Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
164. Jurang Jiwa Kesepian


__ADS_3

3 Hari berlalu


Kekuatan nya akhir nya pulih sepenuh nya. Dia berdiri sambil membereskan sampah makanan nya selama tiga hari ini.


Dia memegang Bing Yue di tangan kanan nya dan bersiap untuk bertarung di Jurang Jiwa Kesepian.


"Tuan Griffin, bagaimana agar aku bisa melewati ini ?" Tanya nya dengan bingung.


"Kau sudah siap ?" Tanya Griffin itu.


"Hm." Dia menjawab dengan singkat, tiba tiba tanah di bawah nya bergetar dan dia melihat sebuah jembatan kayu yang terlihat bagus nampak di tengah tengah jurang.


"Kau tinggal berjalan di jurang ini, waktu di atas jembatan hanya dua jam. Jika lebih dari itu tapi kamu masih belum bisa melewati nya maka kamu akan di telan oleh Jurang Jiwa Kesepian. " Ucap Griffin.


"Berhati hati lah, karena aku bahkan tidak berani untuk melewati nya. " Ucap Griffin.


"Bukan kamu yang membuat nya ?" Tanya nya sedikit terkejut.


"Bukan aku, aku hanya menjaga. " Ucap Griffin itu dengan pelan.


Dia mengangguk paham dan membawa Bing Yue bersama dengan nya, setelah melihat jatuhan batu mulai berhenti.


Baru lah dia bisa melihat sisi tepi jurang yang di penuhi kabut, dia tidak bisa memperkirakan berapa dalam jurang tersebut.


"Tuan Griffin, apa kah di sini ada serangan tiba tiba ? Apa kah membutuhkan pedang ?" Tanya nya dengan tenang.


"Tidak perlu, pedang tidak akan membantu mu. Lebih baik simpan di bandingkan jatuh ke dalam jurang, aku tidak akan mengganti rugi apa bila senjata mu hilang. "Ucap Griffin itu dengan dingin.


Dia mengangguk dan menyimpan Bing Yue, dia menarik nafas dalam dalam sebelum berjalan ke jembatan dengan pelan pelan.


Jembatan itu tampak sangat mantap, seolah olah di buat dari batu dan bukan dari kayu. Dia berjalan ke depan dan dia merasa diri nya menjadi lebih mengantuk di setiap saat nya.


Ketika dia memejamkan mata lalu membuka mata nya kembali, yang di lihat nya sudah berbeda. Yang di lihat nya adalah kehancuran Kekaisaran nya.


Sebuah pedang yang tidak di ketahui di berikan di tangan nya.


"Bunuh mereka, bunuh musuh mu. Selamat kan keluarga mu !" Bisikan itu tampak semakin mengencang.

__ADS_1


Dia tetap berdiri di tempat nya dengan wajah dingin , dia membuang pedang itu ke tanah dan berjalan ke depan.


Tidak terlalu dekat dengan panggung tapi bisa melihat dengan jelas bagaimana ayah nya akan di penggal oleh Qin Yue.


Meski pun sebelum nya dia sudah memiliki gambaran, tetapi melihat nya langsung masih membuat nya merasa sakit.


Dia melihat tawa Jing Luyan yang sangat puas, tangan nya mengepal sebelum kembali mengendur lagi. Dia duduk di salah satu atap dan menyaksikan itu.


"Yang terjadi biarlah terjadi, ini adalah ingatan semata. Jiwa ayah ku tidak akan kembali lagi. Jing Luyan, aku akan mencari mu lagi di kehidupan selanjut nya. " Ucap nya dengan dingin.


Lalu dia melihat diri nya yang saat itu datang dengan wajah marah dan menghancurkan tempat itu menjadi ribuan keping.


Tidak ada ekspresi apa pun di wajah nya ketika melihat Xue Fenghuang yang datang untuk menghancurkan semua nya dan menyiksa Jing Luyan.


Dia mengulurkan tangan nya pada Xue Fenghuang yang marah.


"Diri ku yang dulu sudah sejak lama hilang. " Gumam nya dengan ringan.


Tiba tiba, kesadaran nya kembali ke Jurang Jiwa Kesepian. Dia kembali berjalan, berjalan melewati salah satu bagian jembatan.


Sekarang dia berada di tengah dan kabut itu kembali menelan kesadaran nya, kali ini adalah kehancuran Sekte Biru Es.


Dia melihat Sekte Api Abadi dan Sekte Jari Surgawi yang bekerja sama dan berbaur dengan murid murid tiga klan.


"Ternyata ada yang tidak ku ketahui, jika aku bisa lewat dari sini maka aku sendiri yang akan membuat kalian merangkak seperti anjing !" Ucap nya dengan dingin.


Dia melihat diri nya yang pada saat itu bertarung mati matian, dia melihat diri nya yang sedang berulang tahun harus melawan banyak musuh.


"3 Klan Besar, Sekte Api Abadi, Sekte Jari Surgawi, aku sendiri yang akan menyelesaikan kalian !" Ucap nya.


Dia untuk sekali lagi melempar pedang itu tanpa berniat untuk ikut campur dengan kerumunan itu.


"Apa kau benar benar tidak ingin menyelamatkan keluarga mu ? Dengan pedang itu kau bisa menyelamatkan nya !" Ucap suara di belakang nya.


"Tidak perlu, karena aku sudah menyelesaikan nya. " Ucap nya dengan ringan.


Dia menunggu sampai perang selesai dengan wajah bosan, rasa nya begitu aneh melihat diri nya sendiri sedang bertempur sedangkan dia sendiri sedang duduk di atas atap

__ADS_1


Setelah perang selesai dia kembali ke keadaan sebelum nya, dia melangkah lagi dan kali ini sudah bisa melihat tepi jurang yang lain.


Kesadaran nya kembali di rebut, kali ini dia diberi pisau oleh Jurang Jiwa Kesepian. Dia di kelilingi oleh semua orang yang dia sayang.


Mereka menatap nya dengan tatapan kosong dan pisau di tangan mereka, dia menatap dengan tenang dan membuang pisau itu untuk sekali lagi.


"Kalian semua ingin menusuk ku , bukan ?" Tanya nya dengan tenang.


"Kemarilah, jangan sungkan. Anggap ini adalah bayaran ku karena tidak sanggup menjaga kalian. " Ucap nya dengan ringan.


Semua orang mulai berjalan dengan kaku.


Creshh


Satu pisau menancap di lengan kiri nya.


Cresssh


Satu pisau lain nya menancap di dada kanan nya.


Dia tidak menunjuk kan ekspresi apa pun, dan ada sedikit cahaya yang tidak bisa di jelaskan di dalam mata nya.


Cahaya itu tampak seperti sebuah kebahagiaan, kebahagiaan yang tidak dapat di jelaskan dengan kata kata.


Dalam sekejap, dia bisa merasakan seluruh tubuh nya di penuhi dengan pisau. Jantung nya terasa berhenti berdetak.


Tapi dia tetap memaksakan diri untuk tetap tersenyum dan tersenyum, dia berjalan ke depan dengan tertatih tatih.


Dia memeluk mereka satu persatu dan yang terakhir adalah Qin Yue.


"Jie, maafkan aku yang sebelum nya. " Bisik nya sambil membenamkan wajah nya di pelukan Qin Yue yang terasa dingin.


"Meskipun tahu ini adalah sebuah ilusi, aku masih ingin meminta maaf pada kalian semua. " Ucap nya dengan ringan sambil tersenyum sedih.


Perlahan lahan, kesadaran nya hilang dan yang di rasakan nya hanya lah kegelapan tanpa dasar. Hampir sama dengan perasaan ketika kematian nya.


Dia merasa diri nya sendiri jatuh dari tebing yang sangat tinggi menuju jurang tanpa batas, dia tersenyum sedih sebelum memejamkan mata nya dengan erat.

__ADS_1


Bonus Chapter : 1 / 2


__ADS_2