Pengacara Tampanku

Pengacara Tampanku
Pingsan


__ADS_3

Yoga turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam mini market. Ia membeli beberapa susu kotak dan Yakult juga beberapa camilan. Setelah membayar pada kasir, Yoga kembali masuk ke dalam mobilnya.


Yoga meletakan dagunya di stir kemudi sambil sesekali menatap arah lurus ke depan memperhatikan kendaraan maupun orang yang lalu lalang masuk dan keluar dari cafe tempat Jessi bekerja.


Sudah satu jam Yoga termenung di mobilnya, ia masih enggan meninggalkan tempat itu. Untung saja Yoga membeli beberapa camilan jika tidak ia pasti akan bosan sekali.


“Itu dia.” Gumam Yoga.


Yoga melihat Jessica berjalan keluar dari cafe. Gadis itu celingukan ke kanan dan ke kiri lalu berjalan ke arah cucian mobil.


“Apa dia tidak membawa mobil?” Yoga keluar dari mobilnya menghampiri Jessica.


“Jessica!” Panggil Yoga pada Jessi.


Mendengar namanya di panggil Jessi pun menghentikan langkahnya, ia menoleh dan melihat Yoga sedang berjalan kearahnya. “Kak Yoga, kok kakak belum pulang?”


“Saya habis bertemu klien di dekat sini, kamu mau kemana?Kenapa jalan, mobil kamu dimana?” Cecer Yoga.


“Oh, Jessi kira belum pulang karena nunggu Jessi.” Gumam Jessi pelan namun Yoga masih bisa mendengar nya.


Saya memang nungguin kamu dari tadi Jess.


“Mana mungkin saya nunggu kamu, kurang kerjaan saja.” Balas Yoga.


Iya gue ngerti nggak usah usah di jelasin juga bikin bete aja. Jessi menggerutu namun hanya di dibatin.


“Karena kak Yoga disini gimana kalau nganter Jessi pulang aja, Jessi capek banged, kayaknya nggak sanggup bawa mobil sendiri.” Jessi memang terlihat kelelahan. “Ya, ya, mau, kan?” Merangkul lengan Yoga sambil mengedipkan-edip kan matanya memasang ekspresi memelas.


“Ya sudah, ayo!” Menepis tangan Jessi dari lengannya lalu Yoga menarik tangan Jessi dan menggandeng nya menuju mobilnya. Jessi mengikuti Yoga dengan patuh, jangan kan sampai di tarik, tidak ditarik pun Jessi pasti mengikuti Yoga dengan senang hati.


Yoga membuka kan pintu mobil untuk Jessi dan menyuruh Jessi masuk kedalam mobil.


“Kamu nggak masuk?” Bingung Yoga melihat Jessi masih mematung di samping mobil.


“Kakak nggak ada niat lepasin tangan Jessi apa?” Jessi mengangkat tangannya yang masih bergandengan dengan Yoga.


“Bukannya kamu yang nggak mau melepas tangan saya?” Yoga melepaskan tangannya dari Jessi.


Kok jadi aku?Jelas-jelas dia yang gandeng tangan aku seenaknya, mana di genggam rapet banged lagi.


“Sudah, masuk kamu, jadi pulang nggak?”


“Iya, iya.”


Setelah Jessi masuk ke dalam mobil, Yoga menutup pintu mobilnya. Yoga kemudian berjalan memutar dan masuk ke mobil di kursi kemudi. Ia langsung menghidupkan mesin mobil, melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Hening.. Tidak ada percakapan diantara mereka. Yoga fokus pada kemudinya sementara Jessi bermain ponselnya.


Astaga mobil gue.

__ADS_1


Jessi teringat pada mobilnya yang masih berada di cucian mobil. Ia pun menelpon Jordan.


“Kak, tolong suruh orang buat ambil mobil Jessi di tempat temen kakak!” Seru Jessi ketika panggilan teleponnya tersambung.


“Ok.” Balas Jordan.


***


“Jordan?” Yoga melirik Jessi sekilas.


“Iya.”


Tumben ni Bocil cuek.


Hening.. Jessi seakan tidak punya tenaga untuk berbicara. Ia memejamkan matanya dan tertidur.


Yoga sendiri membiarkan Jessi tidur selama di perjalanan.


Dia pasti kelelahan. Yoga mengusap-usap rambut Jessi lembut. Membuat tidur Jessi semakin pulas.


Sampai di depan gerbang rumah Jessi, Yoga membunyikan klakson agar satpam membukakan pintu gerbang. Mobil melaju pelan memasuki area pelataran rumah mewah orang tua Jessi. Yoga memberhentikan mobil tepat di depan pintu utama. Ia lalu membangunkan Jessi namun dengan mengguncang tubuh gadis itu karna Jessi tidak terbangun hanya dengan panggilan.


“Sudah sampai ya, kak?” Tanya Jessica sambil mengucek mata nya, gadis itu mengerjapkan matanya saat Yoga mengguncang tubuhnya. Ia perlu beberapa detik untuk membuka lebar kedua matanya.


“Apa mau saya gendong?”


Jessica menggeleng. “Nggak perlu, kak.” Tolak Jessi.


Meskipun Jessica memakai parfum mahal setelah bekerja tapi ia tetap tidak percaya diri dengan aroma tubuhnya saat ini. Apalagi, Jessi merasakan sendiri keringat bercucuran saat ia bekerja tadi. Aroma tubuhnya saat ini pasti tidak enak. Mana mungkin Jessi membiarkan Yoga menggendongnya, bisa malu setengah mati Jessi nanti.


Jessi turun dari mobil lalu menunduk ke arah kaca mobil untuk berbicara pada Yoga.


“Kak Yoga nggak masuk dulu?”


“Lain kali saja, sekarang sudah malam, Jess.” Jessi memangguk. Memang sudah jam sebelas malam meskipun komplek rumah Jessi tergolong bebas Yoga tetap tidak enak bertamu apalagi Raka dan Ayu masih di luar negeri.


“Makasih, untuk tumpangannya, kak.”


“Hem, kalau gitu saya langsung pulang.”


“Hati-hati di jalan, kak.”


Yoga melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Raka. Sebelum benar-benar keluar dari gerbang Yoga melirik kaca spion mobilnya, dilihatnya Jessi tengah melambaikan tangan sambil tersenyum. Tanpa sadar Yoga menarik kedua ujung bibirnya keatas membentuk senyum tipis.


“Ah, gue lupa nanya kenapa Bocil bisa kerja di cafe.” Gumam Yoga.


“Gue tanya besok aja, dia pasti main ke kantor gue, lagian nggak mungkin dia nggak main ke kantor gue. Mana tahan dia nggak ketemu gue sehari aja.”


***

__ADS_1


Sampai di kamarnya Jessi langsung mandi, ia tidak tahan dengan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah mandi Jessi merebahkan dirinya di kasur dengan telentang.


“Capek banged, mom. Jessi kangen mommy.” Lirih Jessi. Jessi memejamkan matanya dan langsung tertidur pulas. Ia melupakan makan malam karena telalu lelah.


Keesokan paginya.


Jessica, Jordan dan Rey sudah berada di ruang makan untuk sarapan. Mereka sudah mengenakan seragam sekolah masing-masing. Jessi sarapan dengan nasi goreng, begitu juga Rey. Sementara Jordan hanya makan roti dan susu.


“Rey, kakak nebeng mobil kamu ya?” Menyenggol lengan Rey.


“Hem.” Balas bocah kelas enam SD itu.


“Mobil kamu kenapa, Jess?” Tanya Jordan. Seingat Jordan mobil Jessi ada di garasi. Ia sendiri yang memerintahkan sopir untuk mengambil mobil Jessi semalam.


“Males, kak. Lagi nggak mood.” Balas Jessi.


“Kamu sakit?” Jordan menempelkan punggung tangannya di kening Jessi lalu beralih di keningnya. “Agak panas.”


“Masa sih, kak?” Jessi ikut-ikutan memeriksa keningnya. “Coba kening kamu Rey.” Menempelkan punggung tangannya di kening Rey.


“Iya sih agak panas, tapi, Jessi nggak papa kok, kak.”


“Ya sudah, kamu ikut mobilku. Nanti aku yang jemput pulang sekolah.” Tutur Jordan, Jessi pun mengangguk menurut.


Sampai di sekolah Jessi langsung di sambut kedua sahabatnya Salsa dan Celia. Salsa yang kala itu di antar papa nya sengaja menunggu Jessi di gerbang sekolah. Sebelumnya Jessi sudah mengabari Salsa jika dirinya tidak membawa mobil ke sekolah. Celia juga ikut menunggu Jessi di pintu gerbang. Mereka bertiga pun masuk kelas bersama sambil bergandengan tangan memenuhi jalan.


Selama pelajaran berlangsung Jessi tidak fokus, ia merasakan kepalanya seperti berputar-putar namun tetap ia tahan. Sampai puncaknya saat jam istirahat Jessi pingsan di jalan menuju kantin.


Beberapa teman laki-laki yang melihat Jessi pingsan langsung membantu Jessi dan membopongnya menuju UKS.


“Gimana ini, Sa?” Tanya Celia panik melihat Jessi terbaring lemah.


“Ini gue juga lagi telepon Jordan.” Balas Salsa yang sedari tadi menghubungi nomor ponsel Jordan. Namun, teleponnya diabaikan oleh Jordan.


“Kenapa malah di reject sih.” Salsa merasa kesal karena Jordan menolak panggilannya. “Nggak tau lagi genting apa.” Gerutu Salsa.


“Apa telepon mommy Ayu saja?”


“Jangan Cel, mommy Ayu, kan, masih di luar negeri. Nanti mommy malah khawatir.” Tolak Salsa.


“Kalau kak Yoga gimana?”


Salsa nampak berpikir sejenak menimbang-nimbang saran Celia yang akhirnya menjadi keputusan bersama menghubungi Yoga.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2