
Suasana AA butik menjadi sangat ramai di penuhi ibu-ibu wali murid dari sekolah Jessi. Ibu-ibu itu meminta bertemu Ayu untuk meminta maaf secara langsung atas apa yang mereka katakan mengenai Jessi, apalagi beberapa dari mereka sudah mendapat panggilan dari kepolisian karena pencemaran nama baik dan fitnah.
Mereka bingung harus bagaimana menemui Ayu selain pergi ke butik Ayu? Mereka tidak tau alamat rumah Raka, sementara Ayu membuktikan ucapnya dengan melaporkan beberapa orang yang sudah menghina Jessica.
Sudah hampir sore tak satupun dari ibu-ibu itu berhasil menemui Ayu, karena Ayu sedang pergi ke Bandung saat ini. Namun, mereka tidak mengetahuinya. Mereka bahkan tidak bertanya pada karyawan butik dan hanya menunggu di depan butik.
Sampai akhirnya salah satu karyawan memberi pengumuman bahwa Ayu tidak akan ke butik hari ini. Mereka pun kecewa dan pulang ke rumah masing-masing.
Jika saat ini beberapa orang yang pernah menghina Jessi sedang kalang kabut memikirkan nasibnya, berbeda dengan Jessica, gadis itu tengah berbunga-bunga atas perhatian Yoga. Setelah pertunangan mereka Yoga menjadi semakin perhatian, laki-laki itu juga mengurus homeschooling untuk Jessi sementara waktu sampai keadaan membaik.
Hari berikutnya, Jessica baru saja selesai mengerjakan tugas sekolahan nya saat ponslenya tiba-tiba berdering. Ada pesan masuk dari Rio, mantan bos Jessi itu mengajak Jessi untuk bertemu. Jessi pun mengiyakan. Dengan di antar oleh sopir dan satu pengawal Jessi pergi ke tempat ia dan Rio janjian.
Di sepanjang perjalanan Jessi menggerutu kesal, ia harus pergi kemana-mana dengan sopir dan pengawal mulai saat ini. Jessi merasa kebebasannya terenggut. Tapi, Jessi juga tidak berani membantah apa yang sudah di putuskan oleh Raka.
Sampai di cafe Jessi melihat Rio sudah lebih dulu datang. Rio juga melambaikan tangannya begitu melihat Jessi melewati pintu masuk.
“Sudah lama, kak?” Tanya Jessi pada Rio. Ia duduk di kursi yang berada di depan Rio dengan meja sebagai pembatas mereka.
“Aku juga baru datang, apa kamu datang sendiri?”
Jessi menggelengkan kepalanya lalu menunjuk meja yang tidak jauh dari mejanya, dua orang pengawalnya duduk di sana.
“Oh, kau di kawal sekarang?” Rio tentu paham setelah melihat konferensi pers yang di gelar Pratama Group.
“Begitulah, kak.” Menunduk sambil menghela nafas kesal.
“Jadi, kau benar berpacaran dengan pengacara itu?” Tanya Rio datar.
“Seperti yang kakak lihat di berita, kami memang pacaran.”
“Sayang sekali aku telat.”
“Ha?” Jessi tidak bergitu mendengar ucapan Rio karena Rio berucap dengan lirih.
“Tidak, lupakan saja.”
Aku seperti mendengar kata aneh.
__ADS_1
“Oh, ya.. Ada apa kak Rio mengajakku bertemu?”
Rio meraih paper bag yang tadi ia letakan di bawah meja. “Ini untukmu.” Ucap Rio menyerahkan paperbag itu pada Jessi. Jessica menerimanya dan melihat apa isi paper bag itu. Masih ada kotak lagi di dalamnya.
“Buka setelah kau sampai rumah, itu hadiah.” Cegah Rio saat tangan Jessi hampir membuka kotak di dalam paperbag itu. Jessi pun mengurungkan niatnya dan meletakan paperbag itu di kursi sebelahnya.
“Baiklah, kalau begitu Terimakasih.”
“Selamat atas pertunanganmu. Aku mengajakmu bertemu hari ini untuk mengatakan itu.” Ucap Rio tulus. Namun, tidak ada yang tau jika hatinya saat ini terasa sakit. Sudah lama Rio menyukai Jessi, namun tak berani mengungkapkannya.
“Terimakasih, kak.” Balas Jessi sumringah.
Setelah bertemu Rio, Jessi pergi ke kantor Yoga. Dan, menyuruh sopir maupun pengawalnya untuk pulang karena Jessi akan pulang bersama Yoga.
“Huh, aku mengantuk.” Menguap dan merebahkan dirinya disofa panjang ruang kerja Yoga. Saat Jessi tiba, Yoga tengah meeting dengan para pengacra firma hukumnya. Ia pun langsung masuk ruang kerja Yoga setelah mendapat izin dari sekertaris Yoga. Lama-lama Jessi pun ketiduran di sofa itu.
***
“Astaga..Apa dia terlalu bosan menunggu sampai ketiduran?” Pekik Yoga.
Yoga berjalan ke arah sofa dan berjongkok tepat di depan wajah Jessi. Perlahan Yoga menggerakan tangannya mendekati wajah Jessi, jari jemarinya merapikan sulur anak rambut Jessi yang berantakan.
“Sudah, tidur lagi saja jika masih mengantuk.” Jawabnya sambil mengusap lembut kening Jessi.
“Tidak mau.” Bangun dan duduk bersandar punggung sofa. Yoga sendiri sudah duduk di sebelah Jessi.
“Saya masih ada beberapa email yang perlu di periksa, tunggu pekerjaan saya selesai lalu kita pergi makan.” Yoga membuka ipadnya dan mulai memeriksa email yang masuk.
“Apakah lama?Jessi sudah lapar.” Keluh gadis itu sembari menyenderkan kepalanya manja di di bahu Yoga.
“Tidak lama.”
“Apakah lima menit cukup?” Jessi sengaja menggangu Yoga dengan menggerak-gerakkan kepalanya di bahu Yoga.
“Sayang, biarkan saya mengerjakan pekerjaan dulu” Merasa terganggu dengan kepala Jessi.
“Memang nya aku menggangu? Aku hanya menyenderkan kepalaku saja, memang tidak boleh?” Jawabnya dengan manja. “Aku bahkan tidak mencium kakak, hanya menyenderkan kepala di bahu kakak, ‘kan tidak menggangu.”
__ADS_1
Kamu memang tidak mencium saya, tapi saya jadi gema dengan tingkah kamu.
“Huh..” tidak bisa fokus, Yoga memilih menunda pekerjaanya. Ia akan memeriksa pekerjaanya di rumah. Lagi pula bukan email mendesak yang akan di periksa Yoga.
“Jessi laparrr, kak.” Rengek Jessica mengangkat kepalnya dari bahu Yoga.
Yoga meletakan ipadnya dan memiringkan tubuhnya menghadap jassi, ia menangkup kedua pipi Jessi dan mengecup bibir gadis itu singkat .. “Cup.. baiklah, Mau makan apa?”
“Nasi Padang?” Tanya Jessi berbinar meminta pendapat Yoga.
“Oke, tapi sebelum itu beri saya kecupan.” Yoga menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
“Nakal.”
“Saya belajar dari kamu, Jess. Cepat ....” masih menunjuk-nunjuk bibirnya.
“Iya, iya.” Jessica memajukan bibirnya mengacup bibir Yoga. Saat, Jessi melepaskan kecupannya, Yoga justru menahan tengkuk Jessi dan mencium Jessi. Yoga bahkan memperdalam ciumannya menjadi *******.
Astaga.. Kau sungguh berbahaya, Yoga. Batin Yoga melepaskan ciumanya sebelum ia menuntut hal lebih.
“Curang...” Cebik Jessi.
“Hehe, Tapi kamu suka ‘kan?”
Blush.. sudahlah wajah Jessi mungkin menjadi merah semerah tomat karena malu. Tak bisa di pungkiri Jessi juga menyukai saat ia berciuman dengan Yoga. Ada getaran-gerakan aneh saat Yoga menciumnya dengan lembut.
“Si-siapa bilang?Jessi tidak suka.” Kata Jessi salah tingkah lali kabur ke kama e mandi untuk cuci muka.
***
Devina menjadi linglung seperti orang gila, beberapa asetnya di sita oleh bank karena dia menunggak pembayaran angsuran beberapa bulan. Ia tertipu oleh mantan suaminya, ternyata apartemen, mobil dan beberapa barang branded yang pernah mantan suaminya berikan adalah barang kredit. Dan, sudah tiga bulan terhitung hingga saat ini mantan suaminya itu tidak membayar angsuran.
Kemalangan Devina bertambah kala ia bercerai tidak menuntut harta gono gini dari mantan suaminya. Mantan suami Devina menolak membagi harta gono gini jika Devina ingin bercerai dengan cepat, karena kebodohan Devina yang masih mengharapkan Yoga akan menerimanya kembali tanpa berpikir panjang Devina memilih tidak menuntut harta gono gini demi bisa bercerai dengan cepat.
Kini, Devina tidak punya tempat untuk pulang. Ia sudah di usir dari rumah keluarganya karena bercerai dengan mantan suaminya. Devina juga tidak berani pulang ke rumah Kakak iparnya yang merupakan ayah, Naya. Mengingat saat ini ayah Naya juga sedang kesulitan mengalami krisis. Saat ini Devina berjalan menyeret kopernya tanpa tujuan, pandangan matanya pun tak fokus sesekali ia di maki oleh pengguna jalan yang ia tabrak dengan langkah tidak stabilnya.
.
__ADS_1
.
.