Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bayangan Celia


__ADS_3

“Memang kak Radit kenapa, Mas?”


Secangkir teh panas manis Jessica sajikan untuk suaminya yang baru saja selesai membersihkan diri setelah bekerja seharian. Panggilan kak yang semula Jessi sematkan untuk suaminya kini berubah menjadi mas seperti apa yang disarankan aunty Nabila.


“Ketemu Celia dia waktu di Surabaya.” Yoga menyeruput teh manis buatan istrinya itu dengan hati-hati karena masih terlalu panas. “Nah, ini baru pas.” Puji Yoga pada rasa manis yang pas di seduhan teh yang dibuat oleh Jessica.


“Mommy yang ajarin, mas. Jadi Mas Yoga tenang saja, kalau cuman bikin teh panas Jessi ahlinya. Nggak perlu beli di angkringan lagi.” Membusungkan dada nya bangga sudah berhasil membuat teh panas yang pas.


Singkat cerita Jessica sempat kesulitan menyeduh teh dengan rasa manis yang pas dan mereka sering membeli teh panas di angkringan, namun Jessi tidak pernah menyerah. Jessi belajar cara menyeduh teh yang pas dari mommy Ayu agar bisa menyajikan teh panas yang pas untuk suami tercintanya.


“Iya istri cantik ku.”


Blush.. bisa saja pak pengacara Yoga menggombali istrinya. Sepertinya pak Yoga yang cuek dan kaku sudah mencari ya!


“Mas, lanjutin ceritanya.”


“Cerita apa?”


“Itu loh kak Radit sama Celia.” Desak Jessi penasaran.


“Oh, kamu tanya sendiri ke Celia aja. Palingan dia juga cerita sama kamu.”


“Ih kezel deh.” Menipuk Yoga dengan bantal sofa dan meninggalkannya pergi ke kamar.


“Lah, kok ngambek?” Gumam Yoga heran.


**


Sejak pertemuannya dengan Celia di Surabaya perasaan Radit tak beraturan. Lelaki itu terus saja membayangkan Celia berada di sekitarnya. Seperti beberapa saat yang lalu, lelaki itu bahkan mengira pengantar pesanan food online Celia.


“Gila gila gila! Bisa bener-bener gila gue kalau tiap hari bayangan Celia menuhin otak gue.” Radit mengacak rambut nya hingga berantakan. Tindakan refleks darinya saat merasakan kesal. Selain terbiasa mengacak rambutnya Radit juga sering mendumel sendirian saat merasa banyak pikiran.


“Fokus Radit, fokus!”


Percuma kata-kata itu Radit ucapkan jika kenyataanya bayangan wajah cantik Celia menari-nari di benaknya.


Laptop yang semula ia pangku kini ia letakkan di atas meja kaca ruang keluarga. Awalnya Radit berniat menyelesaikan pekerjaanya setelah makan malam namun kenyataanya ia justru tidak bisa fokus pada pekerjaanya dan malah memikirkan Celia.

__ADS_1


Ting tong..


“Lama banget sih sayang.” Protes Yulia saat pintu apartemen terbuka dan munculah Radit di balik pintu. Dua kecupan pun mendarat di pipi kanan dan kiri Radit. Radit tak merespon kecupan Yulia, dia hanya diam dan terbengong.


Bangs*t bahkan Yulia gue kira Celia. Bisa bahaya ini.


“Sayang!!” Panggil Yulia.


“Eh, iya.” Radit merangkul pinggang Celia dan mengajaknya masuk ke dalam rumah, “Kamu tumben kesini?” Tanya Radit kemudian.


“Tumben gimana sayang? Aku ‘kan emang sering kesini.”


Keduanya duduk di sofa panjang dengan Yulia yang menyandarkan kepalanya di bahu Radit.


Ah, iya Yulia ‘kan hampir tiap hari kesini.


“Maksud aku tumben nggak ngabarin?” Beruntung Radit memiliki alasan menjawab Yulia jika tidak bisa kacau urusannya.


“Oh, aku lupa hehe.” Ucap Yulia dengan menampilkan sederet gigi putihnya.


“Dasar kamu.” Mengecup puncak kepala Yulia.


Karena Yulia membawa mobil, Radit mengantar Yulia dengan mobil Yulia. Sementara pulangnya Radit akan naik taksi online.


“Kamu bawa mobil aku saja, yang.” Bujuk Yulia, sudah tiga puluh menit Radit mencari taksi online lewat aplikasi namun tidak ada yang menerima orderan nya. “Aneh banget nggak ada yang nyantol, pada kemana driver nya. Nggak butuh duit apa ya.” Gerutu Radit kesal.


Waktu menunjukan pukul 00:20, sudah dini hari. Radit merasa sungkan dengan tetangga di sekitar komplek rumah Yulia. Meskipun komplek tempat tinggal Yulia termasuk bebas namun Radit tetap merasa sungkan jika bertamu lebih dari tengah malam.


“Atau kamu mau nginep aja kalau nggak mau bawa mobil aku?” Tawar Yulia. Radit menggelengkan kepalanya, “Nggak, besok ada meeting pagi.” Tolaknya halus.


Nampak perasaan kecewa terlihat dari raut wajah Yulia.


Kamu kenapa sih, Dit? Nggak pernah mau nginep di rumah aku.


“Ya udah, semoga bentar lagi nyantol driver nya.” Sudah terbiasa bagi Yulia menyembunyikan kekecewaannya pada Radit.


Sorry, Yul. Gue nggak bisa menuhin harapan lo, karena gue juga belum yakin.

__ADS_1


Bukan Radit tidak bisa melihat kekecewaan di wajah Yulia, namun untuk saat ini pacaran tidak melewati batas masih menjadi prinsip Radit. Meskipun Radit dan Yulia pernah tidur sekamar di apartemen Yoga namun mereka tetap tidur terpisah. Radit di sofa dan Yulia di tempat tidur.


“Itu mobil pesanan kamu?” Menujuk mobil Avanza hitam dengan plat Ab mendekati rumah Yulia dan berhenti di depan rumah. Radit pun melihat mobil itu sekilas dan melihat ponselnya untuk mencocokkan plat nomor dan warna mobil. Cocok, maka berarti itu mobil taksi online yang Radit pesan.


“Aku pulang dulu ya.” Pamitnya pada Yulia.


“Hati-hati di jalan, kabarin kalau udah sampe apartemen.” Di jawab dengan anggukan oleh Radit. Dari dalam mobil Radit nampak melambaikan tangannya dan tersenyum hangat pada Yulia yang juga di balas lambaian tangan oleh Yulia.


Bahkan kamu tidak lagi menciumku saat berpamitan, Dit. Kamu berubah.


Mobil Avanza hitam itu semakin menjauh hingga tak terjangkau lagi keberadaan nya dari pandangan Yulia. Ia pun masuk kedalam rumah .


**


“Asli Jogja ya, mas?” Tanya Radit pada sopir taksi online.


“Iya, mas. Kok tau?”


“Dari platnya kelihatan.” Tak heran Radit hafal plat mobil karena tak jarang juga lelaki itu mendapat tugas kerja di Yogyakarta.


“Iya juga ya. Kebetulan ke Jakarta liburan, mas. Sekalian berkunjung ke rumah pak de. Tadi habis nongkrong di PIM, karena sejalan pulang sekalian cari orderan. Mayan mas buat beli rokok.” Jawab driver itu. Radit menganggukan kepalanya.


“Bagus itu, mas. Mumpung masih muda cari duit yang banyak.”


Ya, sopir taksi online itu jika di lihat-lihat masih berumur 20 tahun an. Sepanjang perjalanan Radit mengobrol dengan si sopir saling bertukar pendapat dari masalah budaya hingga politik.


“Kalau jadi pengacara gajinya berapa, mas?” Tanya pemuda itu penasaran.


Radit tersenyum tipis, mau jujur tapi di kira pamer. Enggak jujur tapi kasihan di kira pelit serba salah.


“Yah, lumayan. Bisa buat bayar utang ortu sampe lunas, bisa buat nyicil aprtemen dan beli mobil.” Jawaban yang dipilih Radit akhirnya. Jawaban tanpa menyebut nominal.


“Saya juga kuliah hukum, mas. Fresh graduate, kira-kira di tempat mas ada lowongan nggak ya mas?” Tanya pemuda itu penasaran. Mungkin pemuda itu tertarik mengais rejeki di ibu kota.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2