
Aku berjalan tertatih keluar, nampak hantu Cahaya Bulan menembus tembok ruangan di sebelah. Ia seakan menuntun ku pergi kesana, aku pun masuk ke dalam sana. Ada bingkai foto yang tertutup debu tebal dan sarang laba-laba. Aku berusaha membersihkannya dan melihat gambar yang ada di foto itu.
"Loh ini kan Pak Markum? kenapa dia berfoto bersama Cahaya Bulan dan Cahaya Purnama ya? dan perempuan yang mengenakan gamis ini pasti ibu mereka. Dari gambaran nya sih mereka terlihat seperti keluarga." gumamku dengan memperhatikan sekitar.
Nampak hantu Bulan menunjuk ke sebuah lemari kayu usang yang tergembok dari luar. Entah kenapa ia menunjuk ke arah sana, aku berjalan mendekati lemari kayu itu dan berusaha membukanya. Tapi tiba-tiba seseorang menyentuh pundakku, hampir saja aku berteriak karena saking terkejutnya. Dan tak lama setelah itu hantu Bulan melesat pergi entah kemana.
"Dek, apa yang adek lakukan di kamar ini?"
"Hmm maaf bu, saya sedang mencari petunjuk tentang bayi nya Cahaya Purnama."
Tanpa mengatakan apa-apa, istri Pak Markum mengambil bingkai foto yang masih ada di tanganku. Lalu ia menarik tanganku keluar dari kamar itu.
"Sebaiknya adek jangan masuk ke rumah ini lagi."
"Loh emangnya kenapa bu? apa saya berbuat kesalahan?"
"Begini ya dek, kematian Bulan dan ibunya masih ganjil sampai sekarang. Saya takutnya para penjahat itu masih ada di sekitar sini, dan merasa terganggu dengan adanya adek yang menyelidiki tempat ini. Saya dan suami sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga Purnama. Dan adek gak perlu mencari tahu tentang kematian Bulan dan juga ibunya. Katakan saja pada orang kaya itu, kalau yang dihamilinya adalah kembaran Bulan. Jika ia mau bertanggung jawab, minta orang itu untuk mengurus Purnama yang kehilangan akal itu!" ucapnya dengan suara ketus.
"Hmm iya bu, maaf kalau saya lancang. Saya permisi dulu. Tapi mungkin lain waktu saya akan datang kembali." kataku seraya berpamitan pada istri Pak Markum.
__ADS_1
Istri Pak Markum tak mengatakan apa-apa, ia keluar rumah itu dengan membawa bingkai foto di tangan kanannya. Entah kenapa ia membawa foto itu, apa mungkin Pak Markum memang ada hubungan keluarga dengan mereka. Pertanyaan ini membuatku semakin penasaran, tapi sudah seharian aku melakukan penelusuran di tempat ini. Dan belum menemukan hasil yang memuaskan.
"Wah kak lama banget sih perginya, untung tadi saya dikit-dikit dapet orderan nganterin food di deket-deket sini. Lumayan lah daripada bengong nungguin kakak doang."
"Duh maaf ya Mas, saya sampai lupa kalau ditunggu. Soalnya ada urusan yang mendesak banget sih, ntar saya ganti ongkos nunggu nya ya." kataku sambil mengenakan helm lalu duduk di boncengan motornya.
Perjalanan kali ini terasa sangat lama, karena berbarengan dengan jam pulang kantor. Banyak kendaraan yang terjebak macet sama seperti ku. Aku memutuskan untuk kembali ke kost an saja, karena aku juga belum mendapatkan hasil apapun mengenai anak yang dikandung Cahaya Purnama. Dari kejauhan nampak kerumunan orang di pinggir jembatan layang. Ada beberapa polisi yang mengatur lalu lintas supaya tak terjadi penumpukan kendaraan.
"Sepertinya ada kecelakaan kak disana, pantes aja macetnya parah banget." kata Mas ojol dengan memperhatikan sekitar lokasi.
"Loh kok aneh ya Mas, kalau ada kecelakaan dimana kendaraan yang terlibat kecelakaan. Kok gak ada ya, dan korbannya juga udah gak ada dimana-mana."
Beberapa orang yang berkerumun melihat ke arah jembatan layang. Ada beberapa tim sar membawa pelampung untuk turun kesana. Sepertinya korban tenggelam atau terjatuh ke aliran sungai dibawahnya. Aku tak terlalu ingin tahu dengan masalah itu. Takutnya kalau aku terlalu ingin tahu dan melihat apa yang terjadi disana, malah akan membuatku bertemu dengan hantu dan arwah gentayangan. Yang masih penasaran karena kematiannya, lalu ujung-ujungnya para demit itu akan menyusahkanku dengan berbagai permintaan tolong nya.
"Wah iya kak maaf saya keppo sih, siapa yang tenggelam dibawah sana. Kali aja saya kenal kan bisa bantu mengenali korbannya." kata Mas ojol seraya mengendarai motornya kembali.
"Kalau dipikir-pikir benar juga kata Mas ojol ini. Kalau aku bisa membantu kenapa tidak, tapi kan masalah ku sudah terlalu banyak. Karena banyak hal yang harus ku telusuri, aku sampai mengacuhkan kuntilanak bernama Endang dan belum dapat membantunya. Biarlah nantinya aku pasti akan membantu Endang untuk kembali ke alam keabadian. Sementara ini aku akan menyelesaikan misteri keluarga Mbak Ayu, dan juga Cahaya Purnama." batinku dengan menghembuskan nafas panjang.
Sesampainya di rumah kost, nampak Janni sedang berbicara dengan Tante Ajeng di teras rumah utama. Keduanya langsung mengakhiri pembicaraan ketika aku melangkah masuk ke halaman rumah.
__ADS_1
"Baru pulang kerja Rania? gimana, udah ketemu Agus belum?" tanya Tante Ajeng seraya berjalan ke arahku.
Tak lama Janni berpamitan pada kami, ia mengeluh sakit kepala dan ingin istirahat di kamarnya. Aku tak sempat menanyakan apa-apa pada Janni mengenai kejadian semalam sewaktu ia kerasukan. Tapi Tante Ajeng menjelaskan padaku sebelum aku bertanya.
"Janni semalam pulang kayak ada yang ngikutin. Pundaknya udah kerasa berat pas jalan pulang. Terus sampai kamarnya dia lagi senderan di kamar, tahu-tahu dia udah gak ingat apa-apa lagi. Jadi menurut Tante, dia emang udah di ikutin arwah Agni pas di jalan."
"Mungkin karena Janni kelelahan dan kosong pikiran nya. Semoga arwah Agni gak ganggu lagi deh Tante, soalnya Rania lagi banyak yang dipikirin juga. Belum kelar masalah Mbak Ayu, malah Agus tiba-tiba ngilang gitu aja. Pekerjaan kantor jadi keteteran, belum lagi sekarang Rania dapat tugas khusus dari bos. Bikin kepala makin puyeng aja deh." keluhku dengan menghembuskan nafas panjang.
Baru saja aku ingin berpamitan pada Tante Ajeng, ada dua orang petugaa polisi datang ke rumah itu. Petugas itu bertanya, apakah kami ada yang mengenal seseorang yang bernama Made Agus Rakabumi.
"Kami menemukan identitas lelaki tersebut di bantaran sungai Ciliwung. Karena sebelumnya ada saksi yang menyebutkan ciri-ciri lelaki tersebut melompat dari atas jembatan layang. Dan sampai saat ini, tim sar masih melakukan pencarian korban. Dan hanya identitas korban yang kami temukan." ucap polisi itu seraya menunjukan KTP Agus.
Kami tercengang mendengar ucapan polisi itu, apakah benar yang di ucapkan petugas jika Agus yang melompat ke sungai.
"Kejadian nya kapan Pak? karena sudah beberapa hari ini keponakan saya ini gak kelihatan. Kami gak ada yang tahu dia kemana!"
"Kejadian kemungkinan subuh tadi, karena keadaan jalan yang masih sepi tak banyak yang melihat kejadian. Kecuali seorang lelaki yang akan berangkat ke pasar subuh tadi. Saksi itu awalnya tak mengira jika korban akan nekat terjun melalui jembatan layang. Karena sebelumnya saksi sudah menghentikan tindakan korban, dan korban sempat meninggalkan lokasi kejadian. Lalu saksi pergi melanjutkan perjalanannya, nah pas sepulang dari pasar baru deh ada ramai-ramai di lokasi. Dan saksi menceritakan kronologi nya, kemungkinan korban adalah lelaki yang memiliki identitas tersebut. Karena itu kami memastikan dimana keberadaan pemilik KTP ini."
Degh.
__ADS_1
Jantungku berdetak tak beraturan, karena tadi pagi aku memang sempat melihat sosok Agus di kantor. Mungkinkah Agus benar-benar sudah tiada, dan yang ku lihat adalah arwahnya?.
...Bersambung. ...