
Follow instagram aku ya guys @n.lita.s
*Disana ada informasi update juga novel-novel aku yang lain. Sekali an kita bersilaturahmi di media sosial **💜*
“Terimakasih, kak.”
Celia mengucapkan Terimakasih pada Radit yang sudah mengantarnya pulang sebelum turun dari mobil.
“Tunggu, Cel.” Tahan Radit.
“Ada apa kak?”
“Boleh saya mampir?” Pinta lelaki itu.
Mau menolak tidak enak, jika mengiyakan dirasa kurang pas. Sudahlah, sekali ini saja Celia akan mengizinkan Radit mampir. Lain kali dia tidak akan mau diantar Radit pulang lagi. Toh, tadi juga Celia terpaksa diantar pulang Radit karena paksaan dari Yoga.
“Boleh.” Jawaban singkat Celia membuat Radit berbinar. Celia turun dari mobil lebih dulu menunggu Radit yang memarkir mobilnya.
Mereka berdua sama-sama naik ke lantai unit apartemen Celia.
“Silahkan masuk, kak.” Ajaknya.
Radit mengikuti Celia masuk kedalam aprtemen.
“Mau minum apa, kak?” Tanya nya.
“Apa aja.”
Ini kali pertama Radit datang ke apartemen baru Celia. Dulu Celia tinggal bersama Jessi.
Interior nya ala Korea, mungkin karena gadis itu menyukai drama Korea jadi interior rumahnya di buat ala Korea.
Celia kembali dari dapur dengan membawa dua orange jus.
“Silahkan diminum, kak.” Ucap Celia.
“Makasih. Kamu tinggal sendiri, Cel?” Tanya Radit penasaran dan Celia pun menganggukan kepalanya.
Canggung.
Drttt.. ponsel Celia berdering. “Selamat.” Batin Celia. Manajernya menelepon. Dia akan menggunakan manajernya untuk mengusir Radit.
“Celia angkat telepon dulu ya, kak.” Pamitnya pada Radit.
“Silahkan.” Menganggukan kelapanya.
Celia sedikit menjauh dari Radit untuk menjawab panggilan telepon manajernya. Lima menit berlalu ia pun kembali ke dalam apartemen.
__ADS_1
Saat Celia sedang menjawab teleponnya, Radit juga mendapatkan telepon dari klien nya.
“Maaf kak lama, tadi telepon penting.” Celia kembali dan duduk.
“Enggak papa, saya juga mau pamit.”
“Kenapa buru-buru kak?” Tanya Celia sebalah menyayangkan Radit yang mampir hanya sebentar. Padahal dalam hatinya bersorak riang akhirnya Radit pulang.
“Ada kerjaan mendadak. Lain kali saya mampir lagi.” Ucapnya enteng.
“Jangan!” Teriak Celia dalam batin, “tolong jangan pernah mampir lagi.” Dia tidak berani mengucapkan hanya membatin. Dasar Celia.
Setelah Radit pergi. Celia merebahkan dirinya di kasur empuknya. Matanya masih bengkak akibat terlalu banyak menangis. Setelah ini dia akan mengompres mata bengkaknya dengan es batu, semoga besok sudah kembali normal karena Celia harus pemotretan.
**
Jessica akhirnya tenang setelah di suntik penenang oleh dokter.
“Bagaimana keadaan istri saya, dok?” Tanya Yoga.
“Kondisi ibu Jessi saat ini mengalami shock pasca keguguran. Ibu Jessi menolak menerima kenyataan kehilangan janinnya. Untuk itu perlu adanya perhatian khusus pada ibu Jessi. Disarankan untuk tidak menambah beban pikiran pada ibu Jessi dan memberi lingkungan yang aman pada ibu Jessi.” Ucap dokter Sinta.
Yoga dan Nabila mendengar dengan seksama arahan Sinta.
“Baik, terimaksih, dok.”
“Kamu dengar kata dokter tadi Yoga? Istrimu enggak boleh banyak pikiran, artinya nggak boleh setres.” Nabila kembali mengomel sebelum akhirnya masuk ke ruangan Jessi.
Yoga tidak membantah ucapan Nabila. Dia sendiri merasa apa yang Jessi alami memang salahnya.
“Sabar, Ga. Mbak mu lagi emosi. Kamu ‘kan tau Nabila itu sayang banget sama Jessi sejak dia bayi.” Adam menepuk bahu Yoga memberi semangat.
“Yoga ngerti kok, mas.”
“Sana susul mbakmu. Mumpung Jessi tidur, kamu jangan nyerah.”
Yoga menyusul Nabila dan Rey yang berada di dalam kamar.
“Ayo Rey, kita keluar. Gantian, kasian nanti kalau istrinya bangun pasti diusir lagi!” Nabila mengajak Rey keluar dan memberi ruang bagi Yoga bersama Jessi.
“Baik, aunty.”
“Makasih, mbak.”
Di tempat tidur rumah sakit itu Jessi terbaring lemah. Yoga mendekati istrinya mengecup kening Jessi dengan lembut kemudian duduk di sebelah tempat tidur Jessi.
“Maafin mas ya sayang. Kamu jadi seperti ini, kita kehilangan anak kita.” Dia menggenggam tangan Jessi dan mengecupinya berulang-ulang.
__ADS_1
“Mas janji akan menjaga kamu lebih baik lagi kedepannya. Mas nggak akan membiarkan kamu seperti ini lagi. Hati mas sakit melihat kamu terbaring lemah seperti ini sayang. Apalagi kamu yang menolak kehadiran mas. Maafin mas, sayang. Maafin, mas!” Tak henti-hentinya Yoga meminta maaf pada Jessi yang tidak sadar itu. Dia hanya punya kesempatan saat Jessi terlelap. Jika Jessi bangun, dia harus pergi sebelum Jessi mengusirnya lagi. Yoga bisa saja memaksa tinggal tetap berada di dekat Jessi, tapi itu akan mempengaruhi emosi Jessi. Lebih baik Yoga mengalah dulu untuk saat ini.
**
Dini hari, Raka dan Ayu tiba dirumah sakit. Keduanya langsung kembali ke Indonesia saat mendengar musibah yang menimpa Jessi.
“Daddy, mommy.” Si Rey anak bungsu yang langsung merangkul kedua orang tuanya.
Raka mengusap rambut putra bungsunya dan mencari sosok menantunya. “Dimana, Yoga?” Tanya Raka.
“Mas, kamu udah janji enggak marah-marah loh.” Ucap Ayu mengingatkan.
“Siapa yang mau marah?aku ini cuman tanya dimana Yoga.” Kata Raka menanggapi istrinya.
“Kak Yoga di dalam, dad.” Ucap Rey.
Raka langsung berjalan kearah kamar Jessi. Sebelum masuk, dia mengintip dari kaca pintu. Melihat apa yang terjadi di dalam.
“Enggak masuk?” Tanya Ayu.
Raka menetralkan emosinya dulu sebelum masuk. Dia sangat marah saat tau Jessi keguguran, dan menganggap Yoga tidak becus menjaga Jessi. Dalam perjalan ke rumah sakit pun Raka sudah mengomel akan memarahi menantunya itu.
“Kamu duluan saja, aku mau cari angin.” Raka meninggalkan Ayu dan berjalan menjauh.
“Ya sudah terserah saja.” Balas Ayu sambil membuka pintu.
Mendengar suara pintu di buka, Yoga menoleh, “mommy..” Yoga berjalan ke arah Ayu dan mencium punggung tangannya.
“Kamu baik-baik saja, Ga?” Tanya Ayu basa-basi meskipun dia tau jawabnya. Namun, Yoga menjawab baik-baik saja.
“Dimana Daddy, mom?” Tanya Yoga.
“Masih di luar.” Ayu duduk di bangku sebelah brankar tempat Yoga duduk tadi. Dia menatap sendu Jessica, sebagai seorang ibu hatinya pun tak kalah sakit melihat anak nya terbaring lemah. Namun, Ayu menahan kesedihannya di hadapannya Yoga. Dia tidak mau melihat Yoga semakin terpuruk.
“Nanti kalau Daddy marah-marah kamu dengarkan saja. Tapi jangan diambil hati, kamu tau sendiri tabiat Daddy yang keras.” Ayu memberi nasihat sebelum Yoga bertemu Raka.
“Iya, mom.” Yoga pasrah jika nantinya Raka memarahinya habis-habisan. Lagi pula memang ini salah Yoga. Yoga tidak bisa menepati janjinya pada Raka. Janji akan menjaga dan melindungi Jessi, dia melanggar janjinya. Nyatanya saat ini Jessi kesakitan dan terbaring lemah.
Kriet.. pintu kamar terbuka, Raka datang bersama beberapa perawat dan dokter juga beberapa Bodyguard nya . Yoga dan Ayu pun menoleh.
“Ada apa ini?” Tanya Ayu merasakan suaminya akan membuat masalah.
“Aku akan membawa Jessi.” Jawab Raka datar.
“Membawa kemana?” Heran Ayu. Sudah tau putrinya sakit mau dibawa kemana si Jessi?
“Jessi mau dibawa kemana, dad? Jessi sedang sakit.” Ucap Yoga.
__ADS_1
“Daddy mau membawa Jessi pulang, karena kamu tidak becus menjaga Jessi.”