
FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN
@n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)
***MAKASIHHH...
**************************************************************************************
Malam harinya Jessica pergi menemui Kris bersama Yoga, kebetulan Yoga baru saja pulang dari luar kota dan langsung menemani Jessi.
Yoga yang awalnya akan lama di luar kota memutuskan untuk pulang dan menyerahkan pekerjaanya pada orang kepercayaannya karena khawatir dengan Jessi. Yoga khawatir Jessi berbuat yang aneh-aneh.
“Selamat datang, nona muda, tuan muda.” Kris menyambut kedatangan Jessi dan Yoga dengan senyum lebar.
“Dari senyummu sepertinya kau menyelesaikan pekerjaanmu dengan baik, Kris.”
“Tentu saja, nona. Mari saya antar.” Kris memandu Jessi dan Yoga ke ruangan rahasia.
Yoga yang baru pertama kali masuk ke markas besar ayah mertuanya itu di buat takjub dengan ruangan per ruangan yang mereka lalui. Ruangan bawah tanah yang di bangun dengan keamanan tinggi dan juga pondasi yang kuat.
“Sayang.. apa Daddy seorang gangster?” tanya Yoga.
Jessi terkikik mendengar pertanyaan sang suami. “Bukannya kau lebih tau dari aku..” jawab Jessi.
“Iya juga sih.”
Kris membuka pintu dengan telapak tangannya. Pintu ruangan itu hanya terbuka jika Kris menghadapkan telapak tangannya pada sensor layar.
“Silahkan, nona.” Kata Kris sopan.
Jessi dan Yoga masuk ke dalam ruangan. Jessi sudah tidak sabar melihat siapa dalang di balik masalah Celia.
“Kau.. bukankah kau manajer Celia?” Jessi ternganga. Jadi, pelakukanya manajer Celia bukan Yulia?
Perempuan yang kini di ikat kaki dan tangannya itu masih bersikap arogan melihat Jessi.
“Jadi kau yang menyuruh orang-orang itu untuk menangkap ku?Hahaha.. percuma, lagi pula karir Celia sudah hancur.” Perempuan itu tertawa keras tidak merasakan takut pada Jessi. Sedangkan Jessi mencebik santai. “Lalu?” Tanya Jessi sambil duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Kris.
“Celia sudah kalah..” celutuk perempuan itu.
“Meskipun Celia kalah bukan berarti lo menang.” Balas Jessi tersenyum mengejek menjeda ucapannya, “Mau aku beri tahu sesuatu, aku sudah membalik keadaan.” Ucap Jessi penuh penekananan.
Yoga menonton apa yang di lalukan sang istri sambil bermain game. Dia mempercayakan semuanya pada sang istri.
Perempuan itu bertanya tanya apa yang di maksud Jessi membalik keadaan.
__ADS_1
“Beri tau dia Kris.” Jessi memberi Kris perintah.
Kris menangguk dan mendekati perempuan itu sambil menunjukan video prostitusi yang di lakukan perempuan itu.
“Sekali gue sebar hidup lo hancur lebur tak tersisa, keluarga lo bakalan malu seumur hidup.” Kata Jessi santai. “Yah, kalau sudah begitu sudah jelas sih, siapa yang menang antara lo sama Celia hehe.” Jessi tertawa puas melihat perempuan itu pucat pasi. Wajahnya tak se arogan saat bercakap-cakap.
“Aku-aku mohon jangan sebarkan itu, a-aku akan ceritakan semuanya.” Dia memohon pada Jessica dengan mengiba.
“Untuk apa aku mendengarkan permohonanmu, kenapa aku harus mendengarkan mu?” Jessi berucap kembali dengan kata aku dan kamu yang berarti emosinya sedikit stabil.
“Bukan aku dalang nya.” Perempuan itu berusaha jujur pada Jessica.
“Tapi kau yang mengunggahnya.” Sela Jessi.
“Aku hanya mengunggah tapi itu perintah.” Jawab perempuan itu.
“Kris..”
“Baik, nona.” Kris maju mendekati perempuan itu menjambak perempuan itu dengan keras.
“Argghh, bukan aku.. sakit hentikan.” Dia merasakan rambutnya di tarik keras namun tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya masih terikat. “Tolong, aku berbicara yang sesungguhnya.”
Kris menatap Jessi dan Jessi pun menganggukan kepalanya. Lalu, Kris mundur beberapa langkah menjauh dari perempuan itu.
“Katakan...” Jessi mendengarkan dengan seksama apa yang di ceritakan perempuan itu.
“Kau juga ingin menjatuhkan Celia, bukan?” Tebak Jessi. “Lalu kalian bekerja sama?”
Perempuan itu menganggukan kepalanya. “Ya, aku membenci dia. Karena dia merebut lelaki yang aku cintai.”
“Oo.. siapa lelaki itu?” Tidak ada yang Jessi tidak tau perihal lelaki yang dekat dengan sahabat-sahabatnya.
“Radit..”
“Huahahaha,” Jessi tertawa menggelegar mendengar jawaban perempuan itu.
“Sayang, pelankan suaramu..” tegur Yoga.
“Hehe, maaf mas. Habis dia lucu.” Jessi menutup mulutnya kecil kemudian kembali tertawa. “Kau suka dengan kak Radit, tapi kenapa mendukung Yulia dengan Radit?” Tanya Jessi heran.
“Aku akan menyingkirkan Yulia setelah Celia tersingkir.” Jawab perempuan itu.
“Woah, sakit jiwa dia.” Jessi geleng-geleng kepala. Lalu, terdiam sejenak. Dan, kemudian berdiri. “Cukup untuk hari ini, Kris awasi dia.” Titahnya pada Kris.
“Baik, nona.”
__ADS_1
“Ayo, mas.” Merengek mengajak Yoga untuk meninggalkan tempat itu.
Di dalam mobil, Jessi termenung.
“Kenapa, Hm?” Yoga yang fokus pada kemudinya melirik Jessi sekilas dan bertanya.
“Aku lagi mikir, mas.” Jawab Jessi.
“Mikirin apa sih sayang?Aku jadi sedih nih, bisa-bisanya kamu mikirin hal lain padahal aku lagi di samping kamu, huhu.” Yoga berakting sedih di samping Jessi.
Puk.. satu timpukan manja akhirnya mendarat di pundak Yoga. “Nggak usah Lebay, serius tau mas.”
“Iya, iya, lagi kangen nggak di sayang-sayang malah di timpuk.” Gerutu Yoga.
“Teros Lebay aja terosss,” sindir Jessi pada suaminya yang manja.
“Emang kamu nggak kangen sama aku, Jess? Suami kamu yang tampan ini lho, yang dulu kamu kejar-kejar sekuat tenaga?” Yoga menggoda Jessi sambil mentoel dagu Jessi.
“Hisss, itu ‘kan dulu. Nyatanya sekarang malah mas yang ngejar-ngejar aku tuh.” Jessi boleh berbangga diri karena pada kenyataanya sekarang Yoga lah yang menjadi budak cinta diantara mereka.
“Asem, mas kalah dong sayang..”
“Nggak dong, kita sama-sama menang. Mas menangin hati aku, aku menangin cintanya, mas.”
“Utututu tayang..”
“Hiii.. gelay tau nggak mas bilang gitu.” Jessi begidik ngeri mendengar Yoga berucap Lebay.
“Wkwk, habis gimana kamu gemesin gitu. Kita pulang ke apartemen bentar yuk, Jes.” Ajak Yoga.
“Ke apartemen, mau ngapain?” bukankah Yoga sudah sepakat untuk sementara waktu mereka akan tinggal di green residance. Jangan-jangan? Yoga pasti ingin minta jatah.
“Sebentar aja tapi..” ralat Jessi kemudian yang sudah tau apa kemauan Yoga.
“Itu tergantung servis kamu sayang.” Balas Yoga sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sesuai kemauan Yoga, mereka terpaksa menginap di apartemen karena kemalaman. Jessi yang kelelahan usia menuruti suaminya pun terlelap tanpa sehelai pakaian pun. Sementara Yoga terjaga di tengah malam memikirkan percakapan antara Jessi dan mantan manajer Yoga.
“Sepertinya Radit harus tau.” Yoga turun dari tempat tidur dan memakai kaos oblong serta celana boxer. Dia meraih ponsel tipis keluaran baru apel krowak itu dan mencari kontak Radit di daftar kontak.
“Hallo..” suara serak khas bangun tidur dari seberang terdengar saat Radit mengangkat telepon Yoga.
“Lo dimana?” tanya Yoga.
“Gue dirumah sakit.”
__ADS_1
Iya, Yoga lupa bapak Radit masih di rawat. “Ke aprtemen gue sekarang, ada hal yang perlu gue bahas sama lo. Gue tunggu!” Usai mengucapkan kata perintah yang memaksa Radit untuk mau tidak mau menurutinya itu Yoga mematikan panggilan teleponnya. Dia tidak peduli seberapa kesal Radit saat Yoga menelponnya di jam tengah malam.