
Seberapa kuat Jessi meronta sampai memukul-mukul dada Yoga pun, gadis itu tetap tidak bisa melepaskan diri dari pelukan Yoga. Hingga muncullah ide brilian di kepala Jessi, dia menggigit lengan Yoga.
“Auwh.” Ringis Yoga, namun tetap bertahan tidak mau melepaskan Jessi. “Mau kamu gigit seluruh tubuh saya, juga tidak akan saya lepaskan”. Kata Yoga tenang.
“Mau kakak Apa?”
“Kamu degarkan penjelasan saya.”
“Apa yang mau dijelaskan?Jessi sudah melihat sendiri, dengan kedua mata Jessi. Kak Yoga selingkuh di belakang Jessi!”
“Kapan saya selingkuh?Tidak pernah tuh”. Menanggapi Jessi dengan santai.
“Nggak usah mengelak, kalau nggak selingkuh lalu siapa perempuan itu?Kenapa pakai baju tidur?”
“Makanya kamu dengarkan saya dulu, jangan kabur-kaburan. Kamu tau nggak saya cari kamu hamper
keliling kota Sidney?”
“Jessi nggak nyuruh tuh.” Membalas dengan cuek.
Menghela nafas dengan sabar. “Mau dengar penjelasan saya tidak?”
“Lepaskan dulu Jessi.”
“Nggak, kalau saya leapskan kamu kabur lagi.” Mengangkat tubuh Jessi dan menggendongnya.
“Mau kemana?”
Yoga mendudukan Jessi di atas meja pantry lalu ia mengunci Jessi dengan lengan kanan dan
kirinya, posisi Yoga tepat di hadapan Jessi. “Kamu itu kalau orang mau menjelaskan di dengarkan jangan asal kabur saja.” Ucap Yoga lembut.
Jessi melengos,”Nggak usah pencitraan, kalau mau ngomong ya ngomong, nggak usah
kelamaan.” Jessi mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Padahal sudah pacaran lebih dari setahun, Jessi masih saja sering gugup dan berdebar saat
bersama Yoga. Seakan ia selalu dibuat jatuh cinta lagi dan lagi oleh pesona Yoga.
“Lihat saya, biasakan menatap lawan bicaramu saat ingin menuntut penjelasan agar kamu bisa
tau lawan bicaramu berkata jujur atau tidak,hm” meraih dagu Jessi mengarahkan kepala Jessi agar menatapnya. “Kamu naik pesawat sendiri kesini?” Jessica menganggukan kepalanya.
“Jangan mengalihkan pembicaraan, kak Yoga jadi menjelaskan atau tidak?”
Tersenyum tipis, gadis kecilnya itu mulai merajuk lagi. “Iya, jadi. Saya jelaskan.” Mengusap
lembut rambut Jesssi. “Perempuan yang kamu lihat di apartemen saya itu namanya Yulia, dia pacar Radit. Kebetulan Radit tinggal di apartemen saya di kamar lain. Saya tidak menyangka Yulia akan keluar saat kamu datang, kamu juga langsung kabur saja tanpa mendengar penjelasan saya.” Ucap Yoga menjelaskan.
“Jadi, dia pacar kak Radit?” Yoga mengangguk menjawab pertanyaan Jessi.
__ADS_1
“Lalu kak Radit dimana?Jessi nggak lihat ada kak Radit.”
“Kamu langsung kabur mana bisa lihat Radit, Radit ada dikamarnya.” Jawab Yoga.
“ooo, mereka sekamar?” lagi-lagi Yoga mengangguk menjawab pertanyaan Jesica.
“Nanti kamu bisa cek cctv apartemen saya, biar lebih jelas. Saya nggak mau kamu berpikiran
yang macam-macam lagi.” Ucap Yoga kemudian.
“Kok kak Radit nggak -?”
“Karena hemat, Jess. Lagi pula apartemen saya ‘kan luas. Saya juga tidak keberatan Radit tinggal sama saya.” Yoga langsung paham apa yang akan ditanyakan Jessi, ia menjawab tanpa menunggu Jessi Menyelesaikan pertanyaannya.
Jessi pun bernafas lega, akhirnya apa yang ia takutkan tidak terjadi. “Kakak tau nggak Jessi takut banged kak Yoga selingkuh.”
“Mana mungkin, cup.” Ucapnya lalu mengecup sekilas bibir Jessi. “Ada tunangan secantik dan seimut ini, mana mungkin saya sempat selingkuh. Lagi pula saya sudah cinta banget sama kamu.” Bisa juga ya pak pengacar menggombal.
“Gombal.”
“Serius, hidup saya tanpa kamu itu hampa.”
“Cih, gombal, gombal gombal.” Berdecih dan menutup kedua telinganya. Jessi merasa geli dengan gombalan Yoga.
Begitu pun Yoga Ia merasa merinding sendiri menyadari gombalannya. “Saya kangen sama kamu.” Menyentuh bibir Jessi dengan jari-jemarinya. Mengusapnya perlahan, bibir ini yang selalu menjadi candu bagi Yoga. Sudah lama Yoga tidak mengecup bibir itu, hampir enam bulan mungkin.
“Jessi juga kangen sama kakak, makanya Jessi ke sini.” Jessica mengalungkan kedua tangannya
di leher Yoga.
bibir Jessi, mel*matnya dengan sedikit liar, tak mau tinggal diam Jessi pun membalas ciuman Yoga. Sejak kapan gadis itu menjadi berani?Pikir Yoga, saat Jessi berani membalas ciuaman Yoga cukup lama.
Sesuai janji Yoga sore itu dia mempertemukan Jessi dengan Yulia dan Radit. Yulia dan Radit
pun menjelaskan pada Jessi dengan sedetail mungkin agar jessi tidak lagi mencurigai atau berpikiran yang macam-macam pada Yoga.
Hari berikutnya Jessi memutuskan untuk kembali ke Indonesia, ia juga harus kuliah. Tidak bisa seenaknya izin tanpa alasan yang jelas. Sementara Yoga masih tinggal di Sidney untuk menyelesaikan urusannya.
***
Jessi nongkrong bersama Celia dan Salsa, mereka tetap bersahabat sampai sekarang. Meskipun
ketiganya kuliah di tempat yang berbeda, Salsa memutuskan kuliah di Jogja, ia mengambil jurusan kedokteran di salah satu universitas terbaik di Jogja. Berbeda dengan Celia, Celia memutuskan untuk menjadi artis dan mengambil kulian ilmu komunikasi. Meskipun belum artis terkenal Celia sudah merintis karirnya dengan susah payah, dari mendapat peran sebagai figuran hingga tokoh antagonis.Kebetulan Salsa sedang pulang ke Jakarta, mereka pun memutuskan untuk bertemu.
“Gila, lo tambah cantik, Sa.” Puji Jessi pada sahabatnya itu.
“Gue emang udah cantik dari lahir cuy.” Balas Salsa sambil mengibaskan rambut panjangnya.
Celia geleng-geleng kepala, Salsa memang tidak pernah berubah jiwa narsisnya. “Lo, kenapa nggak jadi artis aja?” Tanya Celia pada Salsa.
“Ogah”. Jawabnya singkat padat dan jelas.
__ADS_1
“Oh, gue tau. Lo takut kalah popularitas sama Naya ‘kan?” tebak Salsa.
Jessi melirik sekilas kearah Salsa mencoba mencari kebenaran akan pertanyaan Celia.
“Najis, gue nggak minat jadi artis. Apalagi saingan sama dia”. Singkat cerita Naya menjadi artis berkat dukungan dari Jordan. Entah apa yang terjadi anatara Jordan dan Naya sampai Jordan mau mensponsori gadis itu. Padahal dulu Jordan sangat membenci Naya saat gadis itu membuat masalah dengan keluarganya. Salsa sendiri
memutuskan kuliah ke Jogja setelah cintanya pada Jordan bertepuk sebelah tangan. Salsa tidak sanggup melihat kedekatan Jordan dan Naya hingga ia memutuskan pergi ke Jogja.
Tak berbeda jauh dari Salsa, Celia, ia yang patah hati karena menyukai Radit yang sudah memiliki
kekasih pun bersusah payah menyibukkan dirinya demi melupakan Radit. Siang hari Celia habiskan untuk kuliah, dan malam hari ia syuting berbagai acara dari reality show hingga sinetrong stripping meskipun masih pemeran pembantu.
“Lo masih suka sama kak Jordan?” Tanya Jessi iba. Jessi senang mengetahui kenyataan Salsa menyukai Jordan namun ia juga tidak bisa memaksakan perasaan Jordan. Jessi menjadi seba salah disituasi ini.
“Nggak”. Salsa menjawab sembari menoleh kearah lain.
Baik Jessi maupun Salsa tau dengan pasti apa yang dikatakan Salsa saat ini berbeda dengan
apa yang Salsa rasakan.
Gue tau lo masih suka sama kak Jordan,
Sa.
Gue tau ini berat, Sa. Gue pun
mengalami apa yang lo rasakan saat ini.
Hening, ketiga gadis itu larut dalam pikiran masing-masing untuk beberapa saat. Sampai Jessi
pun mendapatkan ide untuk mencairkan suasana.
“Yuk, shopping. Gue yang traktir, kalian mau beli apapun semahal apapun gue bayar”. Ucap Jessi serius.
“Bayarin kosan gue sampai tahun depan.” Kata Salsa datar.
“Oke, berapa sih kosan, lo?Cuman sejuta lima ratus kan sebulan?Gampang.”
“Beliin gue mobil yang bisa muat banyak baju ganti gue syuting.” Ucap Celia datar.
“Mobil lo dijual, gue yang tambahin.” Ucap Jessi.
Celia maupun Salsa melirik Jessi. “Lo mau ngrampok bokap lo?”
“Enak aja, gue dah kerja di butik mommy. Dapat gaji, lagi pula gue banayk duit cuy, kalian lupa, butik mommy yang di senayan ‘kan gue yang urus. Cuman buat bayarin kos lo sama beliin mobil lo mah kecil.” Kata Jessi yang tidak pernah perhitungan pada kedua sahabatnya, real anak sultan memang.
“Kalu gitu gue nggak bakalan sungkan.” Celia dan Salsa terkekeh.
Sehabis ngopi mereka berbelanja, Jessi membelikan baju baru dan tas baru untuk Salsa dan Celia. Juga beberapa oleh-oleh yang akan di bawa Salsa ke Jogja.
.
__ADS_1
.
.