Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
209. Melatih Murid Kecil


__ADS_3

"Dulu, aku sangat menghormati Ketiga Klan. Tapi setelah mengetahui ini, aku sadar jika tidak ada yang bisa benar benar adil. " Ucap Long Tian Tang.


"Yang ayah katakan adalah kebenaran, tidak ada yang bisa menjadi adil. Orang orang hanya memperhitungkan hal buruk yang dilakukan seseorang, tanpa peduli kebaikan yang telah dibuat oleh orang itu. " Gumam Yuanzheng Yuwen dengan tatapan kosong.


Jika ingin berbicara tentang keadilan, maka dia akan menjadi orang yang pertama untuk menentang itu. Tidak ada yang namanya keadilan di dunia ini, semuanya tentang yang kuat memakan yang lemah.


Dia ingat ketika dirinya menjadi buronan dan dipukuli ketika masih kecil. Dia bergabung dengan kelompok pengemis dan untuk mendapatkan sebuah makanan pun harus bertarung dengan kelompok pengemis lainnya.


Mereka saling menindas, semua harapannya ketika mendengar Kelompok Pengemis adalah kelompok yang adil pada anggotanya sudah sirna.


Setelah kedua orang tuanya meninggal, dia masuk ke dalam bekuan es dan membeku selama ratusan tahun lalu berlari ke dimensi lain untuk menjadi pengemis.


Dia memejamkan mata nya sekali lagi ketika mengingat kenangan yang sudah lama di kubur olehnya ini.


"Aku akan melihat Fenghuang. " Ucap nya.


"Tidak perlu, berikan waktu padanya. Biarkan dirinya untuk tenang terlebih dahulu. " Ucap Long Tian Tang sambil menahan tangannya.


"Tadi dia memberikan ku ini. " Ucap Long Tian Tang lagi sambil menyerahkan sebuah cincin ruang padanya.


Dia kembali duduk dan berpikir kalau kata kata ayahnya benar, lebih baik untuk memberikan waktu pada Fenghuang.


Dia duduk dan memeriksa isi dari cincin ruang tersebut dengan ekspresi serius.


Sedangkan di sisi lain, Xue Fenghuang sudah mengganti pakaiannya yang menjadi berantakan karena kemarahannya.


Meja, cangkir, kursi yang sebelumnya telah hancur sudah kembali seperti semula. Dia menatap dirinya sendiri di cermin dan menarik bibirnya ke atas.


"Aku seharusnya selalu seperti ini, aku adalah orang yang bahagia. " Ucap nya sambil menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia berjalan keluar sambil bersenandung kecil, seolah olah ini adalah hari yang sangat baik. Dia tentu saja tidak berjalan tanpa tujuan.


Jika tidak, kenapa dia menggunakan pakaian pria saat ini ? Dia saat ini sedang ingin pergi melatih Xue Hongli dalam berpedang.


Akan sangat buruk baginya untuk menjadi seorang Shifu apabila tidak mengajarkan sesuatu pada muridnya sendiri melainkan meminta orang lain untuk mengajari murid kecilnya.


Pakaian pria sangat nyaman apabila digunakan untuk bertarung, lebih nyaman untuk mengangkat kaki karena menggunakan celana panjang.


Berbeda dengan pakaian wanita yang tebal dan berat, belum lagi itu adalah bentuk gaun dan ada selendang selendang tipis yang di kaitkan pada lengan.


Akan sangat tidak nyaman untuk menggunakannya ketika sedang bertarung dengan orang banyak.


(Pakaian yang dimaksud ini adalah pakaian yang ada di Dinasti Tang, bisa langsung search di Go*gle )


Dia berjalan menuju tempat Xue Hongli dan melihat anak itu sedang berlatih pedang.


"Kaki kananmu kurang maju, lengkungkan tubuh mu ke depan. Putar pedang mu sedikit lebih cepat. "Ucap nya dari belakang.


"Putar kaki kirimu, seimbangkan berat tubuhmu pada kaki kiri. Kirim Qi pada telapak tangan mu dan dorong Qi pada pedangmu. "


"Tekuk kan kaki kanan mu dan ayunkan pedangmu ke bawah dengan penuh tenaga lalu putar kaki kanan mu. Meloncatlah ke kiri lalu lakukan gerakan memutar dengan sekuat tenaga. Ayunkan pedangmu ke atas dengan pelan. " Dia memberikan perintah pada Xue Hongli yang membuat serangan anak laki laki itu menjadi lebih baik.


Tidak lama, Xue Hongli berhasil mempraktekkan gerakan pertama dari seni bela diri yang di berikan olehnya.


"Bagus, kamu sangat baik hanya saja ada sedikit kesulitan. Ambil air minum ini dan mulailah berlatih lagi. " Ucap nya dengan lembut tapi tegas.


Dia mengeluarkan tabung bambu yang berisikan air putih segar , dengan cepat Xue Hongli meminum air itu sampai habis dalam satu tegukan.


"Terima kasih Shifu karena telah mengajariku. " Ucap Xue Hongli sambil berlutut.

__ADS_1


"Ayo berdiri, aku akan menguji sejauh mana pemahaman mu pada gerakan pertama. " Ucap nya.


Dia mengeluarkan Bing Yue tapi tidak mengeluarkan Bing Yue dari sarungnya sehingga menjadi senjata yang tidak berbahaya.


Xue Hongli tidak berani membantah dan segera memungut pedangnya kembali, Xue Hongli langsung memulai serangannya.


Dia menahan serangan itu dengan tenang dan tidak menggunakan kekuatan, tabrakan antar kedua besi membuat irama yang merdu.


Burung burung datang untuk menonton pertandingan mereka. Semua serangan yang diberikan oleh Xue Hongli di tepis dengan mudah.


"Tegakkan kedua bahumu, tekan lebih banyak kekuatan pada telapak tanganmu. Dorong kaki mu untuk lebih kuat. Putar pedangmu lebih cepat lagi, kaki mu melangkah di tempat yang salah, itu akan membuatmu lebih mudah terjatuh. " Masukan demi masukan dia berikan pada Xue Hongli sampai akhirnya sarung pedang Bing Yue berada di leher Xue Hongli.


Itu mengunci seluruh gerakan Xue Hongli, dia menurunkan Bing Yue dan menepuk tangannya dengan senyum cerah.


"Selama satu minggu ini , aku akan mengajarimu sebanyak yang aku bisa. Dengan begitu, aku tidak akan pergi dengan penyesalan. " Ucap nya sambil mengelus rambut Xue Hongli.


"Shifu, kata katamu sedikit membingungkan. " Ucap Xue Hongli dengan canggung.


Mendengar ini dia tertawa lantang, dia juga merasa kalau kata kata nya membingungkan, kata katanya seolah olah akan meninggal.


"Lupakan, pokok nya aku melakukan yang terbaik untuk menjadi Shifu mu. Aku takut aku tidak bisa menjadi Shifu yang baik untukmu dan membuatmu jatuh ke dalam suatu lubang. " Ucap nya dengan tatapan sedih.


"Shifu, jangan berkata seperti itu. Aku tidak menyesal karena telah memiliki mu sebagai Shifu. Shifu telah memberiku nyawa, aku tidak berani meminta lebih. " Ucap Xue Hongli.


"Baik, dengan begitu kau harus membalas budi padaku. Berjanjilah padaku di masa depan untuk tidak pergi membalas dendam tanpa sepengetahuan ku. " Ucap nya sambil memeluk Xue Hongli.


Dia begitu ketakutan, kalau kalau Xue Hongli akan pergi membalas dendam pada ayah nya karena kemarahan sesaat.


"Tenang, aku tidak akan melakukan itu. Aku memikirkan semuanya dengan baik dan teliti. Jika di bandingkan dengan dendam ku, kebahagiaan Shifu lebih penting. Nyawa ayahku tidak penting, jika itu bisa membuat Shifu tenang. " Ucap Xue Hongli dengan mantap.

__ADS_1


"Bagus, bagus. Kata kata yang sangat bagus, tunjukkan bahwa kamu adalah muridku. Jadilah kuat di masa depan, karena aku pasti tidak bisa melindungi mu setiap saat. " Ucap nya.


"Pergilah kembali berlatih, aku akan memantau mu dengan ketat untuk satu minggu ini. " Ucap nya dengan tegas.


__ADS_2