Penerus Dewi Kematian (Series 2)

Penerus Dewi Kematian (Series 2)
158. Dimensi Diyu


__ADS_3

Keesokan hari nya,


Yun Sichou pergi dari penginapan meskipun waktu menginap nya belum habis. Dengan pakaian nya yang serba hitam, di tambah dengan topi bambu.


Membuat nya tampak seperti seseorang yang terpelajar dan membuat semua orang segan dengan diri nya.


(Note : untuk saat ini Xue Fenghuang akan menggunakan nama Yun Sichou. )


Dia berjalan menuju pintu Antar Dimensi dan melihat ada seorang penjaga.


"Tuan, aku ingin pergi menuju Dimensi Diyu. " Ucap nya dengan ringan.


Suara nya lembut, tapi tidak meninggalkan kesan manja. Lebih ke arah lembut seperti air tapi tegas.


"Dimensi Diyu ? Selama 100 tahun belakangan ini tidak ada yang ingin pergi ke sana. Apa kau yakin untuk pergi ke sana ?" Tanya pria tua itu.


"Tentu, kenapa tidak. Berapa biaya yang harus ku bayar untuk sekali jalan ?" Tanya nya.


"120 Kristal Roh tingkat Rendah. " Ucap pria tua itu.


Dia menyerahkan sekantung Kristal Roh dan pria itu mengecek nya sebelum membacakan sebuah formasi di depan pintu antar dimensi.


Setelah beberapa saat, pria tua itu membuka pintu antar dimensi.


"Masuklah, persiapkan diri mu. Pintu Antar Dimensi di Dimensi Diyu selalu berpindah pindah. Tidak menutup kemungkinan untuk keluar di tengah sarang monster. " Ucap pria tua itu.


"Terima kasih atas peringatan nya. " Ucap nya sebelum melangkah dengan mantap ke dalam pintu antar dimensi.


Di dalam pintu antar dimensi, dia merasa diri nya di bawa maju ke depan, ke terowongan tanpa ujung. Kepala nya sedikit pusing meski pun ini bukan kali pertama bagi nya.


30 menit kemudian, dia mengeluarkan pedang nya. Untuk berjaga jaga apa bila dia sudah akan sampai. Tidak ada yang tahu pasti berapa lama perjalanan dari Dimensi lain ke Dimensi Diyu.


Seperti yang pria tua itu katakan, pintu antar dimensi di Dimensi Diyu selalu berubah rubah posisi. Sehingga jarak nya pun menjadi tidak tentu.


1 Jam kemudian

__ADS_1


Dia sudah merasa kaki nya terasa keram karena berdiri terlalu lama, dia menunggu dan menunggu sampai akhir nya dia bisa melihat ujung terowongan.


Begitu sudah dekat, dia langsung melompat keluar, dia sudah bersiap kalau kalau dia berada di sarang monster.


Begitu dia bisa melihat sekeliling nya, yang di lihat nya hanya lah matahari yang terik dan padang gurun yang luas.


Tangan nya yang masih memegang senjata paman nya yang berwarna hitam pekat, begitu mengkilat saat terkena sinar matahari.


Dia berjalan tanpa menyimpan pedang nya, berjalan dengan hati hati. Tidak ada tanda kehidupan di padang gurun yang luas dan panjang ini.


Dia berjalan tanpa menurunkan kewaspadaan nya, setelah berjalan lebih dari satu jam. Tidak ada yang bisa di temukan oleh nya.


Lalu, dia melihat ada tetesan darah hitam di padang gurun. Dia berjongkok dan mengamati nya.


"Darah monster..... " Dia bergumam dan melihat sekeliling nya.


Ada nya darah monster di sini berarti ada nya monster yang terluka di dekat sini. Di lihat dari darah yang belum mengering di bawah terik nya sinar matahari.


Dia terus berjalan lagi ke depan, tapi masih belum bisa menemukan apa pun. Dia menyeka keringat yang mengalir dari pelipis nya.


Di sini, panas nya mungkin melebihi 45°C. Jika ini adalah masa lalu, maka beberapa pendingin tidak akan cukup.


Apalagi ini tidak ada pendingin, bahkan dengan pakaian yang tebal dia masih bisa merasakan sinar matahari langsung menerpa tubuh nya.


"Aih, kemana aku harus pergi ? Di sini sangat panas, tidak ada pohon atau semacam nya. Kata buku yang ku baca di kehidupan lalu, kalau di padang gurun seharus nya ada kaktus bukan ? Kenapa aku tidak melihat satu pun ? Apa kah pada zaman ini kaktus di makan oleh para monster yang kelaparan ?" Gumam nya dengan bingung.


Dia mengambil satu guci arak, dia sudah menyiapkan makanan untuk sebulan dan minuman yang sangat banyak bahkan sampai dua cincin ruang yang berukuran 3 x 3 meter.


Lagi pula, tidak makan selama beberapa bulan tidak masalah juga. Dia sudah pernah merasakan bagaimana tidak makan selama 5 bulan.


Dia yang hampir putus asa dan kehilangan semangat melihat sebuah pasir hidup di depan nya yang sedang menghisap beberapa monster.


Monster langsung memberontak, dan dia akhir nya tahu kenapa para monster menghilang, ternyata penyebab nya adalah pasir hidup ini.


Dia terlambat menyadari bahwa pasir hidup yang menghisap mahkluk hidup itu bergerak ke arah nya, ketika dia menyadari nya, itu sudah terlambat.

__ADS_1


Dia terkejut ketika merasa kalau pijakan di bawah nya melunak dan dia langsung jatuh ke dalam tanpa sempat berteriak.


Dia terhisap di tengah tengah pasir itu, satu hal yang di pertahankan nya mati matian adalah pedang milik paman nya.


Tanpa pedang maka dia bukan lah apa apa, di tambah lagi pedang milik nya yang Pedang Jiwa Es memiliki beberapa retakan halus sehingga tidak akan bertahan lama.


Dia tidak bisa melihat dengan jelas, meski pun pasir tidak masuk ke dalam mata nya berkat bantuan topi bambu serta cadar yang tertempel di topi bambu.


Pandangan nya menggelap sebelum akhir nya tubuh nya benar benar jatuh dan terbanting ke tanah dengan bunyi,


Bummm.


Dia duduk sambil mengeluh dan memberikan sumpah serapah saat pinggang nya menghantam tanah yang keras dan lembab.


"Sialan, apa apaan ini ? Dasar bajingan !" Dia terus mengumpat saat pinggang nya terasa sakit karena menghantam batu.


Dia membenarkan kain tipis di sekitar topi bambu nya yang terlipat. Yun Sichou mendengus sebelum berdiri dan memandang sekitar.


Dia tidak bisa melihat ada nya satu monster pun di dalam sini, yang bisa di lihat nya hanya lah ruang batu yang gelap dan lembab.


Tidak baik untuk menghidupkan obor di sini, karena selain membuat udara berkurang, juga mungkin menarik monster yang tidak di ingin kan.


Monster selalu tertarik pada api entah sejauh apa pun api itu berada, dia sendiri sudah pernah membuktikan nya.


"Di sini sangat gelap, tidak ada petunjuk apa pun. Ini benar benar membuat ku pusing. " Dia mengeluh sambil melihat sekeliling nya dengan tatapan waspada.


Tiba tiba dia merasa tubuh nya terhenyak ke depan , dia segera melihat sekeliling nya dengan waspada sebelum sebuah suara mengejutkan nya.


"Lama tidak bertemu, aku telah tertidur terlalu lama. " Ucap suara wanita dari belakang nya.


Dia langsung menoleh dan melihat sosok yang telah di tunggu nya selama ini.


Bonus Like 23 k : 3 / 3


note : belakangan ini kok comment nya sepi ya.

__ADS_1


__ADS_2