
Tak terasa kami mengobrol di teras rumah itu sampai jam sembilan malam. Karena sudah sangat malam, aku berpamitan pada semua orang. Aku sudah menghubungi Pak Jarwo untuk datang ke rumah mereka. Dan kemungkinan, besok pagi beliau akan datang kesana.
"Maaf saya hanya bisa membantu sebatas itu saja. Karena kemampuan yang saya miliki hanya sebatas melihat sosok gaib saja. Dan saat ini tak ada sosoknya di sekitar rumah ini. Mungkin demit itu udah bawa bayi Bapak dan Ibu ke tempat lain. Besok kerabat saya dari Desa akan datang membantu. Saya permisi dulu."
Pak Darman memutuskan untuk mengantarku pulang. Disepanjang perjalanan banyak sekali yang ia ceritakan, mengenai Narti. Perempuan yang dulu sempat menjadi istrinya.
"Loh memang nya Pak Darman udah berpisah dengan Bu Narti?" Tanyaku di belakang boncengan motornya
"Iya, mungkin sudah takdir Allah kami harus berpisah." Jawab Pak Darman menghembuskan nafas panjang.
Aku terdiam untuk sesaat, memikirkan maksud ucapannya. Ku beranikan diri untuk bertanya, apa yang membuatnya berpisah dengan Narti.
"Tak lama setelah kami menikah, Narti sering sakit-sakitan. Saya sudah membawanya berobat ke Dokter, tapi setelah melakukan pemeriksaan, hasilnya tak ada gejala penyakit apapun. Kami sama-sama bingung entah penyakit apa yang diderita Narti. Pernah saya mengajak Narti ke pengobatan tradisional, dan yang mengobati nya mengaku gak bisa disembuhkan. Karena penyakit yang diderita Narti adalah kiriman dari seseorang yang sakit hati pada kami. Dan orang itu telah mati membawa sakit hatinya, jadi Narti tak akan bisa disembuhkan, kecuali ia juga tiada, sama seperti orang tersebut. Waktu itu saya gak mikir kalau Endang yang melakukannya. Karena saya pikir, Endang masih hidup di suatu tempat. Saya dan Narti hanya menjalani rumah tangga selama beberapa bulan saja, pokoknya gak ada satu tahun. Karena gak lama setelah itu, Narti meninggal dunia bersama calon bayi kami, yang baru berusia empat minggu" Ucap Pak Darman dengan suara bergetar.
__ADS_1
Astaga, tak ku sangka jika Endang benar-benar membalaskan rasa sakit hatinya. Tapi ia tak menceritakan itu padaku, yang ia tunjukkan hanya beberapa gambaran saat ia dekat dengan Pak Darman. Lalu saat ia berkenalan dengan Narti, apakah mungkin Endang benar-benar telah menipuku? Aku hanya menggelengkan kepala, mendengar semua cerita Pak Darman yang memilukan.
"Jadi sekarang Pak Darman sudah menikah lagi?"
"Alhamdulillah, saya sudah menikah dan punya dua anak lelaki. Tapi istri dan anak saya gak tinggal disini, mereka ada di kampung istri saya. Di Jakarta saya hanya bekerja, makanya saya sering nginap di rumah adik perempuan saya."
Aku berspekulasi, jika Endang mungkin tidak tahu, jika santet yang ia lakukan pada Narti telah berhasil. Makanya Endang tetap gentayangan karena rasa penasaran nya. Lalu ia menculik bayi adik Pak Darman, karena mengira jika bayi itu adalah anak Pak Darman dengan istrinya Narti. Aku menjentikan jari, karena akhirnya bisa menyelesaikan teka-teki itu.
"Sepertinya memang Endang deh Pak, yang menculik keponakan Pak Darman. Karena sebenarnya, sebelum saya bertemu dengan Bapak. Saya sudah sering berinteraksi dengan hantu Endang. Tapi saya baru denger ceritanya mengenai Bapak dan Bu Narti. Selama ini Endang terus ngikutin saya kemana-mana. Dia ingin minta tolong untuk dipertemukan dengan Pak Darman. Dan hari disaat Bapak mengantarkan saya ke kantor, Endang sudah melihat Pak Darman lebih dulu. Dan dia jadi sering ngikutin Bapak kemabapun. Waktu itu saya takut, kalau Endang marah dan mencelakai Pak Darman ataupun Bu Narti. Tapi ternyata Endang gak melakukan itu. Mungkin, Endang mengira, jika keponakan Pak Darman itu adalah anak Bapak dengan mendiang Bu Narti. Karena Endang tak tahu, jika sebenarnya Bu Narti sudah meninggal dunia. Jadi dia terbawa rasa sakit hatinya, dan menculik keponakan Pak Darman. Karena melihat Pak Darman sempat menggendong keponakan Bapak yang masih bayi itu."
Pak Darman menginjak rem motornya mendadak. Ia mungkin sangat terkejut dan menghentikan laju motornya.
"Apa yang harus saya lakukan? Keponakan saya gak ada salah apa-apa, semua ini salah saya. Jika waktu itu saya memilih untuk tetap bersama Endang, mungkin Narti masih hidup, dan keponakan saya gak akan di ambil hantu Endang." Kata Pak Darman tertunduk dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sabar dulu Pak, mungkin Pak Darman juga salah karena telah mematahkan hati Endang. Meskipun Bapak gak yakin kalau Endang memang mengandung anak Bapak. Tapi menurut saya Endang juga salah, gak seharusnya dia melakukan perbuatan buruk itu. Dengan mengirimkan santet pada Bu Narti, jiwa Endang gak akan pernah bisa tenang di alam keabadian. Ia hanya akan terus terjebak di antara dua dunia. Saya hanya bisa berdoa, semoga arwah Bu Narti bisa beristirahat dengan tenang di alamnya."
Pak Darman kembali mengendarai motornya, kali ini ia lebih banyak diam. Mungkin ia merasa bersalah, karena telah membuat keponakan nya menghilang. Bahkan sampai kami tiba di depan rumah kuno, Pak Darman masih terus diam dengan wajah sendu.
"InsyaAllah saya akan berkomunikasi dengan Endang setelah ini. Kalau bisa saya akan membujuknya untuk mengembalikan keponakan Bapak, tapi kalau tidak berhasil juga. Besok kerabat saya dari Desa akan datang membantu."
"Terima kasih banyak mau membantu saya, saya gak tahu lagi harus gimana. Sekarang saya jadi makin bersalah pada mendiang Narti, seharusnya saya gak menikahinya. Jadi Narti masih bisa hidup sampai sekarang."
"Takdir Allah gak ada yang tahu Pak, kita sama-sama berdoa saja, supaya arwah Bu Narti dapat beristirahat dengan tenang. Setelah ini, Pak Darman kembali saja ke rumah adik Bapak. Tunggu kabar dari saya, dan jangan lupa banyak berdoa Pak. Pikiran nya jangan sampai kosong, takut ada yang ganggu pas jalan pulang nanti!"
Tak lama Pak Darman pergi mengendarai motornya. Aku ingin melangkahkan kaki ke dalam, ku buka pagar yang tergembok dari luar. Sepertinya gak ada orang di dalam, dan tiba-tiba ada aroma busuk yang menusuk hidung. Aku memandang ke segala arah, mencari sumber bau busuk itu. Sebenarnya aku mempunyai firasat lain dengan aroma semacam ini. Aku berusaha konsentrasi dan fokus, sepertinya memang ada yang datang dan berkenalan denganku. Ku pejamkan kedua mata seraya menghembuskan nafas panjang. Terdengar suara lirih, yang berbisik supaya aku melihat ke belakang. Dengan jantung yang berdegup kencang, aku membalikan tubuh dan sangat terkejut ketika berhadapan langsung dengan sosok itu.
"Si siapa kau?" Aku berteriak dengan terbata-bata.
__ADS_1
Kepala hantu itu masih menunduk, wajahnya tertutup rambut panjang yang menjuntai ke tanah. Saat itu aku merasakan energi negatif yang sangat besar. Aroma busuk sangat menyengat dan mengganggu pernafasan ku ternyata berasal dari sosok ini. Hantu perempuan ini belum menjawab pertanyaan ku, dan masih berdiri mengambang di hadapanku.