
Aku mendatangi Mas Adit, untuk memastikan kebenarannya. Apakah jasad Fendi memang masih ada kamar jenazah atau tidak. Mas Adit hanya mengangkat bahu nya, ia belum bisa mengatakan apa-apa, karena memang kasus itu bukan dia yang menangani.
"Nanti aku coba cari informasi dulu, memangnya ada apa lagi Ran?"
"Kayaknya anak kost yang tinggal di sebelah ku itu adiknya si Fendi. Makanya aku mau konfirmasi dulu, bener atau enggak. Kata arwah Fendi, kalau dua hari lagi gak ada yang ngambil jasadnya, maka pihak rumah sakit akan menguburkan nya tanpa nama. Makanya nanti aku mau konfirmasi dulu ke Heni, dia punya Kakak yang namanya Fendi atau enggak. Kasihan kan kalau dia dikubur tanpa keterangan jelas."
"Ya udah kau pulang saja, konfirmasi dulu ke si Heni. Aku akan mencari informasi mengenai jenazah Fendi itu. Nanti ku kabari lagi." Jelas Mas sebelum akhirnya pergi.
Aku sengaja tak menerima tawaran Mas Adit untuk mengantar ku pulang. Biar saja ia langsung pergi untuk mencari informasi yang kami butuhkan.
"Terus rencana kita apa Ran?" Tanya Mbak Lia menatap sendu wajah pucat Fendi.
"Kita urusin jasad si Fendi dulu Mbak. Kasihan kan waktunya mepet loh dua hari lagi. Mendingan ikut ke kost an aja, aku mau nanya langsung sama Heni."
Fendi nampak terharu dengan usahaku untuk menolongnya. Menurutnya aku tak seharusnya melakukan itu, apalagi kami tak saling mengenal. Aku hanya menjelaskan, siapapun dia, jika aku mampu dan bisa InsyaAllah aku akan membantu menyelesaikan masalah nya.
"Emang kau pikir aku dan Mbak Lia saling mengenal? Kami hanya kebetulan bertemu di mobil travel, dan aku kasihan lihat Mbak Lia murung sendirian. Dia gak tahu kalau dia hanya jiwa tanpa raga, begitu aku kasih tahu dia itu apa, Mbak Lia sempat gak percaya. Eh malahan aku ingat pernah bertemu beberapa kali dengannya. Kau kan selalu ngikutin Mbak Lia kemana-mana. Aku pernah kaget pas pertama kali pas-pasan sama kau. Padahal kau sadar, kalai aku bisa lihat wujud mu, tapi kau gak meminta sesuatu dariku kayak demit yang lainnya. Makanya aku ngerasa aneh aja, kok kau biasa aja gak heran atau gimana gitu."
"Saat itu, aku hanya menyesali satu hal. Kenapa aku harus tiada dengan cara seperti ini. Aku sedih melihat Lia terus menangis setiap ia sedang sendirian. Aku mengikutinya karena aku mencemaskan nya."
"Jadi kau ada perasaan sama Mbak Lia?"
Pertanyaan ku membuat sosok Fendi canggung. Ia gelagapan tak menjawab pertanyaan ku.
__ADS_1
"Ya udah kalian berdua bicara berdua dulu ya. Kalau udah kelar susul aku ke kost, supaya kau dapat memastikan Heni tetangga kost ku benar-benar adikmu atau bukan." Kataku seraya melangkahkan kaki pergi.
Aku kembali ke kost menggunakan jasa ojek online. Ku lihat kamar Heni masih terkunci, mungkin dia belum pulang atau sedang keluar entah kemana. Ku lihat Ce Edoh membersihkan halaman samping, dan ia mengatakan jika ruang keluarga yang selalu tertutup itu terdengar suara berisik. Menurutnya seperti ada seseorang yang beraktivitas di dalam sana. Aku sendiri belum pernah mendengar nya secara langsung. Dan kunci ruangan itu hanya Mbak Ayu yang menyimpan nya. Jadi aku tak bisa melihat ke dalam sana.
"Memangnya Mbak Ayu ada urusan apa ya? Kok tumben lama banget perginya." Tanya Ce Edoh dengan mengaitkan kedua alis matanya.
Astaga. Aku lupa memberitahu Ce Edoh, kalau Mbak Ayu sedang dirawat di rumah sakit. Karena sesampainya disini, aku langsung sibuk dengan urusan Mbak Lia. Aku menjelaskan pada Ce Edoh mengenai kondisi Mbak Ayu dan juga Om Dewa, seketika ia langsung berlinang air mata. Ce Edoh mengatakan, jika Mbak Ayu sudah seperti anaknya sendiri. Karena sejak ia bekerja di rumah ini, Ce Edoh lah yang lebih sering mengurusi Mbak Ayu daripada Om dan Tante nya.
"Bantu doa aja ya Ce, semoga mereka cepet sembuh."
"Amin ya Allah. Tapi kemana Bu Ajeng Mbak? Apa dia tak tahu jika suami dan keponakannya sakit?"
Aku menghembuskan nafas panjang, entah apa yang harus ku katakan pada Ce Edoh. Tak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya, karena hal ini sangat sensitif.
"Wah kebetulan nih lu udah pulang. Ada yang mau gue omongin nih sama lu penting!"
Heni menghampiri ku lalu duduk di samping ku dengan mengaitkan kedua alis matanya. Tak lama setelah itu Ce Edoh berpamitan, dan hanya ada aku bersama Heni. Aku sempat kebingungan membuka obrolan, mana mungkin tiba-tiba aku menanyakan siapa nama Kakak lelaki nya.
"Ada apa sih Mbak, katanya mau ngomong penting kok malah diem?" Tanya Heni penasaran.
Aku menjentikkan jari begitu mendapatkan ide. Aku membahas tentang saudara ku yang baru saja menikah. Lalu aku menyinggung tentang Kakaknya, apakah Kakaknya Heni itu sudah menikah. Tapi Heni malah terkekeh, menurutnya Abang nya itu tak pernah mengenalkan pacarnya.
"Padahal usia Abang gue itu udah pas buat nikah Mbak. Tapi boro-boro calon istri, pacar aja gak jelas ada atau enggak."
__ADS_1
"Emang Abang lu sibuk apa Hen, sampai belum nikah juga?"
"Waktu gue masih SMA Abang yang bantu biayain sekolah. Alhamdulillah gue kuliah dapat beasiswa Mbak, jadi lebih ringan biayanya, dan Bapak bisa biayain sisanya. Supaya Abang bisa nabung buat nikahan dia gitu."
"Wah keren banget Abang lu Hen, emangnya dia kerja dimana?"
"Di Jakarta juga Mbak, di Kedai kopi Starbeck, tapi pas kita kesana gue gak lihat dia. Mungkin Bang Fendi lagi off kerjanya."
Degh.
Jantung ku berdetak tak beraturan, begitu mendengar penjelasan Heni. Jadi ia benar-benar adiknya si Fendi. Tak lama setelah itu sosok Fendi dan Mbak Lia datang. Nampak raut wajah Fendi yang pucat berubah sendu, ia tertunduk dengan menahan tangisnya. Aku tak tahan melihat pemandangan mengharukan itu. Dan akhirnya aku pun terbawa suasana dan meneteskan air mata. Sosok Mbak Lia menenangkan Fendi, dan meminta nya untuk tenang. Tapi berbeda dengan Heni yang tak tahu apa-apa. Ia menggaruk kepala yang tak gatal, dan heran melihat ku tiba-tiba menangis. Aku jadi gelisah tak tahu harus berkata apa padanya.
"Kenapa sih Mbak? Kok malah nangis? Lu terharu denger cerita gue ya?" Tanya Heni seraya mendekatkan wajahnya padaku.
Triing.
Ada pesan masuk dari Mas Adit, ia mengirimkan foto-foto Fendi sewaktu kecelakaan. Dan membenarkan jika jasadnya tanpa identitas. Karena aku tak dapat berkata apapun pada Heni, akhirnya aku memberikan ponselku dan menunjukkan pesan dari Mas Adit. Heni sempat bingung, kenapa aku memberikan ponsel padanya. Begitu ia melihat layar ponselku, ia membulatkan kedua matanya dengan menggelengkan kepala. Bulir-bulir bening mulai membasahi kelopak matanya. Heni berbicara dengan suara bergetar, bertanya darimana aku mendapatkan foto-foto itu. Aku hanya menjelaskan, jika itu foto dari kepolisian.
"Yang sabar ya Hen, lu harus tabah menghadapi kenyataan."
Tak ada jawaban dari Heni, ia malah menangis histeris dengan berteriak memanggil nama Fendi berulang kali. Sementara sosok Fendi semakin hancur dan terpuruk melihat tangis adik perempuan nya. Aku memeluk Heni supaya ia sedikit tenang. Meski aku tahu, kabar buruk ini terlalu mengguncang hati nya. Heni hanya terus menangis tanpa henti, dan aku meminta nya untuk memberi kabar ke keluarga nya yang ada di kampung.
"Heni kuatkan hatimu, inilah hal penting yang ingin ku jelaskan padamu. Temanku yang polisi itu kesulitan menemukan identitas korban, karena dia gak bawa identitas waktu kecelakaan. Kalau sampai dua hari gak ada keluarga yang ambil jenazahnya, maka jenazahnya terpaksa dikubur tanpa nama. Karena sekarang aku tahu, kalau itu adalah keluarga mu, maka lebih baik kau kabari segera kedua orang tua mu. Kasihan jiwa Abang mu itu, terkatung-katung tanpa kepastian."
__ADS_1
Hanya suara tangis Heni yang terdengar, sampai akhirnya tubuhnya lemas lalu jatuh pingsan. Aku panik dan berteriak memanggil Ce Edoh untuk membantu ku membawa Heni ke dalam kamarnya. Sementara sosok Fendi semakin mencemaskan sang adik, ia melesat mendekati adiknya dan berusaha menyentuh kepala Heni. Tapi usahanya sia-sia saja, karena tangan hampanya menembus tubuh adiknya.