Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
106. "Aku baik baik saja. "


__ADS_3

Dia membalas pelukan Lin Cong Zi dan memeluk nya lebih erat dari pada biasa nya.


"Aku baik baik saja, terima kasih karena telah khawatir pada ku. " Ucap nya dengan suara serak.


"Saudari Xue, apa yang terjadi pada mu ? Apa kah tubuh mu masih sakit ? Lebih baik untuk istirahat dulu, masih ada satu minggu sampai pertandingan . " Ucap Lin Cong Zi dengan penuh perhatian.


"Aku baik baik saja, Saudari Lin, hanya terlalu senang. " Ucap nya menenggelamkan kepala nya lebih dalam ke ceruk leher Lin Cong Zi yang di penuhi harum dari tanaman herbal yang sangat menenangkan.


Lin Cong Zi terdiam dan tidak mengeluarkan protes, melainkan menepuk nepuk punggung nya dengan pelan seolah olah sedang menenangkan anak kecil dan dia merasa nyaman dengan itu.


Dia melepaskan pelukan nya dan berjalan ke dekat kasur lalu duduk dan berbaring di kasur nya yang nyaman.


"Saudari Lin, menurut mu apa kah aku bisa memenangkan pertandingan ?" Tanya nya dengan penasaran.


"Kamu pasti bisa melakukan itu, masih ada satu minggu untuk penyisihan babak ketiga dan semi final, belum lagi pertandingan akhir yang mungkin akan di selenggarakan 10 hari lagi, selama kamu berlatih dengan giat maka aku yakin kamu pasti bisa mendapat kan tingkat kultivasi yang sangat tinggi. " Ucap Lin Cong Zi memberikan semangat.


Tok Tok


Dia berjalan ke arah pintu dan membuka nya hanya untuk melihat wajah Tetua Liu.


"Ada apa Tetua Liu ?" Tanya nya dengan bingung.


"Fenghuang, Ketua Sekte secara pribadi menyuruh ku untuk menyewa satu kamar lagi untuk mu. Ini adalah kunci kamar nya, hanya berbeda beberapa kamar dari sini. " Ucap Tetua Liu menyerah kan pada nya sebuah kunci dan langsung lari.


"Kau harus menerima itu atau ketua sekte akan mencari masalah dengan ku !" Teriak Tetua Liu dari kejauhan, sedang kan dia masih terpaku di depan pintu.


"Wah, tampak nya ketua sekte sangat perhatian pada mu. Sana , coba lihat kamar baru mu atau nanti Ketua Sekte akan membuat perhitungan dengan Tetua Liu yang sudah tua. " Ucap Lin Cong Zi sambil cekikikan.


Dia menepuk bahu Lin Cong Zi dengan wajah datar.

__ADS_1


"Jangan berpikiran yang macam macam, jangan anggap aku tidak tahu sedang segudang pikiran liar mu itu, Saudari Lin. " Ucap nya dengan nada menyindir.


Lin Cong Zi ini memang memiliki kemampuan yang unik dan tidak bisa di bilang kemampuan buruk tapi tidak bisa di bilang kemampuan baik juga.


Lin Cong Zi ini adalah seseorang yang berpikiran liar dan segudang pikiran kotor lain nya sehingga sangat baik dalam menulis cerita.


Sudah belasan naskah cerita pendek yang di tulis oleh Lin Cong Zi di kirim kan ke rumah bordil dan menjadi favorit pelanggan di sana.


Bahkan, dia yang dulu nya adalah seorang penulis masih merasa terkagum kagum dengan otak Lin Cong Zi dalam menulis bagian bagian 'sensitif'


"He he, Saudari Xue memang tahu apa yang ku pikir kan. Sudah lah, sana pergi, akhir nya aku menikmati satu ruangan penuh. " Ucap Lin Cong Zi dengan senyum puas.


"Ck, bahkan kamar mu di sekte 3 kali lebih luas dari pada ini, jangan banyak alasan. Selamat tinggal, aku akan pergi ke kamar satu lagi. " Ucap nya , dia menutup pintu dengan pelan pelan.


Dia yakin kalau apa yang di lakukan Lin Cong Zi tadi adalah cara untuk wanita itu menutupi kesedihan nya.


"Apa yang kau pikir kan ?" Gumam nya sambil menepuk kepala nya dengan pelan dan berjalan ke salah satu kamar sebelum membuka ruangan nya.


Dia terkejut karena ruangan ini jauh lebih besar dari kamar nya yang sebelum nya, ruangan ini bahkan hampir sama luas nya dengan milik Ketua Sekte. Dia berjalan ke arah balkon dan membuka hanya untuk melihat langit yang mulai menggelap.


Saat memandang bulan, dia mengingat salah satu lirik dari puisi yang pernah di dengar nya dari salah satu pedagang pasar.


Meski pun dia tidak mengerti apa arti nya tapi dia merasa kalau ini cukup menarik.


Dari paviliun seseorang melihat matahari terbenam di belakang gunung,


Tanpa henti ke arah laut, Sungai Kuning mengalir;


Untuk melihat ribuan mil lebih jauh,

__ADS_1


Ke tingkat yang lebih tinggi harus pergi.


(Penyair Dinasti Tang, Wang Zhihuan (688 - 742 CE) menulis ayat lima karakter ini setelah dia naik ke atas Paviliun Bangau, sebuah paviliun di Provinsi Shanxi hari ini yang oleh banyak penyair dari dinasti Tang telah mencurahkan hati mereka. Puisi menggambarkan pengalaman penyair pendakian Pavilion Bangau, dan sementara itu membawa denotasi yang menggembirakan bahwa orang yang bekerja keras dapat mencapai hasil yang lebih baik.)


Suasana menjadi hidup hanya karena dia menatap ke arah bawah balkon yang merupakan pasar, senyum nya mengembang kala melihat interaksi yang benar benar hidup di antara semua orang.


Dia berharap menjadi salah satu di antara mereka, di mana dia bisa berinteraksi dengan semesti nya seperti semua orang.


Dia mengulur kan tangan nya sebelum menghentikan tangan nya.


"Itu tampak sangat dekat dengan ku tapi tidak dapat ku gapai, seperti melihat berlian yang jatuh ke dalam lautan api. " Gumam nya.


"Bulan indah, tangisan phoenix terdengar, waktu yang tepat untuk pembunuhan, di mana darah mengalir membasahi jalanan, kematian menghampiri, air mata berjatuhan tanpa dapat di tahan, kesedihan menyebar luas bagaikan udara. " Ucap nya sambil bersenandung pelan.


Tepat di akhir kalimat nya, pembunuhan terjadi di bagian bawah balkon nya, di mana dia orang saling membunuh satu sama lain.


"Darah mengalir bagaikan anak sungai, kesombongan menular bagaikan wabah, kejahatan menyebar layaknya angin yang berhembus, keserakahan mengendalikan seseorang. " Ucap nya sambil menatap ke bawah tanpa mengubah sedikit pun ekspresi nya.


Puluhan orang saling membunuh karena keserakahan dan kesombongan, sama seperti lirik yang dia ucap kan.


Suara tangisan phoenix terdengar, bulan yang bersinar dengan sempurna menjadi saksi mata malam berdarah ini.


Banyak warga yang di bunuh karena melihat sekelompok orang yang menggunakan pakaian mewah. Mereka berharap untuk mendapat salah satu perhiasan yang menempel di pakaian pria yang dia ketahui sebagai preman tempat ini.


"Kematian tidak dapat di hindari, tapi kejahatan bahkan lebih buruk. Hati yang jahat tidak dapat ditahan dengan cara apa pun, hanya kematian yang menunggu. " Ucap nya sambil setengah bernyanyi.


Tidak ada yang benar benar tahu kenapa orang orang menjadi sangat agresif dan saling menyerang satu sama lain yang membuat banyak keributan di jalan kota tersebut.


Bonus Like 11 k : 1 / 3

__ADS_1


__ADS_2