Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Kemarahan Bapak


__ADS_3

FOLLOW INSTAGRAM AKU YAH TEMEN-TEMEN


@n.lita.s DI SANA AKU BAKALAN SHARE NOVEL-NOVEL AKU JUGA SPOILER :-)


***MAKASIHHH...


**************************************************************************************


“Sudah berulang kali bapak bilang Yulia itu calon istri yang paling tepat buat kamu, kenapa kamu nggak pernah dengar, Radit ?” Sutomo bertanya sambil memegang dadanya yang terasa nyut-nyutan.


“Sabar, pak.” Ning mengelus lengan suaminya lembut. “Ingat jantung e, Pak. Ibu nggak mau bapak sakit, sabar..”


“Biarin, buk.. Kayaknya Radit malah senang bapak mati.” Kata Sutomo dengan wajah merah padam.


Kepalan tangan Radit semakin kuat. Tidak Yulia tidak Sutomo selalu saja mengancamnya, Radit mulai muak dengan ancaman-ancaman itu.


“Wis pak, ibu yakin Radit pasti introspeksi diri dari kesalahannya, pak. Bapak sudah ya marah-marahnya, ingat kata dokter to, pak. Apa bapak enggak kasian sama ibuk?” Ning membujuk Sutomo agar mengakhiri menekan putra semata wayang mereka.


Sutomo menggelengkan kepalanya, ia pandang Radit dengan angkuh. “Pokonya bapak nggak mau tau, minggu depan kalian nikah!” Tegas Sutomo tidak menginginkan bantahan.


Radit membelalak mendengar ucapan Sutomo. Menikah? Dengan Yulia, pula. Akan jadi apa rumah tangga mereka kelak? “Tapi Radit nggak cinta sama Yulia, pak.” Refleks saja Radit membalas ucapan Sutomo.


“Apa kamu bilang?”


Ning melirik Radit memohon Radit untuk mengiyakan saja namun Radit menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa sudah tidak bisa mengikuti kemauan Sutomo lagi. Radit tidak bisa menyetujui permintaan Sutomo menikah dengan Yulia karena dia tidak lagi mencintai Yulia.


“Radit bilang nggak cinta sama Yulia, pak. Radit nggak akan nikah sama Yulia.”


Suara Radit sedikit bergetar. Untuk pertama kalian nya di hadapan Sutomo, Radit berani mengutarakan keinginannya untuk tidak menikahi Yulia.


“Cinta, cinta.. sekarang kamu bilang cinta. Kemarin-kemarin kamu diam saja saat bapak jodohkan kamu sama Yulia. Baru sekarang kamu bilang nggak cinta, kenapa? Karena si artis itu? Memang apa lebihnya dia dari Yulia? Lagi pula bapak lihat dia itu masih anak kecil, Radit. Bisa apa? Beda sama Yulia yang sudah dewasa pemikirannya lebih bisa di ajak mikir masa depan.” Celoteh Sutomo membandingkan Yulia dan Celia.


Sutomo tidak tau saja jika calon mantu yang di idam-idamkan itu bahkan jauh dari kata dewasa.


“Kenapa diam? Apa yang bapak ucapkan benar ‘kan Radit?” Mendesak Radit untuk menjawab.


“Cukup bapak membanding-bandingkan Yulia dan Celia. Mereka berbeda.”


Sutomo menganggukan kepala. “Baiklah, kalau kamu tidak mau bapak membanding-bandingkan Yulia sama artis itu, kamu harus nikah sama Yulia.” Sutomo tersenyum penuh kemenangan. Seakan ia sudah pasti akan menang dalam perdebatan ini.


“Maaf, pak. Sudah Radit putuskan Radit tidak akan menikahi Yulia. Sore ini Radit akan pergi ke rumah orang tua Yulia untuk memutuskan pertunangan kami.” Radit berucap dengan tegas dan serius. Tidak ada keraguan dalam ucapannya. Bahkan, ning bisa melihat kesungguhan dari ucapan yang Radit lontarkan.


Ning memejamkan matanya sejenak. Semoga semuanya baik-baik saja.


Radit membalik tubuhnya dan melangkah pergi tanpa menunggu reaksi dari Sutomo akan ucapannya.

__ADS_1


“Berhenti kamu Radit!”


Teriak Sutomo memanggil Radit yang tidak diindahkan oleh Radit. Lelaki itu terus melangkahkan kakinya menjauh dari Sutomo dan Ning.


“Maafkan Radit, pak.” Lirih Radit tidak menoleh dan mempercepat langkahnya.


“Radittt, berhenti bapak bilang. Anak durhaka kamu, Radit ..”


Dada Sutomo semakin merasakan sesak, putra semata wayangnya benar-benar berani menantangnya kali ini.


“Pak, bapak kenapa?” Ning panik saat Sutomo menekan keras dada nya dengan telapak tangan sambil mencoba mendudukan dirinya di sofa.


“Durhaka kamu Radit.” Satu kata sebelum Sutomo akhirnya tidak sadarkan diri.


“Pak, bapakkkkkk.” Ning menangis histeris melihat suaminya terkulai lemas tak berdaya di sofa.


Disini lah sekarang Sutomo berada, terbaring lemah di atas brankar rumah sakit elit milik mertua Yoga. Peralatan medis terpasang lengkap di tubuh Sutomo. Lelaki tua keras kepala itu akhirnya mendapat serangan jantung setelah bertengkar dengan sang putra.


Radit dan Ning hanya bisa memandangi Sutomo yang terbaring lemah dari jendela kaca luar ruang ICCU.


“Kamu urus saja urusanmu, nak. Biar ibu yang jaga bapakmu.” Ning menyentuh bahu Radit memberikan kekuatan pada Radit agar tidak goyah dengan niatnya.


“Nggak, buk. Radit akan nunggu bapak disini.” Radit meraih tangan Ning dan menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu.


“Bapak pasti baik-baik saja, buk. Ibuk tenang saja.” Gantian Radit yang menenangkan Ning agar tidak terlalu khawatir dengan keadaan Sutomo.


“Sebentar, buk. Radit angkat telepon dulu.” Ning mengangguk.


Radit menjauh beberapa langkah dari Ning untuk mendapatkan telepon yang mungkin bersifat privasi. Ia lihat layar ponselnya nomer tanpa nama yang memanggil.


“Hallo!”


“Hallo, pak. Saya mau mengabari kalau video itu sudah terhapus semua sebelum kami bertindak, pak.” Sahut seseorang di seberang yang kemungkinan orang suruhan Radit untuk mengurus masalah video yang sempet viral hari lali.


“Baik, saya mengerti. Kalian tetap awasi dia, laporkan setiap gerak geriknya pada saya!” Kata Radit memberi perintah.


“Baik, pak.”


Radit mengakhiri panggilan teleponnya dan termenung sejenak.


“Sudah terhapus? Jessica pasti sudah bergerak lebih dulu.” Batin Radit yakin. Siapa lagi yang mempunyai kekuasaan itu jika bukan keluarga Pratama.


Radit kembali pada Ning dan melihat Yulia beserta keluarganya disana.


“Om, tante.” Radit mencium punggung tangan Dani dan Siti secara bergantian.

__ADS_1


Keduanya memandang Radit sinis namun tidak menolak saat Radit bersikap sopan padanya.


“Ya meskipun kamu sudah menyakiti anak kami, tapi karena Yulia cinta sama kamu, kami bisa apa selain merestui.” Sindir Siti dengan nada tidak bersahabat.


“Mama..” keluh Yulia akan sikap Siti. “Maafin mama ya, Dit.” Yulia mencoba meraih lengan Radit namun Radit menggeser tubuhnya beberapa langkah menjauh. Yulia tentu kecewa dengan sikap Radit. Hal itu pun tak luput dari pandangan Danu dan Siti.


“Kamu nggak usah belagu Radit, sudah untung Yulia masih mau sama kamu.” Ketus Danu. “Kalau bukan karena permintaan Sutomo, saya juga tidak mau lagi meneruskan pertunangan kalian.” Angkuh Danu dengan kepala tegak dan tangan bersedekap di depan dada.


“Bagus kalau begitu, om. Kita batalkan saja pertunangan ini.” Ceplos Radit yang memang sudah berniat membatalkan pertunangan mereka.


Seketika Danu dan Siti melotot. Mereka tidak menyangka Radit akan dengan entengnya berucap seperti itu.


“Jangan macam-macam kamu Radit, kamu mau bapakmu mati karena ulah kamu!” Kata Danu pedas. Radit tersenyum hambar, ia sudah tau seperti apa watak Danu. Dia akan memanfaatkan moment ini untuk mengancam Radit agar segera menikahi Yulia, dia hanya berpura-pura tidak menginginkan Radit menjadi menantunya padahal sangat ingin.


“Iya, sudah salah masih tidak sadar diri.” Sewot Siti.


Radit tidak membalas ucapan keduanya, membalas pun tidak ada gunanya lebih baik diam.


Ning mendekati putranya dan menatap Radit penuh iba. “Tolong, nak. Sabar.” Lirih Ning pada Radit.


“Papa sudah pa,” Yulia menenangkan Danu.


“Om sama tante bisa pulang, jam besuk sudah habis.” Usir Radit pada Danu dan Siti.


“Kamu..” tunjuk Danu geram.


“Pa, ma, benar apa kata Radit. Om Sutomo masih belum bisa di jenguk, kita pulang aja ya..” sebelum pertikaian antara kedua orang tuanya dan Radit semakin menjadi, Yulia menengahi.


“Ya sudah, mama juga tidak betah sama bau obat.” Siti setuju untuk pulang.


“Kami pulang dulu ya, buk.” Yulia pamit pada Ning meskipun kedua orang tuanya sudah lebih dulu pulang tanpa kata.


“Tunggu..” tahan Radit.


Yulia menoleh dan senang Radit menahannya. “Ada apa, Dit?”


“Aku akan mengantarmu.” Tiga kata yang langsung membuat Yulia berjingkrak senang dalam batinnya.


“Radit antar Yulia dulu ya, Bu.” Pamitnya pada Ning.


“Hati-hati, ya, nak.”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2