
“Apa?!!” Teriak Salsa dan Celia serempak. Teriakan kedua gadis itu membuat beberapa teman sekelas mereka menatap kearah keduanya. Jessi sendiri lansung menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya agar kedua sahabatnya itu diam.
“Sorry, He.” Ucap Salsa kemudian sambil nyengir lalu mengatupkan kedua tangannya isyarat permohonan maaf karena menggangu ketenangan beberapa teman sekelas yang tengah belajar mempersiapkan ujian jam pertama.
“Lo, halu, kan, Jes?” Tanya Celia pelan.
Jessica geleng-geleng kepala. Halu dimana, dia dan Yoga memang pacaran. Kenapa kedua sahabatnya itu tidak percaya?
“Gue serius.” Dengan tampang serius tidak seperti Jessi yang biasanya suka bercanda.
“Oh, My God!” Celia menutup mulutnya yang menganga dengan kedua telapak tangannya.
“Really?” Masih saja Salsa belum yakin dengan apa yang di ucapkan Jessica.
Jessica membuang nafas kesal lalu mengatur nafasnya dengan sempurna sebelum memberikan bukti real hubungannya dengan Yoga. Gadis itu menunjukan pesan singkatnya dengan Yoga, juga beberapa panggilan telepon dari Yoga. Yang terakhir Jessi menujukan foto saat dia diantar oleh Yoga ini.
Dan, kedua sahabat Jessi pun melongo melihat foto Selfi Jessi dan Yoga di dalam mobil.
Untung tadi pagi kak Yoga mau Selfi sama gue. Yah, meskipun sedikit gue paksa sih.
Jessi memang sudah mempersiapkan bukti yang akurat termasuk foto Selfi nya bersama Yoga. Mengingat sebelumnya tidak ada yang percaya jika dirinya dan Yoga sudah berpacaran. Parahnya, Jordan maupun Rey juga tidak percaya.
“Daebak!” Salsa tiba-tiba menggebrak meja yang langsung menarik perhatian teman sekelasnya.
“Salsaaaaaa..” Jessi menggeram kesal. Baru beberapa menit Salsa membuat kegaduhan lalu meminta maaf pada teman sekelasnya, sekarang membuat kegaduhan lagi.
“Sa, mending lo keluar aja deh. Kalau mau bikin ribut di luar aja, disini ganggu anak-anak yang lain mau belajar!” Tegur Dika si ketua kelas.
“Sorry, Dik. Nggak lagi, gue tutup mulut.” Jawab Salsa mengunci rapat mulutnya.
“Emang harusnya lo tutup mulut dari tadi.” Saut Dika. Ya, siapa sih yang tidak kesal jika konsentrasi belajar nya terganggu karena kegaduhan.
__ADS_1
“Cih, lagak bener, mau belajar sampai tua juga juara umumnya tetep Jessi.” Cibir Salsa lirih hampir tidak terdengar oleh orang lain. Namun, Celia mampu membaca gerak bibir Salsa.
“Emang agak Songong tuh bocah kalau lagi belajar.” Celia menimpali.
“Guys, Dika bener, kalian udah ganggu temen yang lagi belajar. Ceritanya di lanjut nanti ya, kita fokus ke pelajaran dulu!” Bel masuk sudah berbunyi yang artinya pelajaran akan segera di mulai. Dan, jam pertama ulangan bahasa Indonesia.
***
1 minggu berlalu, baik sahabat maupun saudara kandung Jessi sudah mempercayai hubungan Jessi dan Yoga. Butuh dua hari untuk meyakinkan Jordan jika Jessi dan Yoga benar-benar telah berpacaran. Jordan mendukung saja apa yang membuat Jessi bahagia selama Jessi masih ingat tanggung jawabnya yaitu belajar.
Hubungan Yoga dan Jessi juga semakin dekat, sesekali saat ada waktu Yoga akan menjemput Jessi pulang sekolah. Jika, sudah begitu Salsa akan terkena imbasnya, Salsa harus pulang sendiri dengan mobil Jessi, sementara Yoga dan Jessi kencan sekaligus makan siang. Meskipun begitu Salsa tidak kesal, ia bisa memahami kebahagiaan yang tengah Jessi rasakan. Karena Salsa juga ikut bahagia melihat Jessi bahagia, Yah, begitulah persahabatan tulus antara Jessi dan Salsa.
Seperti hari ini Yoga mempunyai waktu untuk menjemput Jessi. Yoga sampai di sekolah Jessi tepat saat para murid mulai berhamburan pulang, Yoga menunggu Jessi di depan gerbang seperti biasa. Setelah melihat gadis kesayanganmu keluar dari gerbang dengan berlarian kecil, Yoga langsung membukakan pintu mobil untuk Jessi.
“Makasih.” Masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh Yoga. Yoga sendiri langsung berjalan memutar menuju kemudi. “Kak Yoga tumben, nggak ada sidang?” Tanyanya sambil membenarkan sabuk pengamannya.
“Sudah beres, saya kangen sama kamu.” Menghidupkan mesin mobil sambil melirik ke arah Jessi dan tersenyum manis.
“Kenapa, kagum punya pacar tampan seperti saya?” Tanya Yoga. Jessica pun mengangguk anggukan kepalanya dengan polos.
Sudah biasa bagi Yoga melihat ekspresi Jessi yang seperti saat ini, polos lugu dan sedikit o’on menurut Yoga.
“Resep nya apaan sih, kak? Bisa cakep kaya gini?” Jessi menopang dagunya memposisikan diri miring mengamati wajah tampan Yoga yang sedang terpolusi ke arah depan melihat jalanan yang cukup padat.
“Nggak ada resepnya, saya memang tampan dari lahir. Sudah takdir, Jess.”
“Cih, mulai narsisnya.”
“Bukan narsis sayang, tapi kenyataan.” Menoleh sekilas pada Jessi dan tersenyum sambil mengelus-elus kepala Jessi.
“Ke Mall dulu dong, kak. Mau beli buku.”
__ADS_1
“Oke.”
Satu jam sudah Yoga dan Jessi berada di Mall. Jessi sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan beberapa buku referensi fashion designer. Sekarang Jessi merasa lapar, ia mengajak Yoga untuk makan di salah satu restoran yang berada di dalam Mall.
“Kamu makan nya pelan-pelan dong.” Tutur Yoga saat Jessi tersedak. Yoga menyerahkan air minumnya pada Jessi. “Makasih, kak. Maaf, habis Jessi lapar.” Setelah menengguk air putih yang Yoga berikan.
“Lain kali pelan-pelan, selapar apapun kamu.”
“Iya, kak.”
Di perjalanan mengantar Jessi pulang. Yoga mendapat telepon dari sekertarisnya yang mengatakan ada tamu penting sedang menunggu Yoga.
“Kita ke kantor saya dulu!” Ucap Yoga. Jessi hanya menganggukkan kepala nya, gadis itu merasa senang bisa lebih lama bersama Yoga.
Yoga dan Jessi memasuki gedung firma hukum milik Yoga, mereka langsung menunju lantai paling atas tempat ruang kerja Yoga berada. Di sepanjang jalan menuju ruang kantornya, Yoga terus-terusan menggandeng Jessi. Lagi pula ini bukan pertama kalinya Jessi datang ke perusahaan Yoga dengan masih menggunakan seragam sekolahnya.
Melihat kedatangan Yoga sekertarisnya pun langsung membukakan pintu ruang kerja Yoga, memudahkan Yoga untuk langsung masuk ke ruang kerjanya.
Deg..
‘Devina.’ Batin Yoga dalam hatinya terkejut, namun Yoga buru-buru menguasai keadaan sebelum Jessi menyadari perubahan ekspresi di wajah Yoga saat melihat siapa tamu Yoga.
“Yoga, akhirnya kamu datang juga.” Devina yang merupakan tamu Yoga itu berdiri dari duduknya sembari tersenyum menatap Yoga. Tatapan Devina beralih pada gadis di samping Yoga yang juga sedang tersenyum manis seakan menyapa Devina, ia juga menatap tangan Yoga dan Jessi yang tengah bergandengan. Seketika raut wajah Devina berubah sendu.
“Pak Yoga, ibu Devina berkunjung untuk konsultasi terkait perceraiannya. Maaf, saya menghubungi bapak mendadak, seharusnya hari ini memang jadwal pertemuan bapak dengan ibu Devina, tapi, saya lupa menyampaikan pada bapak.” Ucap sekertaris Yoga tenang berusaha menyenbunyikan kegugupan nya.
“Hm.” Jawab Yoga.
“Silahkan duduk, ibu Devina.” Melepaskan sejenak pegangan tangannya dengan Jessi dan membuka telapak tangannya, di ayunkannya kedepan untuk mempersilahkan Devina duduk.
“Terimakasih.” Jawab Devina.
__ADS_1
Lalu, Yoga merangkul pinggang Jessica dan mengajak gadis itu untuk duduk di sebelahnya.