Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Bab wanita ular


__ADS_3

Selama masa pemulihan Yoga menghabiskan waktunya dengan rebahan di tempat tidur, sesekali membaca buku atau kadang-kadang menonton drama korea. Yoga mendapat rekomendasi beberapa drama korea yang bagus dari Jessi agar lelaki itu tidak merasa bosan selama di apartemen. Namun, rasa bosan tetap saja merasuki Yoga hingga akhirnya lelaki itu memutuskan keluar dari apartemen sekadar mencari udara segar dan berjalan-jalan santai.


"Saya temani ya Den, aden 'kan masih sakit. Kalau Den Yoga menyetir sendiri saya takut nanti saya di tegur sama non Jessi."


Pak Joko menghadang Yoga yang sudah berdiri di depan pintu keluar apartemen. Mau tidak mau Yoga meng-iyakan saja permintaan Pak Joko karena memang jobdesk pak Joko sementara adalah mengawalnya kemanapun. Lagi pula Jessi juga sudah berpesan agar Yoga tidak keluar dari apartemen sendirian. Apa jadinya jika Yoga keluar tanpa di temani Pak Joko, pasti gadis itu akan mengomeli Yoga.


"Boleh, pak. Lagi pula saya juga belum diizinkan mengemudi sendiri."


"Mari, Den."


Yoga memilih menghabiskan waktu sore harinya di mall. Berkeliling mall, saat masuk ke toko sepatu Yoga melihat dua pasang sepatu berwarna putih yang cukup menarik perhatiannya. Sepatu itu di peruntukan untuk pasangan kawula muda seperti apa yang di jelaskan oleh sales promotion girl (SPG).


"Pacarnya pasti suka kak kalau di kasih hadiah, apalagi barang couple kayak gini. Dijamin tambah cinta sama kakak." Duh si mbak Spg bisa aja ya meprospek Yoga agar membali sepatu couple itu.


"Dia nggak suka sepatu." jawab Yoga cuek padahal dalam hatinya membayangkan bagaimana jika dirinya dan Jessi memakasi sepatu yang sama dan berjalan dengan bergandengan tangan di taman.


"Loh ya beda kak, kalau sepatunya couple an pasti pacar kakak suka. Perempuan itu suka di beri hadiah kak, apalalgi ini kembaran sama pasangannya, gak bakalan deh kak nolak." Begitu manis mulut mbak-mbak spg membujuk Yoga agar membeli.


Bener juga Jessi pasti terharu kalau gue beliin sepatu couple. Dia pasti nggak cerewet lagi.


"Hari ini ada promo kak, diskon 20% untuk kakak."


"Saya nggak perlu diskonnya, ada ukuran 40?"


"Ukuran 40 buat yang perempuan ya kak ?"


"Hm."


"Saya cek dulu yah kak."


Percakapan Yoga dan mbak-mbak spg berakhir dengan transaksi, Yoga akhirnya membeli sepatu couple berwarna putih itu. Usai membayar barang belanjaannya dengan kartu kredit, Yoga mengajak pak Joko makan malam di food court Mall itu.


Disaat yang bersamaan seorang perempuan menghampiri Yoga. "Yoga?" Sapa perempuan itu.


Yoga mendongak menatap perempuan yang kini berdiri di sebelah meja nya. "Anda kenal saya?" tanya Yoga.

__ADS_1


"Kamu lupa sama aku, Ga?Aku Devina.”


“Devina?”


Perempuan itu menganggukan kepalanya. “Pacar kamu, sudah ku duga melihat dari reaksimu keluarga kamu pasti nggak cerita sama kamu siapa aku ‘kan?” Menarik mundur kursi yang berada di depan Yoga dan duduk di kursi itu. Kini mereka saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas.


“Saya tidak mengenal anda.”


“Aku mengerti, Ga. Karena kamu memang sedang sakit, kamu amnesia jadi nggak bisa mengenali aku. Yang aku nggak bisa ngerti kenapa keluarga kamu nggak jujur sama kamu perihal hubungan kita.” Keluh Devina dengan nada yang dibuat-buat.


“Saya tidak mengerti maksud anda.” Mengelap mulutnya dengan tisu dan meminum es jeruk manis.


“Kalau benar kamu pacar saya kenapa keluarga saya tidak pernah menceritakan kamu, dan kenapa kamu tidak pernah datang ke rumah sakit saat saya di rawat?” Tanyanya dengan menatap mata Devina, seakan Yoga tengah menyelidik dari sorot matanya mencari kebenaran akan apa yang di ucapkan Devina.


Devina tiba-tiba menangis. “Itu karena keluarga kamu tidak pernah merestui hubungan kita, kamu di jodohkan dengan perempuan yang lebih kaya. Aku nggak di perbolehkan menjenguk kamu, jangankan menjenguk menginjakkan kaki di rumah sakit saja aku tidak diizinkan, Ga. Saat kamu di rawat Bodyguard berjaga di depan kamar kamu 24 jam, aku nggak punya kesempatan sedetik saja untuk menemui kamu.” Ucao Devina sambil terisak.


“Saya tidak percaya.” Menanggapi ucapan Devina dengan datar tanpa ekspresi.


Meraih tangan Yoga menggenggam nya erat, Yoga menarik tangannya menolak genggaman tangan Devina.


“Beri saya bukti, kalau kamu pacar saya.” Memberi Devina kesempatan.


Devina berbinar, ia mengusap air matanya dengan cepat. “Kamu percaya sama aku?”


“Entahlah.”


“Aku akan kasih bukti ke kamu, bukti hubungan kita.”


Yoga menganggukan kepalanya. “Baik, saya tunggu.” Bangkit berdiri. “Temui saya dua hari lagi di taman kota, dan bawa buktinya.” Sebelum melangkah pergi Yoga berucap kepada Devina dimana mereka akan bertemu untuk melihat bukti yang dibawa Devina. Devina pun menganggukan kepalanya dengan yakin. Perempuan itu merasa ada celah untuk merebut Yoga kembali.


***


“Kak Yoga dari mana?” Hardik Jessi.


Jessica sudah menunggu Yoga selama satu jam di apartemen lelaki itu. Saat mendengar pintu apartemen terbuka gadis itu langsung bersiap marah. Ia duduk di sofa dengan salah satu kaki ia silangkan di atas kaki yang lain, posisi tubuh duduk tegap dan kedua tangan di lipat di depan dada.

__ADS_1


“Jalan-jalan.” Jawab Yoga datar.


Jessi berdiri dan mendekati Yoga. “Hah, jalan-jalan? Enak ya jalan-jalan, gak mikir Jessi disini khawatir, nggak?” Masih dengan kedua telapak tangan di lipat berjalan memutari tubuh Yoga. Hingga ia berhenti dan berdiri tepat di depan tinggi Yoga.


“Kak Yoga kenapa sih nggak bisa anteng dirumah sebentar aja sampai masa pemulihan selesai, kalau pun mau pergi nggak bisa ya ngabarin Jessi dulu? Chat kek, atau telepon kek. Seberapa sih susahnya kasih tau Jessi kalau kak Yoga mau keluar? Lihat dong kak ini sudah jam berapa? Kak Yoga melewatkan minum obat yang harusnya di minum satu jam yang lalu. Sengaja ya, biar makin lama sembuhnya? Makin lama nggak ingat sama Jessi? Iya ?” Segala amarah yang Jessica tahan beberapa waktu yang lalu akhirnya meledak. Gadis itu berucap dengan penuh amarah, wajahnya pun merah padam.


“Nggak usah ribut, Jess. Saya hanya jalan-jalan ke Mall.” Balas Yoga cuek seraya berlalu dan mendudukan dirinya di sofa ruangan itu.


“Ribut??” Yoga mengatakan Jessica ribut? Perang dunia pun dimulai. “Jadi, menurut kakak Jessi ribut, hahahaha.” Jessica terkekeh seraya geleng-geleng kepala. “Jessi yang khawatir sama keadaan kak Yoga hanya dianggap ribut sama kakak? ah, Jessi tau memang selama ini Jessi hanya bisa ribut dan merecoki hidup kakak.” Ucapnya dengan bergetar. Gadis itu menahan cairan bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


“Bukan begitu maksud saya, Jess. Saya lelah, saya ...”


“Cukup, tidak perlu di jelaskan lagi, kak. Jessi paham, kalau menurut kakak Jessi yang seperti ini hanya ribut, Ok! Fine, mulai sekarang Jessi nggak akan ribut lagi. Nggak akan pernah.” Dengan tegas Jessi berucap bahkan sedikit berteriak hingga akhirnya berlari keluar dari apartemen Yoga dan kembali ke apartemennya yang berada di depan apartemen Yoga.


Dua perempuan tersenyum puas melihat Jessica menangis keluar dari apartemen Yoga. Mereka adalah Devina dan Naya. Mereka mengintip di balik dinding yang tidak jauh dari apartemen Yoga. Mereka juga berpakaian layaknya menyamar memakai topi dan kaca mata hitam.


“Lihat kak, siapa yang akan jadi pemenangnya!” Kata Naya percaya diri.


“Kamu benar, Nay. Untung aku langsung kembali ke Jakarta setelah kamu bilang Yoga amnesia. Aku yakin Yoga bakal kembali ke pelukan ku.” Entah mengapa Devina mempunyai khayalan seperti itu.


“Tenang kak, setelah aku dan Jordan menikah. Aku bakalan singkirkan Jessi dari keluarga Pratama.” Sahut Naya.


“Kita rayakan kemenangan pertama kita, Nay.”


Sementara di saat yang bersamaan di dalam apartemen nya, Yoga nampak tersenyum devil melihat percakapan Devina dan Naya dari rekaman CCTV yang sedang ia lihat.


“Bukankah mereka terlalu bermimpi.” Smirk Yoga sambil menutup laptopnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2