
Rumah sakit JIH (Jogja internasional hospital).
Salsa harus menjalani rawat inap di rumah sakit pasca tabrak lari. Selain luka lecet yang paling parah adalah tangan kirinya mengalami patah tulang. Untuk beberapa waktu Salsa mungkin tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Begitulah informasi yang mommy Ayu dapatkan dari dokter yang menangani Salsa.
“Mommy tinggal dulu ya sayang,” pamit Ayu pada Jessi ketika Salsa sudah tertidur efek obat yang di minum Salsa sebelumnya.
“Oke, mom.”
Mommy Ayu berniat mengunjungi beberapa cabang butiknya berlokasi di dua kabupaten di Yogyakarta, yaitu kabupaten Bantul dan Sleman. Paling banyak AA butik ada di Sleman dengan jumlah 3 Cabang dan 1 cabang di Bantul.
Jessi menatap sendu sahabat baiknya yang kini terlelap dengan tangan kiri terbalut gips. Gadis yang kini terbaring di brankar itu nampak semakin kurus dan terlihat lelah, kantung mata Salsa cukup menghitam pertanda gadis itu kurang tidur.
Gue akan selalu ada buat lo, Sa. Meskipun seluruh dunia menjauh dari lo.
Jessi menggenggam tangan Salsa saat tanpa ia sadari air mata mulai menetes di pipinya. Untuk beberapa saat Jessi tidak bisa menahan air mata yang mengalir menganak sungai itu. Melihat Salsa yang terbaring di ranjang pasien itu sungguh menyakitkan bagi Jessi. Jessi sudah menganggap Salsa layaknya saudara kandung, jika Salsa kesakitan Jessi pun akan merasa tersakiti pula.
Tangis Jessi pun berhenti saat ia mendengar suara pintu didorong dari luar, seseorang menyentuh gagang pintu. Jessi menoleh melihat siapa yang datang tanpa suara.
“Kak Jo?” Yang datang si ganteng Jordan. Lelaki itu masuk kedalam kamar rawat inap Salsa dengan menggeret kopernya.
“Dia tidur?”
Jessi mengangguk. “Habis minum obat.”
Jordan berjalan mendekat ke brankar. Deg! Melihat tangan Salsa di balut gips Jordan merasakan nyeri di dadanya.
“Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Entahlah, kak. Yang Jessi tau hanya tabrak lari, pelakunya belum ditemukan.” Jawab Jessi.
Jordan terdiam. Namun, sorot matanya memperhatikan luka di tangan Salsa. “Apa tidurnya nyaman?” Dengan hati-hati Jordan mengangkat tangan kiri Salsa dan meletakannya di atas guling yang sejajar dengan perut Salsa, agar tangan yang terluka itu tidak tertindih.
“Nyaman nggak nyaman, mau bagaimana lagi?”
“Mommy kemana? Kata Daddy mommy juga ikut kesini?”
“Lagi ke butik..Oh, iya!”
“Kenapa?”
“Karena kak Jo disini, tolong jaga Salsa sebentar. Jessi mau ke kosan Salsa ambil baju ganti Salsa dan beberapa perlengkapannya.” Ucap Jessi teringat Salsa belum membawa baju maupun perlengkapan yang lain.
“Jangan lama..”
“Iya, iya.” Menyambar tasnya yang berada di sofa sambil berlalu meninggalkan ruangan itu.
Sekitar lima menit Jessi menunggu taksi online yang ia pesan. Taksi dengan plat AB itu dikendarai oleh pria paruh baya yang sangat sopan. Selain sopan bapak sopir taksi itu juga ramah dan menyenangkan enak di ajak mengobrol dalam perjalananan menuju kos Salsa.
Kosan Salsa terletak di daerah Babarsari. Di Salah satu daerah dengan banyaknya kos eksklusif. Kos Salsa termasuk satu dari sekian banyak kos eksklusif yang ada di Yogyakarta.
Berbekal kunci cadangan yang ia punya, Jessi pun masuk kedalam kamar kos Salsa. Kamar berukuran sekitar 4x5 meter itu terbilang bersih dan tertata rapi barang-barangnya. Didalam nya ada satu springbed single, almari baju, meja belajar mini, televisi led dan kasur lantai.
Jessi menuju almari pakaian dan mengambil beberapa stel baju serta baju dalaman milik Salsa. Ia masukan baju-bahu itu ke dalam koper mini milik Salsa.
__ADS_1
“Seperti mau traveling.” Gumam Jessica terkekeh. Padahal ia akan pergi ke rumah sakit namun membawa koper.
“Astaga.” Melihat dua figura yang ada di atas meja belajar Salsa membuat Jessi menggelengkan kepalanya. Satu figura berisi foto Salsa, Jessi dan Celia. Sementara figura yang satunya berisi foto papa Salsa dan Jordan yang sudah di edit menjadi satu.
Cekrek.. Cekrek.. Dua kali Jessi memotret foto Jordan dan papa Celia. Setelah beberes Jessi langsung memesan taksi online lagi.
Sementara di rumah sakit..
“Kamu ngapain kesini?” Salsa melengos tidak mau menyapa Jordan. Salsa sudah bangun, ia mengambil posisi setengah duduk dengan punggung bersandar brankar yang sudah di naikkan bagian kepalanya.
“Masih marah?”
“Nggak.”
“Sa, harus berapa kali aku katakan aku dan ..”
“Aku tidak mau dengar.”
Jordan menghela nafas panjang. Perempuan di hadapannya itu masih saja keras kepala bahkan disaay kondisinya sedang terluka.
“Baiklah, aku tidak akan membahasnya. Bagaimana kau bisa terluka?”
“Nggak sengaja ke tabrak.”
“Memang kamu anak kecil yang menyebrang jalan tidak pake lihat kanan kiri?” Jordan sudah mendengar kronologi kecelakaan yang menimpa Salsa, secara garis besar Salsa hendak menyebrang jalan saat tanpa sengaja pengendara sepeda motor menabrak gadis itu.
“Nggak lihat.” Jawab Salsa cuek.
“Makan ya, aku yang suapi?” Bujuk Jordan.
“Nggak perlu.”
Lalu Jordan melirik obat di nakas dan memeriksanya. “Obatnya harus di minum setelah makan.” Sambil membaca panduan meminum obat yang sudah di resep kan dokter.
“Kalau kamu nggak makan, gimana mau minum obat?” Mengambil jatah makan Salsa dari rumah sakit dan membuka penutupnya. Jordan menyendok nasi dan lauk lalu diarahkan nya ke mulut Salsa. “Aaaa, buka mulut kamu.”
“Nggak mau.”
“Sedikit saja, lima suapan.”
“Nggak.”
“Tiga suapan nggak papa, yang penting kamu makan.”
“Nggak.”
“Makan atau saya telepon om Damar!” Ancam Jordan. Jordan sangat tau Salsa lemah jika menyangkut papa nya.
“Cih, tukang ngadu.” Sambil membuka mulutnya. Satu suapan akhirnya masuk kedalam mulut Salsa.
Jordan tersenyum penuh kemenangan. Jika tau begini dari awal ia akan membawa nama om Damar agar Salsa menurut.
“Kamu nggak kasih tau papa ‘kan?” Tanya Salsa dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
“Sementara belum.” Jawab Jordan datar.
Salsa melotot pada Jordan.
“Enggak.” Tutur Jordan kemudian.
Setelah lima suapan Salsa menutup mulutnya rapat-rapat. Akhirnya Jordan mengalah, setidaknya Salsa sudah mau makan.
“Aku akan tinggal di Jogja sampai kamu sembuh.” Jordan meletakan kembali peralatan makan di nakas. Lelaki itu lalu mengambil tisu dan membantu Salsa mengelap mulutnya yang belepotan.
“Aku bisa sendiri.” Salsa merebut tisu dari tangan Jordan dengan tangannya yang tidak terluka dan mengelap mulutnya sendiri.
“Aku bilang, aku akan tinggal di Jogja sampai kamu sembuh.” Ulang Jordan.
“Nggak perlu.”
“Ini pemberitahuan bukan penawaran! Aku tidak memerlukan pendapatmu.” Tegas Jordan.
“Serah.”
“Minum.” Menyerahkan segelas air putih.
Salsa meminumnya hingga tandas lalu ia meminum obat yang sudah di siapkan Jordan.
“Aku harap hubungan kita bisa..”
“Selama ada dia diantara kita, jangan mimpi!” Potong Salsa.
“Satu tahun yang lalu, aku-..”
“Kakak ngapain satu tahun yang lalu?” Jessi tuba-tiba datang dan menyahut obrolan Jordan dengan Salsa.
Cih, kenapa anak cepat sekali datangnya?
Jordan membatin dengan kesal. Cepat? Padahal Jessi sudah pergi selama tiga jam lebih, setelah dari kos Salsa, Jessi memutuskan pergi ke rumah yangti dulu.
“Kak?”
“Satu tahun yang lalu aku juga pernah ke serempet motor.” Jawab Jordan ngasal. Lelaki itu beranjak dari duduknya sebelum Jessi mengusirnya.
“Waow, anak manis sudah makan sudah minum obat.” Jessi heran karena setahu dia, Salsa tidak suka makanan rumah sakit, pernah sekali Salsa di opname saat SMA, pada waktu itu Salsa selalu makan makanan dari luar rumah sakit yang dibawakan Celia dan Jessi.
.
.
.
.
Segini dulu guys, Fyi ini hanya sepenggal kisah Salsa dan Jordan. Kisah mereka akan author tulis sendiri di novel baru setelah “Pengacara tampanku” selesai. Disana akan ada cerita dari saat Salsa dan Jordan SMA hingga Naya yang menjadi artis dengan dukungan Jordan.
Bocoran sedikit saat SMA, Salsa dan Jordan sempat pacaran diam-diam.
__ADS_1