ADS_2