Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Hari H pernikahan Radit dan Yulia


__ADS_3

Hari H pernikahan Radit dan Yulia.. Tamu undangan mulai memenuhi aula tempat dimana Radit dan Yulia akan melangsungkan akad nikah. Tidak banyak yang hadir hanya kelaurga dan sahabat dekat dari kedua mempelai. Termasuk Yoga dan Jessi.


Radit sendiri nampak gelisah menunggu waktu akad antara ragu dan bimbang. Apakah keputusannya menikahi Yulia adalah hal yang tepat ?


“Sudah waktunya, nak.” Ning menghamili Radit yang masih duduk di ruang tunggu.


Radit mengangguk dan bangkit. “Bapak dimana, buk?” tanyanya sambil merangkul lengan Ning. Keduanya berjalan keluar ruangan menuju tempat akad.


“Bapak sudah menunggu disana,” jawab Ning.


Radit dan Yulia duduk berdampingan di hadapan penghulu dan Danu. Sebentar lagi akad nikah akan berlangsung.


“Sudah siap, nak Radit?” tanya pak penghulu.


“Sudah, pak.”


“Kalau begitu mari kita mulai..”


Danu menjabat tangan Radit dengan erat.


“Tunggu!!” teriak seorang lelaki lantang. Semua orang yang berada di tempat akad menoleh ke arah lelaki asing yang baru saja datang dengan menggendong batita laki-laki.


Yulia membelalak melihat siapa yang datang ke acara pentingnya. Seketika ia membisu.


“Pernikahan ini tidak boleh terjadi..” tegas lelaki itu berjalan mendekat meja akad.


“Siapa kamu?” Danu berdiri dan menghadap lelaki itu dengan tatapan tidak suka. Begitu pun Sutomo yang langsung berdiri mendekati Danu. Keduanya tampan menelisik pada lelaki itu.


“Perkenalkan, saya Tomi, suami Yulia!” Lelaki itu mengangkat sebelah tangannya hendak menjabat Danu untuk memperkenalkan diri.


“Suami, apa-apaan ini, Danu?” Sutomo menoleh pada calon besannya meminta penjelasan.


Juga Radit yang melirik Yulia, sedangkan Yulia menunduk takut.


“Tenang dulu, Tomo. Ini pasti ada kesalahpahaman,” kata Danu lalu menatap lelaki itu. “Siapa kamu, omong-kosong macam ini? Suami Yulia, jangan gila kamu. Yulia belum menikah baru mau menikah. Jangan ngawur kamu, pergi dari sini!” Mendorong lelaki itu menjauh, bahkan sampai anak kecil yang ada di gendongan lelaki itu menangis.


Lelaki itu menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh akibat dorongan dari Danu.


“Saya mengatakan yang sebenarnya, jika bapak tidak percaya bisa tanyakan langsung ke Yulia..” ucapnya sambil memandang Yulia.


“Omong kosong.. Security, security!” Panggil Danu pada tim keamanan.


Beberapa lelaki berpakaian ala satpam pun datang.


“Bawa lelaki ini pergi!” titahnya pada tim keamanan.


Mereka mengangguk. “Mari, pak. Silahkan lewat sini..” kata satpam pada lelaki itu yang bernama Tomi tadi.


Sutomo diam saja melihat Danu mengusir Tomi, dia yakin Tomi hanya pembuat onar yang mengaku-ngaku sebagai suami Yulia untuk menggagalkan pernikahan putranya dengan Yulia.


“Saya tidak akan pergi dari sini sebelum membuktikan bahwa Yulia adalah istri saya..” keukuh Tomi.


Namun, satpam memaksa Tomi.


“Tunggu, biarkan dia bicara.” setelah mempelajari gerak-gerik Yulia dan perubahan ekspresi di wajah Yulia. Radit merasa Tomi tidak berbohong.


Danu kesal, “Bicara apa lagi Radit, sudah jelas dia berbohong. Apa lagi yang mau kamu dengar?” Danu merasa suasan menjadi tidak terkendali.


Ia melirik Sutomo memberi instruksi dari tatapannya agar Sutomo menghentikan niat Radit memgintrograsi Tomi.


“Sudahlah Radit, benar kata Danu lebih baik biarkan dia pergi. Bapak yakin orang itu cuma mau mengacau saja.” Tutur Sutomo pada Radit.


“Saya tidak berbohong.” Sanggah Tomi.


“Diam kamu.. kamu tidak punya hak untuk bicara disini.” Sentak Danu.


Radit mengangkat tangannya. “Pak, om, tidak ada salahnya untuk mendengarkan. Mau bohong atau tidak lebih baik kita dengarkan dulu.” ucap Radit lembut. “Silahkan bicara.”


“Tapi Radit..” tahan Danu dan Sutomo. Radit mengangguk dan meminta kedua paruh baya itu untuk tenang.

__ADS_1


Danu menoleh dan mengedarkan pandangannya pada Yulia. Sorot mata tajamnya begitu menakutkan bagi Yulia.


Ning pun menghampiri suaminya dan mengelus lengan suaminya. Ia meminta Sutomo untuk tenang.


“Jadi, akad nikahnya bagaimana pak?” Sela pak penghulu.


“Di tunda dulu, pak!” Jawab Radit tegas.


“Tapi, saya tidak bisa menunggu lama, pak. Saya harus menghadiri akad di tempat lain.”


“Sepuluh menit, pak. Beri saya waktu 10 menit untuk berbicara..” sahut Tomi meminta izin.


Radit tidak masalah. “Bagaimana pak penghulu, apa bisa di tunda 10 menit?”tawar Radit pada penghulu. Dan, lansung di angguki setuju.


“Silahkan bicara..”


Setelah mendapat izin dari Radit untun berbicara, Tomi pun mulai mengucapkan apa yang hendak lelaki itu katakan tanpa menghiraukan tatapan kebencian dari Danu maupun Siti. Dia hanya memandang Yulia yang masih nampak menunduk dan mulai membuka mulut.


“Maaf, kalau kedatangan saya mengganggu jalannya acara hari ini, tapi, Saya tidak bisa membiarkan Yulia untuk menikah dan mengabaikan anak kami.” Lelaki itu menjeda ucapannya sebentar mengambil nafas panjang dan kembali berucap, “anak di dalam gendongan saya ini adalah buah cinta saya dan Yulia. Tahun ini dia genap berusia 3 tahun dan akan masuk PAUD sebentar lagi. Dia membutuhkan sosok ibunya,” lanjut lelaki itu.


Semua terdiam dengan pemikiran masing-masing. Entah apa yang mereka pikirkan tapi ada satu yang pasti, Danu tidak akan mengakui ucapan Tomi.


“Omong kosong apa lagi kali ini, tadi suami sekarang anak. Kamu jangan sembarangan menipu orang, mau saya penjarakan kamu?” Danu menunjuk-nunjuk Tomi dengan emosi.


Kadal kusuk menilai terdengar bersahutan diantara tamu yang hadir.


“Saya tidak berbicara omong kosong, begitulah kebenarannya.”


Deg.. jantung Sutomo terasa berdetak lebih cepat dari ritme biasanya. “Yulia..” panggil Sutomo lembut. Tangan kanannya melambai pada Yulia agar mendekat, Yulia memberanikan diri mengangkat wajahnya dan bangkit. Ia berjalan ke arah Sutomo.


“Ini pasti tidak benar, Tomo. Bocah itu mengada-ada..”


“Kita dengarkan dari Yulia, Danu.” Balas Sutomo.


“Ya, Radit juga setuju, pak.”


Yulia sudah sampai di sebelah Sutomo. “Nak, apa benar dia suami kamu?” tanya Sutomo lembut.


“Pasti tidak benar ‘kan, Yul?” tanya Danu kasar.


“Jawab Yul..” siti menimpali dengan salah satu tangannya meremas pinggang Yulia. Yulia menahan rasa sakit yang di berikan pada Siti dan menjawab dengan gelengan kepala.


“Nah, sudah jelas ‘kan semua. Yulia saja menggelengkan kelapanya berarti dia hanya mengibul,” ucap Danu lega.


Tomi kecewa, dia tidak menyangka Yulia akan menyangkal kebenarannya.


Sutomo mengangguk mendapati jawaban dari Yulia, “Mau bagaimana lagi nak, Yulia menyangkal semua yang kamu ucapkan. Apakah kamu mempunyai bukti lain atas apa yang kamu ucapkan tadi?” tanya Sutomo pada Tomi.


“Apa? Kenapa perlu bukti lagi, bukankan sudah jelas jawaban Yulia. Kamu meragukan putriku, Tomo?” Danu kembali naik darah. Jika Tomi memiliki bukti lain, tamat sudah riwayatnya.


“Tidak, tidak.. aku bukan meragukan Yulia, aku hanya ingin bersikap bijak dan adil saja, Danu.” Sutomo mengelak atas pertanyaan Danu.


“Bapak benar, om. Radit rasa tidak ada salahnya kita melihat bukti, jika tidak ada bukti ini bisa menjadi pencemaran nama baik bagi Yulia.” Sahut Radit.


Ning hanya diam dan berharap yang terbaik bagi Radit.


Sementara Yoga nampak anteng duduk di kursi tamu bersama sang istri yang sibuk berkirim pesan dengan sahabatnya.


“Sayang, kado kamu buat Radit belum datang?” tanya Yoga.


“Nanti di akhir saja, nggak perlu buru-buru.” jawab Jessi santai.


Kembali pada Tomi. “Saya mempunyai bukti pernikahan kami.” Tomi masih dalam keadaan menggendong putranya merogoh sesuatu di saku jaketnya. “Ini foto pernikahan kami,” memberikan selembar foto pada Sutomo yang langsung di terima.


“Coba, lihat!” Danu merebut foto itu dari tangan Sutomo. Dilihat dari sisi manapun Yulia lah perempuan yang ada di dalam foto itu. “Sial,” batin Danu.


“Ini pasti editan.. jaman sekarang jasa edit foto sudah banyak,” kata Danu.


“Boleh Radit lihat, Om?”

__ADS_1


Danu ragu memberikan foto itu pada Radit. Namun, Sutomo menekannya. “Biarkan Radit melihat foto itu..” kata Sutomo tidak menerima bantahan. Danu menyerahkan foto itu pada Radit yang langsung di teliti oleh Radit.


“Foto ini asli, om.” Ucap Radit yakin foto itu diambil dengan kamera dan bukan editan.


“Bapak juga sepemikiran dengan kamu, Radit.”


“Jadi, bagaimana, pak, apakah foto itu bisa dijadikan bukti bahwa Yulia adalah istri saya? Kamu menikah secara agama dengan dah.”


“Kalian menikah siri?” tanya Sutomo kaget.


Tomi mengangguk. “Benar, pak..”


“Tapi kenapa?” Sutomo mempertanyakan alasannya.


“Karena waktu itu kami tidak mendapat restu, sedangkan saya dan Yulia saling mencintai. Kami terpaksa menikah siri, tapi setahun setelah menikah, Yulia meninggalkan saya. Saya tidak bisa menemukan keberadaan Yulia. Baru satu minggu yang lalu saya mendapat informasi keberadaan Yulia.” Jawab Tomi.


Sutomo mengangguk-anggukan kepalanya. “Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan acara ini, Danu. Putrimu sudah menikah.” keputusan yang menurut Sutomo berat.


“Tidak, Tomo. Mereka sudah lama pisah, bisa saja lelaki itu sudah menalak Yulia.” Danu tidak rela batal menjadi besan Sutomo. Bisa gagal semua rencananya.


“Sudah lah Danu, kita terima kenyataan saja. Meskipun Yulia tidak menjadi mantuku, tapi, aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri,”


“Yuliaaaa, kenapa kamu diam saja, Yul. Bantu bapakmu meyakinkan, Tomo..” bentak Danu.


“Om, tenang om..” Radit menenangkan Danu.


“Bagaimana saya bisa tenang, pernikahan kalian gagal.” Danu emosi.


Tomi, Sutomo, Radit dan Danu masih dalam percakapan mereka. Sedangkan Jessi mulai menjalankan rencananya.


“Jalankan rencananya, Kris,” titah Jessi pada Kris di panggilan telepon.


“ITS show time..” Jessi tersenyum licik.


Pernikahan Radit sudah batal karena kedatangan Tomi, namun, kemalangan bagi keluarga Yulia tak cukup sampai disana. Percakapan Danu, Siti dan Yulia bocor. Seseorang yang kemungkinan adalah Kris memutar rekaman percakapan mereka dengan keras di tempat akad.


Sutomo yang mendengar niat licik Danu menjadi marah. Pria paruh baya itu bahkan melayangkan tamparan di wajah Danu.


“Baj*ngan koe, Danu. Aku sudah baik sama kamu rapi ternyata niat mu pada keluarga ku busuk. Batal, semuanya batal. Kita tidak usah kenal lagi, tidak sudi aku mengenal lelaki picik sepertimu. Ayo, buk, Radit kita pulang... acaranya batal!!” Sutomo dengan emosi memaki Danu.


“Sabar, pak.. sabar, jantung pak, ingat jantung..” Ning menenangkan Sutomo. Ia takut terjadi hal buruk lagi pada suaminya yang belum lama keluar dari rumah sakit.


“Ingat Danu, aku tidak lagi menganggap kamu sahabatku. Untuk hutang mu, pengacara Radit yang akan mengurusnya. Ayo Radit!!” Sutomo menggandeng istrinya dan menarik paksa lengan Radit meninggalkan tempat acara.


Danu sendiri tidak mengejar Sutomo, ia sudah terlanjur malu pada tamu undangan dan keluarganya. Bagaimana mungkin niat nya bisa bocor dan di ketahui orang lain, padahal mereka mengobrol di kamar Yulia.


“Jadi, akadnya jadi atau tidak, pak?” Sela pak penghulu.


“Bapak tidak lihat batal semuanya ..” sentak Danu.


“Kalau begitu saya permisi, pak.”


Tomi memandang iba pada Yulia. “Yul, kita perlu bicara..” ajak Tomi meraih pergelangan tangan Yulia namun di hempas oleh Yulia.


“Pa, Yulia minta maaf..” Yulia justru mendekati Danu dan memohon maaf pada Danu.


“Memang tidak bisa di andalkan, kamu bukan anakku lagi.. ayo ma!” Danu kesal dan mengajak istrinya meninggalkan tempat itu.


“Mama kecewa sama kamu, Yul,” sebelum pergi Siti menampar Yulia dengan kasar.


“Mama harap kamu tidak pulang, mama sungguh malu punya anak sepertimu,”


“Ayo maa!” Ulang Danu.


“Iya pa, iya..”


“Yul, aku akan menjaga mu,” Tomi berjongkok menurunkan anak laki-laki yang tadi digendongnya. Anak itu masih tertidur dan di letakan di kursi oleh Tomi.


Tomi membujuk Yulia agar mau ikut bersamanya dengan susah payah.

__ADS_1


Sementara Jessi dan Yoga juga meninggalkan tempat acara dengan puas..


__ADS_2